
Pak Sampurno memimpin mereka untuk keluar dari ruangan di dalam gedung kantor kelurahan itu. Dia mengendong Akbar, sebab anak itu sudah mulai kelelahan, karena jam tidur siangnya terlewat. Sementara Pak Cakra, Joko dan Topan tidak ikut, karena mereka harus segera menyelesaikan beberapa laporan pemberkasan yang akan dibawa pihak bank sore nanti.
Pihak staf humas di kelurahan juga sudah mengumumkan kalau mereka menyiapkan makan siang untuk semua orang membantu kegiatan di hari ini. Makanan itu dimasak oleh para Ibu anggota tim inti penggerak PKK dari Kelurahan Sumber Sari.
Setidaknya semua aparat yang dilibatkan pada kegiatan itu bisa istirahat dengan nyaman. Jadi mereka tidak perlu pergi jauh, hanya untuk mencari warung nasi, untuk sekedar makan siang.
" Nggak jauh, kok! Kita jalan kaki saja ke sana!" kata Pak Sampurno, terus memberi mereka semangat.
Rombongan itu berjalan kurang lebih 200 meter dari depan kantor kelurahan. Masih di jalan yang sama. Pada rumah berpagar tembok tinggi, berwarna putih dan dengan pagar besi berwarna coklat itulah mereka berhenti. Tepat di depan pintu pagar yang terbuat dari besi tempa dengan ukiran rumit bersepuh emas.
Pintu besi tempa di dorong oleh seseorang penjaga dari dalamnya, karena memang sudah menunggu kedatangan Pak Sampurno. Petugas penjaga rumah itu dengan sopan membukakan pintu pagar lebih lebar. Petugas yang lain ikut mengantar rombongan itu sampai teras depan rumah yang teduh. Karena atapnya tinggi dengan empat pilar besar sebagai penyangganya.
"Monggo, silakan masuk!" sambut penjaga itu setelah mengetuk pintu depan tiga kali dan mendorongnya agar terbuka.
Leon dan Asti yang terbiasa melihat megahnya dan mewahnya rumah milik pejabat tertentu atau pengusaha terkenal, cukup kagum dengan kemegahan rumah ini. Lihat saja, para ART dan dua supir Elf itu sampai diam terpaku, memandangi semua keindahan dan kemegahan rumah berbentuk Joglo ini
Namun dalam nuansa yang lebih modern dan mewah. Mirip seperti bangunan istana keraton zaman dahulu.
Semua takjub melihat isi rumah ini yang tak mewah dari bentuk bangunannya ... Sebagian masih mengambil bentuk joglo, rumah adat orang Jawa pada umumnya . Tetapi rumah ini dibangun lebih besar dengan struktur yang lebih kuat.
Hampir semua bagian dari rumah itu terbuat dari kayu jati pilihan. Tetapi nuansa modern dan baru itu terlihat dari penggunaan marmer pada lantainya. Dindingnya pun berlapis wallpaper indah, bermotif serut kayu kuning dengan segala gradasinya.
Belum lagi semua perabot dari seperangkat kursi tamu, lemari hias dan bufet rendah itu menjadi satu kesatuan yang harmonis karena terbuat dari ukiran yang sama yaitu asli Jepara yang senada. Ruang tamu itu tambah megah dengan adalah lampu kristal gantung yang besar di tengah ruangan.
" Ini rumah siapa, Om?" tanya Asti penasaran sekaligus ragu-ragu. Setelah puas mengamati di sekelilingnya. Mereka mulai sudah dipersilakan duduk oleh pria itu.
" Ini rumah Mbah Astuti Rahayu, adik sepupunya, Pak Harjo Winangun. Anak sulungnya, yang menjadi camat di daerah ini, hampir tiga tahun yang lalu!"
Asti masih sedikit bingung dan kurang mengenal silsilah dari pohon keluarga Winangun secara keseluruhan... Mungkin karena mereka bukan dari dari keturunan raja atau bangsawan berdarah biru. Jadi tidak terlalu memperhatikan seluk-beluk asal keluarga Winangun yang mempunyai rantai panjang dengan beberapa orang lainnya dalam hubungan kekerabatan.
Sekilas Asti hanya mendengar cerita kakeknya semasa beliau hidup. Dipikirnya itu hanya dongeng sebelum tidur, cerita Mbah Harjo Winangun. Tentang sebagian sanak saudara dari Winangun yang banyak tinggal dan menetap di daerah Jawa Timur.
Mereka para keluarga itu mencari penghidupan yang lebih baik. Setelah masa-masa sulit yang merupakan alami semasa pendudukan Jepang. Juga suramnya ekonomi pada awal kemerdekaan bangsa Indonesia baru terbentuk.
