Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 234. Keadaan di Rumah Lek No


__ADS_3

Hampir satu jam lebih Asti tertidur setelah minum obat dari resep Dokter Mursito. Kang Kasmat langsung menebusnya di apotek klinik, ketika dia mengantar dokter itu kembali klinik tempatnya berpraktek. Setelah Leon memberi sejumlah uang sebagai tebusan untuk resep itu.


Di tas kresek transparan itu terdapat bermacam- macam obat yang harus Asti minum sesuai dengan aturan pada masing - masing bungkusnya. Bulek Ika memaksa Asti makan dulu beberapa suap nasi sebelum obat itu diminumnya. Sampai kedua wanita itu menyingkir dari kamar yang letaknya di belakang bangunan joglo yang sangat besar itu. Agar Asti bisa segera beristirahat.


" Yuk, apa kamar di depan itu yang dulu ditempati almarhum Pak Harjo Winangun?" tanya Bulek Ika sambil menunjuk kamar depan. Mereka sedang duduk di kursi di ruang makan. Tepat di depan mereka itu adalah kamar tidur utama, yang sekarang digunakan oleh Pak Muin dan istrinya, sebagai kamar tidur untuk tamu.


" Memangnya ada apa, Ika?" tanya Bulek Ratih tertarik.


" Asti bilang kalau dia baru menyadari kalau pria yang merencanakan kejahatan di depan teras rumah joglo itu adalah Pakde Kerto!"


Lama Bulek Ratih berpikir... Apakah waktu itu Asti tidur di kamar kakeknya? Mungkin anak itu kangen dengan Mbahnya itu setelah ditinggal pergi selama dua hari ke Surabaya.


Dulu rumah Joglo ini belum direnovasi, jadi bangunan itu masih berbentuk asli dari pertama kali dibangun. Hampir semua bagian rumah khas orang Jawa itu terbuat dari kayu. Karena keturunan Winangun pertama itu orang berada di desa ini, jadi kayu jati yang terbaik yang digunakan untuk seluruh bagian rumah.


Hampir semua jendelanya juga terbuat dari kayu jati. Jadi masih belum kedap suara, apalagi bila ada orang atau tamu bercakap - cakap di teras depan. Pasti suara pembicaraan mereka itu bisa terdengar dari kamar tidur yang paling depan.


Sejak Bude Ayu kembali, beberapa ruangan di rumah Joglo ini direnovasi. Setelah mereka mendapatkan hasil panen kelapa yang melimpah, kemudian diborong secara besar-besaran oleh pedagang dari kota. Sampai hampir mencapai 5 truk hasil panen kelapa itu.


Sekarang beberapa jendela di ruang tamu dan kamar tidur sudah diganti dengan kaca. Beberapa bagian dinding sudah tembok dengan diberi plesteran yang rapi sehingga tampak lebih kokoh dan nyaman.


Tetap saja kakek buyut mereka selalu membangun dapur terpisah atau pawon dari rumah joglo, yang letaknya ada di belakang rumah. Terkadang dapur orang di desa itu juga disatukan dengan gudang penyimpanan beras. Sehingga dapur itu lebih luas lagi ukurannya.


Dapur di bagian luar rumah Joglo biasanya dibangun untuk mengurangi bahaya kebakaran, karena rumah kayu rentan dari aps. Juga untuk menjaga agar kayu jati solid yang menjadi bahan utama bagian dari rumah itu tetap awet sepanjang masa.

__ADS_1


" Apa benar seperti itu, ya? Seorang gadis kecil yang baru berusia 10 tahun masih terus mengingat dengan suara orang yang tidak bisa dilihat wajahnya dengan jelas. Sampai hampir lebih lima belas tahun kemudian..." Ujar Bulek Ika semakin khawatir.


