
Besok paginya, Pak Darmaji Hendardi mengutus istrinya untuk datang ke rumah tetangga mereka, sekedar melihat keadaan Pak Kerto. Wanita itu membawa satu kantong kresek makanan berupa kue dan nasi bungkus.
Tentu saja anggota keluarga Kerto Juwono itu tak berani menolak kedatangan istri dari pak kades yang tinggal tepat di depan rumah mereka. Selama ini wanita itu selalu berusaha menolong keluarga itu. Termasuk mengupayakan pengobatan Pak Kerto yang terkena serangan stroke yang kedua kalinya dalam satu tahun ini.
Air mata wanita itu menetes melihat keadaan Pak Kerto yang kini terbaring tak berdaya di sebuah dipan di kamar yang tak jauh letaknya dari dapur. Wajah pria itu semakin kurus dan pucat. Mungkin kalau tidak ditutupi oleh pakaiannya, tubuhnya yang dulu tinggi besar dan berotot telah berubah menjadi sangat kurus, seperti tinggal tulang belulang saja.
Keadaan kamar itu pun jauh dari kata layak sebab suasananya gelap dan suram. Satu- satunya jendela yang ada di kamar itu yang terbuat dari bilah papan kayu hanya memperlihatkan pemandangan kebun belakang rumah yang dipenuhi pohon- pohon besar. Tanpa sorotan matahari pagi yang bersinar terang dan hangat.
Rupanya sang anak telah memindahkan ayahnya yang sakit itu ke kamar yang paling belakang dari rumah besar ini. Padahal biasanya, Pakde Kerto menempati kamar tidur utama yang letaknya ada di paling depan, berdampingan dengan ruang tamu.
Sebuah kamar tidur yang ditata sangat mewah, karena dipenuhi berbagai perabot mahal dari kayu jati asli yang berukir dengan cat warna coklat dan gradasi emas di setiap bentuk ukirannya itu. Sebuah karya yang menunjukkan keberhasilan Pak Kerto sebagai tuan tanah yang memiliki puluhan hektar sawah dan bermacam-macam kebun buah di berbagai desa di wilayah ini.
Tentu benar ucapan orang-orang di luaran sana... Perbuatan jahat beliau dan adiknya selama masa muda dan penuh dan kejayaan itu telah hancur. Mereka mendapatkan ganjaran dengan sakit yang berat yang dialaminya. Bahkan adiknya, Pak Kushari lebih dulu meninggal terkena serangan jantung hampir 8 tahun. Setelah mendapat tagihan hutan bank berjumlah miliaran rupiah. Sebab usaha penyewaan alat-alat pembangunan itu bangkrut. Ditambah makan hati, karena kecewa dengan tabiat buruk anak-anaknya yang sejak remaja mulai melakukan tindakan yang melanggar agama juga kriminal.
Mereka selalu saja merongrong ayahnya itu dengan segala tuntutan dari pembagian warisan berupa sawah dan rumah, minta uang yang cukup besar untuk modal. Yang terkadang habis tak bersisa. Belum lagi kenakalan anak yang remaja yang sudah sangat meresahkan masyarakat di desa itu. Dari mabuk- mabukan setiap malam minggu, sampai tindakan pencurian barang milik tetangganya. Kata remaja yang lain, uang hasil curian itu biasanya digunakan anak Pak Kushari itu untuk membeli narkoba!
Ternyata keadaan Pakde Kerto pun hampir sama. Semakin beliau sakit parah, justru anak-anaknya semakin tidak peduli dengan keadaan ayahnya itu. Tak ada niat untuk membawa ayahnya berobat ke rumah sakit di kota.
" Pakde? Bagaimana keadaannya?" tanya istri Pak Darmaji itu ramah.
" Bu Kades?" tanya Pak Kerto lirih. Pria itu tak bisa bangun dari tidurnya tanpa dibantu orang lain untuk menopang bahunya yang ringkih
" Nggak usah bangun, Pakde! Nggak apa - apa... Saya hanya mau tanya. Apa sudah mendapat kunjungan dari Dokter Vivi?"
" Sudah Bu Kades, Minggu lalu.." ucap lelaki itu pelan, hampir tak terdengar.
" Pakde, Ini aku bawakan sarapan! Mbah Imah yang menyiapkan!"
" Terimakasih!" ucapnya lirih.
Wanita itu meletakkan tas kresek itu di meja dekat tempat tidur. Dia berusaha mencari Ibu Musdalifah, Istri beliau. Wanita itu yang selama ini telaten menggurus sakitnya.
__ADS_1
Ibu Ika Sawitri dan suaminya yang berinisiatif mendatangkan dokter dari puskesmas untuk memeriksa keadaan pria itu seminggu sekali. Setelah anak-anaknya tak ada satupun yang berniat membawa beliau berobat ke puskesmas. Padahal sudah mendapatkan pengobatan gratis, atas inisiatif para warga, yang diambil dari dana kesehatan masyarakat. Walaupun separuh warga tak menyukai sepak terjang Pak Kerto dan adiknya itu yang sejak dulu sangat menguasai perekonomian desa mereka. Namun para warga desa Sendang Waru, melakukan hal tersebut atas dasar rasa kemanusiaan saja.
