
Joko sudah kembali ke rumah bersama Mas Danu. Foto - foto wajah Mas Tarjo, Bondan dan Pak Sungkono telah mereka dapatkan secara diam-diam, lengkap dengan aktivitas mereka di sana. Tanpa mereka sadari kalau Joko dan Mas Danu terus mengamati keberadaan mereka dari rumah tetangga di depannya.
Kedatangan Pak Darmaji, juga memberi masukan buat Joko untuk bertindak. Apalagi dia melihat hal itu ada kaitannya dengan keberadaan ayahnya Dania itu!
" Diapain, Om para bajingan kelas teri itu? Sudah tua bukan bertindak bijaksana, malah kayak ABG labil melempar rumah orang dengan batu!"
"Kalau memang ada bukti di CCTV di rumah Asti, viral kan saja perbuatan mereka itu. Biar masyarakat yang menghukumnya. Sebab selama ini mereka sudah tidak menghargai aturan dan hukum yang berlaku. Malah bertindak anarkis!" Kata Pak Kades itu lagi menahan kesal.
" Baik, Om.. terima kasih!"
Joko dan Mas Danu berpamitan. Mereka juga melihat orang- orang yang terlibat dalam kelompok pengacau itu masih ada berada di dalam rumah sana. Tentu mereka merasa yakin kalau perbuatan yang konyol itu akan sangat berhasil. Tentu meneror rumah Asti akan menimbulkan rasa takut dan was-was pada diri sang pewaris pemilik sawah Winangun yang sah.
Mereka segera menemui Pak Sembodo, setelah Firman berhasil mengambil video peristiwa pelemparan batu itu. Mereka mengambil dari rekaman monitor CCTV di dekat ruang keluarga.
Pria yang menjadi ketua RT di depan rumah Asti itu cukup geram dengan tindakan orang-orang seperti itu. Apalagi rumah Asti berada dalam wilayah naungannya. Jadi keamanan dan kenyamanan penghuni rumah di Wilayahnya menjadi tanda jawab yang ada di pundaknya.
Lewat media sosialnya... Pak Sembodo melaporkan rentetan peristiwa itu. Tanpa menyebut siapa nama pelakunya.
Kancil juga menyelipkan persoalan itu di aplikasi di tok-tok miliknya.. Dari video kedua orang yang berboncengan motor, sampai si pembonceng ketika melemparkan batu bata ke rumah Asti. Di sana sangat jelas terekam wajah keduanya. Belum lagi jenis motor dan nomor polisinya juga tersorot dari kamera CCTV.
Berbagai ragam komentar netizen pun bermunculan. Pendapat sebagian warga yang masih muda dan punya pendidikan cukup, meminta peristiwa pelemparan itu itu dilaporkan ke kantor polisi. Yang lainnnya, terutama para wanita segera mencaci perbuatan mereka yang sangat tidak terpuji itu.
__ADS_1
Dua hari sejak dipublikasikan peristiwa itu, sebagian masyarakat juga sudah mencari tahu nama para pelaku itu... Wajah Tarjo dan Bondan pun muncul setelah ada seorang pemuda yang mengenali, salah satu dari mereka yang katanya bertetangga di desanya.
Kancil tersenyum kegirangan dengan hiburan tersebut.. Yang lain hanya geleng-geleng kepala, membaca komen dari para penonton tersebut ... Begitulah perubahan terbesar yang terjadi pada kehidupan masyarakat di era kemajuan pada abad modern sekarang ini! Sangat mudah menarik keinginan tahuan orang lain hanya dengan sepenggal peristiwa yang diunggah pada laman sosial seseorang lewat perantara informasi dan teknologi.
Beruntungnya, peristiwa itu memang ada fakta dan buktinya di lapangan. Bukan sekedar mencari berita rekayasa atau sensasi cerita.
Mungkin karena tidak ada tanggapan dari kedua pelaku pelemparan batu itu. Para Netizen pun menjadi geram. Lalu wajah kedua pria paruh baya itu mulai dibuat meme dengan berbagai rupa dan kreasi yang canggih. Dari para pelaku itu mereka memakai topeng tokoh hero internasional dengan segala atributnya. Sampai mereka memakai kostum binatang animasi dalam film kartun seri anak-anak.
Tentu saja, Tarjo dan Bondan akhirnya menyadari kalau perbuatan mereka telah diketahui orang banyak. Mereka dihujat bukan saja oleh kerabat keluarga Winangun yang telah menjadi korban. Sekarang mereka mungkin dihujat orang lebih dari satu kecamatan atau lebih luas lagi satu provinsi di wilayahnya.
Sebab para penonton di aplikasi tok-tok telah menjadi juri, pemerhati sekaligus detektif yang cukup handal... Mereka berhasil mendapatkan tempat kejadian perkara, juga alamat tempat tinggal para pelaku itu.
