Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 227. Menemui Pak Kerto


__ADS_3

Pak Muin mengajak istrinya, Bulek Ratih dan Pak Sarno untuk menemui Pak Kerto setelah mendapat telepon dari Pak Darmaji siang ini.... Termasuk memberitahu situasi terakhir yang ada di rumah pria itu. Katanya di sana hanya ada Pak Kerto yang terbaring sakit, istri kedua, serta menantu perempuannya.


Tadi sebelum berangkat, Bulek Ratih masih sempat memasukan beberapa bungkus makanan, buah yang dibeli Asti dan dua sisir pisang raja. Semua dimasukkan dalam dua kantong kresek yang berbeda.


Perjalanan ke desa sebelah memakan waktu tak sampai sepuluh menit lamanya. Apalagi Pak Muin mengemudikan mobilnya itu dengan santai. Mereka melewati jalan yang menjadi perbatasan beberapa desa di ujung Selatan sana , setelah sampai di sebuah perempatan. Pada jalan menuju Desa Senda Waru, jalan itu semakin lebar, datar juga sudah beraspal bagus.


Sangat berbeda sekali dengan jalan alternatif yang membelah di hutan bambu, di desa Sendang Mulyo. Jalan itu bertahun- tahun masih tetap berupa padas dan kerikil keras.


Padahal jalan itu sekarang tidak hanya digunakan oleh warga Sendang Mulyo saja. Beberapa warga desa lainnya juga akan mengunakan jalan itu, apabila ingin bepergian ke wilayah barat dengan waktu tempuh yang lebih singkat dan jarak yang lebih dekat.


Jalan itu alternatif itu juga semakin ramai... Hampir setiap hari sepeda motor lalu-lalang di sana. Bahkan ada becak dan sepeda. Sesekali juga dilewati oleh kendaraan roda empat.


Orang-orang memilih jalan alternatif itu karena mereka tujuannya untuk ke pasar, ke kecamatan atau ke kota- kota kecil lainnya yang masih berada di provinsi Jawa Tengah. Tanpa perlu melalui jalan ke desa lain, seperti melewati Desa Sendang Waru yang jaraknya hampir 4 km lebih. Belum lagi harus melalui jalan provinsi yang memutari desa Sendang Mulyo dan tetangganya itu yang dikelilingi oleh hutan bambu yang lebat dan rapat. Walaupun jalan provinsi itu lebih lebar dan beraspal mulus, tetap saja memerlukan waktu tempuh yang lebih lama bila ingin ke kota-kota di wilayah barat dari tempat itu.


Rupanya keberadaan jalan tembus yang melewati separuh dari area hutan bambu itu banyak dilupakan para pejabat daerah setempat. Sebab selama bertahun-tahun, jalan itu belum pernah mendapatkan perbaikan, baik berupa pengerasan jalan ataupun diaspal.


Alasannya tidak tercantumnya jalan itu sebagai bagian dari Pemda setempat, sehingga tidak dana anggaran untuk memperbaikinya. Apalagi jalan itu dibuat atas inisiatif sendiri dari almarhum Pak Harjo Winangun itu. Tampaknya keadaan itu seperti membuka mata dan pandangan masyarakat, bahwa Kakek Asti selalu mendedikasikan tenaga dan pikirannya untuk kepentingan orang banyak. Sebab jalan itu tetap utuh seperti sejak dibuka pertama kali hampir 30 tahun lebih. Jalan yang menggunakan pondasi batu Padas, ditimpa oleh lapisan halus di atasnya. Jalan itu tetap rata, tidak berlubang hanya sedikit berdebu di musim kemarau...


Kedatangan rombongan keluarga Lek No dan Pak Muin itu sudah ditunggu tuan rumah. Terutama Mbah Imah. Wanita tua itu tampak terharu saat bertemu dengan istrinya Lek No itu. Sebab sudah lebih dari setahun mereka tidak bertemu. Terakhir ... pada acara pernikahan Asti dengan pengusaha itu, di rumahnya yang besar dan bagus di dekat jalan simpangan


Wajah Bulek Ratih tampak semakin berseri-seri dengan tubuhnya semakin padat dan senyuman sumringah. " Sehat-sehat Mbah Imah!" ucap wanita itu terharu.


Betapa Mbah Imah mendengar, kalau anak sulung Ratih, yaitu Joko sudah mempunyai usaha warung tenda yang cukup terkenal di seantero kecamatan dan kota sebelah. Ninuk pun masih kuliah di kota kecil lainnya. Sedangkan Asti punya rumah bagus, bertingkat. Juga mempunyai 4 ruko, dan satu ruko itu merupakan mini market. miliknya.


