Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 149. Ada Janji yang harus ditepati


__ADS_3

Pekerjaan di proyek pembangunan perumahan itu terus dikerjakan hampir setiap hari. Katanya mereka dikejar target, sehingga diperlukan lebih banyak lagi tenaga buruh harian lepas. Beberapa tetangga Asti ikut bekerja di proyek tersebut. Terutama yang masih belum terlalu tua, sebab pekerjaan itu sangat berat karena harus berada di lapangan.


Lainnya halnya, ketika pembangunan rumah tipe menengah mulai dilaksanakan. Berbagai pekerjaan tukang tersedia di sana. Tentu dengan bermacam macam keterampilan yang dibutuhkan untuk membangun rumah - rumah tersebut.


" Mas, ini laporan keuangan dalam bulan ini! Ada biaya belanja dapur, listrik, sampai gaji untuk Pak Rob dan Mas Yanto." Lapor Asti di suatu malam.


Dia melihat suaminya masih sibuk di depan laptopnya. Sejak Akbar tidur di kamar sebelah dengan Bu Jum. Di sudut kamar diletakkan meja dan kursi yang berfungsi untuk tempat kerja Leon.


" Apa perlu seperti ini, Yang? Aku percaya, kok! Kamu akan mengatur semua pengeluaran di rumah ini dengan bijaksana."


Mau tak mau, Leon memeriksa juga catatan Asti yang cukup panjang itu. Sebagai cara seorang suami menghargai kepercayaannya terhadap istrinya.


" Ini sisanya, " kata Asti lagi sambil menyerahkan 4 tumpuk uang ratusan ribu rupiah.


" Kamu nggak mau beli barang untuk kebutuhan pribadimu?" tanya Leon lagi. Sebab dia belum mendapat tagihan penggunaan kartu kredit yang dipegang Asti. Walaupun Istrinya itu juga sudah pergi berbelanja ke Yogyakarta dan Solo bersama Joko dan Ninuk dalam dua bulan ini.


" Belum perlu, Mas!"


Mata Leon menatap wajah cantik istrinya itu yang terlihat sudah agak mengantuk. Dia melihat catatan pengeluaran dapur dan kebutuhan makanan sehari- hari yang paling besar dari semua biaya rumah tangga yang dilaporkan Asti.


" Ini, uang sisa ini buat pegangan kamu saja. Nanti kalau kita menengok Papa di Semarang. Bisa membeli oleh- oleh yang lebih banyak, lagi!"


Leon menengok, terlihat Asti sudah merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kepalanya tertumpu pada bantal. Istrinya itu sudah tertidur lelap. Pantas diajak ngobrol tidak ada suaranya.


Hati - hati Leon mengecup dahi wanita cantik itu dengan penuh rasa sayang... Dia berharap, di perut wanita itu telah tumbuh benih cinta kasih mereka. Leon sudah berjanji, akan selalu menyayangi Akbar dan menganggap anak itu seperti anak kandungnya sendiri. Sebab dia juga sudah melarang Asti ber-KB. Leon sudah sangat ingin mempunyai anak dari benihnya sendiri. Sesuatu yang tak diinginkan Corinne selama 3 tahun mereka berumah tangga.

__ADS_1


Leon kembali terbaring kelelahan... Karena bangun sangat pagi menjelang dini hari, Asti tak berani menolak setiap Leon meminta untuk melayani kebutuhannya yang satu itu.


Ternyata penyatuan mereka itulah yang membuat jalinan ikatan pernikahan mereka semakin kuat. Mungkin karena Asti yang banyak mengalah dan menerima apa pun dari Leon sebagai suaminya. Jadi hubungan pernikahan mereka yang baru hitungan tak lebih dari tiga bulan itu terasa semakin nyaman bagi mereka berdua. Rasanya Seperti mereka telah menikah bertahun -tahun lamanya.


Pagi hari Asti sudah menyiapkan semua keperluan sang suami... Dari pakaian kerja yang telah digantung di depan lemari, tumpukan pakaian dalam juga sepasang kaos kaki bersih.


Setelah mandi, Leon akan memberikan handuk basahnya itu kepada Asti untuk dijemur di teras samping. Setelah melihat suaminya berpakaian, Asti mulai menuju dapur... Biasa Mbak Ning akan menyiapkan sarapan yang mudah dimasak dan disajikan dengan cepat. Sedangkan Asti akan menyiapkan makanan Untuk Akbar.


" Yang, kasih tahu Puspita, kamu nggak ke pasar, ya! Hari ini kamu ikut aku ke kantor!" Ujar Leon serius.


" Ngapain? aku kan nggak bisa pegang pekerjaan kantoran, Mas!" tolak Asti lagi.


" Nungguin di ruang kerjaku juga boleh. Bisa juga kalau kamu mau lihat lokasi pembangunan perumahan di sana. Kamu bisa minta Dimas antar keliling dengan mobilku!"


Jelas sekali Leon memang sangat menginginkan Asti ikut ke tempat kerjanya kali ini. Sebab pria itu dengan sabar menunggu Asti berganti pakaian yang lebih rapi dan berdandan. Seperti biasa, Bu Jum akan membawa Akbar bermain di lantai atas. Bakal ngamuk Akbar kalau melihat ayah dan ibunya pergi berduaan saja tanpa membawanya juga.


