
Awalnya, Asti sering membawa Akbar kontrol kesehatan di rumah sakit umum pusat itu. Bayinya harus mendapat berbagai jenis suntikan dari imunisasi sampai vaksin, dengan waktu yang sudah dijadwalkan di dalam kartu kesehatannya.
Kadang, Asti pun memeriksakan kesehatan dirinya yang sering lelah berkepanjangan. Sering kesemutan dan mendapat serangan pusing yang datang tiba- tiba. Saat menebus obat di apotek rumah sakit, yang tempatnya ada di gedung lain, itulah Asti melihat Satrio berjalan berdua dengan Zahra siang itu.
Sampai Asti memastikan kalau wajah perempuan itu sama dengan foto yang diberikan Ninuk dulu. Dia seperti mendapat pukulan dari kayu yang sangat besar dan menghantam di tubuhnya. Saat itu juga dadanya terasa sesak, sulit untuk bernapas.
Padahal, Asti jarang sekali meminta Satrio untuk mengantar mereka kontrol ke rumah sakit. Takut mengganggu kesibukan kerja suaminya di kantor. Malah lebih sering Asti mengendarai motornya sendiri dengan Mbok Bayah diboncengnya sambil mengendong Akbar.
Eh, Si suami itu dengan enaknya keluar makan siang dari kantornya untuk menjemput wanita cantik itu di tempat bekerja, menggunakan mobil kesayangannya lagi. Apa tidak miris?
Sampai suatu hari, Asti berangkat sendiri ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya ke bagian khusus. Mungkin karena berangkat agak siang, jadi dia mendapat nomor antrian yang agak belakangan dipanggilnya.
Secara tidak sengaja ada beberapa perawat yang sedang bergosip di dapur. Padahal di sebelah ruangan, tempat para perawat itu ngobrol adalah kamar mandi umum, yang di sebelahnya merupakan ruang tunggu yang banyak dipenuhi pengunjung yang sedang duduk - duduk di sana.
" Zahra itu cepat tanggap banget! kalau lihat lelaki klimis sedikit aja... Main sikat saja! Mau punya istri atau nggak. Masa bodoh, dia!"
" Memangnya dia sudah jadian sama Pak Polisi yang itu?" suara perawat yang lain menimpali.
" Kayaknya jadi, deh! Sebab sib cowok itu sering banget jemput kalau Zahra dapat shif malam. Apalagi bawaannya Fortuner, Sis!"
" Gila! Gimana nasibnya dokter Fadil jadinya?
" Memangnya Zahra begitu, ya?"
" Begitu apa?"
" Cewek matre, Mbak! Dokter Fadil kan baru saja lulus, masih pakai Avanza lama untuk bekerja. Waduh dokter muda itu patah hati dong! Di PHP karena dapat mangsa yang lebih royal..."
" Hum, kemarin aja Zahra pamer hape baru!"
" Dibeliin sama Pak polisi itu? Hus!"
Tiba- tiba suara orang bergosip itu berhenti. Di kamar mandi Asti keluar, perlahan setelah menghapus tetes air mata kekecewaannya. Apalagi ketika perawat yang jadi pembicaraan mereka itu berjalan cepat melewati mereka menuju lorong keluar gedung rumah sakit.
" Lihat! Dia janjian makan siang sama si doi, tuh! " bisik- bisik dimulai kembali.
Asti menjauh dari suara ribut itu. Segera dia beranjak meninggalkan ruang tunggu itu. Ingin sekedar mengetahui, siapa lelaki yang bersama perempuan muda itu?
Cepat Asti berjalan menyelinap di antara pengunjung rumah sakit yang sangat ramai. Waktu itu bersamaan dengan jam kunjungan besuk untuk pasien di siang hari.
Di dekat pintu pagar depan, tampak Satrio berdiri menunggu. Seketika wajah lelaki itu menjadi cerah, ketika melihat Zahra datang. Gadis cantik yang masih muda itu menutupi seragam perawatnya dengan blazer dari rajut hitam panjang. Sedangkan Satrio masih mengenakan seragam kebanggaannya.
Mereka nyaris bergandengan tangan menuju tempat parkir. Seakan dunia hanya milik mereka berdua... Padahal di bawah pohon Flamboyan itu, ada tangis air mata kepedihan seorang wanita, juga istri dari pria tadi. Tangis Asti.
__ADS_1
***"
Potongan ingatan Asti tentang awal perselingkuhannya Satrio dengan Zahra itu kembali menggores hatinya. Bukan hal mudah untuk sekedar mengatakan kalau kita harus menerima cobaan hidup ini dengan ikhlas, sabar dan tawakal.
Sudah lebih dari empat bulan ini Asti berusaha menjalaninya. Sebuah ujian berat yang telah dituliskan Allah untuk menjadi bagian dari kehidupannya, mengalami perceraian.
Kehidupannya saat ini mulai berjalan tenang setelah dia mencoba berdamai dengan hatinya. Kini mereka mempunyai menjalani nya dengan cara masing- masing.
Mengapa justru Satrio datang kembali? Untuk apa dia mengusik lagi kenangan pahit itu? Luka hatinya kembali berdarah.
" Mbak, belum tidur?" Panggil Ninuk .
"Bisa sebentar, tadi. Akbar baru aku dipindahkan ke boks Apa warung Tenda baru tutup, Nuk ?"
Pada jam dinding di ruang tengah itulah Asti menatap angka- angkanya. Hampir pukul 23.00.
