Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 217. Rahasia Terpendam


__ADS_3

Suasana di rumah Asti mulai tenteram. Hampir setiap sore Leon menelpon Istrinya itu dan menyampaikan perkembangan segala urusannya. Mereka sudah berada di Madiun sejak dua hari yang lalu. Tetapi tidak mampir ke rumah dulu, karena ahli hukum yang mereka minta bantuannya pun punya jadwal kerja yang padat juga.


Setiap sore, Bu Jum asyik ngobrol, bersama Putri ataupun Mbak Ning. Kalau suasana lebih tenang, barulah Bu Jum dapat bergosip tentang kejadian yang mereka alami di rumah mertuanya Mbak Asti, sewaktu mereka menginap di Semarang.


Tentu saja kedua lawan bicara Bu Jum sampai terkejut dan tak percaya, sebab mereka tahu bagaimana sikap dan baiknya orang tua Pak Leon itu. Sampai dimanfaatkan kebaikannya oleh orang yang bekerja di rumah itu dengan mencuri baju, tas dan juga perhiasan.


" Kenapa Mbak Asti nggak ngadu sama Pak Leon saat pertama kali dihina dan diremehkan Mbak Tia, ya?"


" Katanya males berhadapan pekerja di rumah ibu mertuanya yang super judes dan banyak tingkah itu!"


" Kalau aku sudah tak ketok kepala yang namanya Mbak Tia itu.. Masa mau pake mesin cuci mertuanya saja nggak boleh? Emang dia yang punya apa? " Ucap Putri dengan gemes. " Yang Putri tahu, kalau Mbak Asti itu kan menantu, ya sama juga dengan anak ibu Anggun... Boleh dong memakai barang milik mertua... Apalagi Bu Jum juga sudah ada izin!"


Mbak Ning mengangguk tanda mengerti. " Makanya... kita harus berhati-hati memilih pasangan hidup, teman untuk dijadikan sahabat, juga orang yang akan bekerja di rumah kita... Nggak semua orang diperlukan baik dengan kita, mau berbaik hati juga dengan kita kan , Bu Jum? Contohnya sudah banyak seperti kejadian ini..."


Bu Jum mengangguk.. " Untungnya Mas Joko dan Pak Leon cepat bertindak! Kalau nggak bisa hilang semua perhiasan koleksi Ibu Anggun berpindah tangan ke Mbak Tia!"


" Ya, canggih juga perempuan maling itu sampai bisa membuat kunci duplikat lemari yang menyimpan perhiasan milik Ibu Anggun itu ! Benar - benar otak kriminal!" Ucap Mbak Ning mengomentari Bu Jum.


" Katanya Mbak Tini, dia juga pernah dilaporkan majikannya sewaktu kerja di Singapura... Jadi Mbak Tia cukup lama juga hukuman dengan kurungan di penjara hampir 12 bulan!"


" Aduh amit - amit, deh! Jauh - jauh cari pekerjaan sampai di negara orang, cuma jatuhnya masuk penjara ... Tandanya itu memang Mbak Tia ini sudah biasa melakukan pencurian ... Mengapa Ibu Anggun malah tidak memenjarakannya dia,ya? Kan kalau sudah kebiasaan mencuri, nanti Mbak Tia itu akan mencuri lagi, bila bekerja di rumah majikan yang lain..."

__ADS_1


" Mungkin takut Pak Murti dengar dan kepikiran juga... Sebab beliau juga baru saja sembuh dari sakitnya!" Ujar Bu Jum memberi alasan saat Ibu Anggun menarik tuntutannya.


Ketiga wanita itu berhenti berbicara ketika mendengar Mbak Asti keluar dari pintu kamar tidurnya. Biasanya wanita itu sudah selesai menidurkan Qani... kalau nggak ngobrol sebentar untuk persiapan masak untuk besok. Bisa juga Mbak Asti segera sholat Isya, agar bisa bangun tengah malam dan bangun sangat pagi.


" Lho nggak diterusin ceritanya, Bu Jum? Cukup ramai lho aku dengar tadi... " Ledek Mbak Asti sambil tersenyum geli.


" Maaf, Mbak... Mereka tuh nggak percaya kalau ada orang yang berbuat jahat pada majikan sebaik Orang tua Pak Leon!"


" Ya, banyak aja alasannya... Pokoknya kalau kita kurang iman, kurang bersyukur dengan rezeki dari Allah. Ya , begitu... Jadi mudah tergoda untuk mengambil barang yang bukan milik kita! Apapun alasannya..."


" Kapan Pak Leon dan Mas Joko pulang, Mbak?" tanya Mbak Ning hati-hati.


" Jika sudah selesai urusan yang di Madiun... Ada sedikit kendala, di sana. Jadi mereka menyewa pengacara yang mengerti masalah pertanahan dan surat-surat yang diperlukan!"


" Eh. iya .... Mas Antono masih kerja di Madiun juga, Mbak Ning?"