Tidak mungkin juga mereka diam dan masa bodoh! Sementara tetangga di depan rumah mengalami sakit yang berat dan butuh pertolongan orang lain.
" Apa kemarin Pak Kerto dibawa pergi ke Puskesmas, Ibu Mus? " tanya wanita yang masih ayu itu diusianya yang lebih dari 50 tahun itu penuh perhatian, kepada istri muda Pakde Kerto itu.
" Ah, Bu Kades kayak nggak kenal Tarjo saja! Dia melarang kami keluar rumah... Mana mau dia repot - repot membawa ayahnya berobat ... Anak dan istrinya sudah makan atau belum saja, dia tidak peduli!"
" Bu, ke rumah saja! Kalau hanya satu atau dua piring nasi dengan lauk seadanya di rumah ada! Kasihan Pak Kerto! Walaupun sakit dia juga perlu diberi makan setiap hari ..." bisik Ibu Ika semakin trenyuh.
Wanita itu yang disebut Ibu Mus itu tersipu antara malu dengan keadaan keluarga saat ini setelah dia menyandang predikat istri kedua Pak Kerto. Atau bini muda! Juga keberadaan anak-anak mereka yang sudah dewasa tetapi masih tinggal di rumah ini tanpa mau berusaha hidup mandiri.
Rumah besar ini dihuni oleh tiga keluarga sekaligus. Yaitu anak sulung Pak Kerto, Tarjo yang tinggal di dua kamar depan dengan istri dan dua anak perempuannya.
Di kamar lain, ada anak keduanya yang juga telah menikahi gadis muda dari desa lain. Padahal dia juga telah menikah dan punya satu anak laki-laki yang sudah bersekolah di SD. Malah istrinya dikembalikan ke rumah orang tua, bersama anaknya itu. Tanpa keputusan cerai.
Sedangkan sang anak bungsu sudah pergi ke kota lain, tanpa pekerjaan yang jelas karena pendidikan pun kurang memadai. Joko pernah melihat Aryo Juwono mengamen di sebuah restoran di pinggir jalan di perbatasan antara Solo dan Klaten.
Ibu Banowati sangat marah dengan niat suaminya ingin menikah lagi. Padahal mereka sudah punya tiga anak laki-laki yang sudah besar.
Apalagi setelah dia tahu, kalau wanita yang akan jadi madunya adalah pembantu rumah tangganya sendiri. Wanita muda itu adalah Musdalifah yang saat itu belum genap berusia 20 tahun, yang masih pantas disebut juga ABG...
Hanya gadis itu masih muda, cantik dan tampak naif. Mungkin gadis muda itu terpesona dengan kenyamanan hidup yang ditawarkan Pak Kerto Juwono. Dia juga tak menolak dipinang oleh pria itu, yang diperkirakan umurnya mungkin sebaya dengan ayahnya yang tinggal di kampung yang lebih pelosok lagi.
Setelah pertengkaran hebat yang terjadi antara Pak Kerto dan istrinya itu, pria itu semakin kejam. Dia malah menceraikan istrinya itu dan mengusirnya dari rumah. Sampai pria itu melarang Ibu Banowati membawa anak-anaknya, juga tidak diberi harta gono-gini.
Pernikahan Pak Kerto dan Musdalifah menjadi berita terbesar ke seantero desa lainnya. Meskipun resepsi tidaklah mewah ... Tetapi banyak para emak- yang mengecam niat terselubung Musdalifah yang silau dengan kemewahan dan harta melimpah yang dimiliki oleh pria itu. Tetapi rela merusak kebahagiaan rumah tangga orang lain.
Kebahagiaan yang dirasakan Ibu Musdalifah juga tidak berlangsung lama. Saat anak- anak itu semakin besar mereka mulai melawan ibu tirinya itu dan memberontak kepada ayahnya itu. Sekarang, kedudukan Ibu Musdalifah kembali seperti semula, dijadikan seperti pembantu di rumahnya sendiri. Juga harus mengurus rumah dan Pak Kerto yang sakit keras.
Sepertinya Musdalifah pun hanya merasakan kejayaan itu tak sampai 5 tahun saja, setelah dinikahi Pak Kerto... Tetapi bertahun-tahun dia dan keluarganya itu mulai mendapat hujatan, kebencian dan perlawanan dari orang-orang yang merasa diperlakukan Pak Kerto semena-mena. Usaha beliau pun mulai menyurut... Dia mulai menjual aset-aset miliknya ..Mulai dari gudang tempat menampung hasil bumi, toko-toko sembako, mobil - mobilnya, sampai rumah dan tanah yang ada di desa lainnya.
__ADS_1
***
Wanita itu mulai menyuapi suaminya sarapan yang diberikan Bu Kades, langsung dari bungkusnya... Dapur di samping kamar itu sudah lama tidak menyala apinya, sebab terlihat berdebu....
