Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 233. Rasa Kehilangan Itu Ada


__ADS_3

Di depan teras rumah Joglo Bu Jum , Mbak Mar dan Mbak Asni masih asyik ngobrol sambil momong Qani. Mereka dikejutkan dengan masuknya mobil Inova itu ke halaman rumah dengan kecepatan tinggi.


Terlebih ketika Leon turun dari pintu depan dengan tergesa-gesa. Dia membuka pintu tengah dan melihat keadaan yang istrinya yang sudah pingsan. Tanpa berkata-kata, digendongnya tubuh istrinya itu ala bridal style dan dibawa masuk ke dalam rumah Joglo. Bulek Ratih dengan cepat menyusul mereka di belakangnya. Sambil membawakan tas tangan keponakannya itu.


Lain halnya dengan Lek No yang segera menutupi pintu samping mobil, juga pintu lainnya. Karena semua turun dalam keadaan terburu - buru dan panik. Apalagi wajah Leon yang sangat cemas ketika istrinya itu tidak merespon panggilan Bulek Ratih sejak mereka meninggalkan halaman rumah Pakde Kerto.


Pria itu dengan cepat menempuh perjalanan yang tak sampai 15 menit itu, agar cepat sampai di rumah. Bahkan saat memarkirkan mobil itu secara sembarangan saja. Lek No kini yang sudah menutup pintu Inova itu satu demi satu. Juga sempat meraup barang - barang pribadi milik Leon yang ditinggalkannya begitu saja di dashboard mobil... Ada hape, kacamata dan dompetnya. Pria itu tahu kalau barang itu dibeli dengan harga yang cukup mahal.


Bulek Ratih segera berlari ke dalam kamarnya. Dia mencari minyak kayu putih atau minyak apapun untuk membuat Asti tersadar dari pingsannya itu. " Ayo Asni, Mar! Bantu!" ujar Bulek Ratih kembali masuk ke kamar Asti, dibuntuti kedua sepupunya itu.


Segera Mbak Mar menutup gorden jendela kamar. Dibantu kedua sepupunya, Bulek Ratih membuka kerudung, ciput dan gaun gamis yang dipakai Asti.


Bu Jum segera membawa Qani keluar dari rumah. Karena menyadari keadaan majikannya itu tidak baik - baik saja. Takut juga kalau bayi itu menangis melihat ibunya. Sempat juga Bu Jum melihat wajah pucat Asti dalam gendongan Pak Leon.


Mereka bekerja cepat membalurkan minyak kayu putih itu ke perut , leher dan bahu Asti yang terasa dingin. Kini tubuh Asti yang lemas itu, hanya tinggal berpakaian dalam saja, ditutupi selimut tipis dari bahan rayon bergaris - garis hitam. Sampai Asti menggeliat sesaat, merasakan tubuhnya berkeringat dan basah.


" Bulek ?" Panggil Asti lirih.


Cahaya lampu kamar terlalu silau. Sebab mereka menutup semua jendela dan gorden saat melakukan pertolongan pertama tadi. Tubuh Asti tadi sedingin es.


"'Alhamdulillah.... Kamu sudah bangun, Asti? "


Wajah Bulek tersenyum lega menatap Asti yang sudah siuman. Sebuah cangkir berisi teh manis hangat segera diulurkan ke mulut Asti. Dibantunya Asti duduk, agar minuman itu dapat diminum sedikit demi sedikit untuk memberinya sedikit tenaga.


" Kamu nggak apa-apa?" tanya Wanita itu lembut. Sambil meletakkan cangkir teh itu di atas lemari kecil di samping tempat tidur berupa dipan dengan kasur dari kapuk yang berasal dari buah randu.


" Kalau ada yang sakit...Nak Leon yang akan memanggil Dokter Mursito Dahlan yang buka praktek di dekat ruko counter hape Mas Raihan!"


