
Ibu Atiek masih terdiam di bangkunya. Tadi anaknya, Nurwati pamit kembali ke paviliun dengan membawa beberapa barang keperluan pribadi yang dibelinya di mini market depan.
Sementara suaminya, masih ngobrol dengan para bapak, yang merupakan tetangga di depan rumah Asti. Pria itu tahu, istrinya memang sedikit lebai, kalau mengatakan daerah ini disebutnya pelosok atau pedalaman Padahal di ujung barat desa ini telah berdiri perumahan tingkat menengah, milik perusahaan 'Abadi Murti,' yang sekarang diwakili oleh Pak Leon dalam pengelolaannya.
Tadi pagi, Mas Qosim diundang oleh Leon untuk meninjau proyek perumahan tersebut. Dia dibawa ke lokasi proyek itu dengan mobil Inova milik Asti, diantar Damar. Sebab dia dan Pak Cakra harus menemui seorang klien di kota Madiun, melalui perjalanan darat. Sementara di kantor hanya ada satu pegawai administrasi yang sedang piket dan satu OB yang membersihkan ruangan kantor.
Asti menangguhkan niatnya untuk melihat jualan para ibu yang membuka lapak di depan mini market. Setelah mendapat laporan dari Bu Jum, kalau ada keluarga Mbak Nur juga hadir dan berada di area lapak di rukonya sana. Malas saja, kalau Asti harus kembali berhadapan dengan si Ibu itu, yang terlihat bersahaja. Namun ternyata mulutnya kalau bicara langsung ceplas-ceplos seenak udelnya sendiri. Ucapannya itu lebih pedas dari seseorang harus mengigit lombok rawit merah yang banyak sering disebut cabe rawit setan.
Ibu itu yang nekat memaksa untuk ikut Mas Qosim pergi ke rumah Asti ini, bersama keluarganya. Serasa beliau adalah tamu agung dengan kedatangan mereka itu di ruang Asti dan minta dilayani baik- baik! Sebenarnya, kalau Mbak Nur itu mau minta maaf, atau si Ibu itu tidak banyak cincong! Dengan senang hati Asti akan menerima kedatangan mereka itu. Tetapi gaya ibu yang meremehkan dirinya dan nasehatnya yang salah tempat, membuatnya bersikap antipati terhadap Bu Atiek, suami dan anak perempuannya itu.
" Nyonya Andara itu kasak-kusuk, mencari informasi tentang Mbak Asti dari Pak RT dan tetangga kita lainnya, Mbak?" Lapor Mbak Ning.
" Nyonya Andara, Istrinya Rafi Ahmad itu?" tanya Asti bingung lagi.
Mbak Ning tertawa geli... Kemarin malam dia mencuri dengar ucapan Ibu Ani tentang ledekan yang disematkan kepada keluarga tamunya itu sebagai keluarga Sultan Andara! Mereka menginap di tempat Bu Ani yang cukup layak saja, masih kurang menerima. Walaupun harga sewanya sangat murah. Padahal dulu ditempati oleh Pak Leon dan kedua asistennya saja, mereka tidak pernah banyak mengeluh.
" Ibu Atiek itu kan, Nyonya Andara Kawe , Mbak! " Jelas Mbak Ning.
" Memang sebenarnya dia orang kaya, kok! Suaminya saja mantan pejabat di pemda di kota itu. Yah ... mungkin sindrom ibu pejabatnya yang dulu disandangnya, masih belum hilang... Jadi dia maunya dihargai dan dihormati semua orang. Makanya mulutnya bawel dan ketus, kalau menurutnya kita tidak tunduk dan tidak patuh dengan nya, " Ujar Asti berseloroh.
" Lucu, ya. Mbak? Maunya dia, dihargai dan dihormati orang lain. Tetapi si Ibu itu sendiri suka merendahkan dan meremehkan orang. Yang ada bukan orang hormat sama dan segan sama dia. Tetapi orang malas menanggapinya. Mungkin karena kesal, marah dan sakit hati dengan caranya bersikap itu...." Kata Mbak Ning cepat
" Pasti, gosip dari Ibu Ani lagi, deh?"
" Iya, Mbak ! Tadi sebelum merapikan dagangannya dan pulang! Kata Bu Ani, dia pusing mau tidur dan istirahat di rumah. Sebab tamunya itu kalau ngomel sehari tiga kali, seperti minum obat saja!'
