Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 83. Ide Cemerlang Ninuk


__ADS_3

Akbar minta diajak Ninuk bermain ke halaman ruko. Balita ini sangat suka melihat berbagai kendaraan yang lalu lalang di jalan raya depan ruko tersebut. Apalagi kalau anaknya Mbak Asti itu melihat truk besar yang mengangkut berbagai muatan, dari sembako, membawa puluhan motor atau mobil yang berjejer.


Sejak Asti datang siang tadi, Ninuk belum membicarakan tentang foto yang memperlihatkan kedekatan hubungan antara Ibu Suparlan dan Mbak Nanik. Dia tak sampai hati melihat kakaknya itu terlihat agak kelelahan. Pasti butuh kesabaran tinggi menghadapi Dania yang agak bebal dan kadang suka membantah bila diberi tahu tentang sesuatu hal.


" Hay, Jagoan!" Sapa Pak Cakra dan Mas Dimas yang sudah bersih dan wangi. Kedua pria yang merupakan asisten Pak Leon itu katanya berbeda umur yang agak jauh. Namun gaya berpakaiannya mereka yang kasual dan trendy justru memperlihatkan asal kota besar tempat mereka tinggal sebelumnya.


Akbar senang saja dia gendong Om Dimas dan Pak Cakra bergantian. Sementara tiga anak buah Mas Joko mulai mempersiapkan pembukaan warung tenda.


Kursi kayu dan mejanya sudah dirapikan Pak Roh sejak siang tadi. Etalase telah dibersihkan untuk memuat berbagai bahan makanan mentah yang nanti akan disajikan ke dalam olahan masakan mereka.


Di meja belakang, di rumah Asti sudah tersedia dua termos besar es batu. Nasi sudah dimasak dalam dua Magicom besar. Berbagai toples plastik dan botol bumbu sudah ditata rapi di belakang meja kompor yang nanti akan dihadapi oleh chef Danu.


Bu Jum sudah membawakan botol susunya yang diisi hanya tiga perempat saja. Akbar segera menghabiskan susunya saat dipangku Om Dimas.


" Pak Leon pergi ya, Mas?" tanya Ninuk.


" Biasa, si Bos menelpon ibunda tercinta di Semarang. Maklum anak Mami ..."


Belum selesai pria itu menyelesaikan ucapannya, Pak Leon sudah duduk di samping sang asisten yang langsung terdiam. Ninuk menahan rasa geli akibat ucapan konyol Mas Dimas.


" Terus bully aku di belakang, bonus bulan depan hilang aja...."


Joko yang mendengar guyonan ala pekerja kantoran itu tertawa geli. Sebab dia dan Pak Roh sejak tadi ada di belakang mereka. Menata piring, sendok, dan garpu. Persiapan pembukaan warung hampir selesai.


" Ampun. Bos!" Seru Mas Dimas sambil mengatupkan kedua tangannya memohon pengampunan.


Akbar yang sedang digendong Pak Cakra yang duduk di sebelah Mas Dimas jadi ikut- ikutan berbicara ampun bos juga dengan bahasa bayinya. Orang- orang jadi ikut tertawa karena gaya Akbar sangat lucu.


" Akbar salah juga sama Om Leon?" tanya Ninuk.

__ADS_1


" Iyah. Ampun bot!" ujar Akbar berulang-ulang. Pak Leon menepuk kepalanya. Takut Akbar meniru ucapan yang tidak baik dari orang-orang dewasa yang berkumpul di depan area ruko ini. Maklum bayi ini terlihat sangat cerdas.


" Gendong Om Leon, mau?"


Akbar segera mengulurkan kedua tangannya. Dengan cepat dia mengendong Akbar mengajaknya lebih mendekat ke arah jalan raya. Berbagai suara muncul dari bibir bayi itu ikut mengomentari apa pun yang dijelaskan Pak Leon tentang berbagai jenis mobil yang melewati jalan raya di depan mereka.


Azan Magrib sudah berkumandang syahdu. Akbar sudah muncul dari pintu belakang masih dalam gendongan Pak Leon. Tampaknya pria itu sangat menikmati berbagai bahasa bayi yang diucapkan oleh Akbar. Pantas saja Asti selalu berbicara dengan suara jelas dan agak pelan agar mudah ditiru oleh anaknya itu.


" Terima kasih Pak Leon!" ucap Asti.


Para pegawai Joko bergantian sholat Magrib di dalam rumah Asti. Sementara Asti mengaji di dalam kamarnya. Ninuk sudah harap cemas untuk menyampaikan berita sensasional di akhir tahun ini.


