
Mbak Mesya ternyata sangat tertarik dengan usaha warung tenda Joko... Apalagi kedua anak muda itu, itu pernah tinggal dan menetap agak lama di Semarang... Kalau Joko hampir 5 tahun sedangkan Mas Danu tiga tahun.
Jadilah mereka ngobrol sangat lama di halaman samping, sambil melihat ramainya tempat itu menjadi tempat nongkrong anak muda di malam Sabtu dan malam Minggu. Bahkan Pak Pandu dan Bu Anggun jadi ikut nimbrung.
Menurut Pak Pandu, perkembangan pembangunan di daerah ini mengalami kemajuan yang sangat pesat setelah dibangunnya jalan simpang tersebut. Apalagi jalan raya itu cukup lebar dan beraspal mulus, sehingga menjadi jalan yang sangat ramai dilalui berbagai kendaraan setiap harinya... Jalan itu pula yang menjadi penghubung untuk ketiga provinsi terdekat di wilayah yang saling berbatasan itu.
Hampir tiap hari melintas truk besar dari dua arah di jalan raya itu. Truk -truk itu sarat dengan berbagai muatan. Jadi dapat menunjukkan kalau perkembangan ekonomi di daerah itu cukup besar kemajuannya.
Qani harus ditimang oleh Leon terlebih dahulu, sebelum bayi itu dapat tertidur nyenyak. Kalau tidak, bayi perempuan itu akan terus rewel. Mbak Mesya tertawa geli melihat sifat kebapakan Leon yang muncul setelah mempunyai anak perempuan. Terlihat adiknya itu cukup bersabar mengendong bayinya itu sambil menggerakkan kedua kakinya ke segala arah di ruang tengah ini.
Dulu hal itu dilakukan Leon, saat Asti masih dalam masa pemulihan setelah menjalani operasi sesar di perutnya. Dia belum leluasa bergerak untuk mengurus bayinya tanpa bantuan Bu Jum dan Bulek Ratih.
Mereka memang awalnya melarang Leon mengendong bayi itu yang masih merengek padahal sudah jamnya tidur di malam hari. Sedangkan bayi itu sudah kenyang disusui oleh ibunya.
Akhirnya Qani jadi terbiasa tidur harus diayun lebih dahulu oleh Leon. Walaupun jadi agak merepotkan, tetapi Leon berhak memanjakan bayi mungilnya itu setelah seharian diurus ibunya dan Bu Jum.
" Nah, ini baru bapak sejati... Bantu menidurkan bayi... Nggak semua pekerjaan di rumah itu hanya tugas istri! Suami pun harus ikut membantu, Leon!" ujar
Mbak Mesya.
Mereka keluarga Leon dan Asti masih berkumpul dan ngobrol di ruang tengah sampai agak malam. Rumah Asti ini dibangun dengan gaya modern minimalis. Namun ruang keluarga dan ruang makannya dibiarkan menyatu tanpa mengunakan sekat, sehingga terasa lebih lapang.
" AC-nya baru ini?" Ledek Mbak Mesya ketika diantar menuju kamarnya di lantai atas oleh Asti.
" Iya, baru diservis, Mbak! Anak-anak jarang pakai AC. Mereka seringnya pakai kipas angin, maklum orang kampung nggak kuat udara dingin!"
Sengaja rumah ini dibuat dengan bukaan yang banyak dan ventilasi lebar. Sehingga rumah itu tidak terlalu sumpek dan panas di siang hari. Apalagi di sana ada dua pintu menuju ke luar rumah yang selalu terbuka. Pintu menuju taman dan pintu samping rumah yang menuju ke bangunan pelengkap warung tenda di bagian utaranya.
Di sana terhubung dengan halaman ruko. Tetapi pintu pagar penghubung itu selalu dikunci dari dalam. Sebab banyak barang keperluan warung tenda tersimpan di sana, pada rak - rak dari besi baja. Bahkan juga ada meja rajang dan meracik bumbu, bak pencuci piring sekaligus rak pengering. Di atas meja racik itu ada hand Mikser, food Cooper, dan beberapa peralatan elektronik setara dengan perlengkapan ala dapur kafe atau hotel.