Mereka akhirnya jadi tertawa geli. Tadi sebelum pergi pun, Leon mewanti-wanti, agar Asti tak menerima tamu dari keluarga Nurwati itu! Akbar pun lebih tertarik dengan mainan puzzle yang dibelikan ayahnya ketika mereka mampir ke mall waktu itu.
" Dimas, sudah balik , Bu Jum?"
" Sepertinya, belum Mbak! Memangnya dia nganter Mas Qosim kemana, Mbak?"
" Keliling proyek baru bersama Damar, mungkin! Mbak Ning sudah selesai masaknya?"
__ADS_1
" Beres, Mbak!"
" Ya, sudah ! Sana pada makan lebih dulu ! Biar Akbar di kamar saya dengan Qani...Tolong pintu depan ditutup aja, Mbak Ning!"
Putri membawa Akbar turun dari lantai dua. Qani digendong Bu Jum dan dibawa ke kamar utama untuk tidur siang. Akbar juga sekarang sangat patuh pada Asti. Sejak ibunya itu selalu bersamanya di rumah.
Mbak Ning, Bu Jum dan Putri pun segera makan siang... Mbak Asti tadi sudah menitip untuk dibelikan somay buatan Bu Ani pada Bu Jum. Setelah tahu, keluarga Mbak Nur malah berbaur dengan orang-orang di sana dan duduk-duduk cukup lama di bangku kayu milik warung tendanya Joko.
Pokoknya Asti malas berurusan dengan mereka lagi! Buat apa melayani mereka layaknya tamu agung hanya karena mengunjungi rumahnya. Sedangkan anaknya perempuannya saja, tidak merasa bersalah melabrak orang di tempat umum. Seperti si Ibu tidak mengajari sopan santun dan meminta maaf bila berbuat kesalahan kepada orang lain! Biar mereka mencari akomodasi di daerah pelosok ini! Toh, dia tak mengundang mereka datang ke rumahnya ini.
Lama -lama Asti tertidur juga, setelah selesai sholat dhuhur. Maklum seharian dia mengurus Akbar dan Qani... Anak-anaknya itu sudah menuntut untuk dibawa keluar rumah saat Akbar mendengar sekarang hari Minggu atau libur. Tetapi Leon dan Joko mempunyai kegiatan dan kesibukannya sendiri di hari Minggu ini. Bahkan mobil yang dibawa oleh Dua D itu, alias Damar dan Dimas belum juga kembali ke rumah.
" Ayok, Bu. Jalan - jalan, kan hari libur! Kata Om yang lain mereka nggak kerja! Malah ayah sama Om Caka pergi!"
" Ya, sudah! Akbar bobok siang dulu! Nanti kalau sudah bangun kita jalan-jalan ke rumah Mbah No. Mau?"
" Mau? lihat sapi yang banyak ya, Bu!"
" Iya, sini Ibu puk puk...Biar Akbar boboknya nyenyak!"
Para buruh harian, yang bekerja di proyek pembangunan itu mendapat gaji setiap dua minggu sekali. Setelah bekerja kerja setengah hari di Sabtu kedua, mereka boleh libur di hari Minggu. Hari Seninnya, mereka akan kembali bekerja.
Bagi pekerja harian yang kampungnya sangat jauh dari lokasi proyek mereka terpaksa tinggal di bedeng sambil istirahat menikmati hari libur mereka. Umumnya mereka merantau dari daerah yang sangat jauh. Lain halnya, para pekerja yang merupakan tetangga depan atau lain desa, mereka bisa bersantai bersama keluarga di saat libur. Atau mereka bisa membawa anak-anaknya jalan atau membeli keperluan sekolah.
Leon memberi kabar akan pulang agak malam. Dia memberi izin Asti ke rumah Lek No bersama anak-anak. Dimas dan Damar sudah pulang siang tadi, mereka malah asyik nongkrong di warung tenda bersama anak buah Joko untuk persiapan membuka warung. Bu Jum yang diikut sertakan, karena harus menjaga Qani.
Di balik pagar di seberang rumah Asti, terlihat Ibu Atiek yang sejak siang tadi memantau dari teras paviliun. Dia mengintip ketika melihat Asti yang akan bepergian...
Matanya terbelalak tak percaya, ketika melihat kalau wanita yang menurutnya kampungan itu malah bisa mengendarai mobilnya sendiri. Sebuah Inova berwarna merah marun buatan tahun terakhir. Alias mobil baru!
Asti tidak sengaja membuka jendela di sampingnya, karena dia sedang memberi pesan pada Mas Yanto, yang sedang menutup pintu garasi depan.
" Hati- hati, Mbak Asti!"