Kini Leon yang tersenyum puas! Tak apa mengganti sebuah kaca jendela yang pecah, hanya dengan nilai ratusan ribu rupiah. Sebab anak Pakde Karto itu layak dipermalukan dengan perbuatannya yang sembrono. Hukuman itu lebih pahit daripada melaporkan perbuatan mereka ke ramah hukum.
Asti sekarang bukanlah wanita lemah yang harus berjuang sendirian untuk menjaga warisan leluhurnya. Ada seorang suami, juga kerabat dan para pekerja yang bernaung di rumah itu.. Mereka lah yang akan selalu membela dan menjaganya.
Pada sore hari setelah peristiwa itu terjadi, barulah Joko dan Leon menyampaikan kejadian pelemparan batu tersebut kepada Asti.
Wanita itu hanya dapat menahan bibirnya, agar tidak keluar kata- kata mutiara yang merupakan contoh tidak baik untuk didengar kedua buah hatinya. Dia ada rasa kaget dan tak percaya akan perbuatan seorang pria setengah baya yang sudah punya anak-anak remaja. Ternyata itu perbuatan Mas Tarjo, anak sulung Pakde Karto!
Pantas saja kedua anaknya rewel nggak karuan sejak kepergian kedua orang tua Leon yang kembali ke Semarang... Tampaknya itu sebagai firasat yang menandakan akan ada kejadian yang tak mengenakkan yang akan terjadi di rumah ini.
__ADS_1
" Nggak apa-apa, Joko! Nggak usah dilaporkan ke polisi... Percuma juga kita menyerahkan setumpuk bukti! Tetap saja orang - orang itu nggak mau menerima. Karena sudah gelap mata!"
" Ya, sudah... Kamu tenang saja, Asti. Mas Leon sudah memperbaiki kaca yang pecah, itu kok !" ujar Joko.
Seharian tadi dia menguntit aksi Mas Tarjo dan kroconya itu, sehingga hampir sebagian pekerjaan di meja Leon belum lagi diselesaikannya... Leon pun hanya bekerja dengan meninjau langsung ke proyek siang itu, tampa sempat singgah ke kantor.
Kini di meja kerja Leon, Joko menyelesaikan sebagian surat- menyurat itu dan beberapa laporan keuangan yang sedang diprint untuk diperiksa dan diteliti kembali oleh suami Asti itu.
Anak-anak sudah tidur dengan nyenyak... Tadinya Leon akan memindahkan Akbar yang tertidur di ranjang utama. Setelah Aksi memeriksa suhu tubuh anak sulungnya itu, ternyata dia tidak apa-apa.
" Putri kamu tidur sana, kalau sudah ngantuk. Biar malam ini Akbar tidur sama kami!"
Gadis muda itu beranjak dari karpet, tempat dia duduk nonton tv bersama Bu Jum dan Mbak Ning. Pak Leon tadi menuju ke warung tenda bersama dua asisten yang datang malam ini dengan sebuah motor nmax milik Pak Cakra yang baru dibelinya bulan lalu.
Di sebuah rumah, pada tahap satu itulah asisten Pak Leon menempatkan istri dan ibu kandungnya yang sudah tua... Selama tinggal di Magelang, Ibu Pak Cakra itu dijaga oleh sanak keluarganya yang tinggal dekat dengan mereka. Sampai pria itu cukup yakin menikahi salah satu anak dari kerabatnya itu. Mbak Fitriani, sangat dekat dan menyayangi sang ibu mertua, layaknya menggurus ibunya sendiri.
Asti tahu Leon sudah kembali dari warung tenda. Matanya sudah sangat berat karena seharian sudah sangat lelah menggurus Qani yang rewel dan Akbar yang juga badmood. Belum lagi soal teror dari anak-anak Pakde Karto. Kapan-kapan dia akan menemui Mas Tarjo, juga bicara baik-baik dengan lelaki keras kepala itu.
Sampai sayup - sayup terdengar suara alarm di hapenya berbunyi yang di atas lemari kecil itu. Terhuyung-huyung Asti bangun untuk mematikan suara alarm itu. Di sampingnya tidak hanya Akbar yang tertidur, juga Leon suaminya.
Hari menjelang dini hari, pukul 03.00. Dalam keheningan pagi itulah, Asti beribadah dalam suasana sepi. Banyak yang disampaikan kepada Allah sang Maha Pencipta, akan selalu memohon perlindungan dan rahmat yang diberikan kepada keluarganya ini. Dia senantiasa mengucapkan rasa untuk bersyukur. untuk segala rezeki dan kemudahan yang diberikan dalam kehidupannya.
__ADS_1
Paginya... Asti melakukan aktivitas seperti biasanya setelah sholat subuh. Yang utama menyiapkan pakaian kerja Mas Leon, dan membantu Mbak Ning dengan persiapan untuk menyediakan sarapan pagi di meja makan.