
Di luar kamar Pakde Kerto itu, Asti hanya mampu memandangi wajah - wajah yang menatapnya dengan rasa iba atau prihatin atas kehilangan dari anggota keluarganya itu. Apalagi dalam keadaan yang penuh kesulitan itu malah dimanfaatkan oleh kedua bersaudara Juwono itu, demi kepentingan pribadinya.
Bulek Ratih tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya, Sampai dia memeluk Asti erat-erat. Bude Mayang dan Pakde Muin turut terlihat emosi akibat perbuatan lelaki itu. Tetapi pria itu sudah berusaha mencari fakta dari peristiwa itu. Walaupun, sayangnya... kasus itu telah ditutup, karena sudah lewat lebih dari dua puluh tahun yang lalu.
Tak banyak jejak yang tertinggal di sana. Bahkan banyak para orang tua, sesepuh dari kerabat Emilia yang menutup cerita itu dari anak dan cucunya sendiri. Sebab sangat menyakitkan untuk dikenang peristiwa itu yang sangat tragis itu. Terlalu mengerikan, juga memedihkan dengan jatuhnya korban nyawa dari anggota keluarga Emilia, setelah rumah besar dibakar orang di tengah malam. ..Akibat emosi dan ambisi seseorang yang mampu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya itu.
Segera Bulek Ika menyusul Asti dan dan menepuk bahunya. Berusaha membesarkan hati wanita muda itu. " Bertanyalah pada Pak Kerto , Asti! Mengapa Ibumu tidak kembali ke Jawa ? Nggak mungkin juga wanita muda itu melupakan bayinya yang baru dilahirkannya begitu saja!"
Tangan Asti yang terulur segera ditangkap Leon dengan cepat... Sepertinya Asti memerlukan suaminya itu memberinya kekuatan. Kali ini dia harus bisa menahan segala emosinya itu yang terus meluap-luap dan seakan menjadi tumpah ruah... Dia hanya ingin mendapatkan suatu kebenaran. Walaupun dia harus bersiap diri, untuk mendapatkan kenyataan yang paling pahit sekalipun!
Dituntun Leon, Asti kembali masuk ke dalam kamar itu lagi. Wajah Pakde Kerto masih terlihat sangat sedih dan menderita... Tetapi pria itu tersadar, dia juga tak mau juga membawa semua beban dosa dan kesalahannya itu sampai ke liang kuburnya nanti.
" Pakde, mengapa Ibu Emilia tidak kembali ke desa Sendang Mulyo?" tanya Asti tajam.
Hilang sudah rasa hormat dan kasihan kepada lelaki tua itu. Pria yang juga berkomplot dengan adiknya itu untuk kejahatan yang tak kasat mata ini. Terutama pada keluarga Winangun.
Lelaki terdiam lama. Mengatur satu demi satu nafasnya yang agak tersengal - sengal. Mereka semua yang berada di luar kamar juga ikut mendengarkan dan merasakan ketegangan itu.
" Setelah neneknya dimakamkan... Emilia berniat mencari keberadaan orang tuanya yang hilang. Karena situasi di sana belum kondusif... banyak omongan dan berita yang tak jelas tentang kejadian yang menimpa Pak Jaffar dan istrinya itu. Pak Kushari dibantu sanak keluarga lain membujuk Emilia untuk kembali ke Jawa. Apalagi kakak tirinya itu bersedia menunggui kedua adik laki-laki mereka yang masih dalam perawatan di rumah sakit, karena mengalami luka sangat parah. Tiba -tiba, Emilia sudah pergi dari rumah saudaranya itu, tempat selama ini mereka ditampung. Padahal hari itu Pak Kushari sudah membelikan
tiket pesawat terbang untuk dirinya dan Emilia untuk kembali ke Jawa. Sepertinya Emilia sudah pergi jauh entah kemana..."
__ADS_1
" Lalu siapa yang menyuruh Pakde Yusuf dan adiknya itu pindah dari Surabaya?" tanya Asti lagi.
Mata pria itu berkedip tak percaya. Memang Pak Kushari masih mempunyai kontak dengan Kakak Emilia yang menjaga kedua adiknya di rumah sakit! Tetapi beberapa tahun kemudian, Bude Ayu mendapatkan informasi dari tetangga yang pernah ke Surabaya ... Kakak tirinya Emilia itu membuka warung rokok di pinggir sebuah jalan bersama adiknya... Pak Kushari memberi mereka uang yang cukup banyak untuk segera meninggalkan kota Surabaya. Padahal dia juga yang mengantar Ayu dan Pak Harjo Winangun berkeliling ke seluruh pelosok Kota Surabaya, mencari keberadaan Yusuf dan adiknya itu selama 4 hari. Tetapi usaha itu ternyata sia-sia.
