
Asti benar- benar tak mengharapkan si 'Satrio Baja Hitam' itu untuk menghubunginya. Sejak bertemu cucu Mbah Kung Sanjaya tadi, suhu tubuhnya naik beberapa derajat celcius. Belum lagi pipinya yang panas dan memerah seperti buah tomat masak.
Seumur-umur dia dijauhi oleh para kumbang jantan secara diam- diam. Tetapi dihormati oleh para sesepuh desa karena membawa nama besar Harjo Winangun. Eh, ini ketemu pria yang tak segan - segan merayunya di depan umum.
" Asti, Asti !" Panggil Bude Ayu sambil mengetuk pintu kamarnya.
" Satrio nelpon kamu terus, ini. Kok, nggak dijawab?"
Kepala Bude Ayu melongok dari balik pintu. Wanita itu melihat Asti masih duduk bersimpuh di depan sajadah sambil membaca Al-Qur'an dengan suara lirih. Hati- hati wanita itu menutup kembali pintu kamar keponakannya.
Tak berapa lama Asti menutup bacaannya tersebut, lalu melipat mukenanya. Mata Asti menatap HP-nya yang masih dalam keadaan mengisi daya. Mm, emang enak tak diladeni, rayuan receh ala play boy cap kerupuk itu! Eh, masih berani juga dia menanyakan hal itu pada Bude Ayu. Main telpon sembarangan ke orang yang lebih tua. Mengadu nih ceritanya?
Dia akan mengistirahatkan dirinya malam ini. Tubuh dan pikirannya harus fresh besok pagi. Sesaat dia mendengar suara motor yang sepertinya lebih dari satu berhenti di depan rumah Pak Haji Anwar.
Masalah Mas Timbul sungguh merepotkan banyak orang. Juga membuat takut pengguna kendaraan motor untuk melintas di daerah rawan dan sepi di malam hari.
Acara belanja ke Solo kali ini ditemani Bu Haji Anissa. Beliau juga punya kepentingan untuk mencari jarik batik di Pasar Klewer. Juga mencari bahan brokat untuk seragam keluarga besar, karena adik bungsunya akan menikah dua bulan mendatang. Bu Anissa meminta Pak Ton yang menjadi supirnya kali ini.
Sepanjang jalan malah topik Mas Timbul yang menjadi pembicaraan antara Bu Haji dan Pak Ton. Hanya sesekali Asti menanggapi.
Perjalanan ditempuh hampir satu jam lebih karena jalanan di luar kota Solo cukup lancar saat hari kerja menjelang jam sepuluh siang.
Di pasar batik terbesar di kota ini, Asti sudah punya langganan yang menjual kulot batik , kain batik yang dimodif dengan lilitan tali dan blus batik muslimah. Masing- masing Asti hanya mengambil dua kodi.
Dia cukup lega karena semua barang yang sudah dicatat dalam daftar belanjaan sudah terbeli.
Bu Haji juga sudah mendapat bahan brokat buat seragam di keluarganya. Masing- masing anggota keluarga yang wanita mendapat bahan sepanjang 1,75 cm sampai 2 meter. Mereka cukup lama memutuskan warna bahan brokat yang paling cocok dengan tema yang sesuai.
Bu Haji secara tak sengaja melihat Mbak Nanik berdiri di depan sebuah mini market di dekat lampu merah perempatan menuju luar kota Solo.
" Itu, Mbak Nanik. Bukan, ya. Pak ?" Ucapnya lirih.
Pak Ton sampai melambatkan laju mobilnya hanya untuk memastikan kalau yang dilihat Bu Haji Anissa memang Mbak Nanik. Malah Asti yang ragu- ragu karena selama ini Mbak Nanik selalu berhijab.
Sedangkan wanita itu tampil atraktif dengan rok mini dari bahan jeans, blus kaos merah ketat. Rambutnya agak kecoklatan dipotong sebahu dengan rebonding rapi.
" Astagfirullah!" Bisik Bu Haji Anissa. Takut salah mengira kalau Mbak Nani mencari makan dengan berpakaian seperti itu."
"Maksud, Bu Haji? "
__ADS_1
Wanita yang berparas ayu dan lembut itu menganggukkan kepalanya. Pak Ton menepikan mobilnya setelah melewati tempat itu beberapa meter di depannya. Karena mau tahu apa yang dilakukan selanjutnya, oleh wanita itu. Dulu Mbak Nanik sangat membanggakan dirinya karena menjadi menantu Pak Kushari Juwono.
Tak berapa lama ada sebuah motor matic biru berhenti tak jauh dari tempat itu. Seorang pria yang usianya sepantaran Lek No turun dan menghampiri Mbak Nanik.
Ternyata mereka berbicara hanya sebentar. Tak lama, Mbak Nani naik ke boncengan motor pria itu. Tangan Mbak Nanik memeluk erat pinggang lelaki itu. Malah seluruh tubuh Mbak Nanik menempel ketat di punggung laki- laki itu. Motor itu melewati mobil mereka. Ternyata memang itu Mbak Nani yang memakai full makeup di sore ini.
Bu Haji terus mengucapkan asma Allah dengan suara lirih. Pak Ton masih merekam pasangan dengan HP miliknya
" Kita pantau terus, Bu?" tanya pria itu.
" Nggak usah, Ton. Nambah dosa aja!"