" Kamu sudah makan. Nuk?" tanya Asti menegur sepupunya itu yang duduk terdiam di meja makan dengan empat buah kursi kayu sebagai pasangannya.


" Lagi nunggu, Mbak Asti!"


" Ada apa? serius banget kayaknya?"


" Ini, Mbak Nanik, kan?"


Ninuk hanya mengangguk, membenarkan apa yang dilihat oleh Asti. Kakak sepupunya itu juga mengenali ruangan yang digunakan untuk acara itu. Sepertinya sebuah upacara di kantor Satrio yang bersifat sangat resmi.


" Ini seperti acara pemberian sumbangan dan bantuan dari kantor untuk Ibu Suparlan."


" Kita tunggu, apa yang didapat dari Mbak Nani setelah ini..."


" Kamu ngomongin apa, sih? " Tegur Asti cepat. Dia tidak mau Ninuk yang masih muda ini nanti menjadi orang yang pendendam.


" Sepertinya, Mbak Nanik yang memberi ide pada Ibu Suparlan untuk menghancurkan kehidupan pernikahan Mbak Asti. Sebab dia merasa semua kesulitan hidupnya akibat keluarga Mbak Asti."

__ADS_1


" Biarlah, Nuk! Mbak Asti selalu berdoa agar kita semua sekeluarga selalu dilindungi oleh Allah, dan dan dijauhi dari orang yang dzalim dan menyekutukan Allah untuk menghancurkan orang lain."


Ninuk menepuk bahu Mbak Asti dengan lembut. " Ninuk percaya, sebab satu persatu orang yang jahat terhadap Mbak Asti dan keluarganya telah mendapatkan karmanya satu persatu."


" Sst, hari gini kini ngomong karma! Nggak ada, Nuk! Cuma mereka telah mendapatkan balasan atas perbuatannya sendiri, baik dan buruknya!"


Kini Ninuk mulai menuju ke kamarnya di lantai atas bersama Bu Jum. Tadi Akbar sudah tertidur lelap. Obrolan panjang antara Ninuk dan Asti sedikit demi sedikit telah dipahami oleh Bu Jum dan Mbak Ning.


Malam telah melingkupi rumah besar berlantai dua itu. Walaupun sesekali masih terdengar suara kendaraan lalu lalang di jalan raya di depan ruko. Bangunan ruko tiga lantai yang berada tepat di samping rumah Asti cukup meredam suara- suara keramaian lalu lintas antar wilayah di ujung provinsi Jawa Tengah itu yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur.


Paginya Ninuk minta ikut ke pasar. Sejak kemarin dia membujuk Mbak Asti untuk mengadakan acara tahun baru di rumah ala kadarnya. Seperti membuat acara bakar- Bakaran. Misalnya membuat sate atau membakar ikan menjelang pergantian tahun.


" Males ah, Nuk. Buat acara begituan, kayak orang kota saja! Mau berapa kali ganti tahun baru juga, kalau pikiran kita nggak mau maju. Ya, tetap ketinggalan zaman..."


Ninuk nyengir nggak jelas." Sesekali, Mbak. Boleh, ya?" Kembali keluar jurus membujuk Ninuk.


" Boleh aja... Tapi aku nggak mau ya, ngerjain untuk bakar sate atau semacamnya. Kamu yang bikin. Aku yang beli bahan bakunya, saja !"


" Sip, gitu. Mbak!"


Lihat saja, Ninuk yang repot untuk mencari alat pembakaran tradisional dengan menggunakan arang. Mereka juga membeli penjepitnya, arang kayu, kipas dan berbagai keperluan lainnya.


" Wuih, yang mau buat tahun baruan. Seru juga! " Itu komentar Dania setelah melihat Ninuk datang dengan membawa dua buah tas kresek besar yang berisi alat bakaran sate.


" Mbak Asti, kemana Nia?" Tanya Ninuk. Karena tidak melihat wanita itu di dalam toko mereka.


" Tadi ke warung Yu, Yemi di belakang."


Dia juga melihat Dania segera melayani dua orang pembeli yang masuk ke dalam toko pakaian muslim ini. Sengaja, Mbak Asti menyisakan sebuah area yang diapit dengan etalase kaca dan rak. Agar ada tempat penyimpanan tas dan kotak uang dengan aman.

__ADS_1


Beberapa waktu yang lalu, Koh Edy menawarkan kepada Asti untuk memasang cctv di dalam tokonya. Asti hanya memasang di luar area toko saja.


Tak lama Asti muncul dengan kantong belanjaannya. Karena keinginan Ninuk, jadi wanita itu hanya membeli tempe dan tahu untuk lauk di rumah. Kalau sayuran adalah hal yang harus ada di meja makan setiap harinya.


__ADS_2