Istri Tarjo, Sukinah bekerja setiap hari menjadi pelayan di sebuah warung makan di pinggir jalan provinsi sekedar untuk menghidupi dirinya dan dua anak perempuannya ... Istri Danang malah tidak bekerja, karena sedang hamil besar. Pekerjaan Tarjo dan Danang juga tidak jelas. Kadang ikut kerja serabutan pada orang-orang yang memerlukan tenaganya utuk berbagai keperluan. Tetapi lebih seringnya mereka selalu berada di rumah saja . Bahkan bisa berhari-hari tanpa ada pemasukan.
" Saya pamit, Bu Mus!" izin Ibu Ika sambil meninggalkan kamar di ujung rumah besar ini. Di ruang tamu, terlihat istri Danang itu duduk di bangku yang reyot. Tetapi dia tidak peduli dengan kehadiran Bu Kades. Menoleh pun tidak ... Wanita itu memaklumi sikap para penghuni di rumah besar ini yang jauh dari kata sopan dan menghargai orang lain.
Rumah besar itu pun sudah banyak kehilangan sebagian isi barang- barang mewahnya. Dari lemari pajangan antik, seperangkat kursi tamu mewah bahkan berbagai barang elektronik mahal. Jadi rumah besar itu sekarang tampak kosong dan suram.
Bahkan wanita yang sering dipanggil Bu Kades itu menjadi semakin prihatin menatap wanita muda itu. Sebab pernikahan wanita itu dengan Danang hanya tercatat secara agama saja. Tentu mereka akan banyak mendapatkan kesulitan apabila bayi itu lahir untuk mendapatkan akte kelahiran anaknya nanti. Karena mereka tidak mempunyai buku nikah resmi yang dikeluarkan dari dinas KUA setempat.
Wanita itu berjalan melewati halaman rumah yang sangat kotor dengan sampah, barang - barang rongsokan dan rumput liar yang tumbuh tinggi dan tidak beraturan. Tetapi dia tidak melihat adanya Tarjo ataupun Danang di rumah itu.
" Bagaimana, Bu?" tanya Pak kades itu. Setelah melihat istrinya pulang.
" Semakin parah, Pak.. Sakitnya Pakde Kerto.. Anaknya terlihat masa bodoh!"
" Jadi mereka semua ada di rumah?"
" Sekarang tidak ada! Kemarin kemungkinan Tarjo bersembunyi karena takut dengan viral videonya saat dia melempar batu ke jendela kaca rumah Asti. Dipikir rumah sebagus itu tidak dipasang pengaman seperti CCTV!" ujarnya mangkel.
Pria itu tersenyum... Mereka berhubungan dekat dengan keluarga Lek No. Dulu sewaktu ayahnya masih hidup saja, selalu diberi banyak proyek pekerjaan oleh Pak Harjo Winangun yang masih bersaudara sepupu dengan ayahnya. Sehingga kehidupan keluarga Hendardi pun cukup mapan. Bahkan Bude Ayu pun berani mengelontorkan dana yang tidak sedikit saat dia maju pada pemilihan Pilkades di desanya hampir 4 tahun yang lalu.
" Nanti bapak telepon Pak Sarno dan Pak Muin kalau dua cecunguk itu ada di rumah! Seharusnya Tarjo melepas rumah itu ya, Bu! Harganya juga masih bagus. Jadi mereka bisa membeli rumah yang lebih kecil tapi layak daripada tinggal di rumah besar tetapi lebih bersihan kandang sapi kita!" ujar Pak Darmaji semakin kecewa. " Bahkan masih ada sisa uang untuk Tarjo dan Danang buka usaha! Itu pun kalau mereka ada niat mau memperbaiki kehidupannya. Jangan kayak sekarang, kerja malas mau hidup senang terus ..."
Bu Ika Sawitri menyiapkan kopi untuk suaminya. " Aku selalu ingat perkataan Pak Harjo Winangun sewaktu dia masih ada dan sering sowan ke sini, ya. Pak! Agar anak-anak kita diberi pondasi dan pengetahuan agama sedari kecil. Diberi pendidikan formal yang memadai sebagai bekal untuk kehidupan mereka nanti. Toh kalau diberi uang segudang pun banyaknya, tetapi tidak bisa dimanfaatkan oleh anak-anaknya yang jadi mubazir juga adanya..."
Mereka berdua menatap rumah keluarga Juwono itu... Sebuah bangunan rumah besar berlantai satu dengan kebun lebar di belakang sana. Tetapi rumah itu tampaknya sangat cocok dijadikan tempat shooting film horor atau film angker. Saking tak terurusnya rumah itu..
Sampai Pak Darmaji membuat banyak lampu jalan di depan rumah itu yang menerangi di malam hari. Agar warga tetap melewati rumah besar itu dengan nyaman dan aman. Tidak takut akan bertemu dengan makhluk astral seperti genderowo atau pocong yang suka berada di rumah yang kotor, gelap dan sunyi.
__ADS_1