" Monggo, monggo!" Seru Wanita tua itu ramah. Keempat tamunya itu mencium tangan Mbah Imah dengan takzim. Secara hitungan angka, usia wanita ini lebih tua dari Pak Harjo Winangun, jadi hampir berusia 80 tahun. Masih segar bugar, sehat dan bahagia.


Bu Ika Sawitri memeluk Bulek Ratih dan Bude Mayang penuh rasa rindu. Sejak Bude Ayu tiada, Bulek Ratih juga mulai mengurangi kegiatannya pada organisasi kegiatan PKK di kelurahan sedikit demi sedikit ... Wanita itu secara sadar memahami, kalau dia harus mengambil alih urusan rumah tangga dari kedua rumah peninggalan keluarga Winangun. Juga membantu suaminya mengurus dan mengolah sawah warisan itu yang cukup luas.

__ADS_1


Segera Lek No, Mbah Imah , Pak Darmaji dan Pak Muin berjalan ke rumah Pak Kerto... Sedangkan Bulek Ratih , Bu Ika dan Bude Mayang mempunyai bahan pembicaraan yang lain. Terutama yang berkaitan dengan segala tindakan Pak Kushari dan Pak Kerto atas berbagai fakta dan kejadian yang diputarbalikkan demi kepentingannya pribadi.


" Memang benar cerita Mbah Imah itu, Jeng Ika?" tanya Bude Mayang kurang yakin. Semalaman mereka di rumah Joglo ngobrol di ruang tengah dengan para sepupu Bulek Ratih dan suami mereka..Ditemani seteko kopi tubruk khas daerah ini, pisang raja rebus dan singkong yang dioleh menjadi mento.


" Ibu mertua saya, memang sudah sepuh. Tetapi masih sangat tajam ingatannya... Tentu hanya kepada beliau saja, Pak Kerto mau menceritakan rahasia kelam itu ... Mungkin Pak Kerto sudah sangat putus asa dan mengira ajal kematian sudah dekat. Sedangkan dia masih menyimpan dosa dan perbuatannya yang paling keji itu. Kesadaran itu didapat sejak dia mendapat serangan stroke yang pertama. Kaki kirinya lumpuh, berbicara juga tidak jelas karena bibirnya miring sebelah. Setelah mendapatkan pengobatan , dan terapi. Secara berangsur-angsur kesehatannya mulai membaik. Namun dua bulan beliau terkena serangan stroke yang kedua, dan akibatnya lebih parah lagi. Kedua kakinya lumpuh, tangan kirinya susah digerakkan !" Jawab Bu Kades


" Nyatanya dia masih hidup sampai sekarang kan? Siapa yang dapat mengatur rejeki, maut, dan jodoh. Kecuali Allah ?" Ucap Bulek Ratih bijak.


Sejak beberapa bulan yang lalu, soal sakit stroke Pak Kerto itu menjadi bahan obrolan para bapak dari para warga di desa lainnya... Keluarga Juwono sudah habis- habisan sekarang!


Kekayaan dan kemakmuran keluarga Juwono itu dulu didapat dari memeras keringat orang lain. Karena memberi upah pada para pekerjanya dengan sangat rendah. Juga ada air mata, darah, dan. penderitaan yang dialami oleh para rekanan usahanya, juga lawan bisnisnya. Sebab kedua Juwono itu selalu berbuat curang kalau dalam urusan berbisnis. Sampai teman bisnisnya itu bangkrut usahanya.


Bahkan ada seorang pengusaha dari daerah lain sampai dibuat gila! Karena mengalami kerugian sampai milyaran rupiah. Sehingga dia harus kehilangan hartanya dan keluarganya cerai berai, akibat ditipu Pak Kushari pada tender pembangunan jembatan di pinggiran kota Solo. Belum lagi berbagai usaha lain yang dilakukan dua bersaudara itu untuk memperkaya diri sendiri dengan menghalalkan segala cara.


Kini semua sudah berbalas dengan harta dan kekayaan mereka yang langsung ludes tak bersisa. Malah berganti dengan kesulitan hidup yang hampir bertahun-tahun mereka alami.


Tanpa pekerjaan yang tetap dan keterampilan yang sangat minim, anak-anak keluarga Juwono itu kesulitan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya masing-masing. Tak ada uang untuk membeli beras, lauk ataupun membayar iuran sekolah anak -anaknya.


