
Suara - suara kesibukan di rumah Asti itu mulai terdengar dari arah dapur di pagi itu. Mbak Ning sudah menyiapkan sarapan yaitu Sego pecel. Sesuai dengan request dari Bude Mayang tadi malam, saat mereka ngobrol di ruang tengah sambil nonton sinetron. Sementara Leon, Dimas dan Pakde Muin asyik menikmati mie tek-tek warung tenda di halaman samping.
Ternyata wanita berdarah Sunda itu memang senang makan makanan yang bahan utamanya berupa sayuran, lalapan dan sambal. Bahkan berbagai daun mentah yang jarang dijadikan temannya sambal bagi orang di daerahnya inipun, sudah ada di piring makannya.
Masakan pecel khas Jawa itu terdiri dari berbagai jenis sayuran yang direbus seperti kangkung, bayam, tauge, kubis atau kol dan lainnya. Sayuran itu nanti disajikan di atas piring lalu disiram bumbu sambel kacang yang kental. Kadang bisa ditambahkan kerupuk atau rempeyek untuk pelengkapnya. Sedangkan untuk pecel ini biasanya sering disajikan bersama potongan lontong, ketupat atau gendar. Selain dengan nasi.
Mereka menikmati sarapan itu bersama -sama. Termasuk dengan Asti. Walaupun dia sebenarnya belum bisa makan terlalu banyak, karena masih tidak enak badan. Juga lidahnya terasa pahit.
" Pakde, saya ke kantor sebentar...Kalau ada apa-apa, tolong hubungi saja !" Pinta Leon yang mulai bersiap - siap pergi.
Tiba-tiba Akbar menghampiri ayahnya itu yang sudah berjalan sampai di ruang tengah. " Ayah , boleh Akbar main sepeda di kantor? Kemarin Akbar jatuh, tempatnya sempit!" Adu Akbar.
Leon mengendong anak itu yang sudah semakin bertambah berat saja bobot tubuhnya. Kemarin Leon memaksa Asti pulang dari desa karena mendapat kabar dari Mbak Ning , kalau Akbar jatuh dari sepedanya. Walaupun tidak parah, lutut dan kedua siku Akbar tergores dan lebam.
" Sudah sembuh belum yang jatuh kemarin?"
" Sudah sembuh, kok! Tuh sudah dikasih obat sama Mbak Putri."
" Tetapi kata Bu Ning nangisnya Akbar sangat keras!" ujar Leon mulai geli.
" Tetapi sedikit kok, nangisnya!" ujar anak itu tetap tak mau kalah.
" Oke, nanti Mbah Muin mau main ke kantor Ayah. Akbar izin ikut sambil bawa sepedanya, ya? ...Minta Mbak Putri untuk ikut untuk menjaga Akbar di sana!"
Anak laki - laki itu terkikik geli ketika diciumi Leon penuh rasa sayang. Sebab sang ayah tidak hanya menciumi kedua pipi gembul itu yang seperti bakpao. Leon juga menggelitik leher dan ketiak Akbar sampai anak itu menjerit kegelian.
Akbar melambaikan tangannya ketika Leon keluar dari rumah mengendarai mobil Inova yang biasa dipakai ibunya. Di kamar, Asti berusaha mengurus keperluan Qani yang baru terbangun. Namun hampir semua dikerjakan Bu Jum dengan cepat dan cermat. Asti masih tampak lemah dengan gerakan yang lamban dan tak fokus.
" Mbak Asti istirahat, saja! Insya Allah, Saya, Mbak Ning dan Putri akan menjaga Akbar dan Qani dengan baik!"
" Terimakasih, Bu Jum." Ujar Asti tersenyum lembut.
Asti tadi sudah menelan empat butir pil dengan berbagai warna dan bentuk yang berbeda, setelah sarapan tadi. Obat-obatan inilah kemarin ditebus oleh Kang Kasmat dari apotek di klinik milik dokter Mursito.
Leon berharap setelah dua hari lagi, Asti segera pulih kesehatannya. Kalau tidak, dia akan membawa istrinya itu ke rumah sakit tempat mereka biasa berobat. Tentu Asti perlu mendapatkan penanganan dari dokter yang lebih serius.
