Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 134. Kepulangan Akbar ke Rumah


__ADS_3

Dalam keadaan yang agak genting itu, Asti sudah berpesan kepada keluarga Lek No, juga semua orang di rumahnya untuk tidak memberitahukan perihal sakitnya Akbar kepada orang lain. Apalagi kalau Akbar harus menjalani rawat- inap di rumah sakit.


Biasanya kalau sudah ada kejadian seperti ini akan muncul berbagai persepsi dan penilaian dari setiap orang yang berbeda- beda. Apalagi keluarga mereka baru saja selesai menyelenggarakan sebuah pesta pernikahan!


Kalau mereka adalah orang yang simpatik dengan Asti dan keluarga Lek No. Pasti akan mengirimkan doa untuk kesembuhan anaknya itu.


Lain halnya bila, ada yang tak menyukai keluarganya, pasti akan bicara berbeda di belakang mereka. Mungkin menyalahkan Asti , karena menikah tanpa menggunakan adat istiadat dan aturan masyarakat Jawa yang masih dijunjung tinggi.


Ada yang bilang kurang hitungan untuk mencari hari baik. Atau kurang sajennya, untuk kelengkapan acara! Padahal hal - hal umum sudah Asti kerjakan sebelumnya, Asalkan tak menyalahi aturan dan hukum Islam. Seperti menziarahi makam keluarganya di desa Sendang Mulyo. Meminta Izin mengadakan keramaian dengan tetangga terdekat, sampai melaporkan hal itu ke pengurus lingkungan setempat.


Seperti kemarin ketika Asti melihat wajah muram Ibu Dian, tetangganya di acara pernikahannya itu. Mungkin kalau tidak menjaga wibawa suaminya, dari mulut nyinyir Ibu Dian itu pasti akan keluar fatwa dan dalil yang sungguh tidak dapat diterima akal manusia. Karena di luar nalar dan logika kita.


" Akbar baik- baik saja, Asti?" tanya Bulek Setelah dapat memberi kabar lewat telepon.


" Baik Bulek, sudah cepat ditangani dokter. Mereka terus memantau perkembangan keadaan Akbar. Kata Dokter anak balita itu rentan terhadap berbagai jenis penyakit, karena pertahanan tubuhnya masih lemah. Bisa karena makanan, perubahan cuaca juga penyakit yang ditularkan dari temannya bermain..."


Pada rencana awalnya, Lek No dan Bulek Ratih akan kembali ke desa pagi ini. Setelah kejadian tadi malam, mereka tetap bertahan di rumah Asti. Sambil menunggu kabar selanjutnya tentang Akbar.


Menurut perkiraan dokter, Akbar makan permen atau kue yang kurang higienis sehingga mengakibatkan tubuhnya merasa tidak nyaman.


Barulah Bu Jum menyadari. Ada seorang anak balita yang merupakan tamu dari rombongan kerabat Pak Leon, yang senang bermain dengan Akbar. Anak perempuan itu yang memberi Akbar sejenis permen yang mirip bantal... Karena lunak dan warnanya menarik.


Mungkin anak perempuan yang berumur kurang lebih lima tahun itu berkali- kali menyuapi permen itu ke mulut Akbar. Karena terlihat Akbar agak suka, sebab rasanya yang manis... Jajanan sejenis permen seperti itu masih jarang dijual di warung dan toko- toko makanan di daerah ini.


Ucapan dari Bu Jum tadi, segera disampaikan Pak Leon kepada dokter ahli anak yang menangani Akbar. Para dokter di sana segera mengambil tindakan. Takutnya itu sejenis permen karet yang belum bisa dicerna dengan baik oleh seorang bayi ... Apalagi Akbar belum genap berusia 24 bulan.


Para perawat segera menyiapkan segala hal yang diinstruksikan para dokter. Mereka membawa bayi itu ke ruang pemeriksaan di ruangan lain. Untungnya Akbar tidak menangis sebab di sisinya ada ibunya dan Pak Leon yang terus berjalan mendampinginya.


Di ruang tunggu pemeriksaan, Asti terduduk lemas seperti tak bertenaga. Hanya ada Pak Leon yang terus bersamanya. Tak peduli kalau lelaki kembali memeluknya erat untuk menenangkannya hatinya.


