Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 219. Ketika keluarga Satrio Membayar Kesalahannya


__ADS_3

" Ini Bude Mu!" ujar Pria itu tersenyum penuh bangga dan cinta, sambil mengenalkan Asti kepada wanita yang berjalan di sisinya.


Asti, Mbak Ning dan Putri bengong. Wanita yang disebut Budenya lebih tua sedikit dari usianya Asti itu. Namun wanita itu terlihat mempesona, dengan tubuh molek yang padat berisi. Belum lagi dandanan yang agak medok. Terlihat dari alisnya yang tebal melengkung seperti garis khatulistiwa dan bibirnya yang agak lebar dengan memakai lipstik berwarna merah, semerah darah.


" Mayang!" Ujar Wanita bertubuh sintal, padat dan kulit putih bersinar cerah karena perawatan yang cukup mahal rupanya. Segera wanita itu menyebutkan namanya, sambil mengulurkan tangannya.


" Saya Asti, Bude... Ini orang-orang yang bekerja di rumah saya. Mbak Ning, Putri dan itu Bu Jum," kata Asti, sambil menyambut uluran tangan itu.


Satu persatu, para wanita itu pun bersalaman. Namun Mbak Ning tak bisa menyembunyikan senyum gelinya. Karena wanita yang lebih muda umurnya itu harus mendapatkan panggilan bude dalam aturan keluarga Jawa, karena dia menikahi lelaki yang lebih tua dan merupakan Pakde dari Mbak Asti.


Justru cara berpakaian wanita yang diakui sebagai istri Pakde Muin itu yang agak membingungkan mereka semua. Termasuk Bu Jum yang tadi baru datang dari lantai atas, jadi tak sempat menyambut kedatangan pasangan langka itu. Bu Jum langsung terpaku antara percaya dan tidak percaya.


Bude Mayang berpakaian muslim dan berhijab tertutup. Tetapi atasan tunik yang berlengan panjang, dan bawahan yang disebut legging itu sangat ketat melekat di tubuhnya yang padat berisi. Sampai tunik berwarna maron itu jelas mencetak dua gunung kembar miliknya ditambah dengan bemper bodi belakangnya yang padat dan montok. Mungkin karena pakaian yang dipakainya itu terbuat dari bahas kaos dengan ukuran yang pas badan. Sehingga lekuk- lekuk tubuh wanita itu tergambar nyata. adanya.


" Gaya hijab yang kayak begini, Mbak Asti... Yang suka dikomentarin seorang Koko non muslim di akun tok-tok..." Kata Putri berbisik. Setelah mereka menjauh. Sedangkan pasangan itu duduk manis di kursi tamu.


" Maksudnya apa sih, Put?"


" Itu Mbak, berhijab yang tidak syar'i. Masih menampilkan lekuk tubuh... Seperti orang telanjang saja!"


" Sudahlah, Putri... Kita nggak boleh menilai orang sembarangan... Niatnya sudah bagus berpakaian muslim secara tertutup, tetapi masih memberi amal shodaqoh buat kaum pria yang sedang memandangnya..."


"'Ya, ampun Mbak Asti... Itu sih sama aja, begitu!" ujar Putri geli.


Wanita yang bernama Mayang pun duduk agak rapat di sebelah suaminya. Kalau pun mereka merupakan pengantin baru, sih ... orang- orang di rumah ini cukup maklum. Namun mempertontonkan kemesraan di hadapan tuan rumah, tempat dia bertamu. Apa iya masih bisa dimaklumi? Para wanita di rumah Asti itu pun saling bertatapan seakan-akan mau menyampaikan sesuatu, tetapi tidak berani.

__ADS_1


" Ini rumah pribadi milikmu atau milik suamimu yang sekarang, Asti ?" tanya laki-laki tua itu sambil melepas jaket panjangnya. Lalu meletakkannya di sandaran kursi.


