Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 113. Kedatangan Pak Leon ke desa Sendang Mulyo


__ADS_3

Kedatangan Asti, Akbar dan Bu Jum segera disambut oleh Bulek Ratih dengan kedua dayang- dayangnya. Mbak Asni dan Mbak Mar yang ikut- ikuti bersamaan keluar. Hampir saja Asti terkikik geli. Lihatlah, mereka datang dengan berjalan di sisi kanan dan kiri Bulek Ratih saat keluar dari dapur. Mirip mau menampilkan acara pagelaran tari di panggung.


"Walaikum Salam, Asti, Bu Jum!"


Jawab ketiga wanita itu hampir bersamaan. Mungkin karena suara mesin penggiling padi itu yang cukup keras dari halaman depan sampai ke dalam rumah. Sehingga penghuni di dalam rumah ini tidak mendengar ketika mereka memberi salam .


Ketiga wanita itu masih tetap berkutat di dapur kekuasaan mereka, walaupun di depan mereka berteriak agak keras. Apalagi dengan suara lembut Asti yang mengucapkan salam. Ha, ha.


" Bakso, Lek!" Tawar Asti. Bu Jum sedang menjaga Akbar yang mulai berlarian di halaman depan rumah. Setelah sepanjang pagi tadi , Akbar hanya didudukkan di stroller saja oleh Asti, karena pasar sangat ramai saat hari pasaran dan tanggal muda di awal bulan Februari. Bayi itu sekarang merasa bebas. Yang membuat takut. Bu Jum, sebab Akbar berlari sembarangan ke mana pun tanpa melihat ada bahaya di sekelilingnya.


Bayi lelaki itu selalu tertarik dengan bunyi- bunyian dan suara motor atau mobil. Apalagi mobil dengan alat penggiling gabah yang modern ini. Bayi itu akhirnya digendong Lek No lagi. Takut Akbar jatuh. Apalagi halaman depan penuh dengan tumpukan sekam kering, yang agak gatal bila mengenai kulit bayi yang masih sensitif.


Mbak Asni mengeluarkan mangkok beling, sendok dan juga teko berisi air minum. Mereka juga mengeluarkan nasi di termos


" Ini sudah hari kelima Pak Mun menggiling padi kita. Tadi Lek No rencananya mau ke rumahmu untuk bertanam kacang tanah, setelah masa tanam padi usai. ..." Lapor Bu Lek Ratih.


Mereka sedang menikmati bakso yang dibeli dari warung Mas Yono yang berjualan di depan gerbang barat Pasar Kecamatan. Bakso itu terasa lezat dengan racikan kuahnya yang nikmat dari sari- sari tulangan daging sapi, bumbu yang banyak dan medok. Tetapi tidak menimbulkan bau amis, juga tidak menggunakan gajih, sejenis tetelan yang akan menempel di lidah dan terasa lekat setelah selesai dimakan.


" Bakso, Lek No. Kang?" tawar Bu Jum.


" Ini si gemoy nggak mau turun. Tambah berat saja bobot kamu , Akbar?" Ledek Kang Kayat yang masih mengendong Akbar. Bocah itu tertawa senang saat tubuhnya diayunkan - ayun oleh keponakan Bulek Ratih itu.


" Iya, sejak pulang umroh. Dikasih makan apa saja, masuk saja ke mulutnya." Ujar Bu Jum menerangkan.


" Iya, seenaknya - enaknya di sana, lebih enak makanan di kampung, Yuk! Nggak ada lalapan, sambel terasi apalagi ikan asin atau Pete. Sepi..." Ujar Bulek Ratih bersemangat.


" Tetapi Bulek Ratih rada berisi setelah umroh! " Kembali Mbak Asni meledeknya.

__ADS_1


Semua tertawa geli. Sejak pulang ke tanah air, Bulek Ratih makan semua makanan yang tidak dapat dinikmatinya dengan bebas saat berada di Tanah Suci. Selain pihak restoran hotel tidak menyediakan, mungkin bahan makanan itu juga susah didapat karena harus diekspor langsung dari Indonesia seperti ikan asin , terasi dan pete.


Pembicaraan Asti dan Lek No berlanjut di ruang tamu, dengan beberapa pekerja lainnya. Pak Sugeng , penyuluh pertanian di desa mereka, menyarankan agar para petani menanam kacang tanah dengan bibit yang lebih bagus. Dengan cepat Asti menghitung pembelian bibit kacang tanah dan juga kacang kedelai untuk di sawah mereka sebagai selingan. Apalagi hujan masih turun sedikit- sedikit. Takut musim kemarau berkepanjangan, jadi mereka menanam palawija yang masa panennya tidak lebih dari tiga bulan mendatang.


Semua biaya sudah dirinci dengan hitungan yang cermat. Termasuk pembelian pupuk, obat hama sampai pembayaran upah para pekerja harian. Segera Asti mentransfer sejumlah uang ke rekening Lek No.


" Sudah segini, saja. Asti. Insha Allah, nanti dari hasil penjualan beras sudah mencukupi!" Pinta Lek No.


Kang Kayat takjub, betapa Asti mampu mengelola semua peninggalan warisan milik keluarganya itu. Walaupun dia seorang wanita. Lelaki itu dulu mendengar kalau Mbah Harjo yang mengajarkan itu kepada Asti sejak dia SMP. Tampaknya Asti sangat kuat dalam hitungan matematikanya. Karena hasil perhitungan selalu akurat. Dari hasil panen padi dan penjualan kelapa di kebun, keluarga mereka masih dapat hidup layak sampai saat ini.


