Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 96. Ada Nama Jago disebut


__ADS_3

Teman - teman Joko itu akhirnya meninggalkan warung tenda menjelang malam. Mereka juga diperkenalkan oleh Joko kepada para kelompok pemuda di lingkungan itu.


Mereka pada umum adalah anak- anak muda yang berpendidikan sampai lulus SMP atau DO di SMA dengan alasan klasik" tidak ada biaya untuk sekolah"


Banyak dari mereka itu juga ikut nongkrong di beberapa tempat yang strategis seperti tanah kosong di samping SPBU atau sebuah bangunan terbengkalai di ujung pertigaan arah ke kota terdekat.


Mahdi, yang menjadi ketua geng anak muda di lingkungan rumah Asti yang dipekerjakan Joko sebagai penjaga malam pertokoan " Ayu Sulaksmi". Mereka juga mengutip dari jasa parkir motor dan mobil di samping warung tenda agar aman. Joko selalu menekankan kepada mereka untuk tidak mematok harga parkir.


Pak Sembodo juga mengawasi pemungutan uang itu. Walaupun hanya sedikit yang masuk ke kas RT, namun memberi para pemuda pengangguran itu kegiatan yang lebih positif. Apalagi mereka melakukannya sebagai suatu kesadaran untuk ketertiban dan keamanan kampung itu.


Bahkan Pak Leon pernah mengusulkan kepada Pak RT untuk membuat usaha pencucian motor atau mobil dengan melibatkan anggota karang taruna. Namun sampai saat ini, mereka belum mendapatkan lahan yang pas dan cocok untuk usaha tersebut.


" Mereka kenal Jago, Mas? " tanya Firman. Setelah rombongan anak motor itu meninggalkan warung tenda.


Rumah Firman ada di seberang alun- alun. Selama ini keadaan di sana cukup kondusif. Namun sejak kedatangan Jago, juga diikuti dengan hadirnya beberapa anak motor dari daerah lainnya. Mereka sering ngamen di tempat keramaian atau meminta uang keamanan ke beberapa pedagang yang membuka usaha di sepanjang jalan di dekat alun- alun.


" Kamu langsung pulang, Firman ?" tanya Mas Danu.


" Aku nginap di sini dulu! Baru pulang besok pagi, sambil antar Puspita ke pasar untuk menjaga toko pakaiannya Mbak Asti ...."


" Adikmu betah kerja di sana?" tanya Danu.


" Ya, betah lah. Mbak Asti itu sangat baik. Cuma Dania aja yang kurang menerima keadaan ...."


Mereka juga menilai kalau sikap Dania itulah yang tidak disukai Joko. Banyak gadis muda yang datang berkelompok untuk makan di warung tenda sekaligus bermalam mingguan panjang di sana. Namun Joko tampaknya kurang tertarik pada mereka. Sebab dia hanya mencari gadis yang bersikap dewasa dan bertanggung jawab untuk menjadi pasangan dan pendamping hidupnya nanti.


Ninuk datang bersama temannya, yang ternyata tinggal di desa sebelah, di hari Sabtu pagi. Gadis cantik itu bernama Hafizah Rohimah. Mereka sibuk mengerjakan berbagai tugas kuliah di kamar Ninuk di lantai atas. Kadang datang Akbar untuk mengganggu mereka. Tentu dijaga Bu Jum di luar kamar Ninuk sambil mengelap meja, lemari dan perabot yang ada di lantai dua rumah itu.


Justru Izzah sangat sayang pada bayi lucu itu. Lumayan katanya, sebagai pengusir rasa jenuh dan lelah setelah menyelesaikan beberapa tugas kuliah.

__ADS_1


" Kamu enjoy aja, Nuk! Dengan berbagai tugas dari dosen kita yang seabrek ini?"


" Aku malah bersyukur bisa merasakan susah payah orang kuliah seperti ini. Mbak Asti yang membiayai kuliahku ini. Padahal dia punya banyak uang, tetapi tidak diizinkan kuliah oleh Almarhumah Bude Ayu. Takut Mbak Asti nggak mau kembali ke desa kami yang sepi dan agak di pedalaman. "


" Mbak Asti sepertinya masih muda, tuh. Masih cocok kalau jadi mahasiswi seperti kita."


" Dia sekarang menjadi single parent, Zah. Dia harus bekerja untuk menghidupi anaknya..."


" Kasihan Mbak kamu itu, Ninuk. Sudah cantik, sholehah, punya usaha. Tetap saja diselingkuhi suaminya, ya?"


" Itulah yang selalu dipesan oleh Mbak Asti. Kita tidak bisa menolak takdir dari Allah, tetapi bisa merubah nasib, yaitu dengan pendidikan yang lebih baik. Jadi perempuan itu sekarang harus mandiri.!"


Akbar terlelap di pelukan Ninuk. Sesekali Ninuk mengecup pipi bakpao Akbar yang gembul. Kedua wanita muda itu memandangi wajah Akbar yang semakin anak itu tumbuh besar semakin tampan.


