
Selama seminggu ini keadaan Asti mulai diliputi kecemasan. Kadang- kadang bayi yang ada di perutnya menendang sangat kuat. Sampai Asti menahan nyeri dan harus mengusap - usap tonjolan di perutnya sambil bersholawat.
Kemarin, hasil pemeriksaannya terakhir di ruang praktek dokter Siska, menunjukkan hal yang positif.
Setelah dokter ahli kandungan itu memeriksa memeriksa kartu catatan kehamilan Asti. Usia kehamilannya sudah di minggu 38. Jadi sudah cukup untuk proses kelahiran secara normal.
Terdengar suara mesin mobil yang berbeda, berhenti di pintu depan rumahnya. Karena Asti sudah dapat menebak, itu bukan kedatangan Satrio. Sehingga membiarkan Bude Prapti yang membuka pintu dan menerima tamu mereka untuk masuk.
" Bulek? "
Wanita yang dipanggil namanya itu tersenyum lebar ketika membuka pintu kamarnya. Diraihnya tubuh Asti yang perutnya semakin membesar dan tampak tak nyaman.
" Sehat, sayangku! "
Asti malah menangis tergugu dalam pelukan wanita yang penuh kasih itu. Tangis Asti itu bisa berarti rasa lega karena akan ada orang terdekat yang terus mendampinginya untuk proses persalinan nanti. Juga tangis rasa cemas membayangkan perjuangan yang harus dijalaninya untuk menjadi seorang ibu.
" Ibu mertuamu baru besok bisa berangkat dari Purwokerto. Ada tetangganya yang meninggal, jadi orang tua Satrio masih membantu keluarga itu."
Laporan Bulek Ratih itu diterima Asti dengan tenang. Mata istri Lek No itu meneliti beberapa barang perlengkapan bayi yang telah disiapkan Asti di kamar ini. Ada lemari kecil untuk baju bayi. Boks tempat tidur bayi di ujung kamar. Rak -rak plastik susun penuh dengan handuk bayi, perlak, kain bedong juga perlengkapan mandi.
" Harus kuat, " bisik Bulek Ratih." Di sini ada penerus Winangun sejati. Membawa nama baik leluhur." Kata wanita lagi sambil mengusap perut Asti.
" Bulek sama Lek No, akan lama tinggal di sini?"
" Pokoknya sampai bayimu lahir. Nanti Bulek sama Ibu mertuamu yang bantu kalau kamu sudah lahiran. Sementara Bude Prapti kembali ke desanya dulu. Anak bungsunya , si Budi mau melamar pacarnya ke Madiun..."
Lek No masih ngobrol di depan dengan Bude Prapti. Ternyata mereka membawa mobil bak terbuka yang sudah dibeli Lek No dua bulan yang lalu. Lelaki itu terus belajar mengemudikan mobil yang akan digunakannya untuk mengangkat hasil panen padi nanti.
Di belakang bak itu ada tiga karung beras terbaik hasil panen sawah mereka di desa. Ada satu tandan pisang raja yang tampak menguning merata juga beberapa butir kelapa.
" Ini pesananmu, Asti. Rumah Bu Anggita yang nomor 24 itu kan?" tanya Lek No.
Pria itu mengangkat satu karung beras untuk persediaan di rumah ini. Juga 6 butir kelapa hijau untuk di minum Asti setiap harinya.
Mobil itu dikendarai Lek No, menuju rumah Ibu Anggita. Asti tak bisa membalas kebaikan istri Pak Sadewo itu, kecuali dengan mengantar sedikit hasil panen dari sawah dan kebun mereka dari desa.
__ADS_1
Sorenya, mereka diramaikan dengan kehadiran orang tua Satrio. Pokoknya semua keluarga sudah berkumpul bersama untuk memberi dukungan moril bagi Asti saat proses persalinan nanti.
Rumah semakin ramai. Justru Bulek Ratih dan Ibu Widya yang ikut tidur di kamar Asti sedang para bapak lebih suka tidur di ruang tengah dengan menggelar tikar sambil nonton bola. Beberapa bulan yang lalu, Satrio membeli antena canggih yang dapat menangkap siaran tv dari luar negeri.
Paginya, Pak Cahyadi mengantar Bude Prapti dan Bulek Ratih berbelanja ke pasar. Banyak Sayur, lauk- pauk yang akan mereka beli untuk disimpan beberapa hari mendatang.
Sekarang, ditemani Ibu mertuanya, Asti berjalan pagi dengan santai melewati beberapa blok dari perumahan khusus anggota polisi itu.
" Pelan saja jalannya. Yang penting tubuhmu juga bergerak dan nggak kaku.." Kata Ibu Widya memberi nasehat.