__ADS_1
Saat masakan untuk makan siang sudah matang, Mbak Ning cepat menyiapkan wadah. Leon meminta dikirim makan siang, bukan untuk dirinya saja, juga untuk Damar dan Dimas yang sekarang membantu urusannya kantor. Setelah kepergiannya ke Madiun selama hampir seminggu yang lalu, dan ditambah libur satu hari kemarin. Seluruh laporan pekerjaannya sudah menumpuk di atas meja dan harus segera diselesaikan dengan cepat.
Pakde Muin pun berniat pergi main ke kantor Leon. Dengan lugunya, Akbar meminta izin ikut sambil membawa sepedanya. Mbak Putri sudah membawa wadah makan siang itu yang dimasukkan dalam kantong khusus. Ada kotak besar berisi nasi, wadah untuk sayur berkuah, dan lauk-pauk lengkap.Tadi Asti memasukkan satu wadah buah melon dan semangka yang sudah dikupas kulitnya, dipotong-potong agak sedang ukurannya dan diberi garpu.
" Jangan nakal main sepeda di depan kantor Ayah. Hati - hati ya!"
Akbar mencium pipi ibunya dengan lembut. Sementara Qani mulai merem - melek menahan kantuknya di dalam pelukan ibunya.
Bude Mayang juga ikut bersama Mbak Putri. Tentu wanita itu juga ingin mengetahui luasnya proyek pembangunan perumahan yang sedang dikerjakan Leon dalan tahap pembangunan dua.
Kedua wanita itu makan dengan cepat, sementara Asti menidurkan Qani di boksnya di kamarnya ... Keadaan itu tak berubah sampai dua- tiga jam berikutnya. Hanya sekarang bukan hanya kepala Asti yang semakin berat, juga kedua bahunya tegang seperti ditarik dengan sangat kuat.
" Asti!" Panggil Pakde Muin.
Mereka sudah kembali dari kantor Leon. Juga melihat seluruh lokasi proyek pembangunan yang dirancang cukup baik oleh arsitek terkenal dari Jakarta. Jadi proyek perumahan itu dibangun bukan asal -asalan. Karena didukung dengan berbagai fasilitas yang sangat lengkap dan memadai di sana.
"'Iya, Pakde!" jawab Asti.
Dia menemui pria itu yang duduk di ruang keluarga. Tampak Bude Mayang sedang membuatkan minuman untuk suaminya itu.
" Nggak tahu, Pakde... Kok kepala Asti semakin berat, ya !" keluhnya hampir menangis.
" Bu Jum tolong bawa anak-anak ke kamar, ya !" perintah lelaki itu pelan.
Cepat Bu Jum mengendong Qani dan membawa Akbar masuk ke kamar utama.
"'Bu, tolong ambilkan mukena Asti di kamarnya!" Kembali itu memerintahkan kepada istrinya.
Bude Mayang pun tanpa berkata apa-apa, segera mengetuk pintu kamar tidur utama. Dia kembali dengan membawa sepasang mukena putih yang biasa digunakan Asti sholat di kamarnya.
Pria itu menyuruh Asti memakai mukena itu. Segelas air putih juga sudah diletakkan di meja.
" Asti, apakah kamu yakin sudah memaafkan orang-orang yang sudah membuat ibumu tidak bisa kembali ke Desa Sendang Mulyo dan mengurus kamu?" tanya Lelaki itu sambil memegang sebuah gelang seperti terbuat dari kulit kayu.
" Asti ikhlas, Pakde... Biarlah Allah SWT yang membalas perbuatan mereka!" ucapnya lirih.
__ADS_1
" Yakin itu, Asti?"
" Yakin?"
Pria itu menatap mata Asti agak lama. Mungkin dia mampu merasakan kemarahan dan sikap Asti kemarin yang di luar kebiasaannya. Tak pernah Asti mengeraskan suaranya walaupun sangat marah sekalipun kepada seseorang.
" Apa yang kamu rasakan setelah tahu bahwa keluarga Juwono itu ada dibalik semua peristiwa itu?"
" Marah, Pakde! Aku sangat marah! Asti bertahun -tahun berusaha mengerti inti dari pembicaraan itu. Walaupun hanya sebagian saja yang ingat... Mereka selama ini memanfaatkan kebaikan Mbah Kung. Pak Kushari tidak puas hanya diberi sejumlah uang saat dia membawa Ibu dan kakaknya Ke Banjarmasin... Juga puluhan juta rupiah lagi, hanya untuk mencari keberadaan Ibu yang hilang di sana ... Belum lagi soal niat mereka, agar Pak Kushari dapat menikahi Bude Ayu dan menguasai semua harta keluarga Winangun!"
