Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 228. Leon Kembali Pulang


__ADS_3

Leon telah pulang! Sungguh kehadiran suaminya itu cukup melegakan perasaan Asti yang was-was dalam seminggu ini ... Sejak mereka harus LDR-an. Karena urusan di kota Madiun, ternyata memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikannya.


Keduanya pun selama ini hanya bertukar kabar lewat telefon saja. Tentu hal itu belum mampu menuntaskan rasa rindu Asti kepada suaminya itu. Tak peduli ketika mereka sedang video call, justru kedua anaknya yang heboh saling berebutan ingin berbicara dengan ayahnya itu lewat hape Asti.


Leon selalu menceritakan kepada istrinya itu tentang proses negoisasi yang digunakan dirinya yang mewakili pihak pengembang, dibantu oleh beberapa pengacara yang biasanya mengurus berbagai permasalahan di kantor pusat. Juga banyak dibantu oleh para tokoh dan pengurus masyarakat setempat yang menjembatani urusan dengan para penduduk di desa itu, yang tanahnya akan dibeli oleh perusahaannya.


Ternyata semua itu tidak mudah dan sangat alot. Apalagi mereka harus berhadapan langsung dengan para petani dan pemilik lahan non-produktif itu di kantor kelurahan setempat.


Padahal Om Sampurno, kerabat jauh Asti pun sudah cukup banyak membantu mereka... Pria yang punya jabatan cukup tinggi di pemerintahan kota itu sudah berupaya. Beliau melakukan mediasi dan mendekati pemuka masyarakat setempat. Bahkan mereka juga dibantu juga oleh pemimpin dan para staf di kelurahan tersebut.


Tampaknya semua proses pembebasan lahan itu akan dilakukan secara terbuka dan transparan. Jadi akan dilakukan di kantor kelurahan setempat... Sehingga para calo pun tak berani berkutik lagi untuk mempengaruhi harga pasaran tanah petani tersebut.


Para calo itu biasanya selalu berusaha mencari keuntungan pribadi, dengan menuntut harga jual yang cukup tinggi. Walaupun mereka juga sudah mendapatkan imbalan yang cukup besar... Dari informasinya tentang adanya lahan yang sangat luas di pinggiran kota ini. Sebuah lahan yang dapat dijadikan proyek pembangunan perumahan selanjutnya, d perusahaan property " Abadi Murti" itu. Dana untuk pemberian uang jasa pada calon itu pun sudah disiapkan dan diambil dari anggaran yang dikeluarkan oleh kantor pusat di Semarang.


Besok rencananya Joko, Pak Cakra dan satu orang dari pegawai di kantor Leon akan kembali ke Madiun. Mereka akan akan melakukan pencocokan data, dengan surat sertifikat tanah dan nama kepemilikan tanah beserta kepala keluarga yang akan mendapatkan ganti rugi dari pembebasan lahan tersebut.


Sedangkan Asti bila bertelepon dengan suaminya akan bercerita tentang berbagai kejadian di rumah ini. Termasuk dengan kedatangan tamu di rumah mereka. Sepasang suami istri dari Purwokerto, Pakde Muin yang berkerabat dengan almarhumah Nenek Asti, Sri Sumiarsih.


Malah Pakde Muin dan istrinya itu berencana menginap satu malam lagi di Desa Sendang Mulyo. Beliau masih ingin menuntaskan urusan untuk mencari kebenaran berdasarkan fakta dan cerita yang disampaikan Pakde Kerto itu, yang sangat berbeda dari informasi sebenarnya. Hal ini untuk menyingkap keberadaan Emilia, wanita yang melahirkan Asti hampir 25 tahun yang lalu.


Joko tadi hanya sempat mendrop Leon di depan rumah, beserta meletakkan dua koper pakaian mereka . Sebab dia harus ke kantor untuk. menyiapkan berbagai keperluan administrasi dan kelengkapan data yang ada komputer kantor. Juga akan memberi informasi kepada Pak Cakra dan Mas Topan yang ahli komputer akan diikutsertakan dalam urusan pekerjaan itu ke Madiun.


