
Sejak Asti sakit itulah, Leon kembali makan siang di rumah. Namun ada dari sikap Asti yang mulai berubah. Istrinya itu lebih banyak diam dan menutup diri darinya. Walaupun Leon tahu, Asti sudah cukup stabil kesehatannya.
Seharian saja Asti di rumah. Dia hanya dapat melihat Mbak Ning sibuk mengatur menu dan menyiapkan masakan di bantu Bu Jum, sedang Akbar bersamanya di kamar.
" Sayang?" panggil Leon ketika dia datang dari kantornya.
Terlihat Asti tertidur dengan Akbar di pelukannya. Kemarin Bidan Irna menjelaskan, kalau kram perut yang dialami Asti itu harus diantisipasi baik- baik ... Apalagi Asti mempunyai anemia dan pola tidur yang kurang nyenyak di malam hari.
Ada rasa bersalah di diri pada diri Leon, ketika Asti tidak menceritakan rasa sakitnya. Malah meminta bantuan pada Dimas dan orang-orang yang ada di rumahnya itu untuk diantar ke klinik.
Sikap Asti menjadi sangat pasif, diam dan tak mau bicara kalau tak diajak ngomong. Kadang Asti hanya menjawab pertanyaan dari Leon sekedarnya saja. Jarang sekali mau menanggapi ucapan konyolnya yang menurutnya Leon untuk mencairkan suasana.
" Sudah pulang, Mas?" tanya Asti bingung. Dia tertidur cukup lama hampir satu jam lebih.
Tadi dia hanya menemani Akbar tidur supaya tidak rewel. Karena anak itu terus minta pergi ke kantor ayahnya. Mungkin Akbar ini sudah rindu naik sepeda roda tiganya. Namun sudah empat hari ini Asti tidak lagi menginjak kantor Leon di sana. Bahkan Asti bertekad untuk tidak ke sana lagi kalau tidak terlalu perlu benar!
" Mau sholat Dhuhur dulu, sudah azan tadi?"
" Iya, sebentar!" ujar Asti pelan. Cepat dia menepis tangan Leon yang terulur untuk menahan bahunya untuk membantunya bangun.
Tentu saja Leon terkejut dengan cara Asti barusan. Apalagi wajah Asti terlihat sangat tenang dan datar. Dia berjalan terseok-seok masuk kamar mandi dan berwudhu. Leon hanya terduduk di kursi sudut ruangan. Dia tahu Asti akan berlama-lama sholat di sini. Setelahnya akan membaca Alquran dengan suara pelan.
Diam-diam, Leon keluar dari kamar utama itu. Asti sudah jarang berbicara secara akrab dengannya lagi. Wanita itu memilih untuk tidur jika Leon menceritakan keadaan di kantornya. Sampai timbul rasa bersalah yang sangat besar pada dirinya. Apakah karena dia menyebut nama Almira pada waktu itu? Sehingga membuat Asti mempercayai kalau dia masih ada hubungan dengan wanita yang telah menikah dengan anggota ABRI itu?
Bagi orang-orang di rumah ini, mereka menganggap sikap Asti biasa-biasa saja. Apalagi kalau sudah ada Ninuk dan Izzah, mereka bisa ngobrol di kamar Ninuk berlama-lama. Izzah sudah mendapat nomor kontak pemilik usaha minimarket tersebut.
Tampaknya Asti sudah bertekad untuk mengisi salah satu ruko yang kosong nanti, dengan membuat usaha mini market yang berbeda nuansa dengan nama- nama mini market yang sudah terkenal itu. Yang keberadaanya sudah merambah sampai mencapai daerah pinggiran di desa seperti ini.
Mungkin dengan kelahiran bayinya nanti, Asti sudah tidak lagi leluasa mondar-mandir ke pasar dan berjualan di toko pakaiannya. Apalagi dia tidak berniat mencari tenaga baby sister lagi yang akan menambah pengeluaran biaya rumah tangga. Sebab Bu Jum sudah sanggup membantu Asti nanti menggurus bayi itu. Sedang Akbar sudah cukup besar dan mudah diawasi karena Asti akan selalu ada di rumah.
