Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 69. Kedatangan Bude Prapti


__ADS_3

Bu Jum sangat telaten menjaga Akbar dalam dua hari terakhir ini. Sebab, setelah disapih, Akbar jadi agak rewel. Dia maunya diberi air putih saja. Kalau makan pun lebih banyak yang terbuang daripada yang masuk ke mulutnya.


" Nggak, apa- apa. Mbak. Tenang saja!" Bisik Bu Jum yang dengan sabar menyuapi bayi itu makan dengan nasi lunak dengan kuah sup ceker ayam.


Benar saja, keesokan harinya Akbar sudah mau mengunyah biskuit bayinya. Juga minum susu formula walaupun sedikit, agar tubuhnya tidak terlalu menciut karena ngambek tak boleh minum ASI- lagi.


Sesekali Asti menciumi pipi dan dahi Akbar yang tertidur di pelukannya setelah menghabiskan setengah botol susu formulanya.


" Sudah tenang, Mbak Asti?" bisik Bu Jum.


" Iya, Bu Jum. Terima kasih...!"


Ternyata pengalaman Bu Jum menangani bayi patut diberi acungan jempol. Beruntunglah saat ini, Asti selalu didampingi dan dibantu orang - orang yang baik yang bekerja di rumah ini. Dia yang masih muda yang belum banyak berpengalaman dalam menggurus bayi. Walaupun bayi itu adalah anaknya sendiri.


Sekarang, Asti lebih lega kalau akan berangkat ke pasar setiap pagi, untuk mengais rezeki. Akbar juga sudah berjalan sedikit demi sedikit. Sudah tidak rewel atau menangis di tinggal Asti ke luar rumah di pagi hari. Bahkan Akbar sering mengantarnya sampai pintu pagar depan. Mau melambaikan tangannya untuk dadah atau sun dari jarak jauh!


Lek No dan Bulek Ratih yang akhirnya datang ke rumah Mbah Sanjaya untuk peringatan tujuh hari kematian beliau. Dua hari sebelum acara yasinan, Joko sudah mengantar berbagai belanjaan kiriman dari Asti. Dari sembako sampai bermacam- macam kue kering untuk disajikan pada para tamu yang datang di acara itu.


Lek No juga sudah memberi tahu kepada Asti, kalau keluarga Satrio tanpa Pak Cahyadi telah kembali ke rumah dinasnya, pada malam itu juga. Setelah selesai pemakaman sang kakek. Daripada mengundang ribut dengan adik- adik Ibu Widya yang kurang berkenan menerima kehadiran Satrio dan istri barunya itu.


Hampir semua anak , cucu dan kerabat Almarhum Mbah Sanjaya tak mempedulikan keberadaan Ibu Widya lagi. Apalagi mereka juga melihat betapa munafiknya Satrio, yang membawa Zahra ke keluarga Kakeknya itu. Padahal Jelas - jelas wanita itulah selingkuhan Satrio yang membuat biduk rumah tangganya bersama Asti terpecah dan hancur.


Hampir pukul 20.00, terdengar bunyi bel dari pagar depan rumah. Mbak Ning, membuka tirai jendela kaca depan hanya untuk sekedar melihat siapa tamu yang datang di malam ini.


Wanita itu dengan cepat membuka pintu ruang depan. Sebab pagar sudah terkunci dari dalam. Sebagian keluarga Asti lebih sering lewat pintu samping, yang terhubung dengan warung tenda kalau datang ke rumah Asti di malam hari.


Suara seorang wanita yang sedang memberi salam itu, seperti Asti kenal. Cepat Asti meninggalkan kamar tidur utama. Benar saja, dia melihat Bude Prapti yang duduk di ruang tamu bersama seorang pria muda, salah satu cucu almarhum Mbah Sanjaya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!" salam Asti.


Dia segera duduk setelah menyalami kedua tamunya itu. Di meja terlihat ada dua tumpukan nasi boks yang ada di dalam tas kresek merah. Juga ada sesisir pisang .


" Ini dari Ibu, Mbak!" ujar pria muda itu.


" Bude Diah?"


" Iya. Mbak Asti nggak kenal aku, ya? Saya Susanto, anak kedua Ibu Diah Anggraeni!"


Wajah Asti tersipu malu. Semakin merasa bersalah. Dia memang kurang mengenal cucu- cucu dari anak dari Mbah Sanjaya lainnya. Sebab mereka sedari kecil sudah mengikuti orang tua mereka meninggalkan desa Sedang Ranti, untuk merantau ke daerah lain. Ada juga yang bersekolah atau kuliah di berbagai kota di Pulau Jawa. Bahkan dua cucu lelaki , Mbah Sanjaya ada yang bekerja di Singapura dan Malaysia.


" Asti, kemarin aku sibuk di dapur Mbah Sanjaya. Jadi nggak sempat menemui mu dan Bu Ratih. Kalau sama Pak Sarno aku sudah ngobrol banyak sampai malam harinya.."


" Nggak apa- apa Bude. Apa Bude Prapti mau menginap di sini dulu? Kita ngobrol banyak besok. Sebab Akbar sudah bobok. Besok aku yang akan mengantar Bude pulang ke desa. Bagaimana?"


