
Kesibukan Asti sebagai pengacara, alias pengganguran banyak acara, melebihi wanita pekerja pada umumnya. Beruntungnya dia sudah mempercayakan pengelolaan toko pakaian muslimnya di pasar kepada Puspita, yang dengan cepat juga belajar segala hal ... Sekarang mereka menjadi partner kerja. Jadi toko dikelola sepenuhnya oleh adik Firman itu dibantu Ningrum.
Omzet Berkah MQ Mart dari ke hari mulai naik. Karena banyak orang yang sudah mengetahui ada mini market yang baru. Jadi mereka berbelanja keperluan sehari-hari di sana.
Sesekali Asti datang ke tempat usaha barunya itu sambil mengendong Qani untuk melihat keadaan. Tampaknya beberapa pegawai baru pun punya etos kerja yang bagus.
Leon banyak memasang CCTV di sana sebagai langkah antisipasi dan pengamanan mini market . Walaupun kebanyakan pembeli di mini market itu adalah orang-orang desa yang umumnya berjiwa sederhana dan jujur. Namun kalau situasinya memungkinkan takut mereka jadi gelap mata dengan berbagai barang belanjaan yang berkualitas bagus dan murah. Apalagi kalau seseorang terdesak dengan kebutuhan masalah perut, kadang jalan pintas yang akan diambil olehnya.
" Mama Akbar dan Qani!" panggil Leon iseng saat melihat Asti sibuk mengajar Akbar mengaji dengan Qani dalam gendongannya. Pada suatu sore di ruang tengah.
" Ribet, ah! " protes Asti pada Leon.
Sengaja Asti melakukan itu agar Akbar sejak dini sudah mengenal dasar pendidikan agama. Bermula dengan belajar mengaji. Dia juga berharap agar bayinya juga terbiasa mendengarkan ketika kakaknya mengaji. Akbar belajar menghapal surat-surat bacaan pendek. Juga beberapa doa sederhana untuk kegiatan sehari-hari. Dari doa mau makan, setelah makan sampai mau tidur.
" Ada, apa Mas?" tanya Asti kesal, karena Leon yang sekarang semakin lebay menurutnya.
" Papa mau datang ke sini!" ucapnya santai.
Selama ini mereka hanya saling berkomunikasi dengan kedua orangtuanya Leon, melalui hape atau video call saja... Kedua orang tua Leon sangat bahagia melihat pertumbuhan Qani yang semakin hari tumbuh besar dan sehat. Apalagi wajah Qani adalah duplikat sang ayah dalam bentuk yang lebih mungil.
" Apa Papa cukup sehat bepergian jauh dengan waktu yang cukup lama?" tanya Asti.
__ADS_1
" Mudah -mudahan selalu sehat... Kata Mama, dia gemes banget, pengen gendong Qani setiap kita kirim video Qani."
" Ya, sudah... Asal Papa dan Mama mau tinggal di rumah yang sederhana ini... Kalau nggak, situ yang cari tempat lain! "
" Apaan, sih?" tanya Leon kurang mengerti.
" Ya, Mas Leon cari hotel dan membayari orang tuamu menginap di sana. Masa gitu aja kok, repot!"
Leon tersenyum ganjil. Judesnya Asti mulai muncul kalau dia tidak sejalan dengan salah satu pemikiran Leon.
Persiapan pun segera dilakukan oleh Asti... Pertama, tentu memindahkan penghuni kamar sebelah, yaitu Akbar dan pengasuhnya. Mbak Putri pun tidak keberatan, tidur di suatu kamar di lantai atas bersama Akbar...Sebab anaknya itu sudah diajarkan agar dapat naik- turun tangga dengan berhati-hati.
Kamar di sebelah kamar utama itulah yang akan digunakan untuk kedua orang tua Leon istirahat, bila datang kemari . Dengan berbagai alasan, salah satunya adalah Pak Basuki dilarang melakukan pekerjaan yang membuatnya lelah karena penyakitnya itu. Jadi tentu akan sangat riskan bagi beliau apabila tidur di kamar lantai atas dan harus naik turun tangga.
Asti berharap kamar itu layak untuk menerima kehadiran kedua mertuanya, yang terbiasa hidup di rumah besar yang mewah, besar dan nyaman.
Bu Jum lebih suka tidur di kamar belakang, berdesakan dengan Mbak Ning, di kasur lebar yang dihamparkan di lantai beralas tikar. Katanya lebih nyaman. Sebab ventilasi kamar itu mengarah ke kebun samping sehingga udaranya di siang dan malam hari lebih dingin... Jadi mereka tidak perlu kipas, apalagi AC.
Kamar itu juga baru ditambahkan belum lama ini, juga sekalian dibuatkannya ruang cuci dan jemur anti hujan karena atapnya dari plastik gelombang yang transparan. Pintu ruang laundry itu juga terhubung dengan dua kamar tidur untuk pekerja di warung tenda. Di bangunan tambahan belakang rumah. Asti sangat mempercayai anak buah Joko itu dan memperlakukan mereka layaknya sebagai saudara saja, bukan orang lain.