" Besok kalau Akbar sudah gede bakal dikejar- kejar cewe, ya. Bocah ini, kok ganteng banget, sih! Mbak Asti ngidam apa ya, sewaktu hamil Akbar?" ujar Izzah sambil mengecup rambut halus bayi itu yang berbau harum shampoo yang wangi.


Sekarang Izzah yang mengendong Akbar saat menuruni tangga dengan hati- hati. Sedangkan Ninuk mengumpulkan tugas mereka dan semua dimasukkan ke dalam ransel. Nanti mereka akan mengerjakannya lagi di taman samping setelah selesai makan siang. Sejak mereka datang di pagi tadi dari pukul 07.30, baru jam dua belas ini mereka menyelesaikannya Itu pun harus diperiksa ulang.


" Nanti ajak Akbar ke rumahku, Yuk ! Bapak punya kolam ikan untuk memelihara lele dan ikan mas. Dia pasti senang di sana. Dari hasil penjualan ikan-ikan itulah , bapak membiayai kuliahku."


" Bukannya Bapakmu itu masih PNS, Zah?"


" Ya, beliau dulu bekerja sebagai staf administrasi di kanwil Depag setempat, tetapi sudah pensiun. Mas Aksa yang mengurus sawah, kebun dan ternak. Sebab kakakku sudah menikah dan berumah tangga. Rumahnya ada di sebelah rumah orang tuaku."


Akbar tidur dijaga Bu Jum sebentar. Bayi itu tahu kalau dia sudah berpindah ke tempat tidur kesayangannya, jadi dia dengan cepat kembali terlelap. Ninuk yang salah, seharusnya Akbar tidurnya tadi jam sebelas. Karena diajak main di kamarnya bayi itu jadi terlewat jam tidur siangnya.


" Ayo nambah!" kata Ninuk.


" Masakan ini enak, Nuk!" bisik Izzah.

__ADS_1


Sesederhana apa pun makanan dan masakan yang tersaji di meja makan, Mbak Ning selalu mengolahnya dengan ukuran bumbu yang lengkap dan tepat. Semua itu atas saran Asti. Apalagi untuk menu khusus Akbar hanya diberi garam dan gula saja tanpa tambahan apa pun biar bayinya tumbuh sehat.


Tampaknya Joko juga mulai memperhatikan keberadaan Hafizah Rohimah. Gadis cantik itu juga mengenakan hijab dengan gaya anak muda sekarang. Namun masih menjaga kesopanan pemakaiannya juga mentaati kaidah yang berlaku.


Mereka akhirnya diantar Joko ke rumah Izzah di desa Sendang Duwur. Jaraknya hanya 10 km ke arah selatan pasar. Bu Jum ikut atas perintah Mbak Asti, Setelah mendapat izin. Ibunya Akbar itu tahu, kalau Ninuk bergabung dengan teman - temannya akan kurang kewaspadaan untuk menjaga Akbar.


Kata orang, Akbar dalam masa eksplorasi. Dia akan mengamati segala sesuatu yang menarik perhatiannya secara seksama.


" Ini ikan lele, ikan mas !" Jelas Joko saat Akbar melihat kerumunan ikan di kolam belakang setelah diberi makan.


Bayi itu berteriak senang, saat ikan lele yang ada di satu kolam itu berlomba - lomba mengambil makanan yang disebar oleh mereka. Mereka duduk- duduk di sisi kolam di belakang rumah yang luas dan teduh.


Pak Sabaruddin, ayah Izzah beternak ikan setelah pensiun untuk kegiatan sampingan. Namun hasilnya cukup memuaskan karena dipasok ke berbagai rumah makan di kota- kota kecil di sekitaran wilayah ini.


" Lumayan, ya. Pak hasilnya?"


" Lumayan juga ... Sebab Bapak sudah nggak kuat mencangkul sawah, atau berkebun. Sudah tua dan ada rematik lagi!"


Dari tadi Akbar digendong oleh Ibu Iyem, ibunya Izzah yang suka dengan anak kecil. Sebab cucunya sudah besar , mereka bersekolah di SMP dan SMA.


" Kamu ganteng, banget, sih!" ucap wanita paruh baya itu.


Sudah berapa orang yang menciumi pipi gembul Akbar. Bayi itu kalau dilepaskan di kolam belakang ini pasti akan berlarian ke sana kemari. Takut tercebur kolam yang terdiri dari beberapa petakan yang cukup luas, dengan kedalaman hampir satu meter.


" Kamu pamit, Bu! Sudah hampir sore. Kalau si Upin dan Ipin belum kelar juga tugasnya, biar nginap saja!"


Orang tua Izzah maklum, malah mereka memasukan Ikan lele dan ikan mas segar ke dalam plastik kotak ikan dari stereo foam di bagasi mobil Joko sebagai oleh- oleh untuk orang di rumah sana.


Sejak mendengar anaknya mempunyai teman kuliah Ninuk, mereka cukup senang. Izzah dan Ninuk menjadi sahabat di kampus dan juga kost di rumah sama dengan kamar yang saling bersebelahan.

__ADS_1


__ADS_2