
Ruangan itu terasa dingin dan sepi. Asti terbangun dengan kepala yang sangat berat dan terus berputar - putar. Penglihatannya semakin terang sampai dia mulai memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ini seperti sebuah ruangan di rumah sakit?
" Asti, kamu sudah bangun?" tanya Bulek Ratih lembut.Tangan lembut wanita itu terulur memegang dahinya.
" Saya di mana ini, Bulek?"
" Ini masih di rumah Pak Prayoga.. Kamar ini dulu untuk merawat Eyang Astuti saat beliau sakit parah! Apa yang kamu rasakan, Asti?"
" Kepala saya sangat pusing, Bulek?" bisik Asti menangis. Berita dari Pakde Prayoga tadi terasa sangat mengejutkan. Bagai pukulan kuat yang menghantam semua pikirannya. Juga terasa meloloskan sendi-sendi tulangnya. Mereka begitu dekat, saudara dari ibunya itu. Tetapi mengapa menjauh?
Dari luar kamar terlihat Leon datang bersama seorang perempuan dengan memakai jas putih. Beliau terlihat sabar dan banyak pengalaman. Apa wanita itu seorang dokter?
" Sayang, kamu pingsan agak lama... Biar diperiksa dulu oleh Dokter Dewi Imaniar, ya?"
Wanita itu tampak bersikap ramah dan lembut. Dia sudah meminta izin untuk membuka baju Asti di bagian dadanya. Sebuah benda logam yang terasa dingin menyentuhnya di permukaan kulit dari bawah leher sampai ke dada. Berkali-kali dokter wanita itu memberi instruksi saat memeriksa Asti dengan teliti. Dia juga memeriksa tekanan darahnya, dengan tensimeter digital.
" Banyak istirahat, ya. Bu! Tekanan darah ibu, cukup rendah... Tolong perhatikan asupan makanannya. Jangan banyak pikiran. Apakah Ibu masih menyusui si Dedek?" tanya Dokter Dewi lagi.
Asti hanya menggeleng atau mengangguk untuk menjawab pertanyaan dokter itu. Kepala terasa masih terasa berat untuk diangkat sedikit saja
Wanita itu tadi melihat bayi perempuan yang sedang digendong oleh pengasuhnya di teras depan. Leon sempat mengusap kepala bayinya itu.
Sedikit demi sedikit Asti mulai menceritakan kepada dokter itu, tentang keadaan tubuhnya. Namun dia hanya terdiam, saat merasa kesedihannya ini, terus - menerus menghancurkan pertahanan dirinya. Seharusnya dia tetap sehat dan berpikiran waras, karena mempunyai dua anak yang masih balita dan perlu diasuh dan dirawatnya dengan baik.
Leon mengecup dahi Asti saat dokter itu pamit. Wanita dokter itu diantarnya keluar pintu kamar. Ada resep untuk menebus obat yang tadi diberikannya itu. Dokter Dewi bertugas di puskesmas Desa Sumber Sari, sebagai kepala Puskesmas di sana. Bangunan puskesmas itu adanya di samping jalan raya utama Desa Sumber Sari. Tepat di sebelah samping bangunan kantor kelurahan yang lama.
" Mari , Dok. Saya antar kembali! " ujar seorang pemuda. Dia adalah supir Pak Prayoga. Dengan menggunakan motor matic miliknya untuk menjemput dokter itu yang masih bertugas di tempat kerjanya. Tentu saja wanita itu mau menerima panggilan dari Pak Camat Prayoga. Sebagai orang nomor satu di wilayah ini.
__ADS_1
Asti mencoba bangun dari ranjang yang mirip ranjang besi yang ada di rumah sakit, karena bisa diatur tinggi rendahnya di bagian kepala.
