Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 94. Sepak Terjang Dania


__ADS_3

Perasaan Dania mulai tak nyaman. Mata Asti melihat angka demi angka secara selintas. Tetapi dia tahu, ada beberapa potong barang yang dijual dibawah harga yang disepakati oleh Asti.


" Itu bajuku untuk contoh, sudah kamu serahkan ke orang konveksi belum?"


" Baju yang mana yang mana, ya. Mbak?"


"'Tiga blus dan satu hijab di kantong kresek biru. Sudah ada tulisannya di plastik ada nama saya. Juga pesan buat Bu Shawa. Itu baju contoh yang akan digunakan Ibu Sahwa untuk dibuat masing - masing 1 kodi untuk bulan depan..."


Wajah Dania pucat pasi. " Itu baju contoh?"


" Iya Dania, baju contoh itu milik saya pribadi. Modelnya yang sama tetapi dengan menggunakan bahan yang lebih murah. itu baju mahal, lho! Karena dijahit khusus oleh Mbak Silvana Ajeng Dewi , desainer baju muslimah yang terkenal namanya. Butik cabangnya ada di Solo. Kamu nggak liat ada tulisan namaku di belakang lehernya?"


Setiap Asti berbicara, wajah Dania semakin tertunduk. Dia tampak takut, sedikit cemas dan mulai tidak tenang.


" Dania ada apa? Kok kamu pucat begitu. Kamu Sakit?"


" Soal contoh baju itu Aku kurang paham, Mbak?"


" Itu baju contoh yang seharusnya kamu kasih saat ada pegawai dari konveksi datang ke toko mengantar barang. Apa contoh baju itu sudah kamu kasih ke Mas Jarot?"


" Eh. Oh , belum, Mbak?"


" Dania kamu bicara apa? Mbak sudah bilang kamu itu harus jujur dan amanah! " Suara Asti mulai meninggi.


" Saya lupa untuk menyerahkan baju contoh itu...."


" Sekarang di mana contoh baju punya saya itu, Dania?"


" Ada di rumah, Mbak."


Asti terdiam dan memandang tajam pada Dania. " Saya nggak menyuruh kamu untuk membawa baju saya ke rumahmu! Tetapi diberikan kepada kurir yang datang dari konveksi Bu Shawa!"


Air mata Dania mulai menetes. Belum pernah dia melihat Mbak Asti bicara sekeras ini dengan wajah yang sangat marah.


" Kamu apakan baju saya? Dua dari baju itu harganya lebih besar dari gaji kamu, lho. Saya saja baru memakainya sekali atau dua kali. Karena baju itu termasuk bagian dari barang seserahan di hari pernikahan saya dulu ..."


Sesaat Dania hanya terdiam. Kedua tangannya bertumpu di pangkuannya dan digosok - gosok untuk mengurangi rasa cemas dan takutnya.


" Saya kecewa padamu Dania! Apakah kamu sudah tidak mau berkerja di toko saya? Gajinya kurang besar, ya? Ya, sudah Dania besok kamu bawa dan kembalikan baju- baju saya. Mana kunci toko, sekarang?"

__ADS_1


Tangis Dania semakin keras. Sambil menyerahkan kunci toko, berupa dua kunci gembok besar dan satu kunci untuk kotak uang yang dipasang di salah satu dinding toko. Sampai Lek No dan Bulek Ratih cepat turun dari lantai dua. Sejak dulu, Asti tidak suka dibohongi. Dania sudah membuat Asti sangat marah dan kecewa.


" Kamu pulang sekarang. Kalau baju saya tidak dikembalikan ke toko, besok pagi. Saya anggap kamu berhenti dari pekerjaan kamu. Terserah kamu mau melanjutkan paket C itu. Saya sudah melepaskan tanggung jawab saya!"


" Mbak saya minta maaf, saya salah..."


Dania terkejut ketika melihat kedatangan kedua orang tua Ninuk. Mereka segera duduk di samping Asti yang masih belum bisa meredakan rasa sesaknya karena sangat marah.


