
Perjalanan pulang mereka lalui dengan menggunakan jalan tol ke arah Surabaya. Pak Sugeng hanya berhenti di sebuah rest area untuk istirahat sholat Maghrib. Tampaknya mobil Inova yang kemudikan Pak Jan sudah tidak terlihat lagi..Mungkin mobil itu mengambil jalan berbelok kanan tadi yang ada plang besar bertulisan menuju ke kota Surabaya.
Mereka mulai mencari lapak atau warung yang berada di sebelah mushola dengan membentuk leter U, untuk makan malam. Di sana banyak lapak dengan beragam jenis jualan yang dijajakan. Tentu juga dengan berbagai jenis masakan yang dapat mereka pilih sesuai dengan selera masing- masing.
Ninuk, mengajak Akbar dan Putri ke salah satu gerai makanan fast food yang cukup populer buat anak - anak zaman sekarang. Dengan ciri khas gerai makanan itu bercat warna merah putih sekaligus ada gambar kakek tua yang menemukan resep ayam goreng tersebut, yang ternyata sudah mendunia.
Di sana mereka memilih paket nasi, dengan fried chicken, dan soft drink sebagai pilihannya. Ninuk juga membelikan Qani nugget ayam dan french fries.
Anggota keluarga yang lain memilih menu masakan nasi goreng atau mie goreng. Kecuali Leon dan Pak Cakra yang mau mencoba masakan Padang yang dijual pada warung yang lain. Mereka semua makan di satu meja besar, bersama - sama. Karena sistemnya adalah pesan dan langsung dibayar. Kadang ada juga pelayan dari warung atau lapak itu nanti yang akan membawakan pesanan mereka ke meja besar itu.
Ternyata Qani mau makan nugget dan kentang goreng yang dibelikan sang Tante. Asti membiarkan bayinya itu tetap duduk di stroller, sementara para ART dapat makan tanpa terganggu. Selesai makan, mereka bergantian ke toilet untuk cuci muka dan menggosok gigi. Malah Bulek Ratih berganti baju dengan kaos dan celana panjang model piyama yang lebih nyaman dipakai selama perjalanan pulang.
Di mobil Elf, Pak Sugeng dan Mas Aji akan bergantian membawa mobi itu pada perjalanan selanjutnya. Begitu juga di mobil Pajero, nanti Joko yang akan membawanya, Karena Pak Cakra juga sudah lelah.
" Lanjut, Pak Sugeng... Mas Aji?" tanya Lek No. Tadinya mereka berniat istirahat pada sebuah penginapan di sebuah kota kecil yang akan mereka lewati nanti. Tetapi Pak Sugeng menangguhkan. Sebab dalam perjalanan pulang, mereka sudah sering melewati jalan lintas itu tanpa hambatan.
" Mudah - mudahan Subuh kita sudah sampai perbatasan provinsi!" Ujar Pak Sugeng menyakinkan mereka.
Mobil Elf bergerak lebih dulu meninggalkan rest area. Tampaknya beberapa kilometer lagi, kendaraan mereka akan keluar dari jalan tol tersebut. Jalan yang akan mereka gunakan nanti merupakan jalan raya yang biasanya disebut jalan Pantura atau jalan di lintas Pantai Utara.
__ADS_1
Konon jalan ini dibangun di masa penjajahan Belanda, dengan sistem Kerja Paksa. Gubernur Hindia Belanda pada waktu itu, yaitu Herman William Daendels yang memerintahkan pembuatan Jalan itu, agar memudahkan perhubungan di Pulau Jawa itu. Selain untuk meningkatkan kemajuan, juga agar mereka dapat bergerak lebih cepat ke daerah lain bila diserang musuh.
Jalan Pantura itu terbentang dari Anyer di ujung barat Pulau Jawa, yang sekarang masuk dalam wilayah provinsi Banten. Sampai ke Panarukan di ujung timur, yang termasuk wilayah provinsi Jawa Timur.
Mas Aji tentu lebih fokus dengan keadaan lalu lintas yang cukup ramai lancar di depannya. Paling banyak adalah truk - truk yang bermuatan penuh di bak belakangnya dengan bermacam - macam bawaan mereka. Juga ada satu-dua bus antar kota dan antar provinsi yang mulai menghiasi jalan penuh sejarah dan penuh penderitaan itu. Karena banyak rakyat yang tewas saat diperkerjakan untuk pembuatannya. Kebanyakan dari para pekerja itu meninggal karena tidak mendapatkan cukup makanan yang layak. Ada yang terkena wabah penyakit seperti malaria atau kolera. Ada juga yang rakyat yang melawan dan mendapatkan hukuman yang sangat tidak manusiawi.
Asti dulu sangat menyukai pelajaran sejarah, saat dia bersekolah di bangku SMP. Tetapi sejarah atau akar silsilah dari keluarganya agak sulit didapatkan karena tidak ada catatannya atau bukti tertulis.
Kata Mbah Harjo Winangun, kalau kakek dari buyut beliau adalah salah satu orang kepercayaan dari Pangeran Jawa. Beliau jugalah yang membantu. perjuangan Pangeran itu semasa pendudukan Belanda di istana... Sebagai panglima perang juga orang kepercayaan, pekerjaan kakek buyut Pak Harjo Winangun sangat dirahasiakan.
Bahkan tanah di desa Sendang Mulyo ini dulunya adalah petilasan atau tempat Pangeran Jawa beristirahat setelah peperangan besar di Istana dalam perebutan kekuasaan dengan sanak saudaranya yang dibantu tentara Belanda itu.
Jadilah petilasan itu dibuka menjadi beberapa desa yang sekarang ini. Sedangkan gubuk kayu tempat Pangeran Jawa itu beristirahat dan memulihkan diri karena mengalami luka dalam pertempuran itu, dijadikan rumah Joglo tempat keluarga Asti tinggal.