Mereka kembali menuju jalan pulang, ketika pak sayur mangkal di samping rumah. Di samping rumah Satrio memang ada pohon mangga yang sudah agak tinggi dan cukup rimbun. Kata ibu Ery, penghuni rumah sebelumnya yang menanam pohon mangga cangkok itu dua tahun yang lalu.
Para ibu- ibu berkerumun untuk berbelanja. Asti berusaha menegur tetangganya itu dengan ramah.
" Jalan pagi, Bu Satrio?"
" Iya, Bu. Cari keringat ini...."
Tangan Bude Widya terulur, karena Asti seperti menahan sesuatu di perutnya. " Asti?"
Sesekali dia hanya merasa nyeri yang datang dengan tiba- tiba. Mungkin dia terlalu bersemangat pagi ini. Sehingga berjalan agak jauh, mengelilingi kompleks.
" Mama Mertua sudah datang, Bu Satrio? " tanya seorang Ibu muda yang anaknya baru berusia 11 bulan.
" Iya. Mari ibu- ibu, saya masuk dulu."
Tampaknya, Bude Widya tertarik dengan tumpukan buah mangga matang yang ada di gerobak Pak Sayur. Sehingga Ibu mertuanya itu menanyakan harganya karena mau dibelinya buah kesukaan Satrio itu.
Tak sampai lima menit, Bude Widya masuk ke dalam rumah sambil menenteng dua kantong plastik buah mangga belanjaannya itu.
"Sudah dibayar, Bu?"
"Belum, ini ibu mau ambil uang dulu. Dompet ibu di mana, ya?"
" Berapa harganya semua, Bu?"
__ADS_1
"Dua puluh lima ribu, Asti.. " Suara Bude Widya terdengar dari dalam kamarnya.
Segera Asti mengambil tiga lembar sepuluh ribuan yang selalu disiapkan di atas kulkas. Perlahan, Asti berjalan ke depan rumah. Sekarang para pembeli Pak Sayur juga sudah berganti orang lagi.
"Pak, ini saya bayar mangga yang tadi dibeli Ibu mertua saya, " kata Asti sambil menyodorkan uangnya.
Diantara dua ibu yang masih mengelilingi Pak sayur, ada Jeng Inneke di sana. Dia melihat mobil menepi yang dikemudikan oleh Lek No. Bersamaan dengan itu, dua penumpang lainnya dari pintu belakangnya ikut turun
"Rombongan Perusuh datang!"
Tentu saja Asti terkejut mendengar ucapan Ibu Suparlan itu yang cukup keras dan juga didengar dua ibu di depannya.
Mata Asti bertatapan dengan wanita yang tadi mencemooh anggota keluarganya. Asti berjalan menjauhi gerobak sayur yang diangkut motor lama itu.
Ya, Allah! Berkali- kali Asti mengucapkan istighfar. Mau marah juga percuma! Selama ini segala ucapan wanita itu yang menyakiti dan meremehkannya bisa ditolerir. Sekarang kedatangan keluarganya, apakah menggangu ketentraman hidupnya?
" Kamu belanja lagi, Asti?" Tanya Bude Prapti sambil membawa keranjang belanjaannya.
" Tadi Ibu Widya pengen mangga."
Lek No tertawa," Siapa yang hamil siapa yang ngidam ya, Mas!"
Pak Cahyadi hanya tersenyum mendengar ucapan lelaki itu.
" No, jangan ngeledek, ya.! " Tegur Bude Widya yang baru saja keluar rumah bermaksud untuk membayar belanjaannya.
" Nggak usah, Bu! Sudah aku bayar. Ayok pada masuk semua gerombolan perusuh. Nanti tetangga terganggu lho..."
Suara Asti yang agak keras dan terdengar menahan kemarahan itu mengejutkan semua orang, termasuk dua orang di ibu yang masih berbelanja dan Pak sayur .
" Jeng Ineke, hati- hati kalau bicara, toh. Tampaknya Bu Satrio tersinggung!" Nasehat Ibu Bambang yang rumahnya ada di sebelah kanan rumah Asti.
"Biarin, memang keluarga mereka itu gerombolan perusuh! Semua orang kampung itu diundangnya datang ke rumah ini. Maklum orang desa, ya. Bu? Sudah norak, buat ribut aja kalo bertamu!"
Bulek Ratih yang sedang menurunkan belanjaan yang masih tersisa di bagasi mobil juga mendengar ucapan itu juga. Wanita itu tidak jadi melanjutkan pekerjaannya. Terus diamati gerakan Ibu Suparlan itu yang memutari taman untuk menyeberang jalan di depan rumahnya.
__ADS_1
Tanpa sadar, Ibunya si Ninuk itu mengucapkan istighfar. Sepertinya wanita itulah yang pernah dibicarakan oleh Ninuk beberapa minggu yang lalu. Judesnya kok nggak kira- kira ya?