" Assalamu'alaikum!" Seru Ibu Sarita memberi salam, kepada semua orang. Beliau tampak mendorong sebuah kursi roda, dengan seseorang wanita tua yang duduk di sana.
Wajah wanita tua itu itu tampak bersih, sehat dan terawat. Tetapi wajahnya itu masih sedikit meninggalkannya sisa kecantikan di masa mudanya itu. Walaupun dipenuhi kerut dan keriput. Tanda dia sudah lama hidup di dunia. Juga merasakan asam-garamnya perjuangan Kehidupan dalam keluarganya.
__ADS_1
" Eyang, ini Asti. Cucunya Harjo Winangun!" bisik Ibu Sarita di telinga wanita tua itu.
" Ya, Allah! Harjo Winangun! Aku masih bisa melihat cucumu di sini!" bisiknya haru. Tak lama wanita tua itu terdengar, menangis tergugu.
" Eyang Astuti, aku Asti. Cucunya Harjo Winangun!" ujarnya sambil mengulurkan tangan.
Wanita itu tidak menyalami Asti, justru memeluk tubuh Asti erat-erat. Dia berusaha menahan air matanya yang menetes. Betapa waktu yang telah lama berlalu, juga masih meninggalkan kenangan pahit itu.
" Ini siapa?" tanyanya bingung. Karena melihat banyaknya orang yang menjadi tamu di rumahnya ini.
Di hadapannya berdiri Lek No, Bulek Ratih , Leon dan Ninuk. Mereka semua bergantian menyalaminya. Sementara yang lain duduk di teras depan. Di sana mereka segera dilayani oleh seorang para ART yang membawakan banyak minuman teh hangat, dan kue-kue untuk para tamu itu.
" Aku Sarno Winangun, Eyang Astuti!" ujar Lek No hormat.
" Sarno anaknya, Lastri Tambak?" ujar wanita itu terbata-bata. Mengingat sanak saudara yang masih tinggal tertinggal di sana.
" Iya, Eyang ... Si Mbok masih sehat dan tinggal di kampung. Bapak Wahyudi Tambak sudah lama meninggal..."
Mereka terkejut, ketika Wanita tua itu beberapa kali memukuli dadanya., sedikit kuat. Walaupun sudah dilarang oleh Ibu Sarita.
" Jangan , Eyang!"
Tampaknya Om Sam dan Istrinya tak terpengaruh oleh keluhan wanita tua itu. Mereka berusaha menenangkannya. Sambil mendorong kursi roda itu kembali ke kamarnya yang ada di ujung ruangan
" Ayo, kita masuk! Sebentar lagi Pak Camat dan istrinya datang dan bergabung untuk makan siang. Pagi tadi mereka mendapat panggilan ada acara pengukuhan di Kantor kabupaten!" Lapor Ibu Sarita.
Mereka dibawa masuk ke ruang keluarga. Di sana banyak foto-foto keluarga dipasang di dinding dengan wallpaper bermotif lebih kecil, Namun terpadu harmonis dengan tatanan ruang keluarga itu.
Tampak banyak foto wajah-wajah anggota keluarga itu di tercetak dalam bentuk kanvas. Diberi frame warna keemasan, sehingga tampil sangat mewah dan menawan.. Sampai ada satu pigura yang sangat besar dengan foto formasi keluarga Pak Camat secara lengkap. Ada Eyang Astuti di tengah diapit oleh Pak Camat dan istrinya, para anak, cucu dan cicit, dalam pakaian kebesaran adat Jawa.
Qani mulai terlelap di strollernya. Sedangkan Akbar masuk dalam pelukan ayahnya... Bocah lelaki itu sudah memakan setengah bungkus dari biskuit kesayangannya. Sampai terdengar pintu pagar depan dibuka, dan masuklah sebuah mobil Alphard terbaru berwarna hitam. Mobil itu dikendarai seorang supir yang dengan sopan membukakan pintu untuk penumpangnya turun.
" Pak Leon!" Sapa lelaki yang usianya sepantaran dengan Om Sampurno Hardiman Winangun. Leon meletakkan Akbar di pelukan Lek No dan menyalami tangan Pak Camat yang dikenalnya dengan nama Prayoga Pratama Wijanarko.
" Sam, mana Asti yang katanya masih keponakanku?" Pria itu bingung melihat karena melihat ada lima wanita duduk yang hampir sebaris, dari yang masih beliau sampai berusia tua.
" Saya, Pakde!" seru Asti, langsung datang dari kamar lain ...Tadi Eyang Astuti sedikit gelisah, karena anak menantunya belum pulang. Padahal jam makan siang sudah agak lewat.
__ADS_1
" Allahu Akbar! Kamu sangat mirip dengan Emilia!" Seru pria itu takjub.
