Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 86. Semua Jadi Tak Sama Lagi


__ADS_3

Hampir satu jam lebih mereka berada di pasar itu. Bulek Ratih hanya minta dibelikan sayuran hijau saja ketika Asti menelponnya. Sebab baru kemarin Bulek Ratih berbelanja cukup banyak, karena diantar Yu Asni.


" Kamu nggak bilang sama Ratih, kalau aku mau datang kan ?"


"Nggak, Bude. Buat kejutan aja ! Sebab Bulek Ratih sama hebohnya dengan Ninuk!"


Sejak dari tadi pria muda itu terus mengawasi Asti yang pergi membawa rombongan ibu- ibu itu keluar dari pasar dengan membawa mobil merahnya. Sekarang Asti semakin jauh dan tak terjangkau olehnya. Yah, lelaki itu adalah Kusno!


Pria muda yang berusaha mendekati Asti sejak dulu. Namun banyak kendala yang menghalangi mereka. Dari sikap dan cara Asti berpakaian menunjukkan kalau cara dia mematuhi ajaran agama Islam lebih bersungguh-sungguh dibandingkan gadis lain yang seusia dengannya. Sedangkan dia pria non-muslim, sudah dijodohkan keluarga dengan kerabat dekat walaupun tinggal di kota yang sangat berjauhan.


Kemarin saja, dia mendapat pertentangan keras saat mencoba menolak perjodohan itu. Apalagi kalau dia meninggalkan kepercayaan keluarga besarnya yang sudah turun temurun untuk menjadi mualaf. Belum semua berhasil dia dijalankan, Asti sudah dijodohkan dengan pria lain. Bahkan wanita idamannya itu bahkan sudah menyebarkan undangan pernikahan. Sebelum dia berjuang....


Sampai dia mendengar soal perceraian Asti dengan suaminya itu. Kusno tidak pernah mengharapkan hal itu terjadi. Namun terlihat belum lama ini, Asti kembali mengurus toko pakaian muslim di sebelah toko kakaknya sepupunya.


Sekarang Asti tampaknya semakin menutup diri dari pandangan kaum lelaki. Apalagi dia sudah mempunyai anak laki- laki yang masih kecil. Anak yang menjadi tanggung jawab dalam kehidupannya.


 


Perjalanan ke desa hanya memakan waktu tak sampai lima belas menit dari pasar. Mungkin karena mengira Asti hanya mampir ke rumah seperti biasa, Bulek Ratih masih berkutat di dapurnya.


" Assalamu'alaikum!" seru Asti diikuti oleh Akbar. Di depan pintu rumah Berbentuk joglo itu.


Bu Jum dan Bude Diah tertawa geli. Akbar memang peniru sejati. Asti mengandeng tangan anaknya untuk masuk ke dalam rumah. Bocah laki- laki itu berusaha memanggil Bulek Ratih kembali.


Mendengar suara - suara di depan pintu rumahnya, Bulek Ratih keluar. Dia kaget melihat tamu kecilnya. Belum juga sempat mengendong Akbar, Bude Diah juga muncul di depan pintu.


" Mbak Diah? Ya Allah! Panjang umur dan sehat selalu. Aku dari semalam kok kepikiran Mbak terus..."


Mereka berpelukan erat. Sewaktu acara 40 hari yang lalu, untuk mengenang meninggalnya Mbah Sanjaya, Bulek Ratih absen. Sebab dia kurang enak badan. Jadilah Lek No dan Joko yang datang ke rumah Mbah Sanjaya di Desa Sendang Ranti.


Kedua pria itu banyak membawa sembako titipan Asti. Dari gula, kue- kue dan satu keranjang besar jeruk manis. Padahal Bude Diah justru ingin melihat wajah - wajah kerabatnya yang hadir. Sepertinya Asti mulai menjaga jarak dan menjauh dari kerabat neneknya almarhumah itu.


Mereka ngobrol asyik di ruang tengah dengan Akbar digendongan Bulek Ratih. Seperti biasa, Bu Jum ikut membantu memasak di dapur. Sebagian makanan ini akan dimasukan di wadah dan dibawa ke sawah.

