
Bu Ani segera pamit... Dia memang ingin membicarakan soal kegiatan para Ibu, yang tergabung PKK di lingkungan ini, untuk membuka lapak di depan mini market milik Asti.
Sekalian wanita itu mau mencari tahu dengan kedatangan orang -orang yang menginap di rumahnya siang tadi. Bu Ani mematok harga tiga kamar yang dipakai oleh para tamu itu dengan harga tiga ratus ribu rupiah untuk dua hari dua malam. Hanya saja , Bu Ani menyediakan sarapan pagi saja untuk mereka.
Diam-diam, istri Pak RT itu sedikitnya mendengar omelan dari wanita yang lebih tua itu akan sikap Asti yang katanya menjengkelkan!
Tentu saja telinga sehat Bu Ani mendengar semua sumpah serapah wanita itu. Sebab paviliun tiga kamar itu, memang berhadapan letaknya dengan rumah utama keluarganya. Di tengahnya adalah tempat parkir yang cukup untuk menampung dua atau tiga mobil di sana. Tetapi di ujungnya kedua bangunan itu dihubungkan dengan dapur dan koridor yang membentuk letter U.
Bagi kaum wanita di desa, dapur merupakan jantung dari kegiatan utama sebuah keluarganya. Tempat seorang istri dan ibu menyiapkan makanan untuk anggota keluarganya.
Di dapur itu ada koridor, yang sering digunakan untuk ruang cuci dan jemur. Paviliun itu mulai disewakan, sejak digunakan dan disewa oleh Pak Leon hampir setahun yang lalu Kini tempat itu sudah direnovasi total berkat bantuan dari suaminya Asti itu.
Beberapa kali tempat itu disewa oleh orang lain. Biasanya mereka memerlukan kamar itu karena mereka kemalaman di jalan. Atau untuk beristirahat sebuah keluarga yang kelelahan saat menempuh perjalanan darat yang cukup jauh.
Bahkan paviliun itu pernah digunakan oleh anggota keluarga Pak Leon, selama 4 hari 4 malam sebagai menginap. Ketika mereka akan mengikuti dan menghadiri acara pernikahan Asti dan Pak Leon.
" Perempuan kampung aja, sok nya aja setengah mati!" Kembali suara omelan perempuan itu terdengar di depan kamar paviliun. Sebab keluarga itu sedang sarapan di teras depan.
" Sudahlah, Bu! Salah kita, nunut sama Nak Qosim ke sini! Ternyata Pak Leon benar! Kalau bicara bisnis ya, bisnis. Jangan campurkan dengan masalah pribadi!"
" Ya, kebangetan aja, Pak! Masak kita datang jauh- jauh, cuma dikasih teh manis dan kue -kue saja. Boro-boro ditawari makan siang! Asti itu pun tidak menawarkan kita menginap. Katanya horang kaya. pelitnya bin medit!" terdengar suara wanita menyahut dengan nada yang lebih keras.
Bu Ani, segera meninggalkan dapurnya. Tadi sang suami sudah berangkat ke proyek untuk bekerja. Pak Sembodo bertugas menyirami berbagai tanaman yang dijadikan tanaman penghijauan kompleks perumahan tersebut.
Berbagai tanaman buah cangkokan di tanam di sepanjang jalan utama kompleks pertokoan tahap satu untuk dijadikan peneduh jalan.. Sedangkan taman dan area terbuka hijau, dan beri berbagai tanaman berkayu keras, untuk penahan di sebelah kanan yang berbatasan dengan sungai buatan agar tidak longsor tebingnya.
Sehari dua kali pekerjaan itu penyiraman dilakukannya, yaitu pagi dan sore. Kecuali hujan. Pak Sembodo bekerja dibantu dua anak buahnya. Gaji yang ditawarkan Pak Leon cukup lumayan. Apalagi nanti bila proyek perumahan itu selesai dibangun semuanya. Tentu akan banyak menyerap tenaga kerja dari para penduduk di sekitarnya.
