
Suara kendaraan terdengar memasuki halaman depan rumah Asti. Dari balik jendela kaca di ruang tamu, Bulek Ratih mengintip keluar. Tampak Mas Yanto telah mendorong pintu pagar dan mempersilakan masuk sebuah mobil Pajero putih. Wanita itu tahu, itulah mobil Pak Leon yang membawa anggota keluarganya datang dari Semarang untuk berkenalan dengan Asti. Sekaligus mendampingi Pak Leon dalam acara lamaran yang resmi.
Tampak Bulek Ratih berusaha menyambut tamunya dengan baik. Wanita itu menatap kedatangan dua wanita cantik yang turun hampir bersamaan setelah pintu belakang dibuka oleh Pak Leon dengan hati- hati.
Pria itu tersenyum ketika melihat Bulek Ratih yang sudah berdiri di depan pintu. " Mama, ini Ibu Ratih. Tantenya Asti!"
" Bu Ratih, kenalkan ini Mama saya, ini kakak saya Mbak Misye!"
" Saya Anggun Murti, Mamanya Leon..."
Ibu Anggun segera menyalami calon besannya itu. Begitu juga dengan wanita yang merupakan kakak sulung Pak Leon. Segera Bulek Ratih membawa mereka masuk ke dalam rumah.
Tentu saja kehadiran mereka telah ditunggu oleh Asti. Sebab hampir dua jam lalu, Pak Leon terus berkirim kabar dengan berkali- kali menelponnya. Bahkan pria itu menanyakan mau dibawakan oleh -oleh apa, setiap Ibunya minta berhenti di rest area ataupun SPBU umum yang agak besar dan adanya fasilitas toilet umum.
Tak lama keluarlah Asti setelah mendengar kedatangan keluarga Pak Leon dari Semarang. Sewaktu bersalaman dengan calon mertuanya itu, wanita paruh baya itu memeluk tubuh Asti dengan hangat.
" Ini calon mantu Mama, Leon? Kamu cantik sekali dan masih muda... Leon banyak cerita tentang kamu dan Akbar."
Tentu saja Asti jadi tersipu malu. Bu Jum juga mengendong Akbar untuk dikenalkan kepada kedua wanita keluarga Pak Leon.
" Hey, ganteng. Siapa namanya?" tanya wanita yang dipanggil Misye itu menyapa Akbar.
Bocah lelaki itu segera mencium punggung tangan Ibu dan Kakak Pak Leon dengan sopan. Dia menyebutkan nama dirinya dengan bahasa bayinya yang belum jelas.
" Namanya Akbar, Bu! " Jelas Bu Jum sopan.
Kembali Akbar memeluk Bu Jum. Tentu begitulah sikap Akbar bila berkenalan dengan orang yang baru ditemuinya. Malu-malu kucing.
" Akbar, ini Oma Anggun, sedangkan ini Tante Misye. Sebab Akbar sekarang jadi cucu Oma, ya? Anak pintar!"
Ces, kata- kata Ibunya Pak Leon itu terasa menyejukkan hati Asti yang sejak kemarin sudah sangat gelisah . Dia merasa diterima oleh mereka. Tanpa memandang asal- usul dirinya. Sebab dia hanyalah wanita muda yang berstatus janda beranak satu.
__ADS_1
Padahal melihat penampilan kedua wanita beda usia itu, dapat dikatakan sudah terlihat dari bungkusnya. Cetar membahana!
Pakaian perjalanan yang mereka kenakan terlihat mahal dan berkelas. Wajah cantik Ibu Anggun pun tidak luntur dimakan usia yang sudah menjelang 60 tahun. Apalagi penampilan Ibu Misye, wanita cantik itu bagai seperti gambar sampul majalah mode yang hidup dan nyata di hadapan Asti.
Wanita itu berpakaian blus putih simple, dengan rompi denim serasi dengan celana jeans-nya yang nyaman. Make-up terpulas sempurna di wajahnya yang mulus. Ditambah tas, sepatu dan aksesoris yang sangat serasi.
Mereka menikmati teh hangat dan beberapa kue tradisional yang sudah dibeli Asti dari Ibu Putri, tetangga depan rumah. Suguhan yang tadi dibawakan Mbak Ning.
" Silahkan di nikmati, hanya kue- kue kampung!" Ucap Bulek Ratih sopan.
" Ini sudah lama saya rindukan, Bu Ratih . Kue - kue tradisional yang kaya rasa ..." Ujar wanita itu asyik menggigit kue klepon.
Mereka akhirnya ngobrol di lantai atas yang lebih lega dan leluasa. Sebab ada beberapa orang yang datang ke rumah ini, untuk menyiapkan bangku-bangku untuk acara malam nanti.
Tampa sadar Asti menawarkan sebuah kamar besar di lantai dua ini untuk Ibu dan kakak Pak Leon beristirahat sejenak.
Tentu saja Ibu Anggun tak menolak. Tubuhnya sudah cukup letih karena duduk berjam-jam di dalam mobil yang membawa mereka ke luar kota Semarang sejak pukul 09.00 .
Ucapan Asti itu segera dibantah Mbak Misye dengan cepat. " Asti jangan terlalu merendahkan diri! Ini sudah cukup baik. Kami tak menuntut disiapkan kamar sekelas hotel bintang tiga. Kamar ini sudah cukup nyaman, kok!