Putri juga dekat dengan Pak Rob. Mereka sering menemui lelaki itu bersama Akbar untuk membawakannya makanan dan makan siang... Sebab pada hari Jumat , Sabtu dan Minggu pak Rob akan berada di perumahan tahap satu. Dia ditugaskan Leon untuk merawat taman di sana yang ditanami berbagai tanaman hias dan pohon-pohon buah.
__ADS_1
Akbar bersuka cita dengan kabar kalau sang kakek dan neneknya yang di Semarang akan datang. Sekarang bocah laki-laki yang berusia dua setengah tahun itu mau menjadi anak yang mandiri. Dia mau apa -apa sendiri. Mulai dari mandi, makan dan berpakaian.
Qani pun sudah mulai merangkak kemana -mana. Jadi Mbak Ning pun harus berhati-hati bila bekerja di dapur, sebab si mungil itu mulai tertarik dengan bunyi-bunyian yang ada di dapur. Mulai dari nyala api, suara penggorengan dan berbagai suara kesibukan di dapur.
Terkadang Asti sudah tidur sebelum pukul 21.00, saking lelahnya mengurus semuanya. Tanpa bantuan Bu Jum dan Putri, niscaya dia bisa menangis sendirian di pojok dapur. Karena tanpa bantuan tenaga mereka, apalah artinya dia sebagai istri , apalagi ibu rumah tangga.
Tidak terbayangkan oleh Asti nasib beberapa tetangga yang juga seperti dirinya. Menjadi seorang ibu yang mempunyai bayi dan balita. Mereka para ibu yang berusia sebaya dengan dirinya. Seorang ibu yang punya anak kecil, mengurus rumah sendirian tanpa bantuan ART. Malah terkadang mereka harus berjualan segala hal di depan rumah untuk membantu suami, dalam meningkatkan perekonomian keluarga....
Asti selalu mengucapkan syukur setiap hari dalam doanya. Dirinya dan keluarganya diberi kecukupan rezeki. Segala hal yang dulu telah diusahakan oleh almarhumah Bude Ayu semasa hidupnya. Karena hutang budi dari almarhum ayahnya, Harjo Winangun dan almarhum Kushari.
Sebuah perjanjian tanpa materai, tetapi dilaksanakan oleh seorang Winangun yang pantang menelan ludahnya sendiri.
Sebuah bantuan yang menuntut Bude Ayu terikat dengan pernikahan dengan seorang Kushari. Bahkan sebagian sawah mereka pun dikerjakan oleh kerabat Pak Kushari dengan sistem bagi hasil. Tetapi perjanjian itu akan putus apabila salah seorang dari mereka meninggal dunia, kalau tidak Bude Ayu atau Pak Kushari.
Kini, Asti mempercayakan kepada kemampuan Lek No untuk mengelola semua warisan itu di desa Sendang Mulyo itu dibantu dua orang kepercayaannya... Dia berharap keluarga kecilnya itu cukup nyaman tinggal di sini..
Berita soal kedatangan mertua Asti pun didengar keluarga Lek No. Mereka juga segera menyiapkan satu kamar untuk tamu agungnya itu. Bilamana mereka bersedia datang ke desa ini, ataupun mau menginap barang satu malam saja di sana.
Apalagi, Bulek Ratih yang selalu membanggakan tas tangan mahal yang selalu disandangnya itu sebagai pemberian besannya itu. Tas tangan cantik yang sering dibawanya pergi ke berbagai acara di mana pun.
Lainnya lagi penerimaan para ibu muda yang menjadi tetangga Bulek Ratih yang cukup julit. Mereka kurang yakin, kalau tas tangan bagus berwarna coklat itu asli. Walaupun para wanita muda itu sudah melek informasi dan tahun perkembangan mode pada kini. Tentu belum bisa membedakan sebuah tas branded.Jadi mereka semakin nyinyir saja. Seolah -olah Bulek Ratih sedang mendongeng ketika menceritakan keberadaan rumah orang tua Leon di Semarang.
__ADS_1
Leon tampak ikut bersemangat juga, melihat Akbar yang rajin menanyakan kapan kakek-neneknya itu datang. Terasa nyata kegembiraan bocah laki-laki itu. Sebab orang tua Leon pun sangat menyayangi Akbar, seperti sayangnya mereka terhadap Qani.
Leon sudah mendapat berita kalau rombongan keluarganya sudah berangkat dari kota Semarang siang ini. Mereka terdiri dari dua rombongan, orang tua Leon yang berangkat lebih dahulu. Sedangkan Mbak Mesya, suami dan anak perempuan bungsunya Hanum akan menyusul kemudian. Karena Mas Pandu ada pertemuan bisnis terlebih dahulu yang sangat penting dan harus dihadirinya.