" Yang, nggak jadi konsul ke dokter Eva?" tanya Leon setelah pria itu pulang ke rumah untuk makan siang. Kali ini dia datang sendirian. Bahkan di meja makan pun, hanya dihidangkan makanan dalam mangkok dan wadah berukuran sedang. Tidak terlalu banyak menu yang dihidangkan di atas meja seperti biasanya. Bahkan lauknya pun hanya sedikit.
" Nggak usah, Mas! Kemarin aku sudah diantar Mbak Ning periksa di bidan Irna..."
__ADS_1
Kembali ucapan Asti seperti tamparan keras bagi Leon. Hampir seminggu ini, banyak hal yang dilakukan Asti tanpa memerlukan izin atau melibatkan dirinya lagi. Sekarang istrinya itu melakukan sesuatu seakan-akan Leon itu sudah tidak peduli lagi padanya. Padahal pekerjaannya yang menggunung pun akan dapat ditinggalkan, demi membawa istrinya itu periksa bulanan ke dokter Eva di rumah sakit.
Ada apa gerangan? Leon pun tidak berani menanyakan perubahan sikap Asti itu! Takut menjadi bara api yang memicu konflik dalam rumah tangganya. Apalagi menanyakan kepada Mbak Ning dan Bu Jum! Mereka lebih pro ke Istrinya.
Sejak kembali dari klinik "Permata Ibu", seakan-akan Asti menjadi pribadi yang berbeda. Mandiri dan tenang. Tidak ada keluhan apapun yang keluar dari bibirnya. Semuanya ditahan untuk dirinya sendiri.
Suatu malam, Leon iseng membuka hape milik istrinya. Saat itu Asti sudah terlelap tidur. Mungkin karena usia kehamilannya yang semakin tua, Asti akan tidur malam lebih cepat.
Tanpa sadar, Leon membuka WA dengan beberapa nama di hape itu. Salah satunya adalah nama Almira. Saat dibuka, terlihat beberapa chat dari wanita muda itu yang pernah dikirim ke Asti hampir sebelas hari yang lalu.
Di sana , Almira banyak menyampaikan isi hatinya. Termasuk rasa tak bahagia dirinya walaupun menikahi seorang pria mapan. Yang jauh perbandingan dengan sosok dan perilaku Leon!
Bahkan jelas- jelas di tulis di sana, Almira sengaja menunda kehamilannya agar, tidak menjadi beban bila dia nanti mengajukan perceraian dengan suaminya. Karena kehadiran seseorang anak akan terus mengikat dia dalam pernikahan semu.
Terlihat Almira berusaha mencari pekerjaan apa pun, agar dirinya mandiri. Setelah pernikahan mereka mulai tidak harmonis. Di situ Almira berkeluh kesah kepada Asti tentang sikap Mas Pram yang kaku, kurang perhatian dan lebih mengutamakan tugas- tugasnya, yang terkadang membuatnya tidak pulang berhari-hari ke rumah.
Salah satu persiapan Almira untuk melayangkan gugatan cerai dari suaminya adalah meminta pekerjaan kepada Leon. Sebab dia tahu, di perusahaan properti itu banyak tersedia lowongan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya sebagai sarjana. Walaupun tidak sesuai dengan bidang studinya sebagai desain interior.
Apakah ini salah satu sebab, Asti bersikap menjauhinya? Padahal dia tidak pernah menghubungi Almira
Tanpa sadar Leon mengusap pipi Asti yang mulai tirus. Kata Mbak Ning, setiap hari Asti hanya makan sedikit. Kalau ngemil pun hanya makan buah seadanya yang tersimpan di kulkas. Malah Mbak Ning tidak pernah melihat Asti meminum susu hamilnya lagi. Dia lebih banyak minum air kelapa muda yang dibawakan Joko atau diantar Bulek Ratih ke rumah ini.
Leon merasa semua ini berkaitan dengan WA Almira yang dikirim sehari sebelum Asti mendadak sakit! Saat Asti terakhir kali datang membawa makan siang ke kantornya. Dia juga tak sengaja meledek pada istrinya itu tentang Almira di kantornya ini karena dia memerlukan tenaga sekretaris untuk mengurus soal surat dan administrasi lainnya.