Dari puluhan hektar sawah yang dulu dikuasai oleh Pak Kushari dan Pak Kerto, sebagian sudah dijual kepada orang lain. Selebihnya kembali kepada pemilik aslinya ... Seperti sawah keluarga Winangun, yang hampir saja diklaim menjadi milik Pak Kerto. Rumah besar dengan toko sekaligus gudang yang merupakan penyimpanan barang- barang furniture dari kayu jati pun sudah lama tutup dan bangkrut.


Keadaan di sana malah agak berbeda di rumah Asti... Anak-anak sedang tidur siang setelah makan. Putri sedang beristirahat di kamarnya di lantai atas. Asti sedang membaca laporan yang diberikan Mbak Dewi saat wanita itu istirahat makan siang.


Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari pintu samping... Asti terkejut. Dia memang mendengar ucapan salam dari pintu samping itu. Namun tak sempat memperhatikan siapa orang yang datang ke rumahnya di siang ini. Sebab di dapur selalu ada Mbak Ning atau Bu Jum.


" Mas?" Ujar Asti kaget. Ketika melihat sosok pria yang membuka pintu kamarnya dengan perlahan.


Leon segera meraih Asti dan memeluknya penuh rasa rindu. Sesaat hati Asti berbunga-bunga karena merasa bahagia. Dihirupnya bau tubuh pria yang hampir seminggu sangat dirindukannya. Tetapi jarak yang memisahkan mereka terasa sangat jauh. Bahkan Asti menumpahkan rasa rindu itu disertai doa yang tak putus -putusnya yang selalu Asti panjatkan. Agar suaminya diberi kemudahan dan kelancaran dalam segala urusannya itu dan dapat pulang ke rumah dengan selamat.

__ADS_1


" Mas... urusan di Madiun sudah beres, ya? " tanya Asti bingung.


" Belum sayang?" bisik Leon. Setelah pria itu mengecupi pipi, dahi dan bibir wanita cantik itu.


Tanpa sadar, Asti membelai pipi pria itu... Wajah pria itu lebih tirus dari sejak mereka berpisah di Semarang waktu itu ... Tetapi Asti sangat mencintai pria itu... Sejak melahirkan Qani, kasih sayang pria itu semakin berlimpah kepada dirinya dan Akbar.


" Anak-anak bagaimana?"


" Mereka sering menanyakan, Mas! Belum pernah kan mereka ditinggal pergi selama ini..." ucapnya galau.


" Yah... lain kali, kamu harus ikut, ya! Walaupun hanya tinggal di hotel atau di tempat penginapan saja. Aku nggak sanggup seperti ini ... Terus kepikiran sama anak- anak juga... ibunya anak-anak..." ujar Leon tiba-tiba melow.


" Mau disiapkan makan siang?" bisik Asti menenangkan.


"'Kita sudah makan siang di pinggir jalan tadi ... Team pengacara harus kembali ke Semarang untuk menyiapkan segala macam surat-surat dan keperluan lainnya."


Asti menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu. Mungkin anak-anak juga sudah merindukan ayahnya ini. Satu persatu mereka terbangun dari tidur siangnya yang hanya sebentar. Terutama Qani. Bayi mungil itu langsung terdiam... Tadinya dia mau menangis karena mengira ditinggal sendirian di kamar ini. Tetapi matanya menatap bingung pada sosok ayahnya yang meluknya penuh rindu.


" Ayah udah pulang, Bu?" tanya Akbar ketika dia terbangun. Asti sedang memasukkan beberapa pakaian yang sudah disetrika Bu Jum ke dalam rak Lemari kayu itu.


" Sudah!"


Wajah Akbar tampak sangat senang. Bocah laki-laki itu langsung terbangun. Dia segera berjalan ke kamar sebelah setelah diberi isyarat oleh ibunya itu.


Sekarang mereka berguling-guling dan berpelukan di atas ranjang itu. Leon masih sibuk menggelitik Qani dan Akbar. Ayah dan anaknya itu masih asyik bercerita di atas tempat tidur.


Asti meninggalkan mereka untuk melihat masakan yang akan disiapkan Mbak Ning sore ini. Tadi Asti sempat membuatkan kopi untuk suaminya itu. Pria itu tidak jadi istirahat karena masih berkumpul bersama anak-anaknya di kamar tidur utama.

__ADS_1


__ADS_2