Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 166. Kehadiran si Perusuh


__ADS_3

Keadaan Asti mulai membaik. Dia hanya dapat menatap Wajah Bulek Ratih yang terus berjaga di sisinya. Kemarin dokter sudah menjelaskan tentang keadaan Asti sampai kemungkinan yang terburuk, bagi para dokter untuk mengambil suatu tindakan demi menyelamatkan nyawanya.


Leon sudah pulang dan berganti pakaian... Untuk sementara dia akan menugaskan kepada kedua asisten nya itu untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang tersisa di lapangan. Sebab dia harus berjaga penuh di samping Asti di rumah sakit.


Kang Kasat dan istrinya pun sekarang sudah berada di rumah Asti. Mereka membantu Bu Jum untuk mengurus mengurus Akbar.


Secara hati - hati Joko membuat postingan dan foto Asti yang mendapat perawatan intensif di rumah sakit, di medsos miliknya. Pada postingan itu, Joko memohon doa dari para saudara, kerabat dan rekan juga sahabat untuk kesembuhan Asti, saudara sepupunya itu.


Tak lama hape Bulek Ratih, Mbak Ning bergantian berbunyi. Mereka mendapat banyak ucapan doa agar Asti dapat melewati semua penyakitnya itu.


Secara bergantian kedua wanita itu menjaga Asti di ruang VVIP yang telah dipilih Leon. Mereka terus berjaga di sisi ranjang Asti dengan bantuan para perawat dan Dokter yang menanganinya.


Sampai senyum Joko melebar. Di hapenya, ada ucapan dan doa yang tulus khusus dari japri Almira, ke WA Joko...Kini tinggal tugas Dimas yang mengantar dan menjemput Bulek Ratih atau Mbak Ning untuk pulang atau kembali ke rumah sakit. Bergantian kedua wanita itu akan menjaga Asti.


Sedangkan Leon dan Joko bersepakat untuk tetap stand by di rumah sakit. Kemungkinan dengan segala resiko yang mereka ambil dari peristiwa ini. Bahkan di bagasi mobil Leon ada dua tas yang berisi pakaian ganti kedua pria tersebut.


Sore hari, terlihat sosok Almira datang dengan membawa parcel buah dalam keranjang rotan kecil. Tadi Mbak Ning, sudah meletakkan sebuah alat kecil seperti rekaman suara di dekat vas bunga. Di atas lemari kecil, dekat ranjang tempat Asti berbaring ...Benda canggih berwarna hitam itu ditutupi setumpuk tissue untuk menyamarkannya bentuknya.


" Assalamualaikum!" Salam Wanita cantik itu.


" Walaikum Salam, masuk. Mbak! Silahkan duduk! Tadi Mas Leon baru mengantar Ibu Ratih pulang. Saya yang akan berjaga malam ini di sini!" Ujar Mbak Ning sopan.


" Bagaimana keadaan, Mbak Asti?"


" Kurang baik, Mbak.. Karena banyak pikiran, tekanan darah Mbak Asti sangat tinggi. Takutnya bayi itu harus dilahirkan secara prematur..... Jadi para dokter sudah bersiap untuk melaksanakan operasi Caesar. Sewaktu- waktu." Wajah Mbak Ning benar- benar terlihat sedih.

__ADS_1


Ada senyum sedikit terpulas di bibir Almira ketika melihat Asti terbaring dengan berbagai kabel dan selang melintang di bagian tubuhnya. Segera wanita itu mengambil duduk di sofa di dekat pintu. Ketika seorang suster meminta izin masuk untuk mengecek tekanan darah dan mengganti botol infus ... Setelah itu si suster permisi keluar dari ruangan.


" Mbak Almira, bisa titip Mbak Asti sebentar, ya? Saya perlu mengambil sampel darah Mbak Asti di lab di lantai atas. Semoga hasilnya baik... Agar bayi itu tetap bisa dilahirkan secara normal bulan depan!" Pinta Mbak Ning bersungguh-sungguh.


" Silahkan!" ucap Almira sopan.