Leon kembali dikejutkan dengan keadaan rumahnya yang sangat sepi, di siang itu Ketika pulang untuk makan dan istirahat. Tak ada suara Akbar atau bau harum tubuh Asti di kamarnya.
" Mbak Ning, Asti pergi?"
" Lho, bukannya sudah minta izin dengan Mas Leon siang tadi... Mumpung ada Bulek Ratih yang datang. Jadi mereka pergi ke Solo untuk mencari pakaian buat dedek bayi. Mas Joko yang nyetir, kok!"
Leon duduk termangu, dia memang melihat ada pesan WA dari istrinya.Tetapi tak sempat dijawab, karena dia sibuk mengecek beberapa persiapan dasar untuk pembangunan rumah di unit 2. Mereka para pekerja sedang membuat pondasi, dan pengerasan jalan.
" Kenapa , Mas? Repot banget ya di lapangan. Jadi Pak Cakra, Damar dan Dimas juga jarang mampir makan di sini?"
__ADS_1
" Nggak apa-apa, kok. Mbak Ning!"
Leon telah menyelesaikan makan siangnya. Dia duduk di meja makan sendirian tanpa ada yang menemani, membuat Leon tak berselera makan.
Walaupun di meja ada sop ayam yang nikmat. Telur sambal balado, juga empal gepuk.
" Asti nggak ngomong apa- apa, ya . Mbak Ning?"
" Ngomong apa, Mas?"
" Misalnya soal Almira begitu..."
" Nggak pernah, tuh! Kalau permasalahan pribadi, biasanya Mbak Asti disimpan sendiri. Memang Mas Leon ada hubungan dengan Mbak Almira?"
" Ya, ampun. Mbak Ning? Hubungan apa?"
" Ya, tadi saya dengar sedikit dari Bulek Ratih dan Bu Jum, agar Mbak Astri jangan terlalu baik dengan Mbak Almira. Kalau ditelpon Mbak Almira pun, wanita muda itu bisa berjam-jam curhatnya. Kadang setelah selesai teleponan, wajah Mbak Asti jadi semakin susah!"
"Memang kenapa dengan Almira?"
"Mbak Asti bilang, rumah tangga Mbak Almira kurang harmonis. Jadi Mereka akan bercerai..."
" Kalau mereka mau bercerai, kenapa kita yang repot? Memang Almira itu sebaik apa, sih, Mbak Ning. Sampai Asti sangat percaya padanya?"
Mata Mbak Ning menatap Pak Leon agak lama. " Memang Pak Leon nggak selingkuh dengan Mbak Almira kan?"
" Ya, enggaklah! Memang saya sudah gila, apa! Kok , Mbak Ning bisa ngomong seperti itu?"
" Maaf, Pak Leon... Sepertinya, Mbak Almira terlalu pandai memutarbalikkan fakta, seolah-olah dia ada hubungan cinta, yang sampai sekarang pun masih berlanjut dengan Pak Leon. Jadi Mbak Asti pun sangat kecewa. Seolah -olah, Mbak Almira dan Pak Leon masih berhubungan secara diam - diam dengan di belakangnya..."
" Astaghfirullah!" Seru Leon kaget.. Sungguh dia tak menyangka akan sejauh itu pemikiran Asti terhadapnya. Pantas Asti langsung bersikap dingin dan menjauh darinya dalam beberapa hari ini.
" Bicaralah, baik- baik dengan, Mbak Asti. Pak Leon! Sepertinya trauma kegagalan pernikahan sebelumnya cukup membuat dia terluka. Apalagi sikap Mbak Almira yang pandai memanfaatkan situasi. Kalau Pak Leon menganggapnya sepele, Mbak Asti yang akan bertindak. Sepertinya hari ini, Mbak Asti banyak bicara dengan Ibu Imelda S.H. Seorang pengacara yang dulu membantunya saat bercerai dengan Mas Satrio."
__ADS_1
Ucapan Mbak Ning membuat Leon terlempar ke dunia nyata. Dipikirnya, Asti sering mendiamkan itu karena ngambek dan bawaan si jabang bayi. Dia sedang bersiap-siap, mengamankan harta sebelum dan sesudah pernikahan mereka. Tentu ini juga menjadi pembelajaran buat Asti, yang dulu harus keluar dari rumah dinas Satrio tanpa membawa apa pun.