__ADS_1
Sekalian Pak Sembodo itu Ikut mengawasi keamanan tanaman untuk tanaman pelindung di sekitar kompleks pemukiman itu. Nanti bila ada yang rusak atau mati akan dilaporkan kepada Pak Rob.
Para ibu tetangga sejak pagi hari sudah bersiap-siap untuk membuka lapak mereka, di depan mini market milik Asti. Mereka membuka lapak berupa minuman es dan jus buah, ada yang membuka jajanan gorengan seperti bakwan, tahu isi dan tahu goreng... Bu Ani membuka lapak somay dan batagor.
Ternyata, banyak pengunjung di mini market itu juga tertarik untuk membeli jajanan di lapak itu. Sehingga semakin banyak orang yang datang membeli, walaupun tidak berbelanja ke mini market. Biasanya mereka adalah supir ekspedisi barang, para pengojek motor dan beberapa mobil pribadi yang sedang melakukan perjalanan jauh untuk beristirahat di sana.
Bu Jum dan Mbak Ning tertarik untuk melihat keramaian itu. Sampai mereka melihat ada keluarga Mbak Nur yang kemarin datang itu juga ada di sana.
Mereka, hanya terdiri dari ayah , ibu dan Mbak Nur , untuk membeli berbagai makanan di lapak juga membeli berbagai barang di mini market itu.
Kedua wanita yang bekerja di rumah Asti itu segera menjauh, dengan duduk di bangku milik warung tenda. Di sana juga ada Pak Sembodo dan dua pengurus RT yang bertugas menjaga dan memantau kebersihan lapak itu.
Orang tua Mbak Nur malah mendekati dan menyalami Pak RT. Mereka berbasa-basi sebentar. Sampai Mbak Ning menatap Bu Jum, setelah mendengar si Ibu yang memakai gelang emas yang cukup banyak di kedua tangannya itu mulai bertanya -tanya tentang Asti.
Mulanya Pak Sembodo menjelaskan soal Asti dan keluarganya dengan senang hati. Lama-lama dahi Pak RT itu berkerut - kerut mendengar penilaian ibu Atiek itu yang menurutnya sangat tidak masuk akal!
" Bukan, Pak! Nak Qosim itu calon menantu saya... Kalau bisnis ini lancar, Insya Allah tahun depan Nak Qosim dan anak saya akan menikah!" jawab Ibu itu .
" Berapa lama keluarga Ibu akan menginap di rumah saya?"
" Mungkin sampai Senin sore, Pak! Sebab Pak Leon menyuruh calon menantu saya membicarakan bisnis di kantornya... Apa susahnya, sih. Ngomong di dalam rumahnya Pak Leon saja ... Ini sangat merepotkan!"
" Maksud ibu di rumahnya Pak Leon? Rumah Pak Leon yang di mana, ya?"
" Ya, yang itu!" seru ibu itu sambil menunjuk bangunan rumah besar dengan dua lantai itu, di belakang ruko itu.
" Pantas, Ibu ternyata bukan orang yang dikenal Mbak Asti! Jadi nggak ditawari menginap di rumah..." Ujar Bapak yang lain. " Memang agak membahayakan kalau kit membiarkan rumah kita didatangi orang tidak dikenal. Bisa bahaya itu!" Jawab rekan sejawat Pak RT.
__ADS_1
" Dari kemarin Ibu itu selalu menanyakan soal Pak Leon kan?" tanya Pria yang lain yang cukup mengenal Pak Leon.
" Ya, iya Pak! Calon menantu saya hanya akan berbisnis dengan Pak Leon. Istrinya saja yang kepedean, mengadu sama suaminya kalau anak saya melabraknya. Belum lagi dia bersikap dingin dan tak peduli!"
" Bu, Pak Leon memang suami Mbak Asti! Tetapi kalau rumah besar, bangunan ruko dan mini market ini semua punya Mbak Asti pribadi! Bahkan rumah itu dibangun sejak Mbak Asti masih terikat dengan pernikahan dengan suami pertamanya... Kalau ibu sombong dan kasar, begini... Siapa juga yang mau menerima ibu sebagai tamu di rumahnya? Di terima sebagai tamunya saja sudah bagus...