" Kushari! Dia ingin keluarga Winangun tetap bergantung padanya, dan selalu memerlukan pertolongan darinya .... Pak Harjo Winangun punya banyak uang... Dari hasil panen hektaran sawah dan kebun kelapa miliknya."
Pak Muin menatap wajah pucat Pakde Kerto. " Mengapa kalian suka memanfaatkan kesulitan orang lain, sih ? Keluarga Emilia mengalami musibah tetapi kalian yang untung... Berapa puluh juta dana yang diberikan Pak Harjo Winangun untuk mencari keberadaan Emilia. Belum lagi kakak dan adiknya, yang diusir dari Surabaya itu. Ternyata Pak Kushari ada dibalik semua kerumitan ini!"
" Maksud Pak Muin apa?" tanya seorang pengurus desa Sendang Mulyo, yang sejak tadi menyimak semua kejadian di kamar itu. Sebuah kamar yang tidak layak digunakan untuk pasien yang sakit stroke seperti Pakde Kerto ini.
"'Dari informasi yang saya terima, Kedua orang tua Emilia berada di rumah warga lain ketika kebakaran itu terjadi... Mereka terluka karena dianiaya oleh kerabat yang berseteru. Sampai dibawa ke kampung asal mereka, guna menghindari konflik yang lebih besar lagi. Sebab di antara para pedagang di sana, mereka masih mempunyai hubungan kekerabatan. Ayah Emilia terpaksa diamputasi kakinya... Karena lukanya hanya diobati dengan obat kampung, tidak segera mendapatkan pertolongan medis. Dia meminta tolong pada sanak keluarga yang lain untuk membantu putra sulungnya membawa pergi adik bungsu itu untuk keluar dari daerah itu... Sepertinya Yusuf kembali ke Surabaya... Tetapi dia tidak bisa lagi bekerja di perusahaan sebelumnya karena berbulan - bulan izin pergi Ke Banjarmasin, menunggui adiknya yang bungsu sampai cukup pulih."
Sekarang Asti hanya menyakini kalau kakak dan adik dari ibunya itu masih sehat walafiat dan tinggal di Surabaya... Kali ini Asti akan meminta bantuan Pakde Muin untuk mencari jejak mereka. Walaupun dia masih menyimpan sedikit bukti berupa buku nikah dari kedua orang tuanya dan dua lembar ijazah milik ibunya, Emilia Sakinah Jaffar. Satu ijazah sewaktu wanita muda itu bersekolah di kampungnya, di Kota Banjarmasin. Satu lagi Ijazah sewaktu ibunya itu bersekolah di sebuah SMA swasta di kota Yogyakarta.
Lek No yang pamit... Walaupun agak marah dan kecewa kepada pria yang sedang terbaring sakit itu.. Tangannya menyelipkan sebuah amplop putih. Ada sedikit uang untuk pria itu untuk sekedar membeli makanan yang layak untuk dimakan.
Kemarin Tarjo sangat ketakutan saat ditemui di rumah ini. Lelaki yang sudah berusia lebih dari 35 tahun itu, sungguh bukan pria yang bertanggung jawab.. Dia sama sekali tak mau bekerja, padahal sudah punya dua anak yang bersekolah di sekolah dasar. Pekerjaannya hanya nongkrong nggak jelas di sebuah bengkel di dekat warung kopi.. Di seberang jalan provinsi dekat sebuah kantor cabang sebuah Bank daerah.
Ancaman Pakde Muin membuat pria konyol itu ketar - ketir hatinya. Walaupun perbuatan memecahkan kaca jendela di rumah Asti tidak dilaporkan ke pihak yang berwajib, tetapi semua orang di kecamatan sudah mengenal wajahnya yang menjadi salah satu pelaku pelemparan itu, pada video yang viral itu.
" Kita pulang, ya?" bisik Leon kepada Asti yang hanya mampu menganggukkan kepalanya... Tubuhnya lemas tak bertenaga, pikirannya bercabang kemana - mana.