" Pak Lek dan Bulek kecewa sama kamu Dania... Terserah kalau kamu sudah nggak mau kerja di toko Asti harusnya bilang dengan baik- baik. Bukan berbuat curang dan berbohong! Apa yang kamu rencanakan dengan si Jago itu?" Tanya Lek No keras.


Wajah Dania saat memandang kedua orang tua Ninuk sudah seperti orang tak bernyawa.Pucat!


" Nggak ada rencana apa- apak, Pak Lek. Kami cuma teman dan ngobrol saja."


" Dania kamu itu perempuan baik- baik. Nggak bisa apa kamu pilih teman laki- laki yang agak benar cara berpakaian, pekerjaan bukan anak geng punk nggak jelas itu. Kalau mereka berbuat kriminal, kamu pasti terbawa dan bisa masuk penjara!"


Ternyata Lek No sudah sering memantau gerak - geriknya selama ini. Apalagi Lek No mungkin tahu kalau dia sering nongkrong di alun- alun setelah pulang belajar di balai Kecamatan.


Bahkan Joko sudah mengantisipasi dengan mengganti gembok dan kunci toko Asti setelah mendapat kunci cadangan. Dia memanggil seorang tukang kunci terkenal , yang mempunyai toko di seberang pasar.


Anak muda itu sudah mendapatkan informasi kalau sudah lama Dania dekat dengan si Jago. Dia bukan pemuda asli dari daerah ini, jadi cukup dikenali oleh kawan-kawan Joko, karena bukan bagian dari mereka.


" Hati- hati, Mas Joko. Lain kali, biar Mbak Asti sendiri yang pegang kunci toko. Jangan percaya pada pegawai remaja perempuan yang masih muda gampang dibodohi oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab." Nasehat bapak yang sedang mengganti gembok toko dan kunci kotak uang di toko Asti.


Pemasangan kunci baru memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Walaupun agak rugi juga karena harus mengeluarkan biaya lebih dari dua ratus ribu untuk membeli semua kunci dan gembok baru itu. Asalkan isi toko ini selamat. Pikir Joko.


Dulu Toko milik Asti ini dibeli oleh Bude Ayu dari sawah yang disengketakan oleh adik-adik ipar Kushari. Mantan suaminya.


Daripada ribut berkepanjangan, sawah yang berbatasan dengan sawah milik keluarga Kushari dijual, dan dibelikan sebuah toko di pasar untuk Asti membuka usaha.


Asti Juga mengeluarkan modal dari uang tabungan yang diberikan Mbah Harjo Winangun. Karena dulu dia punya keinginan untuk kuliah di Yogyakarta atau Semarang.


Sekarang uang itu oleh Asti dibelanjakan bermacam- macam pakaian wanita dan aksesorisnya. Sebab toko Muslimah milik Asti ini dikenal dengan harganya yang murah dengan mutu bagus dan model yang selalu terbaru.


Pantas saja Asti sampai jatuh sakit karena permasalahan ini yang ditimbulkan oleh Dania!


Bukan perkara rupiah yang dikeluarkan, tetapi kejujuran sangat utama bagi orang yang bekerja dengan Asti. Dia sudah banyak menolong orang tua dan keluarganya Dania. Sangat menyakitkan kalau dibohongi dan dimanfaatkan.


Besok paginya Dania datang ke toko dengan membawa bungkusan pakaian itu di kresek biru. Semua tulisan di plastik transparan itu sudah dicopot. Bahkan baju terbaiknya pun sudah berbau deterjen. Tanda sudah sering dipakai Dania. Padahal Asti dulu harus membawanya ke laundry karena bahan semi sutra dan batik tulis itu harus mendapatkan perlakuan khusus saat mencucinya.

__ADS_1


Dania harus sabar menunggu kedatangan Asti sampai lebih dari 30 menit lamanya. Sebelum Asti datang. Sebab toko masih terkunci. Baru hari ini Asti kembali ke pasar, setelah beristirahat lebih dari seminggu agar puluh dari sakitnya.


Wanita itu membawa mobilnya karena ada Akbar, Bu Jum dan satu gadis muda yang lainnya sebagai penumpang. Gadis itu sangat manis dan berpakaian hijab yang lebih rapi dan tertutup.