" Masih , Mbak! Tetapi pabrik itu mulai mengurangi produksinya, Mbak. Kalah sama pabrik baru yang punya mesin lebih canggih..."


Asti termenung. Padahal Joko juga sudah dibantu dengan saudara jauh ayahnya. Ternyata masalah tanah itu pelik juga... Asti selalu mendoakan agar suaminya dan Joko diberi kemudahan dalam segala resiko pekerjaannya.


Mas Danu dan pekerja warung tenda sedang menikmati berbagai kue dan roti khas Solo yang dibeli Mbak Asti sebagai oleh-oleh. Untuk Pak RT, Asti membawakan satu kresek berbagai olahan kripik khas Solo itu. Selama kepergian mereka, Pak RT dan warga kampung ini yang bergantian menjaga keamanan di lingkungan mereka juga menjaga rumah Asti itu.

__ADS_1


Untungnya Akbar sudah melupakan soal sepeda mini yang sedang sudah dibawa Leon di bagasi mobilnya itu. Sekarang Mbak Putri sering membawa Akbar bermain ke sebuah Paud yang ada di ujung jalan desa. Sebagian murid- muridnya yang belajar di sana adalah anak-anak di desa itu dan desa di seberang jalan simpangan. i Tetapi Leon melarang Asti untuk memasukkan Akbar ke sekolah itu terlalu dini. Takutnya nantinya Akbar lekas bosan. Sebab anak berumur 3 tahun masih masanya untuk bermain. Putri yang harusvbanyak berinisiatif agar Akbar tidak bosan dengan mainan dan tontonan kartun di tv bila berada di rumah.


Qani sudah mulai merambat dan berdiri. Terkadang kalau sudah kelelahan bayi perempuan itu akan kembali merangkak.


Sejak kemarin Asti sudah menerima laporan uang masuk dan laporan uang keluar dari AS Berkah mini market.. Stok persediaan barang di toko pun sudah memenuhi gudang di lantai 3 ruko itu.


Sampai Asti tak menyadari ada kendaraan lain yang mulai parkir di depan pertokoan Ayu Sulaksmi Niaga. Dari mobil itu ada seorang pria muncul dari sebuah mobil. Langkah laki-laki itu mulai mendekati pintu depan mini Market yang terbuat dari pintu kaca.


Tiba-tiba Qani menangis karena tersedak susu dari botol yang sedang diminumnya. Segera diangkatnya bayi itu dari strollernya. Justru tangis Qani tak juga berhenti. Cepat Asti membawa Qani ke kamar mandi umum yang ada di lantai dua. Biasanya Qani akan memuntahkan sebagian susu formula yang telah diminumnya.


" Pelan- pelan, dek. Kalau minum nggak usah ngomong dulu, ya!" ujar Asti menasehati anaknya itu. Mungkin tadi Qani ingin terlibat pembicaraan dengan Mbak Dewi . Wanita itu sangat baik dan sayang kepadanya. Kalau sedang senggang dia sering mengendong Qani saat makan siang di rumah Mbak Asti.


" Wi, aku tinggal dulu!" Ujar Asti sambil memasukkan Qani ke dalam strollernya.


Sampai Asti berpapasan dengan lelaki misterius itu. Sebenarnya Asti tidak pernah mempunyai rasa curiga yang sangat besar kepada orang lain. Tetapi gaya pria itu sangat aneh atau bisa dibilang norak! Masa masuk ke dalam mini market masih menggunakan kaca mata hitamnya... Dia juga memakai jaket wol panjang dan sebuah topi pet...Bergaya ala detektif profesional. Malah mirip tukang pijat keliling di pinggiran kota pada zaman dahulu. Hanya yang kurang pada lelaki itu adalah tongkat kayu untuk pemandu jalan dan kaleng yang dapat dibunyikan sepanjang jalan yang dilewatinya di perkampungan padat penduduk.


Ketika menuju halaman parkir, Asti sedikit tertegun. Mobil Fortuner gelap itu mempunyai nomor polisi yang sama dengan milik Satrio. Cepat Asti mendorong stroller Qani masuk ke pintu penghubung antara ruko dan halaman samping rumahnya.


Dari sisa pintu berbahan baja itu, Asti sempat mengamati mobil itu. Sepertinya ada penumpang perempuan yang ada di depan mobil itu ... Mengapa dia tidak turun?


Tak urung, dada Asti bergetar sangat kuat..Masa lalu dengan sang mantan ini sangat menyakitkan hatinya. Sebagai perempuan yang tidak dicintai, diselingkuhi dan dibuang! Asti seperti terdampar di sebuah dunia yang luas dan hampa udara. Juga ada rasa tak berdaya.

__ADS_1


Keluarga Lek No inilah yang jadi penguatnya. Belum lagi Joko dan Ninuk yang selalu berada di sisinya. Ternyata banyak orang lain yang juga mau membela kepentingannya. Sampai dia berada di titik ini. Menikah dengan Leon Narendra Murti... Memberinya rasa kepercayaan dan arti dirinya menjadi seorang wanita sejati.


__ADS_2