Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 146. Makna Sebuah Pernikahan


__ADS_3

Kedatangan kedua pria itu yang menggunakan mobil yang mirip dengan kendaraan yang dipakai oleh Satrio dulu, Fortuner abu-abu metalik. Walaupun dari cerita Mbak Almira tadi, kalau kedudukan dan pangkat suaminya cukup tinggi di kesatuannya.


Akbar berlari menyambut kedatangan sang ayah. Anak itu tetap berada di gendongan Leon, ketika mereka juga mengantar tamunya pulang sampai di teras depan rumah.


" Turun, Dek! Tuh, ayah capek itu baru pulang kerja, " kata Asti memberi tahu.


" Ayah capek?" tanya Akbar mau tahu.


Ada tawa yang keluar dari bibir Pak Leon ketika mendengar pertanyaan itu. " Ayah sih nggak capek... Tetapi baju ayah kotor, nih! Ayah mandi dulu, ya?"


Wajah Akbar sedikit kecewa dengan alasan yang disampaikan oleh Pak Leon itu. Bocah itu mau saja diturunkan di lantai ruang tengah.


" Memangnya Adek mau apa?"


" Main sama ayah!" kata Akbar lagi.


Asti meletakkan segelas teh hangat di meja. Pria itu menikmati teh itu dengan gula yang pas ukuran dengan takarannya yang diinginkannya.


" Yuk, balapan, yuk! Akbar mandi, ayah juga mandi. Nanti kalau terlalu sore, air mandinya dingin.... " Nasehat Asti


" Sama Bu Jum?" tanya anak itu lagi ketika Asti membantu melepaskan pakaiannya untuk bersiap mandi.


" Iya, Akbar mandi sama Bu Jum. Ayah mandi sama Ibu, ya?" Kata Leon genit.


Mata Asti melirik tajam kepada suaminya itu. Walaupun tidak ada kata yang aneh yang disebutkan laki- laki itu. Tetapi tetap membuat Asti agak malu juga.


" Lihat, si bayi itu bingung, kan?" Kata Leon tertawa geli, saat masuk kamar tidur utama. Mana Akbar nggak bingung? Si bayi diurus dengan pengasuhnya agar lepas dari sang ibu. Eh, Si bayi bocah tua nakal ini malah nempel kayak perangko dengan ibunya Akbar.


Bu Jum segera membawa Akbar masuk kamar mandi di samping ruang musholla. Tadi wanita itu sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Akbar. Tinggal Asti yang harus mengurus bayi besarnya itu.


Di dalam kamar mandi, masih terdengar suara gemericik air. Asti sudah meletakkan kaos, celana pendek dan ****** ***** sebagai pakaian ganti untuk suaminya. Tumben juga dia mendengar suara berat Leon yang sedang bernyanyi di dalam kamar mandi. Sebegitu senangnya dia hari ini, karena bertemu kembali dengan Mbak Almira. Walaupun wanita cantik itu tidak datang sendirian ke rumah ini. Dia sudah bersama suaminya.


Sebuah tangan kokoh tiba- tiba memeluk pinggul Asti dari belakang. Pria itu malah mengibaskan rambutnya yang basah karena sudah keramas.


" Ini ... aku yang basah, Mas. Jadi orang kok suka iseng!" Tegur Asti marah. Sebab dia juga sudah mandi dan berganti pakaian sejak 30 menit yang lalu.


" Ayok, bantu keringkan! " Pinta Lelaki itu sambil menyerahkan handuknya yang sudah lembab. Cepat Asti membawa handuk lembab itu ke sudut kamar mandi untuk digantungkan. Dia menarik satu laci dari meja riasnya dan mengeluarkan hair dryer.


Asti mencari cepatnya saja. Sementara Leon terbaring nyaman di ranjang, sedangkan Asti dengan lembut mengusap- usap rambut Leon yang sudah tumbuh sedikit gondrong agar cepat mengering dengan alat elektronik pengering rambut itu. Mungkin saking nyamannya , pria itu jadi terlelap.


Asti membiarkan saja. Masih ada sedikit waktu untuk melihat persiapan makan malam yang sedang dilakukan Mbak Ning di dapur.


Di ruang tengah ada Akbar yang duduk manis di atas karpet sambil melihat tayangan kartun di TV. Bu Jum juga ikut membantu Mbak Ning menyiapkan makan malam.

__ADS_1


Suara Azan Magrib terdengar dari kejauhan. Yah, di daerah ini letak masjidnya cukup jauh juga. Kira-kira lebih dari 1 km ke arah timur dari simpangan tiga ini.