Sesekali air mata Asti menetes. Kalau sudah begini, mau rasanya dia menggantikan rasa sakit dan tak nyaman yang dialami anaknya yang sedang di dalam ruangan itu. Malah timbul rasa bersalah dan menyesal karena kurang menjaga Akbar dengan baik dalam dua hari ini.

__ADS_1


" Sabar, ya. Sayang. Berdoalah! Semoga anak kita bisa lekas segera sembuh!" Ucapan Pak Leon memberinya sedikit pencerahan.


Jari- jemari kokoh dan panjang milik lelaki itu berusaha menghapus air mata Asti yang terus menetes pedih.


" Aku merasa bukan ibu yang baik untuk Akbar. Dia panas sejak sore saja, aku kurang tanggap. Selalu mengandalkan Bu Jum!"


" Sudahlah, Asti! Jangan salahkan dirimu, oke?"


Hampir dua jam lebih Asti dan Pak Leon di sana untuk menunggu hasil pemeriksaan dan tindakan dokter. Sampai keduanya tidak menyadari kalau mereka duduk begitu rapat dan saling berpelukan. Sesekali Leon mengecupi kepala Asti yang tertutup hijab. Malah wajah Asti sekarang ada di dada lelaki itu. Ada rasa cemas, juga lelah. Berharap ada satu keajaiban kalau anaknya akan baik - baik saja.


Kemesraannya pasangan yang duduk di ruang tunggu itu, cukup menarik perhatian beberapa orang yang lewat di sana. Termasuk para suster yang lalu-- lalang di koridor itu. Juga beberapa pengunjung yang datang untuk menjenguk anggota keluarganya yang menjadi pasien di rumah sakit ini. Saat itu, hampir pukul 12.00, tanda jam besuk pertama. Sehingga rumah ramai dengan orang-orang di sana.


Ninuk agak ngeri juga setelah mendengar kabar selanjutnya dari Asti. Dia sudah kembali ke rumah setelah membawakan tas berisi pakaian ganti untuk Asti dan Pak Leon. Juga bubur ayam untuk sarapan mereka berdua.


Setelah sholat Dhuhur berjamaah di rumah, Lek No memimpin doa bersama untuk kesembuhan Akbar. Bu Jum menangis tergugu karena kurang waspada.


Mungkin dia tidak enak melarang gadis kecil itu. Apalagi dia adalah kerabat dari keluarga besar Pak Leon. Rombongan mereka datang jauh dari berbagai kota di provinsi Jawa Tengah ini. Demi menghadiri pernikahan itu. Walaupun diundang dengan WA dan telepon dari Ibunya Pak Leon yang mewakili keluarga pengantin pria.


Akbar sudah kembali ke ruang perawatan. Hasil rontgen menunjukkan kalau keadaan pencernaan Akbar baik- baik saja. Mungkin kandungan gula buatan yang dimakan Akbar cukup banyak Sehingga membuat tubuhnya bereaksi sangat cepat.


Pak Leon mengucapkan terima kasih kepada Dokter Eko Herlambang, yang menjadi kepala bagian di ruang rawat anak. Pria paruh baya itu tampak selalu sabar menghadapi pasangan orang tua yang kalut karena anaknya tiba- tiba jatuh sakit.


" Tunggu disini dulu, Yang. Aku membereskan administrasi dulu! Cakra sedang mengawasi pengecoran pondasi jembatan, jadi belum bisa meninggalkan area proyek..."


Asti sudah merapikan semua pakaian Akbar, juga beberapa perlengkapan mandi yang tadi pagi disimpannya di ruang kamar mandi.


Tak lama Pak Leon kembali ke kamar. Akbar sudah tampak lebih segar. Dia minum cukup banyak air putih atas saran dokter. Anak itu menangis tergugu ketika suster mencabut jarum infus di pergelangan tangannya. Suster segera memberi plester pada bekas luka itu.


" Anak ayah sudah sembuh, ya? Akbar mau pulang, nggak ?"


Pertanyaan Pak Leon segera dijawab Akbar dengan cepat." Mau!"

__ADS_1


Dia sekarang minta digendong oleh Asti. Walaupun baru sakit dua hari satu malam, bobot tubuh Akbar juga agak menyusut.