" Yang , kita tinggal di rumah ini sementara bersama Qani dan Bu Jum. Atas permintaan Pak Prayoga. Biar Akbar kembali ke penginapan, bersama yang lain. Percayalah... Di sana ada Ibu Ratih, Ninuk dan Putri yang akan menjaganya untukmu! Kamu harus lebih kuat... Karena Pakde Prayoga banyak mengetahui semua perjalanan hidup kedua orang tuamu."
Asti menangis di pelukan suaminya itu. Rasa sedih itu sangat menyakitkan. Tetapi dia juga ingin mengetahui bagaimana kelanjutan nasib ibunya di sana, di tanah kelahirannya. Sehingga tidak bisa lagi kembali ke Jawa. Padahal dia masih mempunyai seorang bayi.
Apa yang menyebabkan seseorang ibu bisa dengan teganya meninggalkan bayi yang baru dilahirkannya dua bulan yang lalu? Apakah ada sebuah penghalang besar yang membuat seorang Emilia tidak bisa kembali ke Desa Sendang Mulyo? Wanita muda itu tidak bisa lagi memeluk bayinya, meninabobokan... Apalagi menungguinya sampai dia tumbuh menjadi remaja sampai tumbuh dewasa. Bahkan Asti harus menjalani dua kali pernikahan dalam hidupnya. Sampai dia mempunyai sepasang anak yang sehat dan lucu.
Lek No muncul di depan pintu kamar itu. Wajahnya tampak prihatin. Dia menepuk-nepuk bahu Asti.
" Kamu yang kuat, Asti! Aku sudah telepon Pakde Muin, beliau sudah berangkat ke kota Malang..."
Leon tersenyum perlahan." Mudah -mudahan, Pak Yusuf dan keluarganya mau datang ke sini untuk menemui kamu. Kalau nggak? Kita semua yang akan ke Malang, untuk menengoknya. Setelah urusan pembayaran di kantor kelurahan selesai!"
Bu Jum masih mengendong Qani di halaman samping rumah. Sisa keluarga Asti kembali ke penginapan. Mas Jayeng, supir Pak Prayoga ikut mengantar ke penginapan, sambil mengambil koper pakaian Asti dan Leon juga keperluan Qani dan Bu Jum.
Dibantu Leon, Asti dipapah keluar dari kamar itu. Lagi - lagi, ada satu kresek obat-obatan yang diberikan dokter Dewi, untuk dia minum. Obat itu hampir sama dengan resep yang diberikan oleh Dokter Mursito beberapa minggu yang lalu.
Di ruang keluarga mereka kembali berkumpul.Di sana masih ada Lek No, Pak Sampurno dan istrinya juga Istri Pak Prayoga juga. Mereka menyambut kedatangan Asti yang terlihat kalut dengan wajahnya yang pucat.
" Maaf, Asti... Pakde juga baru mendapat informasi ini sebulan yang lalu... Selama ini Yusuf menyembunyikan jati dirinya dan adiknya, demi keamanan hidup mereka. Karena mendapat ancaman pihak lain. Yang nggak saya habis pikir, salah satu pria yang mengancam itu malah menikahi almarhumah bude kamu!"
Asti bersandar lemah di tubuh kokoh Leon... Pria yang merupakan sepupu ayahnya itu terus bercerita. Sampai kakak ibunya itu mendengar, ada beberapa orang penting di sebuah kota menggunakan nama Winangun..Pada pria itulah dia memohon perlindungan dan perlindungan. Ternyata Pria penolongnya itu masih berkerabat dengan sanak saudara mereka yang asalnya dari sebuah desa di perbaiki Jawa Tengah dan Jawa Timur.
" Memang Om kandung kamu itu pernah mencari kamu ke desa Sidodadi... Dia cukup lega, melihat kehidupanmu yang lebih baik. Apalagi setelah mendengar kamu bercerai dengan suami pertamamu, karena lelaki itu berselingkuh dengan perempuan yang lain . Tetapi dia masih takut dengan ancaman dari keluarga Juwono itu. Jadi dia hanya memantau dari jauh ..."
" Maksud, Pakde. Ada adik ibu memantau kehidupan saya ?"