Sejak jalan simpang ini dibuat, banyak rumah penduduk, lahan sawah dan kebun terkena pembebasan tanah dari pemerintah karena proyek jalan keluar ke daerah ini untuk Jalan tol trans Jawa. Jadi di sekitar daerah itu sudah agak jarang pemukiman penduduk.


Lain halnya, sebuah desa di ujung Barat dari pemukiman tempat Asti tinggal. Rata- rata sawah dan rumah penduduknya di desa sebelah itu mendapatkan ganti rugi yang layak. Sebab mereka terkena proyek pembangunan perumahan swasta yang cukup besar. Proyek itu sekarang menjadi tanggung jawab Leon di pundaknya.


" Dek, kita bangunin ayah, Yuk!"


" Ayah bobok?" tanya Akbar lugu. Bayi itu menatap pintu kamar tidur utama yang dibuka. Di sana terlihat Leon terbaring nyaman, dengan tubuhnya masih melintang di tengah ranjang.


Akbar sangat paham, sebab Asti selalu membangunkannya setiap dia tertidur menjelang Magrib. Kata orang Jawa, Ra ilok, atau pamali!


Bayi itu naik ke atas tempat tidur. Bukannya membangunkan ayah sambungnya itu dengan cepat. Malahan si bayi itu menciumi pipi dan dahi Leon berulang-ulang penuh rasa sayang.


Hi, hi. Asti geli sendiri melihat tingkah anaknya itu. Tentu Leon tengah bermimpi diciumi bidadari yang datang dari kahyangan.


Mungkin para bidadari itu wajahnya secantik Mbak Almira.


Tak lama Leon terbangun ketika ada tubuh kecil bulat jatuh menimpa dadanya. Setelah melihat suaminya terbangun, Asti melanjutkan kegiatannya untuk wudhu dan mendirikan sholat Magrib.


Leon segera mengendong tubuh Akbar. Dia kaget juga ketika anak itu sudah di atas tempat tidur. Dengan penuh rasa sayang tubuh Akbar diangkatnya tinggi, diterbangkan seperti pesawat.


Di ruang tengah, ada Joko dan dua pekerja warung tenda sholat berjamaah. Sejak Akbar sakit, Leon atau orang-orang di rumah ini akan mengawasi Akbar. Setelah tahu, bayi itu suka memasukan sesuatu ke dalam mulutnya. Walaupun sudah dilarang oleh ibunya.


Akbar sudah tertidur dipelukan Asti setelah Mbak Ning dan Bu Jum selesai makan malam. Joko tadi makan lebih dulu bersama Mas Danu dan Pak Rob.


Di boks itulah Akbar dibaringkan. Asti melanjutkan menepuk- nepuk bokong anaknya itu agar meneruskan tidurnya setelah dipindahkan ke tempat ini.


" Yang, sudah tidur?" bisik Leon.


Pria itu masuk kamar menjelang pukul 21.30. Asti sudah terlelap lama. Sebagai istri dan ibu rumah tangga, terlalu banyak kegiatan yang dilakukannya seharian tadi. Jadi tubuhnya agak lelah juga.


Leon mempererat pelukannya. Si cantiknya yang pendiam ini banyak berinteraksi dengan Almira siang tadi. Bahkan Almira terlalu banyak tahu tentang proyek pembangunan yang sedang dikerjakan itu. Sampai dia menyeret suaminya jauh- jauh yang sedang bertugas di Yogyakarta untuk mengambil salah satu rumah di proyek yang sedang dikerjakannya.


Takutnya, Almira bercerita macam - macam tentang kedekatan mereka dulu. Sebenarnya tak ada niat apapun ketika Leon mengajak wanita muda itu. Almira ikut bergabung dalam kegiatan pameran perumahan yang diikutinya.


Gadis itu cukup membantunya untuk menata both yang memamerkan proyek pembangunan perumahannya itu. Kegiatan pameran perumahan terbesar di Semarang itu berlangsung selama seminggu penuh. Tetapi Almira dan teamnya sudah bekerja lebih dari sebulan sebelumnya di sebuah ruko, di kota Semarang yang dijadikan base camp untuk keperluan acara tersebut.


Sayangnya, proyek besar ini, sekarang dipantau langsung oleh kakak iparnya di Semarang. Mereka sudah mempunyai konsep yang telah matang tentang pembangunan hunian tingkat menengah ini. Termasuk menyeleksi semua orang yang terlibat dalam proses pembangunan perumahan ini


Tengah malam, Asti terbangun. Seperti biasa dia sholat malam. Leon ikut terbangun. Padahal Asti sudah hati- hati ketika memindahkan tangannya yang terus merangkulnya tubuhnya dengan sangat ketat.


