Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 133. Akbar Sakit


__ADS_3

Pembongkaran tenda dikerjakan oleh para pekerja setelah Magrib. Pekerjaan itu selesai tak sampai 2 jam saja. Memang membongkar itu adalah pekerjaan yang lebih cepat daripada memasangnya. Pekerjaan itu memerlukan waktu hampir seharian untuk memasang tenda di beberapa tempat di samping rumah Asti, sehari sebelum acara pernikahan dilaksanakan.


Tumpukan kursi- kursi, meja, dan alat pesta lainnya diangkut dengan mobil bak terbuka. Setelah sebuah truk besar pergi, mengangkut tumpukan rangka besi dari tenda, gulungan kain itu, meja juga bangunan gubuk- gubuk yang menjadi bagian dari semua barang - barang yang disewa.


Rumah Asti kini sudah rapi kembali seperti sediakala. Tetapi di depan teras rumah, masih ada satu atau dua orang tetangga yang ngobrol dengan Lek No, ditemani kopi panas dan kue- kue jajanan pasar.


Di dapur, Asti sedang menghangatkan beberapa makanan tambahan yang diberikan dari pihak katering. Makanan itu masih tersimpan di beberapa boks plastik dan belum tersentuh sendok para tamu. Sebab makanan itu merupakan cadangan terakhir, dari 500 porsi yang dipesan Asti sebelumnya.


" Mbak Asti, Akbar agak panas badannya!" lapor Ninuk tiba- tiba.


Suara Ninuk yang pelan itu, tetap saja mengejutkan semua orang yang sedang duduk santai di ruang tengah. Panik, Asti langsung berjalan ke kamar Ninuk di lantai atas.


Di atas ranjang yang digelar di lantai itulah Akbar terbaring tidur. Saat diraba, dahi dan badan Akbar memang agak panas.


Segera Bulek Ratih dan Asti melakukan tugasnya sebagai ibu dari bayi yang sedang demam itu. Kaos Akbar diganti yang lebih nyaman. Bulek Ratih mencari alat kompres instan yang diletakkan di dahi Akbar. Mereka bahu membahu mengurus bayi kecil itu.


" Nanti kalau panasnya semakin tinggi kita bawa ke rumah sakit saja, Asti!" Saran wanita itu.


Ternyata bayi itu terbangun dan mulai menangis dengan suara yang parau. Sejak kemarin di rumah ini selalu ramai dan banyak orang. Apalagi tadi, Akbar bergerak ke manapun tanpa ada larangan. Lepas dari pantauan ibunya, yang juga repot dengan berbagai urusan di hari pentingnya ini.


Bulek Ratih menyerahkan selembar kain batik panjang yang baru. Dalam adat kepercayaan orang Jawa lama, mengendong bayi dengan kain itu, dipercaya dapat menurunkan panas pada tubuh si bayi.


Joko yang mengambil alih untuk mengendong Akbar dengan kain Pria muda itu menimang Akbar sambil membawanya menuju balkon. Sebab dia melihat Asti terlihat sudah was-was, bimbang dan hampir menangis.


Kejadian itu juga diberitahukan kepada Pak Leon. Saat dia meraba dahi Akbar yang agak panas, segera dihubunginya Dimas. Mereka bersiap akan membawa bayi itu ke rumah sakit.


Bu Jum juga kaget. Padahal tadi saat Akbar tidur pada pukul 17.00, keadaan anak itu masih baik- baik saja. Segera pengasuh Akbar itu menyiapkan beberapa pakaian dan perlengkapan Akbar dalam satu tas.

__ADS_1


Suara mobil Pak Leon sudah terdengar di depan rumah. Cepat Joko turun sambil mengendong Akbar. Asti menyiapkan tas kecil berisi hape dan dompet.