Sejak tadi Asti merasa kurang enak karena merasakan perbedaan dirinya dan anggota keluarga Pak Leon terpampang nyata adanya.
Justru Ibu Anggun meminta izin menginap di sini. Setelah acara lamaran nanti selesai. Dia juga ingin mengenal lebih dekat keluarga Asti ini yang terlihat sopan, sederhana dan sangat menghargai orang lain.
Wanita yang cukup makan asam garam dalam kehidupan itu dapat dan menilai sikap Asti dan keluarganya.
Rumah berlantai dua ini juga terlihat bersih, nyaman dan hangat. Bahkan semua semua ditata dengan gaya masa kini yang lebih modern , simpel dan minimalis.
Apalagi ketika wanita itu melihat kamar- kamar yang ada di sana yang tertata rapi dan bersih. Tentu saja, Ibu Anggun menerima tawaran Asti untuk menginap, daripada tinggal di hotel. Karena untuk pergi ke hotel, mereka harus berjalan jauh lagi dengan mobil ke arah kota terdekat.
Tak lama, Pak Cakra dan Pak Leon membawa berbagai barang selain dua koper kecil. Asti menempatkan mereka di kamar yang paling besar dengan dua ranjang ukuran king size dan Queen size di dalamnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Pak Leon sudah duduk di depan Asti. Padahal di lantai bawah orang - orang sudah memulai segala persiapan. Sehingga rumah jadi hiruk-pikuk dengan kedatangan Ibu Ani dan beberapa ibu tetangga yang menata hidangan di meja besar. Sementara sisa bangku plastik ditumpuk di teras depan. Andaikan tidak muat, para tamu akan ditempatkan di halaman belakang. Dekat warung tenda milik Joko.
" Maaf, kalau ibu dan kakak saya merepotkan kamu!"
" Nggak apa-apa, kok!" jawab Asti malu- malu.
" Saya juga banyak cerita tentang kamu, Akbar juga keluarga Pak Sarno. Jangan takut! Kami keluarga yang terbuka untuk menerima siapa pun. Bukan karena apa yang mereka sandang tetapi kebaikan, rasa hormat dan saling menghargai!"
Untuk sementara Pak Leon dan Pak Cakra kembali ke kamar kostnya di rumah Bu RT. Para Ibu banyak memberi ucapan selamat untuk acara lamaran nanti. Mereka berdoa agar Pak Leon dan Asti akan sampai ke jenjang pernikahan. Itulah sebagian dari doa' yang mereka panjatkan. Terasa tulus dan penuh perhatian.
Setelah Magrib, rumah Asti mulai didatangi banyak tamu. Terutama tamu dari desa Sendang Mulyo, yaitu Pak Haji Anwar Sa'id, dengan beberapa tokoh dari desa tersebut desa. Pak RT Sembodo menyambut kedatangan mereka dengan sangat hormat.
Sedangkan di kamar di lantai atas, Ibu Anggun dan Mbak Misye sudah bersiap- siap untuk turun. Mereka sudah beristirahat tadi sore, mandi dan berdandan. Mereka berpakaian lebih formal karena sangat menghargai acara ini, untuk masa depan anak dan adik bungsunya, Leon!
" Asti terlihat masih sangat muda, tetapi sederhana dan berpendirian kuat! Lihatlah dia berhasil menata kehidupan walaupun sudah dihancurkan mentalnya oleh mantan suaminya..." Bisik Mbak Misye kepada ibunya .
" Mama pikir juga Leon akan hancur setelah bercerai dengan istrinya itu. Ternyata sosok Asti inilah yang membuatnya cepat move on..." Jawab Ibu Anggun sedikit geli.
" Mama ini semua dibawa?" tanya anak sulungnya itu dengan beberapa bingkisan yang diberikan untuk Asti dan keluarganya.
" Tolong, Cakra suruh bantu membawa ini!"
Di sana sudah ada Cakra dan Pak Leon yang sudah menunggunya di depan kamar. Takut Ibu dan kakaknya berdandan lama, dan habis- habisan agar tampil sempurna di acara itu. Sehingga banyak memakan waktu karena sedang ditunggu oleh para tamu.
" Cakra, tolong bawa itu semua ya! Leon, ini perhiasan yang kamu pesan sebulan yang lalu."
Sang Ibu menyerahkan dua kotak perhiasan dalam ukuran yang berbeda. Satu kotak besar dalam balutan beludru hitam . Sedangkan kan yang kecil berupa kotak beludru merah. Pak Cakra menenteng beberapa kantong tas dengan nama toko terkenal di logonya.
Kedatangan rombongan itu membuat Asti agak nervous. Namun dia selalu memanjatkan doa untuk kebaikan hidupnya, keluarganya dan orang - orang yang selama ini selalu membantunya.
Mereka semua sudah berkumpul di ruang tamu yang tidak terlalu luas itu. Sehingga para tetangga memilih duduk di teras atau yang masih berkerabat memilih duduk di ruang keluarga. Terutama Joko, Ninuk, Bu Jum juga Mbak Ning.
__ADS_1
Di warung tenda juga sangat ramai. Karena anak - anak muda mulai berkumpul di warung itu untuk bermalam panjang. Di samping warung tenda juga para tetangga ikut berdagang di meja kecil. Ada yang menjual aneka gorengan, minuman dingin, juga jajanan kekinian seperti somay, seblak atau sempol ayam.