Kalau istri saya, mungkin ibu dan anak ibu semua sudah diusir keluar dari rumah... Orang nggak diundang datang bertamu, tetapi lagaknya kayak orang paling kaya se-Indonesia! yang minta dilayani dan dihormati!"
Wajah Ibu Atiek jadi memerah... " Kalau saya memang orang kaya, kenapa? ujarnya menatap seorang bapak yang tadi berdiri di samping Pak Sembodo.
" Ya, Ibu nggak usah rewel dan menghina keluarga Mbak Asti! Cari hotel bagus di kota sebelah, juga ada. Ibu kan datang pakai mobil, jalan nggak sampai satu jam juga sampai ke losmen atau hotel terdekat. Nggak mahal kok, harga per malamnya.... Kalau orang kaya, ya, harus dijaga sopan santun juga, Bu!" Tegur bapak yang satunya lagi.
Pak Sembodo sudah malas berbicara dengan wanita bernama ibu Atiek ini. Sedikitnya kemarin Dimas sedikit bercerita, kalau Almira pergi ke Solo dan tinggal bersama Mbak Nur, anak ibu itu. Mungkin benar, wanita itu lebih mempercayai bualan Almira, sebab dia masih membutuhkan bantuan orang lain dalam pelarian itu.
Diam-diam, Bu Jum membawa Qani masuk ke dalam rumah... Kalau Mbak Ning masih bertahan di sana. Dia hanya mau mendengar lebih banyak lagi segala ucapan Ibu itu yang sangat merendahkan majikannya, Mbak Asti.
Menjelang siang, dua lapak di sana sudah habis terjual semua dagangannya... Kecuali penjual minuman es dan jus. Sebab dia membawa banyak persediaan buah di gerobaknya.
" Bu, apa di dekat sini ada yang berjualan nasi?" tanya Ibu Atiek lagi. Kepada Si penjual jus.
Wanita itu dan suaminya, sejak tadi terus memperhatikan kesibukan dari penghuni yang ada di rumah Asti itu. Malah terlihat beberapa anak muda mengeluarkan beberapa kantong belanjaan.
" Ada warung nasi, Mbah Peyek, warungnya ada seberang jalan itu! Kalau ibu mau pergi agak jauh lagi ada beberapa restoran di depan pom bensin Sekarwangi... Di seberang. jalan itu, akan dibuat gerbang untuk jalan utama ke Perumahan milik Pak Leon itu, Bu! Kalau semua tahap pembangunan sudah rampung."
Ibu Atiek hanya terdiam. Satu, dua orang warga di sini, selalu menceritakan keberadaan Asti dan Leon dengan senang hati. Bahkan satu, dua orang akan menceritakan kebaikan mereka dan keluarganya itu.
Sayangnya, wanita yang banyak dibicarakan kebaikannya oleh para tetangganya jarang keluar rumah lagi. Selain repot mengurus anaknya yang masih kecil-kecil, Asti juga mengelola toko pakaian di pasar dan di mini market ini.
__ADS_1
" Kenapa, ibu dari tadi tanya-tanya Mbak Asti terus? kepo, ya. Bu... Nggak semua orang kaya, suka pamer, Bu! Seperti Mbak Asti, dia nggak suka pakai perhiasan emas yang besar dan mencolok. Tetapi sudah sejak berada di rahim ibunya, keluarga dari ayahnya adalah pendiri dari Desa Sendang Mulyo. Keluarga mereka itu dari zaman dulu sudah kaya raya ... Sayangnya, sikap Mbak Asti yang pendiam dan sabar suka dimanfaatkan orang lain.Contohnya ya, Mbak Almira itu.. Perempuan jahat itu , hampir membuat Mbak Asti kehilangan bayinya dan hampir melahirkan secara prematur karena dia mau merebut Pak Leon!"