Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 266. Berpisah untuk Bertemu Kembali 2


__ADS_3

Drone yang diterbangkan Pak Cakra kembali mengudara. Kedua anak kecil itu bersorak - sorak dengan gembiranya, seperti melihat pesawat terbang saja layaknya.


Putri sibuk menyuapi mereka dengan roti isi Ambon yang disimpan dalam tupperware biru itu. Sebab kedua anak itu tidak suka dengan gorengan atau kue- kue tradisional yang lengket kalau dipegang seperti klepon ataupun uli.


Pak Cakra memperlihatkan berbagai pemandangan yang diambil dari ketinggian itu. Sementara mereka beristirahat pada bagian tempat wisata itu yang dipenuhi oleh pedagang makanan. Jualan mereka ada yang menggunakan gerobak dorong, dipikul sampai membuat lapak dengan memasang tenda- tenda darurat. Bulek Ratih dan Bu Jum keluar dari toilet umum yang banyak didirikan di daerah tersebut.


Ninuk duduk di sebuah meja milik pedagang bakso. Mbak Ning membawa berbagai jajanan yang dibelinya ke sebuah tenda, masing- masing berisi dua bungkus. Sebab Bu Jum sedang mengendong Qani. Asti bersama Bu Sarah sedang berkeliling mencari makanan lain.


Para pria duduk di pembatas jalan di bawah pohon tinggi dengan daun yang sedikit rimbun. Ada seorang tukang kopi yang sedang melayani permintaan mereka.


Di sana ada sepuluh pria dewasa yang membutuhkan asupan minuman yang akan membuat mata yang mengantuk akan sedikit terjaga. Untungnya Pak Sugeng dan Mas Aji menjadi penumpang dalam Jeep tadi pada kunjungan wisata itu. Sebab mereka nanti harus mengumpulkan tenaga untuk membawa mobil keluarga itu, meninggalkan tempat ini. Setidaknya, mereka cukup mengenal medan di daerah pegunungan ini.


" Nanti kita mampir makan siang di kota Probolinggo saja !" tawar Pak Yusuf kepada semua anggota rombongan yang sedang beristirahat itu. Pria itu yakin makanan dan cemilan yang sedang mereka nikmati itu cukup bertahan sedikit untuk mencapai kota terdekat dari pegunungan itu selama dua jam lebih nanti.


Hari sudah sangat siang. Sudah pukul 11.00. Jadi cukuplah perjalanan wisata mereka kali ini, untuk kembali ke basecamp penyewaan Jeep ini. Di sana mereka masih bisa mengejar waktu sholat Dhuhur sebelum pulang, melewati kota Probolinggo.


Qani sudah digendong Leon dengan gendongan ala kangguru itu supaya aman. Anak-anak sudah masuk ke dalam jeep bersama orang tua masing-masing. Jeep mulai meninggalkan lokasi wisata itu. Terlihat dari kejauhan asap tebal putih membumbung keluar dari kawah Bromo.


Kata orang-orang Gunung Bromo sedang ' Erupsi '. Namun sebagaimana warga masyarakat di sekitar sana, sudah terbiasa dengan sifat gunung tersebut dengan berbagai aktivitas yang berbeda - beda di setiap harinya. Jadi mereka para penduduk di sana tetap mengerjakan pekerjaan mereka sehari - hari dengan santai tanpa rasa was-was.


Terlihat para petani membawa hasil pertaniannya. Ada juga yang membawa bermacam dedaunan untuk pakan ternak dengan motor mereka melalu jalan berpasir yang luas itu... Hanya ada jejak - Jejak ban mobil itu sebagai penanda bahwa jalan itu adalah jalan umum. Jalan yang sering dilewati oleh masyarakat setempat, sekaligus wisatawan yang menyewa Jeep tersebut.

__ADS_1


Jalan menuju basecamp semakin lama terus menurun setelah keluar dari pengunungan itu... Mereka melalui jalan raya yang tidak terlalu rata aspalnya, terlihat semakin banyak atap - atap rumah penduduk di bawah sana. Juga banyaknya bangunan dari yang sederhana sampai cukup modern, di pinggir jalan yang mereka lalui. Sebagian adalah tempat penginapan juga beberapa kantor wisata yang menawarkan guide tour untuk memandu mereka ke pengunungan Bromo itu.


Kepala Asti sudah bersandar di bahu Leon karena mengantuk. Hampir 11 jam lamanya, Asti tidak tidur. Sejak tengah malam tadi, dia terus terjaga. Dari mulai datang ke basecamp sampai berada di puncak gunung Penanjakan untuk menikmati wisata di wilayah pegunungan Bromo itu.


Tiga buah Jeep itu sudah memasuki sebuah bangunan besar di tepi jalan yang ramai. Seperti keberangkatan mereka di dini hari tadi, rombongannya merasa pun yang lebih dahulu menyelesaikan tour perjalanan tersebut hari ini.


Beberapa pria mulai berwudhu untuk segera sholat di musholla kecil yang merupakan fasilitas gedung kantor ini. Bu Jum dan Putri mencari kantin di belakang untuk membeli air panas. Air itu untuk membuat susu Qani dan Akbar.


Mbak Ning mencicipi sepiring makanan mirip gorengan yang dijual di kantin sederhana itu. Para supir jeep sedang menikmati segelas kopi atau teh manis dan merokok di belakang basecamp.


Pak Bakdi masih bercakap-cakap dengan Pak Jan sambil menunggu Leon dan Pak Cakra menyelesaikan pembayaran sewa Jeep itu. Tidak lupa Leon menyelipkan masing- masing seratus ribu rupiah sebagai uang lelah. Sebab ketiga orang supir jeep itu tidak hanya mengantar mereka ke berbagai objek wisata. Mereka juga selalu siap siaga menjaga keselamatan anggota keluarganya itu.


