Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 265. Berpisah untuk Bertemu Kembali


__ADS_3

Cuaca semakin terang setelah matahari itu semakin meninggi. Beberapa orang di sana, sendiri ataupun bersama rombongan mulai berfoto di sekitar tempat itu. Termasuk Om Ardi yang sudah mengeluarkan senjata perangnya, berupa perangkat kamera terbaik untuk mengambil foto seluruh anggota keluarganya yang sekarang ada bersamanya .


Ninuk dan Putri yang paling antusias untuk berfoto dengan pemandangan barisan gunung- gunung di belakang mereka. Setelah mereka mengetahui, kalau kamera yang dipegang pamannya Mbak Asti itu adalah kamera yang bagus dan mahal harga.


Istilah si Ninuk, orang yang difoto dengan kamera sebagus itu akan terlihatlah dosa - dosa di wajah mereka yang sebenarnya. Alias wajah itu akan terlihat semua kekurangannya, karena tak bisa ditutupi dengan berbagai filter. Terutama untuk artis dan tokoh masyarakat yang biasanya diwawancarai oleh para wartawan. Apalagi para selebritis yang selalu ingin tampil semua dan menawan di media massa.


" Ayo, Asti!" pinta si Om Ardi lagi.


Asti sudah bergantian berpose dengan kedua anaknya, sendirian juga bersama keluarga dan rombongan mereka. Pengunjung lain juga berusaha mendapatkan sudut pengambilan gambar yang terbaik. Sebab pemandangan itu sangat mempesona, sehingga Om Ardi berusaha menangkap momen kenangan akan kebersamaan itu. Kenangan terindah bersama keluarga yang telah diketemukannya kembali.


Putri melipat tikar karet itu, yang sedikit berembun. Mereka juga sudah bergantian sholat subuh di musholla kecil yang ada di atas sana. Berada satu deretan depan warung-warung yang menyediakan makanan dan minuman panas untuk pengunjung. Di sanalah para supir minum kopi juga makan gorengan pisang. Pada beberapa warung yang berjejeran di sisi mushola dan kamar mandi umum.


Mereka segera masuk ke warung itu dan memesan teh manis. Lain halnya dengan Joko dan Pak Cakra yang memesan pop mie. Mungkin mereka agak kelaparan karena sejak dini hari terus berjaga.


Mereka akan mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitar tempat ini. Seperti ke Gunung Bromo, Padang Savana, Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies, yang mirip dengan tempat tinggal para boneka yang dulunya menjadi film anak-anak yang sangat terkenal di masanya.


Ketiga supir Jeep itu juga ikut makan pop mie, ditraktir oleh Pak Yusuf. Leon yang membayar semua teh dan gorengan yang mereka nikmati. Lucunya, pisang goreng di warung itu rasanya lebih garing dibandingkan pisang goreng yang biasanya mereka makan . Mungkin karena mereka lapar akibat dinginnya udara pagi di gunung itu. Sehingga apa pun yang mereka makan jadi terasa lebih nikmat. Setelah menyimpan kamera mahalnya di ranselnya, Ardi mengendong Qani juga

__ADS_1


Mereka turun dari gunung itu untuk kembali naik ke jeep dan melanjutkan perjalanan ke berbagai tempat wisata yang sudah disampaikan Pak Bakdi dini hari tadi. Tidak semua tempat akan mereka kunjungi hari ini. Karena mereka juga harus memperhitungkan waktu untuk kembali ke kota masing -masing, siang nanti.


Di dekat area kaki Gunung Bromo Jeep berhenti dan berbaris, dengan Jeep dari pengunjung wisata lainnya. Bahkan banyak juga yang berfoto- foto di atas Jeep itu. Apalagi para wisata itu berpakaian ala orang- orang yang berwisata ke daerah dingin dan bersalju. Mirip ke negara Swiss, Jerman ataupun Jepang!


Banyak orang yang menawarkan kuda-kuda mereka untuk disewa dan digunakan para wisatawan untuk mendaki ke kawasan gunung Bromo itu. Walaupun terlihat dekat dari tempat mereka berhenti, tetapi terasa agak jauh kalau harus ditempuh dengan berjalan kaki saja.


Dari kejauhan berdiri sebuah pura yang menjadi pusat segala kegiatan agama masyarakat di sekitar daerah ini yang biasanya disebut suku Tengger. Masyarakat yang menjaga segala tradisi, budaya dan peninggalan para leluhur mereka.


Kata Pak Bakdi, gambar gunung yang berbentuk sempurna itu adalah Gunung Batok yang menjadi ikon objek wisata Gunung Bromo sesungguhnya. Justru Gunung Bromo itu , letaknya ada di belakang Gunung Batok Itu. Gunung Bromo itu adalah gunung api yang aktif, sebab gunung itu selalu mengeluarkan asap putih dari kawahnya. Bentuk Gunung Bromo pun tidak sesempurna gunung Batok yang ada di depannya itu.