" Kamu tahu kan, Ika ? Bagaimana Asti sewaktu masih kecil? Dia adalah gadis kecil yang cantik, periang dan ramah kepada semua orang. Saya pikir sejak kejadian Pak Harjo dan Bude Ayu pulang dari Surabaya dia jadi sangat berubah. Ternyata bukan karena ikut merasakan kesedihan keluarganya saja. Tetapi dia terus berpikir untuk mengetahui siapa lelaki yang akan menghancurkan keluarga Winangun itu. Asti menjadi sangat pendiam dan penyendiri...." kata Bulek Ratih lirih .


Mungkin kata - kata Pak Kerto itu selalu tersimpan dalam ingatannya itu. Dulu banyak pohon -pohon besar yang tumbuh di depan rumah Joglo. Sehingga jalanan di depan rumah tidak terlalu terang dan bersih seperti sekarang. Jadi Asti tentu tidak bisa melihat dengan jelas siapa lelaki yang membicarakan rencana kejahatannya itu. Karena pria itu merasa yakin kalau rumah joglo itu tidak ada penghuninya. Sebab keluarga Winangun itu semuanya berangkat ke Surabaya dua hari yang lalu.


Pakde Kerto juga mengetahui , semua anggota keluarga Sarno dan juga para pekerja tinggal di rumah belakang. Setiap hari ada 3 sampai 4 orang yang diperkerjakan mereka untuk membantu mengolah sawah Winangun yang cukup luas. Jarak rumah Sarno lebih dari 20 meter dari teras di depan rumah Joglo.


" Begitulah sebuah kejahatan, Yuk! Akan terbuka justru oleh pelakunya sendiri... Dipikirnya, kepergian Pak Harjo Winangun dan Mbak Ayu ke Surabaya membuat posisi mereka aman... Tanpa menyadari kalau semua rencana dan taktik jahat Pakde Kerto juga didengar oleh Asti!"


Pasangan suami -istri itu akhirnya pamit pulang. Setelah melihat keadaan Asti mulai membaik. Beberapa tamu dan para tetangga juga banyak yang sudah kembali ke rumah masing -masing.


" Bu Jum tolong lihat keadaan Asti di dalam kamar. Kalau sudah agak sehat, kita kembali pulang!" pinta Leon.


Leon masih mengendong Qani sejak tadi. Bayi itu juga ikut merasakan kehilangan sosok ibunya yang hampir setiap hari mengasuh dan merawatnya.


Tentu dengan memberi mereka banyak uang. Pantas Yusuf, tak berani mengunjungi rumah mertua adiknya itu. Sebab mendapat ancaman dari Juwono bersaudara selama bertahun-tahun kemudian ... Agar mereka lebih leluasa menjalankan kepentingan pribadinya, menguasai harta warisan Winangun.


Dari dalam rumah, Asti sudah dituntun Bu Jum keluar dari kamarnya.. Wajahnya tidak lagi pucat seperti beberapa jam sebelumnya... Fakta dan rahasia kehidupan ibunya dan keluarganya sangat mempengaruhi pikirannya saat ini. Adakah orang setega itu, di saat orang lain mendapatkan musibah yang beruntung, juga harus kehilangan nyawa dari anggota keluarganya. Apa pantas adik- kakak Juwono itu masih disebut manusia ? Karena mereka tidak mempunyai peri kemanusiaan. Hati mereka sungguh hitam... Dengan berusaha memanfaatkannya kepada yang terjadi.


Qani langsung minta digendong ibunya. Bayi itu sudah berjam-jam sejak kepergian Asti ke desa sebelah, tidak merasakan kehangatan ibunya. Walaupun semua wanita di rumah itu mau mengendong dan menjaganya.


" Yang, kita pulang, ya? Kasihan Akbar sudah dari tadi menanyakan kita kapan pulang!"

__ADS_1


Asti tersenyum samar...Di pelukannya Qani mulai memejamkan matanya. Biasanya bayi itu sudah tidur sampai dua kali dalam sehari. Tentu setelah dibuai dengan sholawat dan bacaan surat-surat pendek yang sering dilafalkannya ibunya itu dengan suaranya yang lembut dan merdu.


