
Mobil yang dikemudikan Asti berjalan perlahan melewati jalan utama di Desa Sendang Ranti. Jalan desa yang beraspal mulus, dengan kondisi tanah yang rata dan berwarna kemerahan. Di ujung jalan itulah, tampak jalan provinsi dengan banyaknya kendaraan besar yang lalu lalang di sana.
Selama perjalanan kembali ke rumah, Bulek Ratih memilih diam dan mengawasi ke keadaan di sekitarnya. Dia tahu, Asti harus konsentrasi penuh dalam waktu tiga puluh menit mendatang agar mereka dapat sampai ke rumah dengan aman dan selamat.
Asti yang sedang menjalankan mobilnya tentu tidak memperhatikan tatapan sinis Zahra dengan kepergian mantan istri suaminya itu.
Mulutnya Zahra seperti mengejek, karena Asti tetaplah wanita kampung. Walaupun sudah mampu mengendarai sebuah mobil. Bahkan Zahra menutup telinganya ketika para ibu di belakang tadi bergosip tentang Asti yang membangun rumah yang bagus dan empat ruko untuk usaha.
Bahkan wanita muda tak menyadari keadaan wajahnya yang tidak semulus saat pertama kali berjumpa dengan Satrio. Wajahnya semakin berminyak dan ada sedikit flek karena efek kehamilannya
Bahkan bobot tubuhnya sudah bertambah dua puluh kilo sekarang. Karena harus makan lebih banyak dan bergizi untuk perkembangan bayi yang ada di rahimnya. Apalagi sekarang usia kehamilan sudah menginjak minggu ke tiga puluh enam. Tinggal dua atau tiga minggu lagi, dia akan melahirkan penerus dari keturunannya Satrio Wibowo sesungguhnya.
Di rumah dinas Satrio itu pun , Zahra jarang keluar rumah. Di sana dia tinggal bersama dengan Ibu Widya setelah mereka menikah secara agama dan negara. Tak peduli dengan tatapan sinis tetangga juga ucapan mereka yang suka menyindir tidak jelas.
Itulah senjata terakhir yang digunakan Zahra, atas saran Bude Hardi, kakak ibunya. Kalau dia harus hamil anak Satrio agar lelaki itu menikahinya.
Sebab dengan cara itulah, Zahra tidak kehilangan sumber keuangan- nya. Selama berpacaran dengan Satrio hampir semua kebutuhan gadis itu dipenuhinya, dari uang sewa kost, makan sehari- hari , beli skincare sampai baju- baju bagus.
Ternyata, Bude dan Pakde Hardi, diam - diam memantau hubungan Zahra dan Satrio yang menurut mereka di luar kewajaran pasangan yang sedang berpacaran. Sampai mereka menekan Satrio untuk bertanggung jawab, kalau tidak mau dilaporkan pada dinas atau ke atasannya.
Mereka juga yang menjadi saksi dalam pernikahan itu, di sebuah rumah kontrakan Zahra. Karena Pak RT dan pengurus lingkungan setempat mendapat laporan dari seorang wanita yang mengaku istri atasan Satrio di kantor. Kalau Satrio dan Zahra yang mengontrak rumah di sana belum menikah secara resmi alias kumpul kebo.
" Kamu mau ngapain terus ada di luar? Mau pamer perutmu yang sebesar gentong itu dan segera melahirkan! Malu, Mbak. Punya malu sedikit!"
__ADS_1
Perkataan Ibu yang bernama Arimbi itu agak keras, memarahi Zahra yang selalu ikut muncul bersama Satrio dan ibunya ke rumah Kakeknya ini. Bukannya ikut berduka cita malah Keluarga Satrio yang baru ini seperti melempar kotoran pada wajah anak dan keluarga Mbah Sanjaya yang lain. Jelas - jelas perut besar Zahra itu yang menjadi bukti perselingkuhan dengan Satrio.
Entah mengapa, Zahra merasa semakin tidak menyukai semua wanita dengan sebutan ibu- ibu itu. Tertatih - tatih dia mulai masuk ke dalam rumah. Sebagian para ibu yang merupakan tetangga di sekitar sini pun sudah pulang ke rumah masing- masing. Jadilah rumah besar ini menjadi agak sepi dan hening.
" Kamu kenapa terus memarahi menantuku? " kata Ibu Widya tidak terima. Setelah mereka duduk-duduk di ruang tengah.
" Situ masih waras, kan? Dasar pada nggak punya otak kalian! Datang ke rumah ini bukan menghargai nama baik Mbah Sanjaya. Malah membuka aib anakmu dengan perempuan sundal ini."
Wajah Ibu Arimbi semakin memerah. Tangannya menunjuk muka Zahrah yang sudah pucat dan penuh keringat.
Bukan wanita itu tidak terima ditegur kakaknya, tetapi dengan keadaan seperti malah seperti membuka aib perselingkuhan Satrio. Mereka anggota keluarga hanya mendengar selentingan berita itu sekilas, yang membuat Mbah Sanjaya terguncang. Apalagi setelah mereka mendengar Ibu Widya dan Pak Cahyadi juga hadir di persidangan perceraian itu. Makin sakit hati saja pria tua itu terhadap keluarga anak perempuan sulungnya itu!
" Semua ibu-ibu di desa ini dan para ibu yang tadi datang dari desanya Lek No , ikut menghadiri pesta pernikahan Satrio dan Asti! Mereka juga bisa menghitung pakai jari sepuluh, Mbak! Kalau menantumu yang sekarang itu hamil duluan... Satrio dan Asti itu baru bercerai nggak sampai enam bulan, kan? Lihat perempuan ****** kecil itu , mau meletus sebentar lagi perutnya. Benar kata Lek No! kalau belum dikutuk dan diazab oleh Allah, belum tahu kalau kalian itu adalah orang yang melakukannya perbuatan dosa dan hina!"