Lek No dan beberapa tetangga yang masih ada di teras depan kaget dengan keluarnya Pak Leon, Asti juga Joko. Apalagi pria itu melihat anaknya yang masih mengendong Akbar. Sebab dia tahu, Asti dan Pak Leon tidak ada acara ke luar rumah. Mereka cukup letih selesainya acara pernikahan itu siang tadi.


" Lek, kami mau bawa Akbar ke rumah sakit. Tiba-tiba dia demam dari sore..." Kata Asti pelan.


" Ya, udah. H ati-hati, kalau ada apa-apa telepon kami, ya!"


Lek No melihat Leon yang mengambil alih kemudi. Sementara Pak Cakra turun. Sepertinya, Leon meminta asistennya itu menghandle pekerjaan mereka di lapangan besok. Karena dia akan ikut menjaga Akbar di rumah sakit. Apabila anak itu harus menjalani rawat inap.


Kembali mobil yang dikendarainya Pak Leon mulai memasuki halaman rumah sakit swasta itu lagi. Rumah sakit swasta terdekat dengan fasilitas yang cukup memadai. Tempat dulu Asti juga dirawat di sini.


Suasana malam di depan lobi rumah sakit agak sepi. Mereka menemui petugas jaga yang ada, dan diantar menuju sebuah ruang yang ada di sudut kanan rumah Sakit.


Akbar segera dibawa ke UGD, setelah Pak Leon berbicara dengan petugas di sana. Joko yang akan menjaga keponakannya itu yang sedang diperiksa oleh seorang dokter. Sementara Asti dan Pak Leon harus pergi ke bagian administrasi. Tempatnya ada di bagian di loby depan rumah salit. Pria itu mengisi formulir dan data yang diperlukan. Ajaibnya, semua sudah dicover oleh asuransi yang dimiliki oleh Pak Leon.


" Dia anakku sekarang!" Ujarnya yakin.


Sejak sore, Asti sibuk menggurus keperluan berbagai hal. Termasuk memastikan keluarga Pak Leon sudah makan malam sebelum mereka kembali ke Semarang setelah Magrib. Mereka juga sudah pamit dengan para tetangga di sana.


" Sabar, ya... Sayang! Mungkin bukan ini saja ujian hidup kita, sejak mulai berumah tangga... " Kata Pak Leon lagi saat membawa istrinya itu kembali ke UGD.


Tubuh Asti semakin lemas, saat melihat Akbar sudah mendapat penanganan dokter. Anak itu diberi infus di pergelangan tangan kirinya. Kalau tidak ada Joko mungkin Akbar sudah menangis terus. Bayi itu sangat dekat dengan Joko, dan mempercayai Omnya itu dari pria dewasa mana pun.


Mata Akbar tampak sembab. Dia membuka matanya karena hidungnya sudah hafal bau tubuh Ibunya. Dia melihat Asti di sisinya.


" Adek bobok saja, ya! Biar cepat sembuh... Di sini ada Om Joko, Ibu dan Pak Leon yang akan menjaga Akbar!" ujar Asti menahan tangisnya.

__ADS_1


Lembut diciumi pipi dan dahi Akbar yang masih terasa suhu tubuhnya yang tinggi. Tengah malam Akbar dipindahkan ke ruang perawatan di lantai dua. Tetap saja, Leon memilih ruang VVIP untuk kenyamanan Akbar yang masih sakit dan juga keluarga yang akan menunggu di sana.


Joko pamit karena dijemput oleh Putra, salah satu pekerja di warung tenda. Walaupun warung itu ditutup selama tiga hari. Namun anak- anak muda itu menginap di sana untuk membantu persiapan syukuran acara pernikahan Asti.


Leon memaksa Asti untuk tidur di sofa. Leon bersikeras agar Asti juga beristirahat. Sebab Akbar sudah mendapat penanganan yang tepat. Demamnya mulai turun menjelang dini hari


" Ini bulan madu yang lucu, ya?" bisik Lelaki itu. " Kita bermalam pertama di rumah sakit..."