" Pantas saja, Mbak Asti dapat membangun ruko ya, Mas! " Bisik Kak Kayat. Setelah Asti pamit pulang membawa anaknya dan Bu Jum dengan mobilnya.


" Itulah yang menyebabkan almarhumah Bude Ayu melarang Asti kuliah! Kampus yang bagus kan adanya di kota besar. Takutnya setelah selesai kuliah Asti tidak mau kembali ke desa ini untuk menjaga semua warisan dari Keluarga Winangun. Apalagi kalau dia menikah dengan pria lain yang bukan orang Jawa sini. Sebagai istri tentu dia harus ikut ke mana pun suaminya bekerja dan tinggal kan?"


" Ya... Di desa ini pula, Asti kehilangan satu persatu anggota keluarganya. Kalau nggak ada keluarga Mas Sarno dia pasti hanya hidup sendirian..."


" Anak-anakmu gimana, Yat?"


" Kedua anak laki laki itu kumasukkan ke pesantren aja, Mas. Memang masih kecil. Tetapi dengan menerima pendidikan ajaran agama Islam sejak dini, semoga mereka bisa menjadi pemuda yang lebih baik."


" Kamu nanti, cari pupuk di toko di dekat perempatan pasar, ya? Ajak Asni sesekali beli daster di pasar itu. Kasihan istrimu. Di dapur terus saja kerjanya seharian. Kalau nggak, hiburannya ke pasar kecamatan untuk belanja!"


" Maklum kan, biaya untuk ngirim ke pesantren agak besar, orang tuanya harus hidup ngirit untuk bisa ngirim setiap bulannya. agar anak-anak tetap dapat pendidikan yang layak."


Sampai kedua pria dewasa itu agak dikejutkan dengan suara mobil yang terdekat cukup keras ujung jalan sana. Tak lama mobil itu muncul dan masuk ke halaman depan rumah Joglo.


Mata Kang Kayat melotot melihat penampakan mobil Pajero putih yang terbilang sangat mewah di desa ini. Juga jarang orang di daerah ini memilikinya. Kecuali mereka mendapat warisan dengan menjual lahan atau berhektar-hektar sawah milik orang tua atau kakek mereka.

__ADS_1


Belum sempat mereka berkomentar, dari pintu samping yang terbuka, keluarlah Mas Yanto. Pria yang bekerja di rumah Asti juga menjaga ruko.


" Assalamualaikum, Pak Sarno!"


" Walaikum Salam! " Jawab kedua lelaki yang duduk di depan teras itu serempak. Tak lama muncul sesosok pria lain, yang turun dari pintu pengemudi, Leon Narendra Murti.


Pria itu itu bertubuh tinggi, tegap, tampan dengan pakaian yang cocok dengan penampilannya di sore itu. Rapi dan mahal. Kulitnya bersih menandakan dia jarang bekerja di lapangan atau di tengah teriknya panas matahari.


"'Waduh ada kabar baik apa ini? Sampai Pak Leon datang ke rumah saya di desa ...." Sambut Lek No agak ragu-ragu. Namun dia juga merasa gembira. Mereka bersalaman dengan akrab.


Digiringnya Pak Leon masuk ke dalam rumah bergaya Jawa tempo dulu. Tetapi dengan penataan ruangan yang lebih modern karena lantainya terbuat dari keramik atau tegel bercorak.


Mata lelaki itu melihat seluruh isi rumah ini yang semuanya terbuat dari jati pilihan. Mulai dari kayu- kayu yang menjadi tiang rumah ini. Seperangkat kursi tamu, lemari kaca antik, meja makan panjang dengan 8 kursi tinggi. Belum lagi gebyok tinggi dengan ukiran rumit. Semua terbuat dari kayu jati pilihan, juga ada ukiran yang rumit di setiap sisi perabot itu.


" Bu, tolong buat minuman, ya? ini ada Pak Leon datang diantar Mas Yanto."


Justru Mbak Asni dan Mbak Mar yang muncul di ruang depan. Mereka sudah mendengar tetang Pak Leon. Tetapi mereka sudah lama penasaran dengan sosok pria kota yang selalu bicarakan oleh Bulek Ratih atau Ninuk, apabila mereka dari rumah Mbak Asti.


Ugh, wanita itu mendapat cubitan dari kakak iparnya. " Matamu itu lho, Mar dijaga. Tak lapor Slamet. Kapok kamu!"


Mata Wanita beranak dua itu agak kagum melihat wajah rupawan Pak Leon. Kata anak remaja putri tetangga di sebelah rumah disebutnya 'bening'.


" Itu calon suaminya Asti?" bisik Mbak Mar Makin Kepo. " Aduh, kalau ada lelaki yang seperti itu lagi, mau aku...."


Sebuah pukulan kuat, menepuk bahunya." Yakin, mau ganti suami beneran. Tapi Pak Leon itu belum tentu mau sama kamu, Yuk! Yang mau dijadiin istrinya itu, Asti, lho?"


Mulut Mbak Mar Jadi manyun mendengar ledekan iparnya itu. Huh, susah kalau ada saudara yang nggak satu frekuensi, begitu! Mana mau Asni diajak berhalusinasi sebentar saja. Nggak setiap hari mereka menerima tamu lelaki setampan Pak Leon di rumah ini.

__ADS_1


__ADS_2