__ADS_1
Mungkinkah Emilia ditangkap oleh orang yang memusuhi ayahnya itu? Padahal Pak Jaffar selalu berdagang dengan cara jujur dan amanah... Tetapi banyak orang yang tidak menyukai beliau. Sampai beliau diangkat menjadi ketua dari perkumpulan perdagangan di sana ... Atau Pak Kushari sengaja membuat Emilia takut, sehingga segera pergi dari kota itu?
Kepala Asti semakin berdenyut- denyut. Di pikirannya masih terngiang-ngiang bisikan suara lelaki yang berat dan agak sengau... Dulu Asti kecil hanya mendengar sekilas pembicaraan tiga pria di depan rumah Joglo. Mereka ditugaskan untuk menjaga rumah itu . Sedangkan dia tertidur di kamar utama, yang merupakan kamar Mbah Kung... Selama dia sakit atau kurang enak badan, pria tua itulah yang memeluknya semalaman. Sampai demamnya turun.
Saat itu keadaan di luar rumah sangat sepi... Sudah dua hari Bude Ayu dan Mbah Harjo Winangun pergi ke Surabaya... Lek No dan keluarganya masih menempati rumah belakang... Asti baru saja sembuh dari sakitnya dan tidak dibawa pergi. Dia dijaga oleh Ibu Tati, keponakan jauh Mbah Harjo.
Bertahun-tahun berlalu, barulah Asti menyadari kalau suara orang yang berbisik di depan rumah Joglo itu, adalah suara Pakde Kerto. Bulu kuduk Asti merinding semua... Pria itu merencanakan untuk memperdaya Keluarga Winangun terutama yang berkaitan dengan keluarga Ibu Asti itu... Tampaknya, musuh keluarga Winangun adalah orang yang selama ini menjadi teman baik Pak Harjo Winangun. Kedua Juwono bersaudara itu seperti serigala berbulu domba, yang berpura-pura baik, untuk memperdaya musuhnya.
" Asti, kamu pindah di belakang sini saja, sama Bulek! Kalau badanmu kurang enak" ajak Bulek Ratih.
Asti terhuyung - huyung turun dari pintu sampingnya. Lek No berhasil memapah tubuh Asti yang seperti tak bertenaga... Melihat keadaan Asti, Pak Muin menawarkan Pak Sumardi yang merupakan pengurus desa itu ikut mobilnya saja. Di jok tengah, Leon membaringkan tubuh Asti , dengan kepalanya yang bertumpu di pangkuan Bulek Ratih.
"'Kita bawa ke puskesmas saja, Bune?" tanya Lek No cemas.
" Nggak usah, Pak! Asti masih agak shock saja... Ayo Nak Leon kita kembali ke rumah Joglo saja!"
Leon dengan cekatan menyalakan mesin mobil itu untuk meninggalkan halaman rumah besar itu, yang seakan-akan mau rubuh saja bila ada angin besar datang... Dari cerita Lek No tadi... Keluarga Juwono itu sudah jatuh ekonominya lebih dari sepuluh tahun yang lalu... Berbarengan dengan sakitnya Pak Kushari... Setahun kemudian mantan suami Bude Ayu itu meninggal dunia, di rumah istri pertama karena serangan jantung. Selain menanggung hutang segunung karena banyak usahanya yang tidak lagi menguntungkan... Kehidupan kedua istri dan anak- anaknya sangat boros karena suka berfoya-foya.
Sejak meninggalnya Pak Kushari, Bude Ayu menjanda kembali. Tetapi wanita bisa melepaskan diri dari kurungannya sangkar emas itu. Memang Pak Kushari membelikannya sebuah rumah kecil yang cukup bagus di perbatasan kedua desa, dengan sertifikat atas nama dirinya... Rumah mungil itu pun diisi dengan perabotan serba bagus dan berbagai barang elektronik masa kini. Beliau tidak hanya Bude Ayu yang dibelikan kendaraan roda dua , tetapi Asti juga. Katanya sebagai hadiah karena keponakannya istrinya itu bersekolah di sebuah SMK di perbatasan kabupaten, jadi memerlukan motor matic baru yang handal.
Semua itu Bude Ayu tinggalkan, karena nggak mau ribut dengan anak-- anak tirinya itu. Sejak Wanita itu kembali ke rumah Joglo, dia tidak pernah menengok lagi ke belakang. Ke masa lalunya yang penuh penderitaan, hinaan dan caci maki atas statusnya sebagai istri ketiga Pak Kushari.
__ADS_1