__ADS_1
Hanya saja pintu depan di ruang tamu dan pagar garasi depan juga selalu terkunci rapat. Bahkan dijaga Mas Yanto agar selalu aman.
Asti terbangun di tengah malam, dan menjalankan beberapa sholat sunnah. Seperti yang biasa dia lakukan setiap harinya saja. Hanya saja , dia hanya puasa di hari Kamis saja, karena masih menyusui Qani. Dokter Eva melarang Asti diet ketat. Karena Dokter itu agak kaget, melihat dengan cepat tubuh Asti kembali ramping setelah melahirkan bayinya dalam waktu 3 bulan saja. Dokter itu takut, bayinya itu tidak mendapatkan gizi cukup dari air susu ibunya itu.
" Yang?" Panggil Leon.
" Iya?" jawab Asti sambil merapikan beberapa pakaian bayi milik Qani yang disimpan dalam rak-rak plastik.
" Papa minta izin menginap lebih lama di sini, boleh?"
" Boleh saja? Apa Papa kurang nyaman di rumah ini?"
" Ini sudah cukup nyaman? Hanya saja... Aku janji setelah urusan pembangunan tahap dua selesai... Aku mau minta bantuan Adam untuk merenovasi rumah ini!"
" Kenapa?"
" Ternyata, tanah sebelah masih punya kerabat Pak Rahmat Sidiq, dan Papa sudah membayarnya...Pak Rahmat dulu tidak berani menjual tanah ini yang merupakan hadiah dari mertuanya itu. Jadi dia mengembalikan tanah ini kepadamu sebagai ahli waris yang sah!"
" Tahu... Juga soal pernikahan Pak Rahmat yang kedua pun atas seizin Papa yang waktu menjadi pimpinan di daerah itu. Sebab Bude Ayu sudah lama merasakan, kalau gadis lugu, anak dari pengurus asrama tempat Pak Rahmat ditempatkan itu sudah lama mengalihkan perhatian Pak Rahmat..."
" Belajarlah, Mas! Dari kehidupan orang-orang di sekitarmu... Lelaki kalau sudah berselingkuh, akan menghancurkan rumah tangganya sendiri. Kasihan yang jadi korban adalah anak-anaknya!"
" Iya, aku akan selalu belajar! Tolong ingatkan aku, ya? Kalau ada perbuatan aku yang salah. Tegur aku, marahi dengan keras. Jangan didiamkan!"
" Makanya jadi orang jangan Tp, dong!"
" Apa itu Tp ?"
" Tebar Pesona, Bos! Ingat sekarang, anak sudah dua!"
__ADS_1
" Iya, Nyonya!" ujar Leon mengalah.
Huh, Asti hanya tersenyum ganjil...Mengapa baru sekarang lelaki itu menyadari. Dulu dia menjauhi Almira seakan-akan dia pernah punya janji yang belum terbayarkan! Tentu wanita culas itu bermaksud menagihnya! Memang enak! karena Asti sudah mengabaikan Leon selama ini... Asti memang bukan pendendam. Tetapi memasukkan si ular betina itu ke dalam kehidupannya rumah tangganya, ternyata lebih buruk dari apa pun... Yang dia sesalinya adalah dia hampir kehilangan kewarasannya dalam berpikir dan bertindak. Sehingga dapat mengancam keselamatan bayinya yang kala itu masih ada di dalam rahimnya.
Persoalan tuntutan dari pihak Keluarga Pakde Karto pun sudah sampai ke beberapa pihak... Malah sudah dilaporkan ke kelurahan, yang sekarang dipimpin oleh Pak Lurah, Ahmat Basirun ... Asti menolak membicarakan permasalahan itu di rumah Joglonya. Walaupun para sesepuh Desa Sendang Mulyo bersedia membantu semua persolan itu atas permintaan Pak Haji Anwar.
Di kantor kelurahan, Asti memberi salinan perjanjian Bude Ayu dengan pihak kakak almarhum Pak Kushari, tentang berakhirnya kerja sama penggunaan sawah dengan sistem bagi hasil tercantum. Dengan sadar Pakde Karto memberi tanda tangan dan menyerahkan sawah itu kepada si pemilik sawah itu, yaitu Ayu Sulaksmi Winangun. Lucunya pihak keluarga Pakde Karto mempermasalahkan sawah yang dijual Bude Ayu. Sawah yang sudah lama menjadi sengketa... Sebab tanah sawah itu sudah dibeli oleh adik ipar Pak Darmaji... Pak Kades itu sangat berang dengan ulah anak-anak Pakde Karto... Mereka menggugat tanpa ada bukti atas hak kepemilikan sawah dari milik keluarga Winangun.