__ADS_1


Asti sudah membuat minuman sebanyak empat cangkir teh manis hangat. Akbar sangat suka minum teh manis itu dari gelas ibunya dengan menggunakan sendok kecil.


" Pelan- pelan, Dek. Bajunya basah itu!"


Akbar menatap wajah ibunya agak sedih. Betapa peka hati anaknya ini. Asti tersenyum. Mungkin mengira ibunya memarahinya dia. " Ini basah! Nanti Akbar ganti sama Bu Jum, ya?" Ujarnya lembut.


Kedua wanita itu terus ngobrol dengan ramai. Apalagi setelah dua wanita muda yang tadi di dapur membantu Bulek Ratih itu selesai memasak, mereka ikut bergabung.


" Kamu nggak bilang kalau Bude Diah nginap di rumahmu!"


tegur Bulek Ratih.


"Datangnya Bude Diah aja sudah sore. Ya, kami jadi banyak ngobrol."


" Pasti banyak gosip terbaru, yah. Jadi Bulek ketinggian lagi beritanya..."


" Ratih! Kok kamu kayak nggak kenal Asti saja. Mana mau dia dengar berita yang nggak mutu. Aku sempat cerita tentang awal perceraian Mas Cahyadi dan Mbak Widya."


Bulek Ratih terdiam. " Kami sudah mendengar sendiri dari omongan Mbah Sanjaya waktu itu. Bagi Bude Ayu itu juga bukan masalah besar. Ada orang tua yang bercerai, hidup pernikahan anaknya bisa langgeng. Tetapi Satrio beda! Dia ketemu gadis muda , cantik langsung lupa anak dan istri!"


Semua orang kaget mendengar istilah - istilah ajaib yang keluar dari mulutnya. Bude Diah gaul juga ucapannya.


"Ya, ampun! Ibu, tahu istilah itu juga!" Teriak Mbah Mah geli. Wanita itu sudah menikah dengan Kang Kasat selama dua tahun dan belum dikarunia anak!


Sampailah obrolan wanita itu tentang Zahra. Wanita muda yang menghancurkan pernikahan Asti dan Satrio. Berita itu juga sampai di telinganya Mbak Sanjaya. Pria tua itu sampai mencari nama kedua orang tua Zahra, latar belakang keluarganya sampai ke desa asal tempat orang tuanya tinggal.


Orang yang membantu Mbah Sanjaya mencari Informasi juga berhasil mendapatkan video acara pertunangan Satrio dan Zahra. Si Mbah sampai kaget dan sesak napasnya kambuh. Cucunya masih terikat pernikahan dengan Asti malah bertunangan dengan perempuan lain. Berita itu sampai menggemparkan kerabat dan keluarga Mbah Sanjaya yang tinggal di Sendang Ranti, juga ke beberapa daerah lainnya.


" Jadi Mbah Sanjaya sudah tahu semuanya?"


" Sudah, malah minta diantar Bapaknya Santo ke Wates Yogyakarta. Ternyata keluarga mereka juga belum lama tinggal di sana, baru lima tahunan. Dulunya Nenek Zahra dikenal sebagai dukun atau paranormal di desanya di daerah Gunung Kidul."


"Zahra diberi ajian pemikat dari neneknya itu. Jadi banyak pria yang tertarik kepadanya. Cuma pesan Mbahnya itu , Zahra harus memilih lelaki yang punya pekerjaan mapan, kaya dan terhormat untuk menjadi pendamping hidupnya. Nah, Satrio itu masuklah dalam perangkap Zahra karena ajian itu!"

__ADS_1


Semua wanita yang mendengar cerita Bude Diah itu jadi bingung. Kalau perkara pelet, pemasangan susuk, atau jampi dan ajian pemikat mereka cukup paham. Ilmu hitam itu banyak digunakan para wanita untuk menaklukkan pria yang di incarnya.