" Boleh, Mbak Asti? Yah, Sudah. Santo aku di rumah Asti dulu , ya. Kalau kamu mau balik pulang. Silakan..."


"'Dia ada di warung tendanya di belakang. Biar dianter Mbak Ning, aja!" Jawab Asti.


Pemuda itu pamit lewat pintu samping untuk ke warung tenda Joko. Ditemani Mbak Ning. Apalagi Bude Prapti ingin ikut juga melihat keramaian warung tenda milik anak Pak Sarno itu.


Bu Jum segera memindahkan nasi boks itu ke meja makan. Beberapa kamar di lantai atas, sudah dirapikan Mbak Ning setiap hari. Kecuali kamar Ninuk yang tidak boleh diganggu gugat. Sebab dia merancang kamar itu, berdasarkan gambar sebuah kamar pribadi milik dari artis Korea kesayangannya. Jadi Bu Jum hanya menyapu dan mengepelnya saja.


" Mbak Ning, Bu Jum! ayuk dimakan saja, berkat itu!" kata Asti. Sebab makanan seperti itu, kalau disimpan untuk besok pagi sudah tak enak lagi dimakan.


Kedua wanita itu, mengambil piring dan makan di meja makan. Bude Prapti malah gabung dengan cucu Mbah Sanjaya di warung tenda untuk mencicipi salah satu hidangan di sana, yang paling terfavorit.

__ADS_1


Paginya, Asti sudah memberi tahu Dania kalau dia ada keperluan dan tidak datang dulu ke toko. Dania sudah terbiasa menjaga toko sendirian. Namun Asti akan mengusahakan akan tetap datang di hari Sabtu dan Minggu. Sebab Toko akan ramai di kedua hari tersebut.


Akbar bangun sudah agak siang. Anak itu segera dimandikan dan di urus oleh Bu Jum. Sementara Asti sibuk di dapur membantu Mbak Ning menyiapkan sarapan.


" Banyak sekali kamu masak, Asti?" tanya Bude Prapti ketika melihat berbagai makanan yang disiapkan di atas meja.


" Biar, Bude... Pegawai Joko juga sering ikut makan di sini. Belum lagi Mas Yanto dan Pak Roh. Hitung- hitung bagi rezeki, De!"


" Pantas, kamu tambah makmur, Asti. Nggak kayak Satrio yang hidupnya semakin berat. Kata Bu Diah, semua usaha Satrio di Purwokerto telah diambil alih oleh oleh Pak Cahyadi dan istri keduanya itu..."


Asti tambah bengong mendengar itu. Tadi malam, Susanto Dwi Jauhari sudah pulang, setelah makan di warung Tenda Joko. Kata Bude Prapti, anak kedua Bude Dyah itu mengelola sebuah toko elektronik yang cukup besar di dekat SPBU. Jadi dia melihat kejadian tersebut, ketika Satrio dengan terang- terangan mengandeng Zahra berjalan di tempat umum.


" Aku juga mau ngomong yang sebenarnya, Asti! "


" Soal apa, Bude?"


" Aku pernah diantar Suryo, menantuku untuk datang ke rumah dinas Satrio. Waktu itu dia pernah menelpon , kalau aku boleh kerja lagi, setelah Mbok Bayah kamu berhentikan. Tetapi pagi itu, aku ketok- ketok rumah nggak dibukain oleh Satrio. Padahal sudah hampir jam sembilan lebih."


" Jelas sekali, Satrio pasti ada di dalam rumah, karena di depan ada mobilnya. Malah lampu teras masih menyala, belum di matikan. Yang aku nggak nyangka, perempuan itu yang membukakan pintu!"


" Kami sama- sama kaget. Malah berpikir jadi lebih jelek lagi.Kalau perempuan itu menginap di sana, karena seperti baru bangun tidur. Padahal kamu sama Akbar masih ada di desa Sendang Mulyo."


Lama Bude Prapti terdiam. " Satrio meminta aku nggak usah datang lagi , dan nggak boleh ngomong ke siapa pun kalau Bude melihat Zahra ada di sana. Aku diberi uang sama Satrio dan disuruh kembali ke rumah di Sendang Ranti."


Bude Prapti menangis agak keras, berusaha menahan segala rasa di hatinya. Rasa bersalah karena menyimpan aib itu dari orang lain karena ancaman Satrio. " Maafkan, aku. Asti! Nggak berani ngomong secara jujur. Coba kalau aku berani ngomong, tentu pernikahan kalian masih dapat dipertahankan..."


" Untuk apa, Bude? Satrio sudah lama berhubungan dengan Zahra , kok! Perceraian memang lebih baik bagi kami. Daripada Satrio terus berbuat mesum dan mengumbar nafsunya itu!"

__ADS_1


Bude Prapti menghela nafas panjang. "'Apa kamu tidak tertarik mencari bapak untuk Akbar?


" Malas Bude, kalau dapat lelaki model Satrio lagi. Mending cari rezeki yang banyak, biar kami hidup layak!"


__ADS_2