Mereka berencana akan berangkat besok siang. Sedangkan untuk keperluan dan segala akomodasi selama tinggal di sana, akan diurus oleh anak bungsu Om Sampurno, Hardiman, Nindya Faradina Hardiman.

__ADS_1


Gadis cantik itu yang bekerja di sebuah bank swasta di kota itu setelah menyelesaikan pendidikannya, dan bergelar sarjana Ekonomi. Tempat yang dibooking Nidya adalah sebuah tempat penginapan bergaya resort atau vila yang lokasinya ada di luar kota Madiun.


Sengaja oleh Nidya dicari resort yang paling dekat dengan wilayah tanah yang akan dibebaskan. Sebab mereka akan bergabung dengan sebuah team, yang akan melakukan pengecekan ke lapangan dan mencari data kepemilikan lahan tersebut agar sesuai dengan catatan kepemilikan tanah yang terdapat pada data di kantor kelurahan setempat.


Wanita muda itu sudah mendapatkan sebuah resort yang berisi tiga kamar yang menyatu di dalamnya. Malah di setiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi. Di sana juga ditempatkan dapur bersih dengan kulkas kecil untuk menyimpan minuman dan makanan.


Selain itu ada ruangan yang menghubungkan kamar- kamar dan dapur. Ruangan itu bisa dijadikan ruang tamu sekaligus ruang makan Bahkan ada balkon di ruangan itu yang menghadap ke perbukitan di depan penginapan itu. Di jendela besar itu mereka dapat menikmati pemandangan keindahan daerah itu dengan hamparan sawah yang menghijau, dan bukit - bukit yang ada di kejauhan.


Gedung penginapan itu berlantai tiga dengan sebuah kafe yang bergaya roof top di atas gedung itu. Cukup menarik perhatian para pengunjung di sana, terutama kaum muda. Tak jauh dari gedung itu ada jalan provinsi, yang sangat ramai karena menghubungkan daerah itu dengan beberapa kota lainnya di sekitaran Jawa Timur.


Nidya juga meminta pelayanan khusus untuk Joko dan dua pegawai Pak Leon itu kepada pengelola penginapan. Dari menyiapkan sarapan sampai makan malam, mencarikan jasa laundry untuk cuci dan setrika. Serta memberikan keamanan dan kenyamanan lebih untuk para kerabatnya itu


Sorenya, Joko dan dua pegawai kantor sudah datang. Lengkap dengan keperluan mereka dari tas - tas besar berisi pakaian ganti, koper kecil berisi arsip. Mereka pun menggotong sebuah printer, dan komputer yang akan digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka di sana.


Joko, Leon dan dua pegawai kepercayaan Leon itu segera berdiskusi di ruang makan. Mbak Ning menyediakan kopi dan cemilan yang dibuat dari berbagai makanan dari olahan pisang raja. Ada yang dibuat pisang goreng madu, dibuat kue mata roda, Juga pisang molen.


" Ayah!" panggil Qani manja dengan suara bayinya. Sejak tadi, bayi perempuan itu dilarang Asti untuk mendekat, karena keempat orang yang duduk di meja makan itu tampak serius dalam membicarakan masalah pekerjaan mereka nanti. Apalagi Leon sangat mempercayakan kemampuan Cakra untuk menyelesaikan pendataan tersebut.


" Sini sayang!" panggil Leon. Tentu saja bayi itu masih kangen dengan ayahnya itu. Cepat Qani merangkak mendekati kursi tempat Leon duduk. Bayi itu segara dipeluknya penuh kasih sayang. Joko sampai tergelak melihat keponakannya itu tetap anteng menempel di tubuh ayahnya. Sementara mereka terus melakukan langkah-langkah yang patut diambil untuk mengantisipasi keadaan yang akan mereka temui di lapangan.


" Mbak Asti sepertinya ada Pakde Muin dan istrinya, deh! Di warung Tenda!" Lapor Putri yang tadi izin keluar untuk membeli keperluan pribadinya setiap datang bulan.