Bude Diah terdiam. " Mbah Sanjaya sampai tanya sama Pak Kyai Sentot yang sangat dia percayai karena sangat tinggi ilmu agamanya. Nenek Zahra memakai ajian itu di tubuh cucunya, dengan tujuan pria yang menggauli dia pertama kali, akan selalu terikat sampai tali pernikahan! Mungkin Satrio melakukannya dengan Zahra, Lihat kan Satrio sampai lupa anak dan istrinya..."


" Masa ada ajian seperti itu? Aku baru denger , Lho!" Ujar Mbak Asni menimpali


" Ya, ada! Pak Kyai hanya menyarankan kepada Mbah Sanjaya agar istri Satrio mengalah. Karena ajian itu punya akibat yang menghancurkan bagi orang yang menghalangi!"


Asti duduk merenung. Pantas sikap dan cara berpikir Satrio berbalik 180 derajat sejak dia berhubungan dengan Zahra.. Mungkinkah Satrio melakukan hal itu dengan Zahra. Sebab pada saat itu Asti menjalani masa nifas selama 40 hari setelah melahirkan!


" Apa ajian itu namanya itu putar guling, ya. Bude ? " tanya Mbak Mar lagi. Sebab wanita itu sudah cukup berpengalaman karena merantau ke berbagai kota di Jawa Tengah untuk bekerja.


"Kurang paham, aku. Mbak! Cuma kamu lihat kan? Betapa kami sangat tidak menyukai kehadiran Mbak Widya, Satrio dan Zahra di acara pemakaman Mbah Sanjaya!"


" Dulu juga teman yang juga bekerja, di dekat rumah majikanku juga menggunakan ajian itu untuk merebut suami majikannya. Majikannya sampai menceraikan istrinya. Jadi teman aku dinikahi oleh mantan majikan laki- lakinya . Anak yang dilahirkan temanku itu ada yang cacat fisiknya, ada yang keguguran. Malah ada yang sudah remaja, fisiknyav normal tetapi mengalami gangguan jiwa!" Kata Mbak Mar lagi.


" Ahh..." Jerit Bu Jum dan Bulek Ratih berbarengan. " Kok jadi serem begitu balasannya!" lanjut Bu Jum.


" Semua ilmu hitam itu meminta tumbal Bu Jum! Apalagi kalau ada syarat yang tidak terpenuhi mungkin harus dibayar dengan nyawa yang memegang ajian itu..."


Asti mengangguk setuju. " Tetapi cerita itu benar kan Mbak Mar?'


" Ya, Benar. Mbak!"


" Sebab kalau cerita itu hanya ada di film, nanti ada yang takut dan pasti minta tidur di kamar bawah lagi sama Mbak Ning." Jawab Asti santai.


Semua orang tertawa mendengar ucapan Asti. Tetapi mereka memandang wajah Bu Jum yang memerah karena malu!


" Bu Jum penakut? lho, kata Mbak Ning sering nonton sinetron tentang azab atau film Suzanna gitu!" Ledek Mbak Asni lagi.


" Sudah jangan diledek! Ingat semua perbuatan baik dan buruk itu ada pertanggungjawabannya kepada Allah. Apalagi menggunakan ilmu hitam. Balasan cepat sekali! Nggak nunggu bertahun- tahun lagi!"


Semua orang terdiam saat Bude Diah mengucapkan kata-kata itu. Asti tersenyum lebar. Mau bagaimana mana lagi. Sudah banyak orang yang berbicara tetang hal ini.

__ADS_1


Daerah mereka yang memang terletak di pedalaman dan sejak awalnya dibangun penuh dengan berbagai mitos dan cerita sejarah dari peninggalan nenek moyang,


Bahkan ada beberapa makam kyai atau ulama yang dulu mensyiarkan agama Islam di sana, bukan diziarahi dengan layak sebagai adab orang muslim. Malah dijaga dan disembah dengan tujuan yang menyalahi aturan agama. Belum lagi tempat- tempat yang dianggap keramat, menjadi tempat orang bertapa meminta berbagai kenikmatan dunia. Dari kekayaan, jabatan, sampai ketenaran dan nama besar di beberapa bidang.


__ADS_2