Suara keras Ibu itu terdengar semakin keras. Semua orang yang masih ada di belakang rumah terkejut mendengarnya. Sungguh mereka tidak menyangka kalau perempuan muda yang sedang hamil besar itulah yang membuat Asti dan Satrio bercerai.
Mereka para sepupu dan saudara lain segera bergerak, dibawah arahan Susanto yang berhubungan baik dengan Joko. Sudah lama keluarga dari anak Mbah Sanjaya yang lain tidak suka dengan sikap Satrio. Anaknya agak pongah dan sombong. Apalagi dengan kedudukan Ibunya yang menjadi kepala sekolah SMA terkenal di kotanya, dan sang Bapak yang menjadi camat, di sebuah daerah yang terkenal dengan wisata alamnya.
Bahkan mereka semua tidak bisa mencegah pernikahan itu, yang ditujukan untuk mempersatukan dua keluarga Mbah Sanjaya dan Mbah Harjo Winangun. Pernikahan Asti dan Satrio.
Tambah marahlah kerabat Mbah Sanjaya itu ketika mendengar penjelasan dari Joko. Sampai mereka mendapat satu video, saat Satrio dan cewek itu bertunangan di rumah orang tua si perempuan. Apa perbuatan Satrio dan Zahra itu tidak konyol? Padahal Satrio masih terikat pernikahan dengan Asti, dan mereka baru saja dikaruniai anak laki- laki.
Sampai dua video mereka tersebar ke beberapa anggota keluarga Mbah Sanjaya dan kerabat juga kenalan. Sebagai bukti apa yang dilakukan Satrio itu salah! Sampai di video itu juga diterima oleh Pak Cahyadi dan Ibu Widya, sehingga perceraian itupun terjadilah.
__ADS_1
" Seng, Sabar Asti. Gusti Allah tidak tidur! Lihat Satrio dan Zahra telah mempermalukan diri mereka sendiri. Bukan hanya pada warga di desa itu, juga para tetangga kita. Allahu Akbar!"
Seruan Bulek Ratih, menyadarkan Asti. Namun dia punya banyak pertanyaan yang ada di benaknya yang belum tahu harus ditanyakan kepada siapa untuk mencari jawabannya!
Pertama, sakitnya Mbah Sanjaya ternyata sudah lama, dan sengaja disembunyikan darinya. kedua, kenapa Satrio harus memakai kruk? Apa dia dianiayai oleh teman baru Joko yang merupakan anggota geng motor terkenal di kota sana?
Sekarang mau apalagi Satrio bersusah payah datang ke desa Sendang Ranti, membawa si perempuan binal itu dengan perutnya yang sangat besar itu? Mau pamer agar menambah hujatan pada mereka?
Ternyata hukum tabur tuai dimulai dari sekarang. Siapa berbuat dia itulah yang menanggung akibatnya.
Jelas-jelas para ibu yang tergabung di organisasi itu masih mau berteman baik dengan Asti. Sehingga mereka memasukkan namanya dalam group WA baru yang berisi berbagai gosip terbaru, termasuk datangnya Zahra sebagai istri di rumah dinas Satrio. Semua segala sepak terjang Zahra selalu dipantau para ibu- ibu di kompleks itu.
Mereka juga tidak mau dong! Apa yang menimpa Asti terjadi pada diri mereka, para istri abdi negara tersebut. Malah Asti yang masih muda, cantik dan berhijab saja bisa kena tendang pelakor. Sehingga rumah tangganya berantakan. Apalagi mereka, yang sudah berusia lebih tua dengan anak yang lebih dari satu orang, hanya sebagai ibu rumah tangga. Apa jadinya kalau dimasuki orang ketiga? Sebab si pelakor itu tinggal bertetangga dengan mereka, dan dengan bangga menempati rumah dengan semua barang - barangnya di dalam rumah itu adalah bekas peninggalan milik Asti!
"'Masak apa, Ning?" tanya Bulek Ratih ketika masuk ke dapur. Di sana sudah tersedia sayur lodeh, botok tempe teri, dan sambel terasi.
Tak lama Bu Jum menyusul setelah menidurkan Akbar.
Semua makanan telah disajikan di meja makan di sudut ruangan. Pak Roh dan Mas Yanto juga ikut datang makan dan berkumpul bersama. Sama seperti watak Bude Ayu almarhumah, Asti akan menyuruh semua orang makan bersama - sama. Tanpa mempedulikan pekerjaan dan kedudukannya di rumah ini. Semua orang sama saja.
" Mbak Asti, itu ada titipan dari Pak Leon! Beliau baru datang dari Semarang, tetapi sekarang sedang ke kantor Mas Adam. Setelah saya beritahu kalau Mbak Asti dan semua orang pergi untuk melayat."
Bulek Ratih mengangkat sebuah dus besar berisi berbagai macam makanan khas kota Semarang itu. Ada tumpukan lumpia, dan dan bungkusan Bandung Presto Juwana yang terkenal itu.
__ADS_1
" Ini buat lauk nanti malam saja!"
Seru Bulek Ratih senang. Dulu dia merasakan nikmatnya olahan bandeng itu yang durinya sudah lunak. Sewaktu jalan - jalan dengan Bude Ayu dan diantar oleh Joko.