" Aduh, jadi merepotkan Mbak Almira. Nggak apa -apa ini saya tinggal sebentar?"


Senyum manis Almira terlihat tulus. Dia benar - benar tidak keberatan ditinggal untuk menjaga Asti.


Setelah yakin, Mbak Ning sudah pergi, barulah Almira beranjak bangun dari duduknya. Dia berjalan menuju ke arah ranjang Asti... Wanita muda itu menatap penuh kemenangan pada tubuh Asti yang terbaring tanpa daya di ranjangnya. Hanya bunyi-bunyi pada alat mesin itu yang menunjukkan kalau wanita yang sedang berbaring tenang di atas ranjang besi itu menandakan, kalau dia masih hidup dan bernapas.


" Maaf, Mbak Asti... Saya melakukan semua ini, karena saya kecewa dengan Pak Leon... Dia menolak cinta dan perhatian saya, yang jelas - jelas lebih unggul segalanya dari Mbak! Saya nggak mau kamu hidup bahagia! Sebab hidup saya juga nggak bahagia. Semua orang memuji kesederhanaan dan kebaikanmu! Aku benci itu! Karena kamu terlahir dari keluarga kaya, dari keturunan Winangun, sehingga semua orang menghormatimu!"


Tubuh Almira sampai terdorong ke belakang, karena terkejut. Sampai kakinya menabrak sofa. Kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan untuk melihat keadaan. Sampai dia menyadari kalau di kamar ini, tidak ada satu orang pun yang akan mengetahui perbuatannya.


" Maaf, saya nggak akan melupakan kebaikan Mbak Asti selama ini..." Kata Almira lagi, lalu berjalan ke sisi ranjang Asti. " Tetapi itu percuma kan? Ini curhat saya yang sebenarnya. Karena selama ini saya hanya berbohong. Saya tidak pernah bisa mencintai Mas Pram suami saya. Karena dia bukan Pak Leon! Kami dua orang yang sangat berbeda-beda. Sangat jauh berbeda! Mas Pram dituntut oleh pekerjaannya untuk mencari pendamping hidup, untuk menunjang kariernya. Kalau saya, menerima itu, karena Pak Leon selalu menjauhi saya. Saya hanya orang miskin, Mbak! Jadi sudah biasa disepelekan dan tidak dihormati... Bapak saya hanya guru SD sampai dia pensiun. Ibu hanya membuka warung kecil di depan rumah.... Jadi saya harus sukses dan kaya, baru orang menghormati saya! Bukan seperti Mbak Asti yang punya banyak warisan sehingga banyak pria yang mencintai Mbak Asti termasuk Pak Leon..."


Wajah Almira menatapnya penuh amarah dengan menahan segala emosi. " Saya hanya menjual cerita tentang Mbak Asti, agar Pak Leon mau dekat dengan saya! Tetapi sialnya, pria itu lebih tertarik pada Mbak Asti ! Bukan pada saya! Maaf, semoga pengakuan ini menjadi pengakuan dosa saya. .. yang terakhir , Semoga Mbak Asti masih diberi keselamatan dalam operasi nanti...."


Suara pintu yang dibuka perlahan dan masuknya dua orang pria ke dalam ruangan itu, tidak terlalu didengar oleh Almira. Sebab wanita itu masih memandangi Asti yang sesekali meneteskan air matanya... Ada rasa sesal di dada Asti karena terperdaya oleh permainan curang perempuan muda ini. Sungguh perbuatan wanita ini sangat tercela!


" Sudah kamu rekam semua, Joko?" ujar Leon pelan tetapi terdengar jelas.


" Sip, jelas banget... Kalau rekaman ini tersebar ke publik akan sangat viral nanti... Apalagi, satu kabupaten yang akan menghujatnya. Wanita muda yang sangat ambisius dan berbuat sangat jahat dengan perempuan lain yang memperlakukannya seperti adik perempuannya sendiri..."

__ADS_1


Almira kembali terkaget-kaget... Saat dia berbalik, sudah ada Joko dan Pak Leon di ruangan rawat pasien yang cukup mewah ini, tempat Asti mendapat perawatan yang tebaik.