__ADS_1
" Iya, Mas. Titip rumah, ya!
Asti menutup separuh kaca jendela itu, sebelum dia menyalakan mesinnya. Tak lama mobil berwarna merah maron itu bergerak mulus meninggalkan halaman depan rumah megah itu.
" Ngapain, Bu?" tegur Nur.
Dia agak curiga saat ibunya dari tadi bolak balik , dari kamar kembali ke teras paviliun.Seperti ada yang diawasi. Tadi , ayahnya dan Mas Qosim terpaksa harus pergi mencari sebuah restoran Padang, dengan mobilnya ke arah pom bensin. Di sana ada beberapa restoran, salah satunya adalah restoran yang menyajikan masakan dari daerah Sumatera Barat itu.
Ibu Atiek meminta dibelikan makan malam dari restoran itu. Karena wanita paruh baya itu tak mau menyentuh makan siang yang dibelikan suaminya dari warung nasi Mbah Peyek yang berjualan di seberang jalan, depan ruko Asti.
Padahal harga satu bungkus nasi dengan ayam goreng, sayur dan sambal itu tak sampai sepuluh ribu rupiah. Namun wanita itu sudah tak berselera makan melihat tampilan masakan warung itu. Menurutnya, masakan seperti itu seperti diberikan untuk pengemis saja.
Bu Atiek terbelalak melihat tampilan dari nasi itu sudah agak kekuningan karena sudah terlalu lama di dalam magic com. Ayam gorengnya keras dan sayuran terdiri dari berbagai sayuran yang dipetik di kebun belakang rumah. Lalu semua dimasak dan dijadikan satu dengan sebutan oseng -oseng.
Wanita itu menepuk-nepuk dadanya karena kaget dengan teguran anaknya. " Kamu Nurwati ! Buat Ibu kaget, saja ... Ibu seperti sedang mimpi ya? Melihat Asti yang kampungan itu ternyata bisa nyetir mobil sendiri..."
" Iya, memangnya nggak boleh , Bu ? Lho orang dia punya mobil banyak. Pasti dong harus belajar mengemudikannya!"
" Emang ibu? Yang maunya pergi ke mana-mana minta diantar supir! Sedangkan mobil dinas pun sudah harus dikembalikan ke kantor saat Bapak pensiun lima tahun yang lalu! Malas belajar mobil dengan sedan tua milik Bapak ..Sering mogok! Enak pakai mobil baru dan bagus, Bu!"
" Ya, sudah...Kita tunggu saja besok ... Semoga Nak Qosim berhasil dengan kerjasamanya! Kamu bisa menikah dengan resepsi mewah di gedung yang bagus. Bisa juga minta mas kawin mobil baru!"
" Kita balik pulang saja, Bu! Di sini nggak enak... Sepi banget! " Keluh Nurwati panjang lebar.
Si Ibu hanya menatap anaknya dengan pandangan tidak suka. "Kamu nggak mau menunggu Nak Qosim berjuang untuk masa depanmu?"
" Kalau Mas Qosim kurang berhasil dalam kerja sama ini. Bagaimana, Bu?"
" Ya, sudah... Batalkan saja rencana pernikahan kalian!"
" Nggak bisa begitu, dong. Bu!"
" Ya, bagaimana lagi! Kamu anak bungsu Ibu... Pesta pernikahan kamu juga harus lebih meriah dan lebih mewah dibandingkan dengan kedua kakakmu, Mbak Tantri dan Mbak Karina! Dulu bapakmu masih pegang jabatan di kantor... Jadi apa-apa gampang... Sekarang, Ibu berharap Nak Qosim menjadi pengusaha sukses dan makmur!"
__ADS_1
Nurwati Fatimah, harus menelan ludah! Rasanya semakin pahit saja. Apalagi, penduduk kampung sini sudah mendengar sedikit kalau dia ada hubungannya dengan Almira... Kasus sahabatnya itu ternyata yang sangat viral, di wilayah ini. Walaupun sudah berlalu lebih dari enam bulan. Tetap saja satu dua orang penduduk masih mengingat jelas video itu, karena saking hebohnya peristiwa itu. Padahal mereka ini adalah warga desa yang kehidupannya biasa - biasa saja dalam kesehariannya.
Bagaimana dengan mantan keluarga suami Almira yang hidup layak dan terhormat di kota Yogyakarta? Tentu video viral Almira itu seperti kotoran berbau yang dilemparkan ke wajah mereka dan keluarga besarnya. Mereka merasa sangat marah dan begitu kecewa!