" Tadi rame banget, Mbak. Untung banyak yang bantuin. Jadi Mas Joko dan pegawai yang lainnya nggak keteteran."
"Lek No sama Bulek Ratih sudah pulang?"
"Jam sembilan sepertinya baru pulangnya. Sebab anaknya Bu Samad besok mau disunat !" kata Ninuk.
Tampak Mbak Ning mengunci pintu depan. Juga memeriksa beberapa jendela , termasuk pintu samping. Karena sudah lebih tua usianya dari mereka, Bu Jum sudah tidur di kamarnya sejak satu jam yang lalu.
" Mbak Ning, aku Jalan, ya! Bu Jum titip Akbar!"
Suara Asti terdengar lagi. Bu Jum sampai masuk lagi ke dalam rumah. Dia sedang mencuci pakaian dengan mesin cuci, di ruang laundry yang ada di belakang dapur.
" Asti sudah berangkat, Mbak Ning?"
Tiba- tiba Joko masuk dari pintu samping.
" Sudah, Mas!"
Joko menikmati segelas kopi yang disiapkan di atas meja makan. Dia melihat Akbar yang masih tidur nyenyak di boks yang ada di depan kamar Asti. Tadi Ninuk pamit pulang ke desa sebentar, karena sore nanti akan balik ke tempat kost di kota.
" Jangan kasih tahu! Berita tadi malam ke siapa pun, ya!" Ucap Joko setelah menghabiskan minuman kopinya.
Kira- kira pukul 22.00 malam tadi, ada dua anak muda datang ke Warung Tenda Joko. Mereka rupanya anak buah si Bambang. Tampak jelas dari wajah pria muda dengan tato bintang di lehernya itu, hanya mau berbicara dengan Joko.
" Saya Joko, Mas. Ada apa ya?" ujar Joko.
Sejak kedua pria muda datang, dia mencari- cari nama Joko....
__ADS_1
"Saya temannya Bambang Tones, Mas? Mau menyampaikan berita yang sangat penting." Suara pria terdengar perlahan.
Joko segera mengajak kedua anak anggota geng motor itu masuk melalui pintu samping untuk ke halaman belakang rumah Asti. Di pojok sana ada bangku dan meja yang terpisah dari keramaian warung. Untung lampu di tempat itu cukup terang.
" Silakan diminum dulu!" ujar Joko. Sambil meletakkan dua botol minuman Coca cola yang diambil dari cooler khusus untuk minuman dingin.
" Saya Ipong, ini Tama!" pria itu memperkenalkan dirinya. Lalu dia membuka hape.
" Sini, Mas! Apa Mas Joko kenal motor ini?"
Tampak gambar sebuah motor sport hijau yang tergeletak di sebuah jalan di pinggiran kota, karena terlihat jelas bentuk gapura besi tinggi yang ada di atas jembatan di dekat sungai besar.
Tampak motor sport itu rusak parah karena tidak jelas lagi bentuknya. Namun nomor polisinya itu Joko kenali, karena tadi sore motor itulah yang dipakai Satrio ke luar dari rumah Asti.
" Apa Ini motor yang dinaiki, Satrio?"
" Iya, Mas. Sore tadi Satrio mengalami kecelakaan dengan motor ini dekat jembatan besi. Sejak siang, di daerah kami hujan turun sangat deras, jadi jalan di situ agak licin!"
" Bagaimana dengan Satrio?"
" Kayaknya dia luka parah, deh ! Agak lama baru mendapat pertolongan. Sebab dua jam sebelumnya , terjadi kecelakaan yang lebih parah tak jauh dari motor Satrio terjatuh. Malah sampai ada korban meninggal begitu!"
" Tolong pantau terus berita ini! Tetapi cukup beritahu saya saja. Sore tadi Satrio baru dari sini. Dia membuat sepupu saya sakit hati lagi. Sehingga timbul pertengkaran. Entahlah, mungkin hal itu yang membuat Satrio kurang fokus di jalan."
Kedua orang itu tak mampu menolak ketika pegawai Satrio membawa dua piring nasi hangat dan dua mangkuk tengkleng khas desanya.
Mereka berdua pamit, setelah menghabiskan sajian dari Joko. Pria muda itu juga mengantar mereka sampai ke tempat parkir. Sehingga Mas Yanto tahu, kalau mereka teman Joko dan tak perlu diminta uang jasa titip kendaraan.
" Mas? " Panggil Ninuk.
Joko kaget. Ternyata adiknya itu sedang mencuci piring sejak tadi. Tentu dia mendengar ucapan temannya Bambang tadi.
" Ada apa?"
" Mas Satrio, nggak apa- apa?"
" Kita belum tahu, Nuk! Makanya Mas minta mereka mencari informasinya. Eits, rahasia, ya! Jangan kasih tahu siapa pun. Termasuk Asti!"
" Iya, Mas!" Sahut Ninuk lemas. "Apa Mas Satrio baru mendapat karmanya sekarang? Mengkhianati Mbak Asti, tidak mengakui Akbar sebagai anak kandungnya ...."
" Jangan ngomongin soal hukum karma! Yang jelas Satrio itu kufur nikmat. Karena punya segala - galanya. Sekarang diambil nikmat itu satu persatu dari hidupnya oleh Allah!"
Ninuk malah meraih tubuh Kakaknya itu agar dapat dipeluknya erat- erat. Dia begitu takut dengan apa yang terjadi selanjutnya. Sumpah dan kutukan Asti apa lagi yang akan dihadapi keluarga Satrio berikutnya?
__ADS_1