
Ninuk jadi sering bolak- balik ke rumah dinas Satrio dari tempat kostnya. Dia memang lebih suka berada di rumah Asti yang ada di kota, karena mau kemana- mana lebih gampang. Padahal jarak Rumah Satrio dengan jarak ke rumah orang tuanya itu dapat ditempuh dalam waktu yang sama kurang dari 1 jam.
Mungkin karena Satrio juga tetap berangkat tugas di hari libur, Asti sangat senang dengan kehadiran sepupunya itu yang mirip petasan cabe rawit itu. Ramai, nggak bisa diam, juga kepo.
" Bude, kenal Mbak Nanik?" bisik Ninuk di dapur, sengaja untuk membicarakan hal itu dengan Bude Prapti yang sudah tinggal lama di desa Sendang Ranti.
" Nani siapa? Apa anaknya Pak Junaidi?" Tanya wanita paruh baya itu agak bingung.
" Yang istrinya Mas Timbul!"
" Oh, Ya. Itu! Di desa dipanggilnya Nanik si Jun! "
Cepat diraihnya tangan wanita itu oleh Ninuk. "Pelan- pelan, Bude ngomongnya! Ini rahasia ...."
Suara Ninuk mengingatkan sampai dia berbicara dengan agak lirih. Tampaknya Bude Prapti cukup mengerti sehingga kepalanya mangut-mangut mendengar penjelasan Ninuk.
Kedua perempuan itu menjauh dari pintu dapur." Memangnya ada apa dengan Nanik?" tanya si Bude.
" Waktu aku nganter nasi boks ke tetangga depan itu, ada Mbak Nanik yang sedang bertamu di sana!"
Ninuk menunjuk rumah Ibu Suparlan yang letaknya memang persis di hadapan rumah Satrio. Hanya terhalang pembatas pagar dari taman sederhana untuk dua jalan beraspal kurang lebih 6 meter dari depan rumah ini.
"Bukannya si Nanik itu kerja di Semarang? Anak perempuannya yang paling besar saja sudah dititipkan di rumah Bu Condro."
" Itu memang benar Mbak Nanik Bude! Dulu dia melabrak Bude Ayu, setelah selesainya pesta pernikahan Asti dan Mas Satrio."
Wajah Bude Prapti tampak gelisah. Tetapi dia terus berpikir, untuk menyampaikan hal ini pada Satrio. Tanpa membuat Asti gelisah atau kepikiran.
"Kok, Bude malah ngelamun!"
__ADS_1
" Jangan kasih tahu Asti dulu, kasihan dia sudah nggak tenang akhir- akhir ini. Sejak mendengar Satrio yang mendapat tugas ke Surabaya agak lama di bulan depan!"
"Apa Bapak sama Ibu disuruh tinggal di sini dulu ya, Bude. Biar ada yang jagain Asti."
" Apa kamu meragukan aku , Ninuk? Gini- gini Bude juga bisa ilmu bela diri! Mau pakai senjata apa? Nih ada, sapu lidi, ulekan sambel atau sekalian tak bawain air seember."
"Stop, Bude Prapti! Lho kenapa Bude yang ngamuk?"
"'Habis aku kesel sama Nanik dari keluarganya Junaidi. Di desa Sendang Ranti sudah nggak ada penduduk yang hormat dengan dia. Apalagi kakaknya Nanik kan yang bunuh Bude Ayu, kan ? Keluarga mereka itu sudah membuat rusak nama desa Sendang Ranti..."
" Kok Bude tahu masalah Mas Zasman juga?"
" Tahulah, dari cerita Mbah Sanjaya. Nuk apa yang kamu lihat itu benar - benar Nanik?"
" Waktu tamu Ibu itu pulang, aku pura- pura buang sampah di samping rumah sana. Itu Mbak Nanik Bude. Dandanannya wes pol!"
" Maksudmu, Nuk ?"
Bude Prapti tertawa geli, membayangkan si pria tua itu yang punya usaha orkes organ tunggal. Sebuah hiburan yang semakin disukai masyarakat akhir-akhir ini dan sering ditampilkan bila ada orang yang mengadakan acara pernikahan atau sunatan.
Selain biayai memanggil hiburan itu lebih murah. Karena hanya memerlukan satu orang yang cukup piawai untuk memainkan alat musik pencet itu. Ditambah dua atau tiga penyanyi yang berpakaian atraktif. Juga beberapa alat elektronik untuk pengeras suara, sound sistem dan mikrofon . Beres!