Di sana juga ditanami berbagai pohon buah- buahan dalam pot besar dari potongan drum bekas minyak yang dicat biru. Sampai Asti menyadari tentu semua ini hasil tangan kreatif Pak Rob. Bahkan di teras depan dipenuhi tanaman gantung yang eksotis.


" Pak Rob yang mengerjakan ini semua, hampir 5 bulan yang lalu. Jadi tempat ini tidak terlalu gersang dan panas lagi. Nanti jalan utama di gerbang depan sudah dibangun, kantor ini menjadi kantor pemasaran ..."


" Aku boleh lihat keliling?"


" Kenapa? Nggak mau nungguin suaminya kerja di dalam?" tanya Leon menggoda.


" Kangen saja lihat tempat ini... Agak berbeda setelah dibangun rumah. Dulu, di lahan kosong di sanalah aku belajar mengendarai mobil. Hampir lebih dari sebulan lamanya. Waktu itu masih ada lapangan sepak bola yang berumput tebal.

__ADS_1


" Oh, jadi itu kamu, Ya ? Yang sedang belajar mengendarai mobil itu?"


" Kok Mas Leon tahu?"


" Aku nggak lihat kamu yang ada di dalam mobil. Hanya pernah melihat ada orang belajar mobil di lapangan sana. Walaupun belum terlalu mahir juga. Aku sering berteduh di dalam rumah Pak Sujatmiko. "


Asti tertawa geli. Demi menjadi wanita mandiri dan kuat, Asti menempa dirinya lebih keras lagi. Termasuk belajar menyetir mobil. Walaupun sudah dua kali dia membuat ban mobil Joko terperosok masuk selokan dua kali. Sebab lahan luas itu sudah diratakan dengan buldozer. Tetapi beberapa sisa bongkaran rumah penduduk ada selokan atau got yang penuh air.


Dimas membawa Asti mengelilingi lahan yang masih kosong tetapi sudah diberi jalan beraspal. Setiap blok sudah diberi nama, dengan batas taman dan berbagai fasilitas sosial dan umum. Justru rumah tipe dibawah seratus meter persegi luasnya sudah mulai dibangun rapi seluruhnya dan siap huni.


Mereka kembali ke kantor hampir satu jam kemudian. Setelah berputar di area yang luasnya mencapai ribuan meter ini. Tampaknya, proyek perumahan yang cukup prestige ini sudah mulai terbentuk. Tetapi Dimas tadi bercerita kalau banyak orang yang lebih berminat untuk membeli rumah- rumah dengan tipe menengah dan mewah.


Di kantor ada seorang OB yang mengurus semuanya...Dari membersihkan area kantor sampai menerima tamu... Di lobi bawah, ada semacam ruang tunggu dengan banyak kursi. Juga disediakan dispenser lengkap dengan gelas minum plastik bertumpuk. Sedang di depan kantor Leon ada cooler yang berisi berbagai minuman dalam kemasan botol plastik juga kaleng.


Di depan gedung kantor ada sebuah mobil Jeep hijau tentara, terparkir tepat di dekat pintu masuk. Dimas sudah membukakan pintu untuk Asti. Saat naik ke lantai dua, lamat - lamat Asti mendengar percakapan di ruang tamu, di samping ruang kerja Leon.


Suara percakapan itu di sana terdengar lebih dari dua orang. Sampai Asti mulai mengenal suara wanita yang mirip dengan suara Mbak Almira! Benar saja, saat Asti memberi salam justru dijawab Leon dengan cepat. Suaminya itu segera meraih tangannya dengan erat.


" Wah, ini yang ditunggu, nih! Benar ini, Mbak Asti mau ada janji dengan Pak Leon? Aduh, maaf! Kami jadi menganggu ini...." Suara lembut Mbak Almira terdengar, namun wajahnya terlihat agak kecewa.


Mas Danang segera menyambut pasangan itu yang turun dari lantai dua kantor. Tadi Pak Leon menyuruhnya untuk datang ke kantor ini. Karena Pak Pram akan mengambil satu rumah tipe 70 yang berlantai dua. Jadi Leon berharap si manager pemasaran itu dapat menggurus semua keperluan Pak Pram dan Mbak Almira dengan baik.


" Mas, kita mau kemana?" tanya Asti bingung.


Sejak dia di dalam ruang tamu tadi, terpaksa mengiyakan semua perkataan suaminya itu. Kini dia sudah dibawa masuk oleh pria itu ke dalam mobilnya. Tetapi mobil itu berjalan malah melewati depan rumah mereka. Pada saat ini, seharusnya sudah masuk jam makan siang.

__ADS_1


Leon malah mengarahkan mobilnya menuju ke arah kota kecil di Utara daerahnya. Pria itu tampak lebih fokus untuk mengemudikan Pajeronya, yaitu dengan kecepatan sedang. Tampak dari jauh ada gerbang dengan tulisan besar di atasnya. " Kafe Taman Asri Raya".


__ADS_2