" Pakde Muin, anaknya Mbah Wijanarko ya, Asti?" tanya Joko saat mendengar laporan putri itu.

__ADS_1


" Iya, mereka malah sudah dua malam menginap di rumah Joglo... Silakan kalau mau bertemu dan berkenalan dengan istrinya!" ujar Asti.


Putri sedang menjaga Akbar yang sedang mencoba mengayuh pedal sepedanya itu yang diberi tambahan dua roda kecil di ban belakang untuk menjaga keseimbangan. Karena sudah sore, Leon menyuruh Akbar masuk dan menyimpan sepeda itu di taman samping.


Di halaman ruko tadi, sepeda itulah yang diturunkan oleh Pak Cakra siang tadi. Tentu saja mereka terpaksa membawa sepeda milik milik Hanum itu, yang diberikan kepada Akbar yang dianggapnya sebagai saudara sepupu. Sampai ke Madiun. Pak Sam juga kaget ketika melihat sepeda mini itu ada di bagasi Pajero milik Leon.


Sampai istrinya itu tertawa geli setelah mendengar alasan Joko dengan adanya sepeda mini kecil itu. Saat itu bagasi mobil Asti sudah full dengan berbagai, koper, tas dan bawaan lainnya, selama mereka menginap di rumah orangtuanya di Semarang.


" Putri, Akbar sudah mandi belum?"


" Sudah, Mbak! Dia banyak berjanji kepada ayahnya untuk patuh bila diperbolehkan bermain sepeda!"


Mata Asti mengerling tak percaya. Selama ini memang Akbar mulai tumbuh dengan rasa egonya sebagai anak laki-laki. Beruntungnya Leon dapat mengisi bagian yang kosong di jiwa Akbar itu dan mampu menempatkan dirinya sebagai seorang teman dan ayah. Benar juga, Seorang anak tentunya memerlukan kedua orangtuanya untuk membimbing mereka dalam setiap tahap dalam kehidupannya.


Joko yang merasa mengenal Pakde Muin, segera menemui laki-laki itu yang berada di warung tendanya. Leon masih menikmati masakan rumahan yang selama seminggu ini selalu di rindukannya. Walaupun dia tinggal di hotel berbintang tiga yang cukup terkenal di kota ' Brem ' itu.


Qani sudah ditidurkan Bu Jum di kamarnya. Mbak Ning sedang menyiapkan lauk-pauk kering yang diminta Joko untuk persediaan tambahan lauk yang akan dibawanya besok ke Madiun...Jadi Mbah Ning membuat kering tempe, rendang daging dan sambel bajak. Semua makanan itu awet dan tahan seminggu, tidak akan basi. Apalagi kalau disimpan di kulkas.


Suara tawa geli, Joko dan Pak Cakra terdengar saat mereka kembali masuk ke dalam rumah menjelang pukul 21.00. Tentu saja para ART yang sedang asyik nonton sinetron kesayangan mereka menjadi bingung. Jarang sekali mereka melihat Pak Cakra atau Joko itu bisa tertawa geli seperti itu. Sebab para pria itu justru selalu terlihat cool dan serius dalam kesehariannya.


"Ya, ampun kukira tadi ondel-ondel," celetuk Pak Cakra lagi , tanpa bisa menahan suara tawanya.


" Onde- Ondel?" tanya Mbak Ning pelan sambil menatap Putri dan Bu Jum bergantian... Sampai Bu Jum baru paham... Sebab ondel-ondel itu adalah boneka besar yang berasal dari Jakarta. Dulu boneka berisi manusia itu digunakan untuk memeriahkan beberapa upacara dan perayaan yang menjadi ciri khas kesenian orang Betawi... Sedangkan sekarang , Bu Jum melihat boneka dengan dandanan menyolok itu digunakan untuk orang mengamen di jalan-jalan Jakarta, Bekasi dan sekitarnya.

__ADS_1


" Siapa yang disebut ondel-ondel, sih?" ucap Putri bingung. Mbak Ning apalagi... Malah Bu Jum hanya nyengir tak jelas


.


__ADS_2