Om Ardi sengaja diikutkan dalam mobil Pajero bersama Leon dan dua asistennya, juga Mas Topan. Sebab walaupun kedua anak Asti tidak terlalu rewel dalam perjalanan panjang itu. Hampir semua orang di dalam Elf akan ikut sibuk membantu menggurus Qani dan Akbar. Apalagi kalau anak itu haus atau minta makan. Sehingga kehebohan itu takut mengganggu beliau yang baru saja masuk dan mengenal keluarga mereka.
Lek No pindah ke belakang duduk bersama istrinya, setelah Pak Sugeng tertidur di bangku depan. Ada lantunan sholawat berkumandang dari radio mobil yang disetel pelan, mengiringi perjalanan mereka untuk pulang. Lek No masih duduk di posisi di belakang supir untuk menemani Mas Aji ngobrol, agar supir itu jangan sampai mengantuk. Mereka ngobrol apa saja, dari hal yang seru, konyol dan lucu.
Akbar terbaring di kursi di samping Asti, menggunakan dua kursi yang kosong untuk anak itu berbaring. Qani ada di belakang di car seat, dijaga oleh Ninuk. Sementara di jok paling belakang, ada Bu Jum, Putri dan Mbak Ning yang sudah terlelap. Jok itu terasa nyaman karena ada 4 bangku empuk yang saling bersambung. Sehingga ketiganya dapat duduk lega di sana.
__ADS_1
" Kamu nggak tidur Asti ?" tegur Lek No ketika melihat Asti yang masih terjaga.
" Belum ngantuk, Lek! Ini sudah jam berapa sekarang, ya?"
Lelaki itu melihat jam digital yang ada di dashboard mobil. Hampir pukul 23.30. Jalan pembatas di antara dua arah di jalur Pantura ini hanya trotoar yang tidak terlalu lebar. Sehingga berbagai cahaya lampu sorot mobil besar dari arah sebaliknya sedikit menganggu pandangan Mas Aji. Justru keadaan itu yang membuatnya pria muda itu lebih hati- hati dan waspada mengendarai mobil itu.
Apalagi kalau mereka melewati jembatan besar dengan sungai lebar di bawahnya, Asti selalu membaca doa memohon keselamatan dalam hati. Sekarang hatinya begitu lapang dan penuh rasa syukur... Ada ikatan kuat yang telah terjalin...Dia masih mempunyai sanak saudara bukan saja di Surabaya. Juga di sebuah kampung di perbatasan kota Banjarmasin... Di sanalah asal - usul keluarga Jaffar berada. Keluarga kakek dari ibunya yang banyak menyiarkannya pengajaran Agama Islam dari satu kampung ke kampung lain.Mereka saat itu masih menggunakan perahu atau sampan melewati sungai terbesar di provinsi itu. Sebuah pengabdian tanpa batas dan pamrih.
Pakde Muin malah memberitahukan kepada Lek No ketika dia dan istrinya terpaksa kembali ke Purwokerto. Ada keluarga yang sakit dan memerlukan pertolongan dari mereka. Malah ada salah satu anak laki-laki Mbah Sanjaya ikut mereka pergi ke Kota Purwokerto.
Tepat di sebuah masjid di pinggiran jalan besar itu mereka beristirahat setelah mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an sebelum azan Subuh berkumandang. Lek No sempat menyelipkan sebuah boneka bantal di kepala Asti yang menyender di jendela kaca karena tertidur.
Begitulah pria itu yang mungkin seusia dengan ayah Asti yang sudah almarhum. Beliau selalu memperlakukan Asti itu seperti anaknya sendiri, layak anak perempuan sulungnya saja. Dia, istrinya dan Pak Harjo Winangun bersama - sama mengasuh Asti sejak bayi merah sampai dia tumbuh dewasa seperti sekarang ini.
Anak- anak Asti pun adalah cucu mereka juga. Namun pasangan suami-isteri itu masih tetap bersabar menunggu, jika Joko masih sibuk menata kariernya... terlebih dahulu. Sebab bukan perkara mudah tinggal di desa mereka yang sebagian orang tuanya masih berpikir sederhana dan sedikit kolot.
Usaha Joko yang maju dengan membuka lapak nasi goreng dan sejenisnya, bukanlah gambaran ideal bagi pemuda itu sebagai calon menantu pilihan bagi beberapa orang tua di desa mereka. Pokoknya menantu lelaki ideal bagi mereka adalah PNS... Atau orang berpangkat seperti anggota ABRI dan polisi. Sehingga Joko akhirnya bergabung di kantor Leon dengan memanfaatkan ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliahnya yaitu akuntansi.
Satu persatu para penumpang dari kedua mobil itu turun. Terutama Om Ardi yang segera masuk ke dalam kamar mandi, dan masjid untuk sholat subuh berjamaah. Mereka menikmati udara pagi yang dingin namun menyegarkan di pelataran masjid yang jauh dari pemukiman penduduk.
__ADS_1
Qani terbangun dan segera digendong Bu Jum. Sementara Mbak Ning cepat menyiapkan susu untuk bayi itu. Dari kejauhan Asti datang dengan Ninuk dan Bulek Ratih sambil membawa sajadah, mukena dan tas selempang bepergiannya mereka.
" Alhamdulillah, sudah sampai di Ngawi!" bisik Lek No. Namun Mas Aji tetap bersikeras membawa mobil itu sampai ke rumah Asti nanti. Mungkin perlu waktu tempuh satu sampai dua jam lagi untuk mencapai jarak tak sampai 50 km lagi dari kota perbatasan ini.