" Mau sholat juga?" bisik Asti. Kepala Leon mengangguk.

__ADS_1


Sebelum mereka menikah, Leon sudah berterus terang kepada Asti, kalau dia sangat dangkal akan pengetahuan agama Islamnya. Bahkan jarang melaksanakan kewajibannya untuk sholat sebagai kaum muslimin.


Setelah pindah ke rumah kost milik Pak RT, Leon mulai tergugah dengan kebiasaan dan kehidupan masyarakat di sini. Kehidupan Mereka yang sederhana bersamaan dengan ketaatan mereka dalam beragama dan beribadah.


Begitu juga ketika Leon melihat sebagian pekerjanya yang berada di lapangan. Mereka tetap melaksanakan ibadah sholat lima waktu itu di tempat yang seadanya dan kadang kurang memadai.


Semakin ke sini, Leon semakin mulai meyakini akan arti Islam yang dianut masyarakat di daerah ini. Kaya atau miskin, mereka tetap melaksanakan ajaran agama itu tanpa paksaan.


Contoh yang paling nyata adalah Pak Rob. Pria tua itu bekerja apa pun atas suruhan orang lain dengan upah sekedarnya. Siang hari dia beristirahat dan beribadah di sebuah mushola yang terbengkalai.


Termasuk juga orang-orang yang tinggal di rumah Asti... Mulai dari dua wanita yang bekerja sebagai ART, tetapi diperlakukan layaknya saudara. Begitu juga para pekerja di warung tenda, mereka. Mereka sangat kompak beribadah dan bekerja dalam mengais rezeki.


Keberadaan Asti sebagai janda beranak satu di lingkungan itu juga t dihormati para tetangga. Wanita itu sangat tegar setelah bangkit dari keterpurukannya akibat perceraiannya. Tanpa Asti sadari, cara dia menutup diri, demi menjaga martabatnya, malah membuat Leon tertarik.


Pria itu terus berusaha mencari kesempatan untuk merebut perhatian itu janda muda itu yang terlihat cerdas, santun dan welas asih.


" Tidurlah lagi, Mas. Nanti Subuh aku bangunkan!"


" Kamu nggak mau ngomong soal curhat Almira siang tadi ?"


" Ya, ampun, Mas! Masa kamu mau tahu juga, gosip ala emak -emak seperti kita?" Asti tertawa geli.


Kesal ditertawai Asti, lelaki meraih tubuh istrinya itu dan menjatuhkan agak kuat di ranjang. Tubuh Asti terhentak saking kagetnya. Dia memukul bahu Leon agak kuat, karena kesal.


" Sorry.. abisnya aku gemes sama kamu.." jawab Leon tanpa rasa bersalah.


" Itu artinya, Mas kepo kan? Memang Pak Pram juga nggak cerita apa- apa tentang Mbak Almira dan pernikahan mereka?"


" Lelaki itu malah banyak bertanya tentang proses pembagunan perumahan itu secara detail. Saya pikir suaminya Almira ke sana bukan mau beli rumah, deh! Tetapi menjadi seorang pengawas dari utusan dinas pembangunan setempat. he.he!"


Lembut dan mesra Leon mencium pipi Asti. " Kamu sudah lama kenal dengan Almira?"


" Sudah... Pokoknya sejak rumah ini selesai dibangun dan mau ditempati. Kami berkenalan dengan Mbak Almira di kantornya Mas Adam. Kebetulan saya perlu bantuan seseorang yang pandai menata rumah. Tentu yang harus sesuai dengan konsep bentuk rumah itu. Mbak Almira ahlinya, dia seorang desainer interior."


" Mas Adam juga ikut terlibat dalam pembuatan taman dan beberapa fasilitas di proyekku. Tetapi untuk posisi Almira nggak ada! Masing- masing sudah diatur oleh Pak Randy!"


" Apa suami Mbak Almira jadi membeli rumahnya? Katanya berminat dengan rumah- rumah itu!"


" Terserah mereka, sih! Asalkan kamu tidak terpengaruh cerita Almira tentang kedekatannya dulu denganku!"


" Sudah, ah! Aku ngantuk nih, Mas! Nanti nggak bisa menyiapkan keperluan kamu di pagi hari, bagaimana?"


" Ya, sudah ...aku libur, Nggak kerja!"

__ADS_1


" Ih, kamu. Kalau begini itu nggak lucu, Mas. Lucuan juga Akbar...."


" Tahu! Akbar memang anak kita yang lucu dan konyol kan? Pasti ibunya yang menyuruh dia membangunkan aku tadi sore! Habis ini pipi dan hidungku digigitnya ....".


__ADS_2