Dania membantu membuka gembok toko. Dia tak menyadari kalau semua kunci dan gembok itu masih baru. Kemarin Pak Waldi sudah mengakalinya dengan membakar semua gembok itu di atas bara api sebentar, agar tampak sudah lama. Dia dan Joko mengantisipasi untuk menghadapi berbagai kejadian dan serangan tak terduga nantinya.


Pak Waldi juga tinggal di belakang bangunan tokonya itu. Dia sering melihat para anak muda yang wajahnya agak asing berkumpul di dekat alun- alun. Bahkan mereka suka nongkrong sampai dini hari sambil mabuk- mabukan walaupun bukan di malam Minggu.


Dania tak berkutik ketika banyak barang yang dijual tetapi tidak ditulis dari laporan tersebut. Dia pikir Asti tidak teliti. Padahal Asti selalu memberi kode pada wadah- wadah barang itu. Asti merasakan perubahan Dania sejak gadis itu ikut kegiatan belajar paket C di kecamatan.


" Dania, Maaf. Saya memberi ini untuk pesangon. Besok-besok tidak usah datang lagi ke toko ini! Sekarang Puspitasari ini yang akan bekerja di toko ini menggantikan kamu."


Gadis itu mengambil amplop yang diberikan oleh Asti. Dengan tangan yang gemetar. Namun dia terus menangis tanpa suara. Padahal sejak pagi tadi perlakuan Mbak Asti biasa- biasa saja.


Ternyata begini cara Mbak Asti menghukumnya. Walaupun dia juga tidak yakin berapa jumlah uang yang harus diganti karena kecurangan yang telah dilakukannya itu selama lebih dari empat bulan terakhir.


" Maafkan saya, Mbak Asti! Saya banyak salah ... Saya mohon jangan memberi tahu soal ini pada orang tua saya!"


" Saya juga minta maaf, Dania. Kalau tidak bisa memberimu upah yang lebih besar lagi seperti yang kamu mau! Pesan saya, kalau bekerja di tempat lain kamu harus jujur dan menjaga amanah apabila dipercaya seseorang."


Dania pamit sambil menyalami Asti dengan takzim. Dia menatap wajah gadis muda yang duduk di samping Mbak Asti. Gadis yang sebaya dengan umurnya. Gadis itu hanya terdiam karena sudah memahami hal itu. Sejak Mas Firman mengajaknya ke rumah Asti yang memintanya bekerja menjaga tokonya di pasar.


" Lanjutkan belajarmu di balai kecamatan saya sudah membayar semua biaya itu sampai kamu mendapat sertifikat dan ijazah. Semoga itu bermanfaat bagi kehidupan nanti!"


" Terima kasih, Mbak Asti!"


Kepergian Dania bersamaan dengan berkumandangnya azan Dhuhur. Namun hanya Bu Jum yang menitikkan air mata karena tahu, pemecatan itu karena kecerobohannya sendiri.


Padahal Bu Jum juga sangat mengenal kedua orang tua Dania. Sebab mereka bertetangga desa yang letak tempatnya agak jauh di belakang pasar yang hidup sangat sederhana.


"' Kata Mas Firman dia pacaran dengan salah satu anak muda yang nongkrong di alun- alun sana, Mbak!" Bisik Puspita agak ragu- ragu.


" Mungkin pacarnya itu yang membuat Dania banyak berubah dan kurang peduli dengan pekerjaannya ini!"


"Maaf, Mbak! Dania dulu agak juga malas- malasan saat sekolah di SMP. Padahal dia sudah mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari sekolah!"


"Kamu kenal Dania, Puspita?"


"'Sepertinya kami satu angkatan, deh. Hanya beda kelas! Maklum pada waktu itu angkatan kami menerima murid lebih dari 8 kelas. Jadi kurang mengenal dengan teman yang lain. Tetapi ada beberapa siswa yang kurang mampu mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah agar tidak DO. Termasuk Dania!"

__ADS_1


__ADS_2