" Ya udah Bu Haji. Mari kita pulang!"
Tak urung Asti masih dapat mengamati pasangan yang sedang berboncengan mesra itu. Sebab motor yang dinaiki pasangan itu hanya terhalang dua motor di depan mobil mereka. Di dekat sebuah hotel kelas melati, motor itu berbelok dan masuk.
Gedung berlantai dua itu tampak kumuh dengan catnya yang mengelupas dan tanaman dalam pot- pot besar itu meranggas dan kering. Di depan gedung itu tertulis nama hotelnya.
Tanpa sadar air mata Asti menetes. Di dalam ujian kesulitan hidup yang berat, malah Mbak Nanik berpaling dari Sang Maha Pencipta. Dia malah menukar semua kesulitannya dengan jalan maksiat.
Pemandangan tadi membuat ketiga orang di dalam mobil itu terdiam.Bu Haji melihat mata Asti yang berkaca- kaca . Ada kesedihan di sana yang tak terucap .
Gadis itu sibuk menurunkan berbagai kantong kresek. Sedangkan Pak Ton dan Lek No sudah menggotong beberapa kardus ke dalam rumah.
" Terima kasih, Bu Haji! Sudah diantar belanja."
"Sama- sama! " ujar Bu Haji Anissa. " Kasih uang rokok aja untuk Pak Ton. Soal bensin sama saya aja."
"Jangan, Bu Haji! Nanti saya nggak mau pakai mobil Bu Haji lagi, lho?"
" Sudah Asti, Saya kan juga belanja!"
Akhirnya separuh dari sewa mobil yang disepakati Asti sebelumnya diberi ke Pak Ton. Sebab Wanita itu tetap tak mau menerima uang sewa dari Asti.
Sampai Asti menyadari kalau di samping Bude Ayu ada orang lain. Bukankah itu Si Satrio Baja Hitam?
Asti mengucapkan salam sebagai basa- basi. Semua ini untuk Budenya, bukan untuk mahluk yang kasat mata itu. Dia berusaha keras untuk tak memperhatikan pria itu.
Gadis itu segera membersihkan diri. Kemudian dia membuat teh dari air termos yang selalu disediakan Bulek Ratih di meja dapur. Bude sudah menyiapkan makan malam. Walaupun tadi sempat mampir di sebuah warung soto, Asti akhirnya menghabiskan nasi dan lauknya dengan susah payah. Tanpa sadar dia memeluk Budenya yang sedang mencuci piring di dapur.
__ADS_1
"Ada apa, Kamu Asti ?"
Bude Ayu memang paling tahu kalau keponakannya itu sedang gelisah atau banyak pikiran.
" Tadi, ketika pulang belanja. Kita melihat Mbak Nanik, Bude. Dia kayak kerja nggak benar .... Dandanan dan cara berpakaiannya seperti perempuan nakal!"
" Kamu lihat benar itu Nanik?"
" Justru Bu Haji Anissa yang pertama kali lihat. Aku malah pangling , De! Mana nggak pakai jilbab , dandanan medok. Dia juga pake rok mini sama baju kaos ketat!"
" Kamu kenapa sedih?"
" Nggak tahu ini. Kayak nggak percaya aja Bude. Kalau perbuatan buruk itu akan menghasilkan yang buruk!"
" Kamu capek ya. Belanja banyak?"
Dengan lembut Bude Ayu memijit bahu keponakannya itu penuh kasih sayang. Justru melihat terpuruknya hidup Nanik dia malah melow. Ditantang Mas Timbul yang dulu berkeliaran di pasar dan minta uang ke pedagang agak tinggi sebagai uang keamanan Asti tidak takut .
" Aduh yang lagi dipijit. Aku juga mau dipijit juga, dong!"
Asti hanya memejamkan matanya saat melihat Satrio yang menyusul ke ruang makan. Padahal tadi dia masih asyik ngobrol di teras depan dengan Lek No.
" Aku istirahat dulu aja, ya. De"
Asti memeluk erat tubuh Bude Ayu.
Satrio diam saja saat melihat Asti masuk kamarnya dan mengunci pintu itu dari dalam .
" Ayok, Kita ngobrol di ruang tengah aja. Lek No belum pulang ke rumahnya kan?"
" Aku di sini, Bude."
" Asti kenapa , ya. Kok Lemes gitu. Dia nggak sakit kan,? "
Tanya suami Bulek Ratih yang sangat hapal dengan kebiasaan keponakannya itu. Asti adalah perempuan muda yang mandiri, tidak manja dan jarang mengeluh dengan segala kepahitan hidup yang dialaminya.
" Si Asti melihat Nanik jadi perempuan nggak benar. di perempatan jalan luar kota Solo! "
Tak berapa lama Lek No pamit pulang sambil menggeret tangan Satrio. Walaupun bersaudara, tetap saja mereka bukan muhrim. Untuk menjaga nama baik, beberapa tamu lelaki lebih sering diinapkan di rumah Lek No Walaupun tak sebesar rumah Bude Ayu.
__ADS_1
Dulu Pak Harjo membangun rumah itu untuk Sarno dan istrinya yang baru menikah. Rumah itu dibangun secara permanen, lengkap dengan lima kamar tidur, ruang tamu dua kamar mandi juga dapur dan gudang yang luas. Gudang itu yang menghubungkan rumah Lek No itu dengan rumah utama.