Mereka duduk berpelukan di sofa, dengan kepala Asti berada di bahunya. Rasanya Asti berharap agar Akbar lekas pulih dan bisa dibawanya pulang.


" Maaf, Aku kurang kontrol jadi tidak tahu kalau Akbar sakit...!" Balas Asti lagi karena merasa sangat bersalah.


Mereka saling bertatapan. Tadinya Asti agak canggung saat dipeluk Leon. Tetapi mengingat pria ini sudah berubah status menjadi suaminya, Asti pasrah saja. Lagi pula sekarang dia merasa lega, karena mendapatkan rasa aman dan terlindungi oleh seorang laki - laki berkepribadian kuat seperti Leon.


Sejak kemarin Akbar sudah banyak berinteraksi dengan anak- anak tetangga yang seumuran dengannya. Jadi anak itu mungkin kelelahan karena banyak bermain. Bisa juga Akbar makan sesuatu yang diberikan oleh mereka. Sebab sejak kecil perut Akbar agak rentan dengan makanan yang mengandung pengawet atau pemanis buatan.


Justru Pak Leon terbangun sendirian di sofa itu setelah mendengar azan Subuh. Di lantai dekat ranjang tempat Akbar dirawat, Asti duduk bersimpuh di sana. Menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim sekaligus berdoa memohon dan kepada Allah agar anaknya lekas sehat kembali.


Diam-diam, Pak Leon masuk kamar mandi untuk mengambil wudhu. Di kamar mandi yang mewah itu, dia mendapatkan sebuah handuk besar yang agak lembab tergantung di sebuah jemuran besi. Samar tercium sesuatu yang mulai dikenalinya dalam beberapa hari ini. Bau harum dari sabun yang digunakan Asti sehari- hari untuk mandi.


Perawat datang untuk kontrol. Suhu Akbar telah kembali normal. Tetapi perut Akbar masih sedikit kembung. Anak itu bangun dan mulai minta digendong. Pak Leon yang meraih tubuh anaknya itu, karena melihat wajah Asti yang pucat dan tubuhnya yang lemah. Karena tidur tidak lelap semalam di sini.


Mereka duduk, sambil Pak Leon memangku Akbar. Asti mengelus kepala anaknya sambil bersholawat pelan. Sementara tiang infus berada di dekat mereka. Selama berada di gendongan Pak Leon itulah, Asti berhasil membujuk Akbar untuk makan beberapa suap bubur lembut dan minum obat. Untuk sementara , dokter meminta Asti banyak memberi minum air putih pada anaknya.


Segala makanan dan minuman yang berasal dari luar, oleh dokter dilarang diberikan kepada Akbar. Hasil laboratorium bayi itu telah keluar pagi tadi, dan sedang dibahas oleh dokter khusus yang menangani anak.


Pemandangan itulah yang dilihat Ninuk saat dia membuka ruang perawatan Akbar, menjelang pukul 08.00. Cepat gadis konyol itu mengambil hape dan mengabadikannya pemandangan baru dan sangat langka itu. Saat pasangan itu duduk berpelukan dengan Akbar terbaring di antara mereka.

__ADS_1


Dulu.. . saat Asti berjuang dalam kesakitan setelah melahirkan Akbar. Justru Satrio mulai berpaling pada gadis lain. Gadis yang lebih muda, berani dan agak genit, yang ditemui di kantin rumah sakit. Ninuk sangat tidak percaya dengan kenyataan itu, sampai menyimpan rahasia itu berminggu-minggu kemudian.


Kini Pak Leon menjadi suami dan ayah siaga. Padahal baru kemarin siang, pria itu mengesahkan hubungannya dengan Asti sebagai suami dan istri. Sebuah ikatan suci dan sakral , karena sah menurut hukum negara dan agama. Sekarang lelaki itu mengambil alih semua tanggung jawab itu, mengurus anaknya yang sedang sakit. Juga menjaga Asti yang ikut tak berdaya.


__ADS_2