Tentu saja permasalahan itu menarik perhatian masyarakat dari kedua desa itu yang saling bertetangga tersebut...Sehingga beberapa orang ikut hadir di aula kelurahan pada waktu permasalahan itu digelar.
Leon juga membawa seorang penasehat hukum khusus yang ahli dalam bidang hukum perdata. Terutama soal tanah dan warisan. Beliau yang selama ini mengurus surat-surat dan sertifikat kepemilikan tanah dan rumah di perumahan Pesona Griya Sekarwangi.
Ada satu sisi di kehidupan masyarakat desa yang masih banyak melakukan berbagai perjanjian yang hanya dilaksanakan secara lisan. Karena adanya rasa saling mempercayai di antara dua orang yang melakukan perjanjian tersebut. Tetapi bila ada dari perjanjian lisan itu menimbulkan kerugian dari satu pihak, terkadang menimbulkan sengketa. Terutama dari pihak keluarga, misalnya dari anak atau cucu.
Perjanjian Bude Ayu dan Pak Kushari dulu juga hanya dilisankan saja... Untungnya ada dua saksi yang masih bisa dihadirkan oleh Bude Ayu untuk memutus perjanjian itu.
Ternyata Pak Hermawan yang dimintai bantuan soal permasalahan itu... Pak Hermawan pun dulu hadir karena permintaan Satrio Wibowo.
Ternyata dari pihak Pak Karto, kakak almarhum Kushari yang tidak terima. Seharusnya, sawah bagi hasil itu sudah harus dikembalikan ke pihak Bude Ayu yang merupakan pemilik sawah tersebut. Sebab perjanjian itu telah gugur setelah Pak Kushari meninggal hampir delapan tahun yang lalu.
Semua orang yang hadir di sana terpaku. Ternyata Bude Ayu sudah mendatangi Pak Karto saat beliau sakit... Pria itu menandatangani surat pemutusan sawah bagi hasil itu berakhir. Sedangkan sawah itu dikembalikan ke pihak Bude Ayu.
Wajah anak- anak lelaki Pakde Karto berubah pucat... Hanya omongan saja yang keras dan kasar tentang sawah milik Asti. Tetapi dia tak mempunya bukti secarik pun yang sah atas kepemilikan sawah Asti itu.
Lek No sangat kesal dengan sikap pongah Tarjo dan Maswadi, dua anak Pakde Karto itu... Pihak keluarga Lek No dan Asti tidak menuntut ganti rugi atas peristiwa tersebut.. Tetapi kedua pria pengangguran itu harus menandatangani sebuah surat pernyataan kalau mereka akan bersedia dilaporkan dan masuk penjara bila mengungkit kembali masalah harta Winangun di kemudikan hari.
Pengacara dari Leon telah menyiapkan surat- surat itu secara lengkap.. .. Kopian surat itu diberikan kepada beberapa pihak terkait.
Pak Darmaji Hendardi jadi tenang setelah permasalahan itu terselesaikan secara damai. Walaupun dia sudah muak, dengan perilaku semua anggota dan kerabat almarhum Kushari. Sayangnya, mereka masih bertempat tinggal yang sama di wilayahnya itu. Juga menjadi tetangga di depan rumahnya.
__ADS_1
Bagi beberapa tetangga di sana, kisah keluarga Kushari dan kerabatnya itu dapat dijadikan monumen pelajaran kehidupan bagi para orang tua dalam hal mendidik anaknya kelak di kemudian hari. Agar para orang tua tidak hanya memberikan anak -anak itu dengan kehidupan yang enak dengan limpahan materi. Juga harus diberi pelajaran agama sejak dini yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau bisa pendidikan formal yang cukup. Agar anak mereka mendapat pekerjaan layak dengan ijazah dan keterampilan yang mereka miliki. Jadi tidak merugikan dan jadi sampah masyarakat. Sebab nama besar Kushari sekarang sudah berbau busuk dan menyengat !