Ucapan pria itu bagai palu godam yang menghantam dadanya. Timbul rasa sedih, haru juga tak percaya. Sebab hanya sedikit sekali orang yang mengenal wanita yang telah melahirkannya itu. Dua bulan tinggal di Desa Sendang Mulyo, Emilia jarang keluar rumah setelah melahirkan bayinya, juga kehilangan suaminya.
Pria itu memeluk erat Asti penuh haru. " Sayang, ibumu tak bisa mendampingi kamu sampai sekarang... Kasihan Yusuf harus menjaga dan menggurus adiknya sendirian..."
Semua terkejut mendengar ucapan pria itu. " Kalian belum pada makan , kan? Ayo kita makan siang dulu! Tadi saya harus menghadap Pak Bupati!" ujarnya ramah.
Mereka digiring lebih masuk lagi ke dalam rumah. Di sana ada ruangan makan yang besar dengan dinding pembatas ruangan itu berupa akuarium air tawar yang panjangnya lebih dari 2 meter.
Akbar terkejut. Matanya sedikit melotot melihat berbagai jenis ikan warna-warni berenang di akuarium raksasa itu dengan aquascape yang sangat menarik. Mirip di sebuah sungai besar dengan segala ekosistemnya.
" Ibu, ikannya bagus!" bisik Akbar takjub.
" Boleh lihat, tetapi kacanya jangan dipegang atau diketok - ketok nanti pecah!" ujar Asti pelan, memberi pengertian.
Leon memberi anaknya itu minum, sebelum Akbar bergerak lebih dekat ke dinding kaca aquarium itu. Cahaya lampu yang ada di dalamnya memberi warna cerah dari tanaman hijau yang ada di dasarnya. Lengkap dengan pemandangan sungai, dan air terjun yang berbuih putih.
"Ini Hernani istri Pakde. Dia asli orang Yogyakarta!"
Wanita paruh baya itu, istri Pak Camat itu masih tetap ayu dengan sikap dan bicaranya yang lemah- lembut. Dia segera menyalami mereka semua. Pak Prayoga akhirnya memeluk Lek No. Dia baru mengenali pria itu yang merupakan keponakan Pak Harjo Winangun.
Tanpa banyak kata, segera pria itu menyuruh para ART segera menyiapkan makan siang. Mereka dilayani oleh tiga ART yang segera membawa berbagai wadah makanan.
Mereka menikmati makan siang yang lezat dan lengkap. Dari Sup Iga sapi, tempe dan tahu bacem. Ada empal gepuk sampai peyek kacang. Juga tidak ketinggalan sambel dan kerupuk.
" Mbok Pah Ini, asli Solo! Sudah lama ikut kami sewaktu anak - anak masih kecil. Jadi dia yang masak semuanya... Maklum lidah Yogyakarta sang istri dan masakan daerah ini rasanya agak berlawanan jadi diambil tengahnya saja !" ujar Pak Prayoga memulai ceritanya.
" Pakde apa mengenal ayah dan Ibu saya?" tanya Asti tak percaya.
" Tentu, waktu saya tinggal dan kost di Yogyakarta untuk menyelesaikan pendidikan S2. Kakekmu yang mendapatkan alamat tempat kost saya, sampai saya setelah dan mengenal dekat dengan ayahmu. Bagas Prasetyo Winangun. Selama setahun itu saya jadi dekat, dan sesekali datang ke desa Sendang Mulyo. Sebab anak - anak dan istri masih tinggal di Surabaya...." Cerita Pak Prayoga.
" Emilia sering membantu keluarga Pakdenya yang berjualan di dekat kantor tempat bapakmu bekerja, di sebuah kantor ekspedisi barang. Sayangnya ayahmu hanya menyelesaikan D2 akuntansinya, dan langsung bekerja. Padahal Bagas bisa melanjutkan kuliahnya sampai S2 pun. Sebab , Pak Harjo Winangun masih sanggup membiayainya..."
" Saya dan teman-teman satu kost mengenal Emilia lebih dahulu. Gadis dari Kalimantan itu lebih tertarik pada ayahmu yang tampan dan masih muda. Tetapi ayahmu lelaki yang sangat bertanggung jawab... Setelah menikahi Emilia, dia bekerja lebih giat untuk menghidupi istri dan calon anaknya. Bahkan sampai menerima tawaran dari bosnya untuk membawa barang - barang dengan truk ke Jakarta, untuk mendapatkan uang tambahan. ... Pada saat itulah Bagas mengalami kecelakaan yang sangat fatal... Ayahmu tewas, padahal Emilia sedang hamil besar, "ujarnya pelan.
"Sekarang kakak tiri ibumu menetap di Malang... Dia menikahi gadis setempat. Setelah. merawat adiknya sampai sembuh."
__ADS_1
Tiba-tiba, tubuh Asti menjadi sangat lemah dan ringan... Semuanya di sekitarnya menjadi sangat gelap. Gelap gulita ....