" Ini warisan tanah yang dibeli Mbah Kung untuk hadiah pernikahan Bude Ayu dulu... Tetapi mantan suaminya telah mengembalikan tanah ini pada Asti. ... Kalau untuk membangun rumah dan ruko ini, Asti menjual perhiasan peninggalan Mbah Putri dan Bude Ayu...."


Ada rasa sedih saat Asti mengucapkan kata-kata itu. Pria itu menatap mata cucu dari budenya itu yang agak berkaca-kaca.


" Memang Satrio kebangetan jadi orang! Aku sudah melarang Ayu waktu mau menjodohkan kamu dengan anak Widya itu... Sejak remaja, Satrio itu nakalnya pool... Yah, kamu juga tidak menolak, sampai akhirnya juga bercerai jadinya ...Nggak semua perjodohan untuk mempererat hubungan persaudaraan itu baik. Buktinya Satrio itu adalah lelaki yang kurang bertanggung jawab. Malah semakin ngawur, nikah dengan perempuan muda yang modelnya kayak perempuan nggak benar , begitu!"


" Tapi, mobil yang Pakde pakai itu mobilnya Satrio kan?"


" Iya, sudah aku beli sejak Satrio dimutasikan ke Purwokerto... Katanya untuk menambah dana, karena Widya membeli rumah yang jaraknya tidak jauh dari kantor tempat Satrio itu. Untuk mempermudah kalau dia berangkat kerja! Sebab Kaki Satrio sudah pincang sebelah, dan nggak bisa normal kembali. Sudah nggak punya apa-apa lagi, mereka sekarang! Satrio dan anaknya yang masih kecil itu bergantian masuk rumah sakit untuk menjalani operasi di sana. Hanya menghabiskan semua harta yang dimiliki ibunya saja. Karena semua pengobatan itu memerlukan biaya yang tidak sedikit!"


Lelaki itu menarik nafas yang agak menyesakkan dadanya sebentar. "'Benar juga kata adik-adik Widya yang tinggal di Sendang Ranti itu. Kalau keluarga Widya dan Satrio sudah mendzolimi kamu... Mereka kini, ibu, anak , menantu dan cucu ternyata harus membayar karma dari semua perbuatan mereka itu !"


" Wallahu alam, Pakde! Asti nggak tahu- menahu soal azab, karma dan pembalasan dari Allah... Tetapi dulu Asti sakit hati banget dari cara Satrio berselingkuh dengan Zahra dan Bude Widya malah membela mereka!"


Para ART itu terharu mendengar cerita dari pria itu. Apalagi pria itu tak menolak saat Asti akan menghubungi Lek No dan Bulek Ratih di desa agar segera datang ke rumah ini. Sebab ada tamu dari kerabat mereka di rumahnya ini.


" Mayang ini masih sepupunya Lilis istrinya Pakde Cahyadi yang sekarang ... Kami baru menikah setahun yang lalu, setelah aku pensiun dari dinas kepolisian dan kembali ke Purwokerto, " kata Pakde Muin memulai ceritanya.


" Mbak Lilis itu orang baik ... Dia hampir cacat kakinya karena dihajar Mbak Widya setelah mendengar gosip tentang perselingkuhan di kantor suaminya itu ... Padahal Lilis hanya bekerja di rumah Dinas Pak Cahyadi sebagai Art, sementara Ibu mertuanya berjualan kue-kue di depan kantor kecamatan.. .Lilis itu asli dari Tasikmalaya, bertemu dengan almarhum suaminya saat mereka bekerja di sebuah restoran yang sama di Bandung. Jadi saat suaminya sakit parah, mereka pulang ke kampung suaminya di Purwokerto... Karena suaminya sudah meninggal, beban Lilis semakin berat... Sebab dia harus mencari nafkah untuk anak dan ibu mertuanya yang sudah tua itu..."


" Jadi soal penganiayaan yang dilakukan Bude Widya itu ramai, dong?"