Seorang suster sudah menyediakan kursi roda untuk membawa Akbar keluar dari kamarnya yang berada di lantai dua. Malah Leon mengusulkan agar Asti yang duduk di kursi roda itu sambil memangku Akbar dan seorang OB yang akan mendorong sampai ke halaman parkir.


Wajah layu Akbar langsung gembira. Dia menikmati didorong kursi roda itu, Walaupun tidak mau duduk sendiri di sana. Mereka segera sampai menuju mobil yang Pak Leo parkir di dekat pintu luar.


" Asti, apa dia ingat kursi roda yang dipakai Papaku, ya?" tanya Leon melihat mata Akbar yang terus terpaku pada kursi roda itu.


"Mungkin? Sebab Akbar juga tertarik melihat kursi roda itu yang mirip stroller kepunyaannya."


Tak lupa, Pak Leon menyelipkan selembar uang kertas berwarna biru ke tangan pria yang bertugas menjadi OB itu. Sebab bapak itu juga sudah membantu memasukkan tas dan barang bawaan semuanya ke jok belakang mobil Pajero putih itu. Tas yang berisi segala macam pakaian Akbar, selama bermalam di rumah sakit. Juga ada pakaian kotor milik mereka bertiga yang dimasukkan dalam kantong kresek.


Pak Leon membukakan pintu untuk Asti masuk dan duduk di sebelahnya. Akbar tampak antusias ketika dia melihat deretan mobil terparkir di depannya.


" Akbar makan permen apa, ya? Sampai sakit begini... Besok jangan makan permen lagi , ya. Nak! Nanti Akbar disuntik lagi. Sakit kan?" Bisik Asti.


Wajah Akbar jadi muram dan takut saat mendengar kata suntik. Sebab jarum infus itu yang pertama kali disuntikkan ketika mendapat pemeriksaan dari Dokter. Jarum Infus itu terus menempel di pergelangan tangannya kirinya hampir selama hampir 20 jam lamanya. Apalagi suster dan Pak Leon melarang Akbar yang berusaha mencabutnya. Anak itu merasa sakit dan tidak nyaman dengan benda itu.


Kedatangan mereka di rumah sudah disambut oleh Pak RT dan Istrinya, Lek No juga Bulek Ratih. Ninuk malah sudah merapikan kamar tidur Akbar yang baru. Letaknya di di sebelah kamar tidur utama . Bu Jum memeluk dan mencium wajah Akbar karena cemas juga kangen.


" Alhamdulillah, Akbar sudah sehat dan boleh pulang ke rumah!" ujar Bulek Ratih lega dan terharu.


" Terimakasih, Pak RT, Bu Ani. Akbar sudah nggak apa-apa, kok!" ucap Asti tulus


" Ya, sudah. Semuanya kami pamit!"


Ternyata, Akbar sudah disiapkan kamar baru untuknya. Barang- barang yang ada di kamar itu sebelumnya sudah dipindahkan. Sebagian dimasukan ke lemari penyimpanan di bawah tangga. Di kamar itu sudah ditempatkan boks milik Akbar, juga beberapa rak susun berisi pakaian dan semua perlengkapan Akbar.


Bu Ratih juga meletakkan sebuah dipan rendah berisi single bed untuk tidur Bu Jum. Di kamar itulah nanti Wanita itu tidur bersama anak yang yang diasuhnya sejak Akbar berusia 5 bulan.


Ide itu sudah dilontarkan Bulek Ratih kemarin. Karena Bu Jum agak sungkan jika harus keluar-masuk ke kamar tidur utama, katena Akbar selama ini tidur di kamar Asti. Sebab sekarang di kamar itu akan ada penghuni yang lain, yaitu Pak Leon sebagai suami baru Asti.

__ADS_1


Masalah pindah - memindahkan barang- barang itu, Bulek Ratih mempunyai sepasukan tukang angkut yang selalu siap sedia bekerja keras. Mereka bekerja sejak pagi dengan giat tanpa mengeluh. Karena tenaga mereka cukup dibayar dengan makan siang yang lezat dan nikmat. Masakan olahan Bu Ratih, yaitu soto ayam kampung komplit dengan emping goreng dan sambel jeruk nipis.


Team kerja itu adalah Joko dan seluruh pegawainya, ditambah Pak Roh dan Yanto yang bertugas menyapu dan mengepel lantai.. Setelah semua barang - barang tertata rapi di kamar baru Akbar.


__ADS_2