Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 110. Datangnya Berbagai Peristiwa


__ADS_3

Masalah undangan pernikahan Mbak Almira untuk sementara tersimpan rapi aman. Maksud Asti menyimpannya, biar Joko dapat menata hatinya terlebih dahulu. Sampai adik sepupunya itu cukup siap mendengar berita pernikahan wanita pujaan hatinya itu, yang akan diselenggarakan dua minggu yang akan datang.


Takutnya diantara para pemuda yang bekerja di warung tenda itu keceplosan ngomong soal undangan pernikahan Mbak Almira itu. Sebab banyak dari keluarga atau kenalan mereka juga mendapat undangan yang sama. Malah Mas Danu, juga mengenal dekat keluarga Mbak Almira, yang tinggal di desa yang berdekatan dengan rumahnya. Walaupun berseberangan di jalan utama, di perbatasan yang membelah wilayah itu menjadi dua kabupaten yang berbeda.


Mas Danu yang merupakan anak tunggal itu selalu meminta izin untuk membawa mobil Joko setiap pulang rumahnya . Hampir sebulan sekali, dia selalu membawa bapaknya secara rutin berobat ke RSUD di kota. Akan sangat riskan membawa pria paruh baya dengan tubuh yang kurang sehat itu naik motor pulang pergi dari rumah di kampung ke kota yang jaraknya cukup jauh.


" Mas Joko. Dua hari lalu dicariin Mas Barep, lho!" ujar Firman.


" Dia sudah dapat kabar tentang Jago, ya ?"


" Mana mau anak-anak geng motor itu membuka rahasia sepenting itu kepada kita, yang hanya remahan rempeyek rebon..."


Kekonyolan ucapan Firman itu segera disambut gelak tawa yang lain. Dua karyawan lain masih sibuk membersihkan sayuran untuk dicuci. Mereka hanya akan menghabiskan stok bahan baku untuk dua hari ke depan. Sebab sang Bos masih terlihat kelelahan. Namun dipaksakan juga memantau perkembangan proses persiapan dagangan untuk di warung tenda.


Lelaki muda itu selama dalam perjalanan ibadah umroh itu berusaha menjaga seluruh anggota keluarganya dengan sepenuh hati. Dari kedua orang tuanya sampai si kecil Akbar. Si bayi gemoy itu juga tidak terlalu rewel saat berada di sana.


" Itu oleh - olehnya, sudah kusiapkan di meja. Setiap kresek sudah ada de label nama masing-masing. Boleh tukeran kalau salah ukuran sedikit..."


Para anak buah Joko akhirnya mengambil tas kresek hitam itu sesuai dengan label nama mereka. Tas itu sudah disiapkan di atas meja di halaman samping. Di dalam tas itu ada peralatan sholat berupa sajadah, songkok sampai tasbih. Di sana masih ada sebotol air zamzam dan sekotak permen khas negara Arab.


Benar saja, songkok yang dipilih Joko untuk setiap anak buahnya memang harus bertukar dengan orang lain. Kadang tubuh Firman yang kurus malah ukuran kepalanya lebar besar. Hanya kresek yang bertuliskan nama Mas Danu belum sempat di otak - atik oleh mereka. Sebab pria itu kemarin mau datang agak sore sedikit. Selain mau agak lama di rumah. Dia akan mampir membeli bumbu di pasar lain.


Mbak Ning datang keesokan paginya diantar keponakannya dengan sepeda motor. Dia sangat senang melihat keadaan Asti, Akbar dan Ninuk tampak sehat hari ini.

__ADS_1


Ternyata di kampungnya Mbak Ning sedang panen mangga. Sehingga dia banyak membawa bermacam jenis mangga yang ditanam di depan rumah. Semua mangga itu dimasukan dalam karung. Mirip orang jualan karena karung itu cukup besar dan diletakkan di depan motor si keponakannya yang tadi mengantar ke rumah ini.


" Mas Fajar ini buat Mas, sama keluarga Mbak Ning di kampung ya!" panggil Asti.


Pria muda itu merupakan anak dari kakak perempuan Mbak Ning yang sulung itu. Dia menerima satu kantong makanan, air zamzam dan sebuah sajadah. Setelah anak muda itu pamit untuk kembali ke kampungnya yang jaraknya hampir satu jam dari rumah Asti, dengan mengendarai motor..


" Ini di rujak enak, Mbak Ning!" Pinta Ninuk . Ketika melihat satu karung mangga yang sudah disortir isinya. Bu Jum tadi sudah memisahkan mangga yang sudah matang dan yang masih mengkal.


" Sip, Mbak!" Jawab Mbak Ning cepat.


Dia ke dapur mengambil pisau dan wadah dari mangkok plastik. Bersama Bu Jum mereka mengupas beberapa mangga mengkal sambil menyiapkan bumbu berupa cabe, garam dan gula merah, juga akan lebih nikmat bila bumbu rujak itu diberi sedikit terasi bakar.


Asti mengeluarkan dua bungkus kantong terbuat kain sederhana. Dia memberikannya itu untuk kedua wanita yang bekerja di rumahnya ini yang selalu membantunya mengurus dan menjaga rumah ini.


Bu Jum menciumi sajadah, mukena dan kerudung yang dibeli Asti di kota Madinah. " Terima kasih, Mbak Asti. Wangi Tanah Suci memang beda. Semoga Mbak Asti banyak rejeki dan hidupnya selalu berkah!"