" Satu lagi Asti! Coba ingat-ingat, bagaimana keadaan ibumu yang pernah kamu lihat dalam mimpimu, itu?"
Asti mendesah berat. Dia mencoba mengumpulkan ingatannya tentang kehadiran ibunya yang datang dalam mimpinya. Saat itu dia juga dalam keadaan sakit, dan hampir tak sadar selama beberapa jam... Di antara hidup dan mati, setelah melahirkan Akbar.
" Wajahnya masih sangat muda! Tetapi tatapan matanya begitu sedih dan sangat putus asa... Pakaiannya agak aneh, Pakde! Wanita itu memakai baju tunik kurung yang warna putihnya sudah agak kekuningan dan sedikit kotor. Modelnya juga terlalu sederhana dan agak ketinggalan zaman. Dia seperti memakai kain atau sarung batik untuk bawahannya. Ada kerudung renda katun yang dipakainya, tetapi kerudung itu hanya menutupi sebagian kepalanya, sisanya dibiarkan menggantung di kedua bahunya. Sepertinya dia baru berjalan jauh atau berlari, karena penampilannya agak berantakan...."
Semua yang duduk di sana tertegun, mendengar penuturan Asti. Bude Mayang, Putri dan Mbak Ning saling lirik, tetapi tak berani berbicara sedikitpun. Mereka hanya mengangkat bahu.
" Percayakah kamu, Asti? ... Ibumu seperti mendapatkan sebuah halangan besar untuk kembali menemui kamu. Dia sangat sayang dengan bayi yang sudah dilahirkannya. Mungkin dia berjuang bertaruh nyawa dua kali, setelah melahirkan mu, dan untuk datang ke Pulau Jawa. Ada dua pria yang sangat berpengaruh besar untuk menghalangi dia. Ibumu terjebak di suatu tempat dan tak ada yang menolongnya. Sekarang... ikhlaskan kepergiannya ibumu! Nanti setiap sholat doakan kedua orang tuamu yang telah tiada itu seperti yang kamu biasanya lakukan !"
Deg! Dada Asti bergemuruh dengan rasa tidak percaya, marah dan kesedihan... Jadi selama ini ibunya benar - benar sudah tiada... Air matanya terus menetes tanpa bisa dicegah.
" Sini, duduk di depan Pakde!" ujar Pria itu lembut. Sambil menunjuk ke lantai berkarpet.
Asih masih sedikit tergugu menahan tangis kesedihannya. Namun segera duduk dilantai di hadapan pria itu sambil menunduk. Pakde Muin seperti membacakan beberapa ayat suci Alquran secara bergumam ... Lamat - lamat Asti mendengar lantunan ayat kursi yang dibaca berulang -ulang. Telapak tangan lelaki itu mengusap kepala Asti dari depan dahi sampai ke belakang tiga kali. Juga mengusap bahu kanan dan kiri Asti sebanyak tiga kali.
" Minumlah!" Pakde Muin menyodorkan segelas air putih yang tadi ada di atas meja.Asti meminumnya sampai habis.
" Terimakasih, Pakde!"
Tiba-tiba tubuh Asti terasa lebih ringa. Kepalanya yang terasa menjunjung sebuah beban yang sangat berat, sudah terangkat... Kedua bahunya pun lebih mudah lagi saat digerakkan.
" Sama - sama. Sekarang kamu sudah ikhlas, kan? Jadi jalan ibumu sudah lebih lapang... Biar orang-orang jahat itu kelak berhadapan dengan pengadilan Allah SWT!"
" Aamiin!" seru ketiga wanita itu hampir bersamaan.
__ADS_1
Suasana di rumah Asti malam itu agak sepi. Asti sudah tidur setelah sholat Isya. Bu Jum menggurus Akbar dibantu Putri. Tinggal Mbak Ning dan Bude Mayang saja yang ada di depan TV. Sementara Pakde Muin sedang ngobrol dengan para tetangga Leon, di halaman samping dekat warung tenda ... Mereka minum kopi, sambil menikmati beberapa bungkus snack yang dibeli dari mini market depan.