Juragan Beno itu selalu mendampingi setiap orkes miliknya ditanggap masyarakat. Pria itu sudah berumur 60 tahunan, bertubuh gendut. Tetapi selalu berpakaian gaya anak muda dengan celana jeans kaku, kemeja atau t-shirt. Sedang rambut tipisnya selalu diberi minyak rambut yang banyak. Belum lagi dia selalu mengempit tas kulit lebar di ketiak kanannya.
Ninuk punya alasan tersendiri saat melihat Ibu Anggita sore itu keluar dari rumahnya di pojok sana, dengan dua anak kembarnya yang mengayuh sepeda mini lucu .
"Hay, Adek kembar kamu lucu deh!" Panggil Ninuk. Kedua anak kembar laki- laki itu tersenyum manis. Aduh calon- calon si penggoda wanita kalau sudah besarnya, nanti....
" Mbak saudaranya Mbak Asti? " tanya Ibu Anggita ramah.
__ADS_1
" Iya, Saya Ninuk. Sepupunya Mbak Asti...."
"Oh, pantas..." jawab Ibu Anggita dengan senyum menggoda.
"Kenapa, Bu? Sama cantiknya kan?"
" Eits, siapa yang bilang? Saya baru mau ngomong, pantas kok beda jauh gitu..." Ibu itu tertawa geli.
Ternyata Asti sudah banyak cerita tentang Ninuk yang semakin sering saja muncul di kompleks perumahan ini. Bagi Asti itu cukup menghibur juga selain ada Bude Prapti juga.
Lagi asyik- asyik berbincang- bincang. Mereka dikagetkan dengan kemunculan sebuah kendaraan roda empat berjenis Jeep dengan perpaduan biru hitam. Mobil itu melaju sangat cepat. Hanya suara klaksonnya yang keras agak mengejutkan si kembar. Apalagi salah satu dari anak kembar itu melajukan sepedanya sudah agak jauh di depan.
Terburu- buru Ibu Anggita berlari menghampiri anaknya itu yang mulai menangis ketakutan. Tetapi masih tidak bergerak di atas sepedanya. Eh, wanita yang ada di samping si pengemudi membuka pintu dan turun.
"Eh, ibu. Jaga anaknya dengan benar, ya. Kalau nggak mau celaka! Sembarangan aja main di jalan."
Ninuk yang masih ada di belakang mobil itu terkejut. Dia seperti mengenal suara wanita yang memarahi ibu Anggita dan anak- anaknya. Kasihan.
" Bu, mobil situ yang jalannya terlalu cepat. Ini bukan jalan umum ! Ini kompleks perumahan khusus. Apa si sopir tadi tidak baca peraturan di pos depan. Berapa kecepatan yang pas untuk laju mobil di sini ?"
Jawaban Ibu Anggita yang tegas, agaknya membuat Mbak Nanik tak berkutik. Dia kembali memasuki mobil yang tergolong mewah tersebut. Lalu mobil itu melanjutkan perjalanan ke beberapa rumah lagi di depannya. Sebelum berhenti benar tepat di depannya .
" Kamu kenal perempuan tadi, sombong benar!" ujar Ibu Anggita agak emosi. " Sepertinya mereka hanya tamu, ya?"
" Iya, Bu! " Jawab Ninuk kalem.
Dia segera mengambil hape yang ada di saku bajunya, lalu menyalakan rekaman dan memvideokan wanita itu yang ikut turun bersama sang sopir. Ninuk tersenyum geli melihat pria yang pernah ia ceritakan kepada Bude Prapti, kalau pria pasangan Mbak Nanik itu mirip Juragan Beno itu. Apalagi dia mengandeng tangan Mbak Nani dengan mesra sebelum mengetuk pintu rumah ibu Suparlan.
" Waduh, tamu dan yang punya rumah sama- sama nggak beres ini!" Seru Ibu Anggita itu sambil mendorong sepeda mini yang satunya agar melewati rumah Asti. Sedangkan Ninuk ikut mendorong sepedanya yang lainnya
__ADS_1
" Repot ya, Bu. Mengurus anak kembar?" tanya Ninuk basa- basi.
"Repot banget. Sekarang ini Eyang Putrinya lagi Ke Yogyakarta. Jadi di rumah hanya ada si mbok aja! Jadi si kembar aku bawa nengok Tante Asti!"