Pak Roh dan Pak Yanto pun mendapat bingkisan yang hampir serupa, sajadah dan songkok. Sebenarnya memberi oleh - oleh itu bukan keharusan bagi orang- orang yang pulan umroh. Tetapi orang - orang kampung yang berpikiran sederhana menganggap oleh- oleh dari Tanah Arab itu sebagai berkah bagi mereka. Jadi Asti memesan agak banyak bingkisan untuk para tetangga dari toko Bu Haji Anissa, seminggu sebelum mereka berangkat.


Sama- sama berasal dari tanah Arab, segala pernak-pernik perlengkapan haji dan oleh- oleh pun dijual di Bu Haji Anissa di ruko itu. Apalagi, Asti sudah memilih kacang dan permen itu sudah dikemas dalam kantong rapi sehingga tampak menarik apabila diberikan kepada tetangga dan orang lain sebagai oleh-oleh.


Beberapa Ibu yang tergabung dalam rombongan umroh mereka pun bahkan sampai ada yang memborong perhiasan emas, juga beberapa barang mewah lainnya seperti jam tangan. Asti hanya membeli seperlunya saja, barang yang tidak terlalu mahal namun ada manfaatnya bagi orang yang menerimanya. Jadi lebih dia membeli peralatan sholat, juga untuk beberapa kenalan yang beragama non muslim, Asti membelikan makanan dan suvenir saja.


Untungnya Lek No dan Bulek Ratih sudah sepakat dengan rencana Asti sebelumnya. Mereka setuju mendaftarkan diri mereka untuk berhaji. Tentang kapan waktu berangkatnya, mudahan-mudahan Allah masih memberi pasangan suami istri itu umur yang panjang dan kemudahan rezeki untuk melunasi pembayaran biaya haji itu dari hasil sawah dan kebun.

__ADS_1


Akbar tidur sangat lelap setelah makan siang. Sementara Ninuk asyik menikmati rujak mangga di samping rumah. Di sana ada Bu Jum, Mbak Ning juga Mas Yanto yang ikut bergabung.


Bahkan ada Mas Firman yang juga suka makan rujak pedas. Asti tidak berani, mengingat dia pernah sakit typus. Lebih baik dia menikmati potongan buah mangga yang sudah matang di piring. Buah mangga ini terasa sangat berbeda manisnya, segar dan berbau harum.


Lain apabila dibeli di pasar atau dipinggir jalan. Sebab kebanyakan para pedagang, membeli buah mangga yang masih muda atau mentah. Nanti buah- buah itu dimasukan ke dalam air rendaman obat seperti karbit atau tawas lalu diperam beberapa hari supaya cepat matang , sehingga dapat segera dijual dan menghasilkan uang.


Sebagian anak buah Joko tadi ikut berbelanja ke pasar kota dengannya. Mereka berbelanja sayuran dan berbagai bahan tambahan makanan di warung berupa bakso, sosis dan kerupuk udang.


" Mbak Asti, tetangga banyak yang mengucapkan terimakasih karena sudah diberi oleh- oleh. " Lapor Pak Roh.


" Iya, Pak. Hanya sedikit saja, yang penting rata dan semua tetangga kebagian."


" Alhamdulillah, Mbak. Saya juga sangat berterima kasih, karena diberi peralatan sholat yang lengkap!"


Kemarin, Lek No menyerahkan dua buah sarung miliknya yang masih baru. Katanya diberi oleh anggota keluarga Mas Adam karena mereka tinggal satu kamar dengannya di hotel. Mereka selalu dibantu oleh Joko dan Lek No dengan tulus selama perjalanan ibadah itu.


Sarung itu pun, dimasukan ke dalam kantong kresek bersama sajadah dan songkok dari Asti untuk Mas Yanto dan Pak Roh. Tampaknya semakin kita sering memberi kepada orang lain, semakin deras rejeki kita mengalir.


Tadi Juga Puspita sempat mampir sebentar untuk menyerahkan uang hasil penjualan barang di toko. Rencananya di hari Jum'at, dia akan membawa Puspita berbelanja ke Pasar Klewer di Solo. Dia mendapat informasi dari salah satu pemilik toko di sana, kalau mempunyai rok dan kulot model baru untuk dipakai wanita berhijab.


Tentu saja Puspita mau ikut dengan ajakan Mbak Asti itu. Sempat juga membawa oleh- oleh pemberian wanita cantik itu. Kemudian dia pamit untuk ke pasar untuk membuka toko.


Ternyata hasil laporan Puspita sangat rapi . Penghasilan tokonya pun meningkat. Tampaknya Asti perlu mencari satu pegawai lagi untuk membantu Puspita di toko. Semoga saja mereka nanti tetap amanah.

__ADS_1


Memang lebih mudah memperkejakan pegawai dari orang lain, tanpa ada hubungan kekerabatan. Mereka jadi bersungguh sungguh dalam pekerjaan yang mereka kerjakan..Juga dapat dipercaya.


Tanpa sadar, Asti memegang surat kontrak dari salah satu penyewa rukonya, Pak Warso. Beliau sudah kurang fokus mengawasi usahanya karena kesehatannya akhir- akhir kurang baik. Sedangkan anaknya sudah lama tidak tinggal bersama mereka di desa seberang. Pria itu akan menutup usahanya di ruko milik Asti itu dengan tidak memperpanjang sewa kontraknya lagi pada tahun ini.


__ADS_2