" Ramai banget! Bisa saja Mbak Widya dilaporkan ke polisi dan mendapat hukuman berat. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya itu... Terpaksa Widya harus menerima pernikahan Pak Cahyadi dengan Lilis. Sebab sejak Lilis sakit, ibu mertuanya tidak bisa berjualan karena menggurus cucunya yang masih balita...

__ADS_1


Belum lagi biaya berobat untuk operasi kakinya yang patah dan menjalani terapi. Jadi Pak Cahyadi mengambil tanggungjawab untuk menafkahi keluarga Lulus itu. Justru pernikahan mereka sangat langgeng...Apalagi Lilis wanita sederhana dan tak banyak menuntut. Mereka justru hidup makmur dengan berbagai usaha yang cukup berhasil... Justru Widya bercerai dengan suaminya sejak dua tahun lalu dan semakin terpuruk!"


Pria itu menatap wajah sendu Asti agak lama. " Nyatanya sekarang Satrio juga mengalami hal yang serupa. Kakinya juga patah karena kecelakaan yang dialaminya sangat parah. Seumur hidup Satrio harus berjalan pincang... Karena ada bagian tulang kakinya yang hancur!"


" Pakde, Asti juga baru mendengar soal kecelakaan itu beberapa bulan setelah kejadian. Waktu itu Satrio baru dari rumah ini, karena mau menengok Akbar. Asti melarangnya! Untuk apa? Setelah dia menolak mengakui Akbar sebagai anaknya. Bahkan untuk membiayai nafkah anaknya saja harus dituntut dari pengacara yang mengurus perceraian Asti. Lek No juga bertindak tegas, agar Satrio tidak perlu datang lagi!" ujar Asti.


Putri dan Mbak Ning sudah merapikan sebuah kamar di lantai atas untuk pasangan itu beristirahat. Sebelumnya mereka sudah menikmati makan siang yang segera saja disajikan oleh Bu Jum dan Asti.


Dari kamar Asti, Akbar keluar diikuti oleh Qani yang ikut merangkak bersamanya. Pemandangan itu cukup mengejutkan Asti dan Bu Jum. Keduanya tergopoh-gopoh menghampiri kedua anaknya itu.


" Kakak! Ibu kan sudah bilang kalau adek bangun, kasih tahu Ibu?"


" Tapi adek bangun nggak nangis,kok. Bu!" Seru Akbar.


Qani segera digendong Bu Jum. Pampers yang dipakainya sudah penuh. Asti membawa Akbar ke kamar mandi di dekat dapur, anak itu dibersihkan muka dan tangannya.


" Akbar mau makan sekalian?" tanya Asti setelah mengeringkan wajah bocah tampan itu dengan handuk kering.


Qani pun sudah kelihatan lega setelah digantikan celana dan bajunya. Bayi itu malah minta digendong ibunya ketika melihat ada dua orang asing yang duduk di kursi di ruang makan keluarganya. Bayi itu selalu agak takut kalau ada orang baru yang datang ke rumahnya ini.


Kalau Akbar mau saja diajak bersalaman dan berkenalan dengan kedua tamunya itu. Justru Qani malah seperti seekor burung unta yang akan memasukkan kepalanya ke dalam pasir karena malu.


" Akbar Ini Mbah Muin, Ini Mbah Uti Mayang!" ujar Asti.


Akbar makan di meja kecilnya tersendiri. Sementara Putri menungguinya di lantai sambil membawa piring makan siangnya di sana.

__ADS_1


Di meja, pasangan suami istri itu makan siang ditemani Bu Jum dan Mbak Ning. Sejak tadi Asti menjelaskan, kalau dia sudah menganggap semua orang yang bekerja di rumahnya ini adalah bagian dari keluarganya. Untungnya Pakde Muin memaklumi. Sebab lelaki yang pensiun dari dinas kepolisian itu terbiasa dengan tugasnya yang berbaur dengan berbagai tingkatan masyarakat dalam pekerjaannya yang banyak berada di lapangan.


__ADS_2