Kesibukan di dalam rumah joglo segera terjadi. Bude Mayang mulai membawa semua koper dan beberapa barang lainnya ke bagasi mobil suaminya itu. Sejak dua hari lalu, Pak Muin mulai mencari info dari beberapa kerabat Juwono lainnya. Tentang kepergian Emilia, ibu Asti dari desa itu. Sebab keterangan dari Pak Kerto rasanya kurang lengkap. Masih banyak orang yang mau memberikan kesaksian dari orang-orang yang kurang menyukai sepak terjangnya Juwono bersaudara itu.


Bu Jum dibantu Bulek Ratih memasuk barang - barang Qani dari stroller dan car seat miliknya ke dalam mobil. Sementara Bu Jum merapikan kotak susu Qani agar tak tercecer di dapur. Juga barang kecil lainnya ke dalam tas perlengkapan bayi.


Leon memaksa agar Qani digendongnya. Sebab Jalan Asti masih gamang saat dibantu masuk ke dalam mobil. Pukulan bertubi - tubi yang datang ke dalam kehidupannya membuat dia runtuh dan jatuh.


" Bulek , Pak Lek. Aku pamit pulang!" bisik Asti setelah dibantu duduk di samping Leon.


" Iya, kamu harus sehat! Pak Muin sudah melacak keberadaan Pakde dan Ommu yang pernah tinggal di Surabaya... Mudah-mudahan, ada saudara Emilia yang kita temukan... Tidak selamanya kejahatan itu akan menang... " ujar Lek No.


Qani masih terlelap di kursi kesayangannya itu. Setelah semua rapi dan siap untuk pergi , Leon mulai menjalankan mobilnya ke arah barat Desa Sendang Mulyo. Menuju ke rumahnya. Beberapa meter di belakang mereka, ada mobil Fortuner yang dibawa Pakde Muin mengikutinya.


Kedatangan mereka disambut Mas Yanto dengan membuka pintu garasi lebar - lebar. Dari pintu ruang tamu muncul Akbar dan Putri. Cepat Leon turun dan berjalan mendekati pintu tempat Asti duduk. Dia memapah Asti yang sudah mulai segar lagi. Namun wanita muda itu tidak menolak. Dia membutuhkan dukungan, kasih sayang dan perhatian dari suaminya saat ini. Saat Kenangan buruk itu melintas hitam di atas pikirannya.


" Istirahat dulu, ya! Biar Mbak Ning yang akan menjagamu!" bisiknya lembut.


Mbak Ning yang beberapa menit yang lalu ditelpon Leon sangat mengerti. Dia menyiapkan semua keperluan Asti di kamar utama. Asti dibaringkan Leon dengan hati-hati.


Qani digendong Mbak Putri. Bu Jum dan Mbak Ning mulai menyiapkan makan malam. Pakde Muin dan istrinya sudah masuk membawakan tas dan koper mereka ke kamar di lantai atas.


Sayup-sayup terdengar lantunan suara azan Magrib berkumandang dari kejauhan... Asti tenang memandang anak-anaknya lebih anteng ketika berada di kamarnya ini. Mereka berbaring di lantai yang diberi karpet sambil bermain dengan mainannya masing-masing.

__ADS_1


Perlahan Asti menyimpan sajadah dan mukena di sudut ruangan yang paling barat. Walaupun mereka mempunyai mushola pribadi. Tetapi Asti belum sepenuhnya punya kekuatan untuk sholat berjamaah, di ruang tengah. Kepalanya masih terasa berputar dan berat. Tubuhnya saja sedikit merinding ketika tadi dia berwudhu dari kran di kamar mandi di dalam kamarnya.


Hanya saat ini, dia perlu mengadu dan memohon pertolongan dari Allah SWT, agar dapat menemukan keberadaan saudaranya ibunya itu. Pakde Yusuf dan Omnya yang bernama Rahadian Mohammad Jaffar.


__ADS_2