Di kamar mandi Asti berganti hijab perjalanan yang nyaman, berupa setelan daster katun berlengan panjang dan celana panjangnya juga. Sepatu kets disimpan ke dalam kresek. Sekarang dia memakai sandal karet yang ringan.


 Tentu bagi supir yang belum pernah datang ke tempat ini harus selalu berhati-hati. Jalan raya di sini tidak terlalu lebar, namun sangat ramai dengan berbagai kendala pribadi maupun bus-bus yang membawa rombongan menjelang musim libur di tahun ini.


Semakin menjauh dariku pegunungan itu, jalan raya itu semakin menurun. Mereka mulai melihat daerah persawahan yang subur di kaki pengunungan itu. Berbagai tanaman sayuran ditanam di sisi kiri dan kanan jalan. Tampaknya itulah berkah tinggal di daerah seperti itu, mendapatkan lahan subur dibalik ancaman akan meletusnya gunung berapi di sana yang akan meluluhlantakkan semuanya, sewaktu - waktu.


Hampir satu jam kemudian jalan raya yang cukup lebar mereka temui, untuk menuju kota Probolinggo. Sebagian penumpang mulai terkantuk-kantuk, tertidur dengan irama kendaraan yang tadi sesekali bergoyang... Sekarang mereka melalui jalanan yang lebih rata dengan arah ke pantai Utara Pulau Jawa bagian Timur.


Qani tetap berada di car seat dijaga Bu Jum. Asti tidur sambil memeluk Akbar. Begitu Juga depan Ninuk dan Bu Ratih di depannya. Putri ada di sebelah Akbar. Perjalanan sudah berada di kota Probolinggo yang sedikit berudara panas. Karena kota itu berada di dataran rendah Utara Pulau Jawa.

__ADS_1


Mobil-mobil itu bergerak menuju ke sebuah rumah makan besar dekat pusat kota. Mereka masuk ke halaman restoran yang cukup luas itu dan cukup asri juga. Dengan pepohonan rimbun di depan restoran.


" Ayo bangun!" panggil Lek No.


Tertidur lebih dari dua jam selama perjalanan membuat mereka sedikit lemas dan masih menahan kantuk. Rupanya restoran seperti ini sudah biasa menerima kunjungan dari mobil rombongan perjalanan... Sebab di belakang restoran juga disediakan fasilitas kamar mandi juga ruang mushola. Asti juga berniat mandi, berganti dengan Ninuk dan Bulek Ratih.


Maklumlah terbiasa mandi pagi sebelum sholat subuh, jadi badan terasa lengket dan gerah setelah turun dari Gunung Bromo beberapa jam yang lalu.


Ternyata di ruang dalam restoran sudah disiapkan makan siang untuk mereka. Pak Yusuf sudah memesan untuk satu rombongan yang terdiri dari dua puluh orang.


Mereka menikmati makanan siang yang cukup nikmat itu berupa sajian masakan soto. Masakan itu mempunyai kuah yang kaya dengan aroma bumbu berwarna kuning dengan bercampur suwiran ayam. Pelengkapnya juga tersebut tersedia, dari irisan kol rebus, potongan telur rebus. Ada bawang merah goreng, bubuk koya dan irisan halus daun seledri untuk taburan. Tambahannya, ada perkedel kentang, kerupuk dan sambal di mangkok sedang.. Juga ada sebotol kecap manis.


Qani pun mau makan dengan nasi dan kuah soto dengan telur rebus itu. Hafiz dan Akbar makan disuapi oleh Putri dan Ninuk .


" Kita lewat jalan tol sampai ke Surabaya... Kalau mampir silahkan!" ujar Pak Yusuf.


Mereka beristirahat di luar restoran yang mempunyai taman dengan pohon - pohon besar. Juga ada gubuk - gubuk dengan lantainya dibuat seperti panggung.


Ternyata kota ini mempunyai udara dan cuaca yang cukup panas, maklum wilayahnya berada di wilayah pantai Utara Pulau Jawa... Qani mulai rewel karena mengantuk. Mereka akan melanjutkan perjalanan setelah Pak Yusuf membayar semua makanan yang telah dipesannya.


Perjalanan dilanjutkan lagi, dan akan berhenti di sebuah rest area pada saat azan Ashar. Momen kebersamaan itu juga diabadikan Ardi lewat kameranya. Qani pun mau difoto beberapa kali sendirian oleh kakek mudanya itu ketika dia didudukkan di taman rest area.

__ADS_1


Sebelum masuk ke mobil masing - masing, Pak Yusuf, Bu Sarah dan Pak Jan pamit kepada mereka semua. Selama beberapa hari ini mereka selalu bersama. Nanti di kilometer tertentu, mobil Pak Jan akan berbelok menuju arah ke kota Surabaya. Sementara Mobil Elf dan Pajero itu melanjutkan perjalanan ke arah Barat, menyusuri sebagai wilayah bagian Utara untuk menuju ke arah Madiun, di Jawa Timur. Pak Cakra yang mengambil alih kemudi mobil Pajero itu karena Mas Aji ingin beristirahat dulu, setelah membawa mobil itu lebih dari 3 jam.


Air mata Asti berlinangan saat melepas kepergian Pak Yusuf, dengan anak dan Istrinya itu saat mereka kembali ke dalam mobil Inova itu. Sungguh mengharukan... Selama tiga hari ini mereka selalu bersama menikmati liburan layaknya sebuah keluarga. Waktu yang hanya sebentar itu ternyata dapat menghapus segala duka, kesedihan dan kehilangan selama hampir 25 tahun usianya itu. Walaupun sekarang, ada Om Ardi yang ikut bersama mereka pulang ke rumah, untuk sementara.


__ADS_2