Bagi kaum muda yang berjiwa petualang, tentu mereka akan tertarik naik ke atas Gunung Bromo. Kalau bisa sampai mendekati kawahnya di atas sana. Sebab pemandangan di sana lebih menakjubkan dengan kaldera besar yang mengelilingi kawah yang selalu mengeluarkan asap yang putih itu. Terkadang asapnya berubah agak tebal yang menandakan gunung sedang aktif.


Para penduduk setempat yang masih beragama Hindu, gunung Bromo ini dianggap sangat sakral. Sebab menjadi tempat upacara bagi para penduduk saat merayakan upacara Kasodo. Yang dimulai dari pura yang ada di kaki gunung itu sampai ke kawah gunung berapi itu. Mereka akan melempar sesajian ke dalam kawah gunung itu setelah menjalani ritual dan berbagai doa untuk mendapatkan keselamatan dan keberkahan.


Sesajian itu biasanya berupa hasil bumi, makanan sampai hewan peliharaan atau ternak yang mereka miliki. Katanya ada teman Pak Bakdi yang nekat berjaga di dekat kawah itu saat upacara akan dilaksanakan. Sebab mereka boleh saja mengambil berbagai sajian itu. Bahkan nekad mengambil hewan ternak seperti kambing yang dilemparkan ke dalam kawah itu sebagai bagian dari upacara itu. Selain itu mereka juga melemparkan ayam dan itik.


" Akbar mau naik kuda dengan Ayah?" tanya Leon. Ketika ada seorang bapak tua menawarkan kudanya untuk mereka sewa.

__ADS_1


" Mau ayah?" jerit Anak itu senang


Ternyata Hafiz pun mau juga naik kuda , kali ini dia bersama Pak Cakra. Sebab Pak Yusuf agak takut naik ke badan hewan tunggangan seperti itu. Walaupun pemiliknya akan selalu mendampingi mereka.


Bulek Ratih kembali memesan teh ketika duduk di sebuah warung . Banyak warung-warung tenda yang berdiri di dekat pembatas untuk d jeep di sana. Bulek Ratih membuka wadah bekalnya. Sebagian berisi pisang goreng yang tadi mereka pesan agak banyak , juga ada kue - kue dan roti yang dapat mengenyangkan perut.


Setelah hampir 30 menit berkuda, Leon dan Pak Cakra kembali ke tempat ini. Mereka cukup puas berkeliling di area di kaki gunung Bromo itu. Mereka juga akhirnya berfoto-foto dengan pemandangan di bawah Gunung Batok, dengan kamera Om Ardi yang bagus itu.


Bahkan Pak Cakra segera menerbangkan drone yang biasanya digunakan untuk memantau pekerjaan di proyek mereka. Mereka berkumpul di sana dan difoto dari berbagai sudut dari atas benda itu. Hafiz dan Akbar sangat gembira sampai sangat heboh melihat drone itu.


Jeep bergerak menuju ke Padang Savana. Leon yang pernah ke tempat ini pun saat masih remaja, tetap masih merasa kagum akan keindahan padang pasir depan rerumputan dan semak- semaknya.Tempat ini cocok untuk dijadikan latar sebuah fim cowboy dengan serangan para Indian dari berbagai suku yang merupakan film buatan Hollywood, tentang masa- masa awal pendudukan bangsa Eropa di dataran benua Amerika.


Tampaknya bumi kita Indonesian ini, diberkahi dengan berbagai keindahan alam yang juga dimiliki negara lain di dunia. Padahal kita adalah negara tropis... Tetap saja ada wilayah di Indonesia ini yang mempunyai daerah yang mirip di tanah Arab atau negara - negara bagian Asia Barat yang masih terkenal dengan padang pasirnya.


" Ini namanya Pasir Berbisik!" Ujar Pak Bakdi lagi ketika mereka dibawa berkeliling ke sebuah padang pasir yang lainnya. Kali ini tampa semak-semak atau ilalang. Dulu tempat ini pernah menjadi lokasi shooting sebuah film nasional Indonesia dengan judul film " Pasir Berbisik"


Pasir ini berbunyi gemericik apabila tertiup angin ...Sebab kawasan daerah berpasir ini mencapai daerah sangat luas. Maka jadilah kawasan padang pasir di tengah itu diberi nama " Pasir Berbisik"

__ADS_1


Semua rombongan kembali dibawa oleh Jeep- Jeep itu ke sebuah kawasan perbukitan. Ada bagian dari bukit- bukit itu berbentuk menyerupai bulatan. Perbukitan seperti itulah yang menjadi latar dari pembukaan sebuah film Teletubbies. Yaitu film anak - anak, dengan para boneka berwarna cerah yang menjadi tokoh cerita itu... Sebuah film yang sangat populer pada waktu itu yang dibuat dari sebuah perusahaan film di negara Inggris.


Apalagi di dekat bukit itu juga ada tembok beton dengan tulisan " Bukit Teletubbies". Tambah lengkap dengan adanya seseorang yang berdiri di sana sambil mengenakan salah satu kostum boneka itu yang berwarna ungu. Jadi kalau kita mau berfoto dengan boneka itu, kita dapat memberinya sedikit uang.


__ADS_2