__ADS_1
" Iya, adik kandung Ibumu itu harus beberapa kali menjalani operasi akibat akibat mendapatkan luka dalam peristiwa kebakaran itu. Dia diasuh kakak tirinya di Surabaya. Mereka terus mendapat ancaman dari Juwono bersaudara itu yang terus berusaha menyingkirkan mereka. Pria licik itu juga sangat jahat. Dia punya banyak kepentingan dibalik kepergian ibumu... "
" Setelah tumbuh dewasa, adik ibumu itu cukup tenang, karena masih ada keturunan kakaknya yang tinggal di Jawa. Entah dendam apa yang terjadi pada pria yang dulu menjadi mantan kekasih ibunya itu, sehingga mereka ingin menghancurkan seluruh anak keturunan dari Ibu Sarifah.
Dalam peristiwa itu, Nenek dan adiknya meninggal secara tragis. Sampai keluar besar membantu Yusuf meninggalkan tanah kelahirannya, agar dendam itu tidak sampai menghancurkan semuanya. Lebih mengejutkan lagi, saat mereka mendapatkan berita kala Emilia tidak pernah kembali ke kampung suaminya di Jawa Tengah.
" Di mana Om saya tinggal, Pakde?"
" Sampai saat ini, hanya Yusuf yang tahu. Sebab dia tidak tinggal dengan kakak tirinya... Yusuf juga sudah menikah dan berkeluarga... Kakinya yang cacat tak menghalangi Ardi untuk bekerja dan mempunyai punya usaha sendiri!"
" Om Ardi? Itu nama Om saya?"
" Iya, sebenarnya mereka dapat mengganti nama dan identitas asal, sebab banyak surat penting yang hancur dan rusak pada peristiwa kebakaran itu. Tetapi mereka masih menghormati nama besar keluarga yang dicantumkan pada akte kelahiran mereka... Nenek dan Kakekmu yang di Banjarmasin sudah meninggal kira- kira hampir sepuluh tahun yang lalu.."
Mereka terdiam... Sampai Pak Sampurno dan istrinya pamit pulang untuk kembali ke kota Madiun. Mas Jayeng pun sudah datang dengan membawa koper pakaian Asti dan Leon, tas besar milik Bu Jum dan Qani. Akbar akan dijaga Putri dan Ninuk.
" Apa kami tidak merepotkan, Pak Prayoga dan keluarga di sini!"
" Leon, kamu suami Asti. Dia sudah seperti anakku sendiri... Dalam keluarga Winangun, kita berkerabat dan bersaudara...Itulah nilai-nilai keluarga besar kami. Sejak dulu, buyut-buyut kami mengabdi pada raja-raja besar di Yogyakarta dan Surakarta. Kami bukan keturunan bangsawan berdarah biru. Tetapi keturunan pejuang, yang bekerja keras untuk mensejahterakan kehidupan rakyat dan orang banyak!"
Asti sudah berada dalam pelukan Ibu Hernani, istri Pakde Prayoga. sambil mendengarkan cerita berikutnya.
Awalnya, mereka kurang yakin dengan cerita yang disampaikan Pak Sampurno, ketika ada seorang pemuda yang mengaku kerabat yang datang dari Desa Sendang Mulyo datang bertamu ke rumahnya. Joko datang ke keluarga Sampurno Hardiman Winangun itu hanya untuk bersilaturrahmi saja.
Joko mempunyai kepentingan tersendiri di wilayah Madiun itu. Untuk mendapatkan data dan fakta secara resmi tentang lahan luas di desa Sumber Sari yang akan dijual.
Pak Sampurno baru yakin, kalau dia sepupu Asti, setelah Joko memperlihatkan foto-foto Asti, juga rumah Joglo peninggalan leluhur mereka yang tidak berubah banyak dalam masa lebih dari 50 tahun yang lalu. Barulah Pak Sampurno percaya.
__ADS_1