" Apa? rekaman... Viral?" ujar Almira agak takut.


" Ya, kami sudah mendapat rekaman gambar dengan suara yang jernih semua pengakuanmu... Selamat Almira atas permainan sandiwaramu yang sangat ciamik. Semoga ini menjadi obat bagi kesembuhan bagi Asti. Sebab ular ini tidak akan menggigit tangannya lagi... Enyahlah kamu iblis wanita berhati busuk dari hidup kami dan anggota keluarga kami! ... Kalau kamu masih menghubungi Asti, niscaya rekaman ini tidak hanya diterima suamimu saja. Tetapi keluargamu dan teman - temanmu!" ucap Leon lantang.


Almira memandang pada sebuah benda yang dipegang oleh Leon di tangannya. Benda yang mampu menelanjangi jati dirinya...


" Ayo keluar! " perintah Joko tak sabar. " Berlari yang lebih jauh lagi, Almira. Sebelum dosa-dosa ini mengejar kamu!"


Brak! pintu itu didorong Almira dengan kuat saat dia keluar kamar Asti dengan terburu-buru. Tubuhnya bergetar menahan marah, malu dan kecewa. Dia sungguh tak tahu, kalau Leon dan Joko akan menjebaknya... Tubuh Almira semakin limbung saat lift membawanya ke lantai lobi rumah sakit... Dia terus membawa tubuhnya yang gemetaran keluar dari gedung rumah sakit swasta terbaik di wilayah ini.


Nanar matanya mencari-cari sebuah kendaraan yang tadi mengantar ke rumah sakit ini. Ada banyak mobil berwarna hitam di parkiran. Tetapi dia tak melihat dapat melihat sosok suaminya dengan jelas, yang berada di sana... Tak lama , Almira berjalan keluar dari halaman parkir, menuju jalan raya yang cukup ramai lalu lintasnya di depan rumah sakit ini. Dia terus berjalan tanpa arah. Kepalanya terasa kosong dan ringan...


Sementara di ruang perawatan Asti, Leon mendekati tubuh Asti...Istrinya itu hanya menatapnya dalam diam... Banyak yang ingin dia katakan. Tetapi pria itu mengusap lembut perut buncitnya dengan lembut.


" Kamu sekarang bisa percaya padaku, kan? Kalau Almira terlalu terobsesi dengan semua yang harus dicapainya... Aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu... Tolong percaya padaku! Jangan hukum dirimu seperti ini, ya?" Bisik Leon lemah lembut.


Keadaan Asti semakin membaik dari hari ke hari. Tadinya Leon berharap Asti tetap tinggal di ruang perawatan ini selama seminggu. Tetapi Asti sudah sangat kangen dengan Akbar dan rumahnya.


Kedatangan Mbak Mesya dan Mas Pandu pun semakin melegakan perasaan Asti. Ternyata Pria itu yang melarang adik iparnya dekat dengan Almira. Walaupun pekerjaan gadis itu baik. Tetapi sikapnya susah ditebak... Sukses besar di acara pameran itu membuatnya menepuk dada. Padahal itu adalah kerja team. Beberapa rancangan Almira juga banyak diperbaiki pegawai seniornya di kantor. Tetapi semua diakuinya sebagai idenya dan kreasinya sendiri.


Pulang ke rumah, Asti sudah disambut para tetangga. Juga Ibu Haji Anissa... Wanita penyabar itu sampai mengelus dada berkali-kali mendengar sepak terjang Almira dari cerita Mbak Ning.


Padahal Adam yang selalu menolong adik kelasnya sewaktu mereka di SMA itu. Bahkan mereka bertunangan hampir dua tahun ini. Belum lama Almira malah minta putus saat keluarga Adam sudah menyiapkan lamaran untuk pernikahan mereka ... Pesona Leon dan kenikmatan kehidupan di kota besar membuat Almira menjadi wanita yang berani mengejar mimpinya.. Mimpi yang sangat tinggi, tanpa berpijak pada kenyataan hidup yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2