" Aku nggak apa-apa, Bulek ...Hanya kepalaku sedikit berat!" keluh Asti.


Wanita itu mulai memijit kening Asti, dengan jari-jari yang sangat kuat dan terampil itu. Bulek Ratih sudah terlalu hapal dengan kebiasaan anak asuhannya ini, sejak Asti mulai remaja m


Kalau Asti sedang banyak pikiran atau banyak tugas sekolah yang menumpuk, bisa seharian dia kamar untuk menyelesaikan tugasnya itu. Sehingga sering lupa makan malam dan langsung tidur... Apalagi kalau tugasnya itu baru bisa diselesaikan menjelang tengah malam.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, Asti mulai merasa tidak enak badan. Biasanya orang Jawa menyebutnya masuk angin. Terkadang gangguan maag-nya juga sering kambuh juga. ... Apalagi bila tekanan darahnya menjadi sangat rendah, Asti pernah jatuh pingsan di sekolahnya.


Saat Asti tumbuh remaja, Mbah Harjo Winangun adalah benteng kokoh yang selalu melindunginya Sehingga Asti belajar banyak hal dari kakeknya itu. Mulai dari pengetahuan dasar agama Islam, sampai menjalankan ajaran itu dalam kesehariannya. Mbah Harjo juga mengajarkan pengetahuan dasar mengelola sawah dan ladang mereka . Sebab mereka dapat membayar upah para buruh yang akan mengerjakan sawah itu.


Sejak Bude Ayu kembali ke rumah Joglo itu, keponakannya itu mulai menjadi sasaran baru dari berbagai rumor atau gosip miring yang beredar di tengah masyarakat.


Asti sendiri bukanlah pribadi yang mudah terbuka dengan orang lain. Dia agak menahan diri dalam pergaulan dengan teman sebayanya. Sehingga teman akrabnya hanya sedikit. Walaupun Asti selalu bersikap ramah dan sopan kepada orang lain. Namun teman baiknya hanyalah orang-orang yang dikenalnya baik dan tulus.


Bagi Asti dia lebih suka menyendiri tetapi nyaman. Daripada banyak orang yang mengaku sebagai teman atau sahabat, tetapi sering membicarakan kejelekannya dirinya di belakangnya. Apalagi sejak ada rumor kalau dirinya adalah gadis sial atau gadis pembawa kutukan yang menghancurkan dinasti keluarga Winangun.


Kehidupan Asti juga cukup berat sejak dia dilahirkan, karena tanpa kehadiran seorang ayah. Belum lagi kepergian ibunya oleh suatu keadaan. Yang sampai saat ini belum diketahui nasibnya, sudah meninggal atau masih hidup kah?


Bahkan Mbah Putri itu, yang mengasuh cucunya itu semakin nelangsa. Menantunya sejak berbulan - bulan kembali ke kampungnya, tidak pernah berkirim kabar kabar. Padahal dia meninggalkan seorang bayi, yang masih memerlukan ASI dan kasih sayang ibunya. Sampai Mbah Putri Sri Sumiarsih itu jatuh sakit. Beliau pun meninggal dunia ketika Asti baru berumur 6 bulan.


Selama Asti kecil, dia mendapatkan kasih sayang dari kakeknya, Bude Ayu dan keluarga Lek No. Bulek Ratih sepeti sosok ibu baginya. Kasih sayangnya pun tak luntur, meskipun mereka mempunyai anak sendiri. Yaitu Joko yang umurnya lebih muda setahun darinya. Juga Ninuk yang lahir 5 tahun kemudian... Mereka sudah seperti kakak beradik karena dibesarkan bersama - sama.


Tampaknya Asti juga sudah mendengar rumor itu juga . Selentingan tentang dirinya sebagai pembawa sial atau gadis pembawa kutukan. Rumor itu semakin santer sejak sang kakek pun wafat, di awal Asti duduk di kelas 9 SMP.


Rumor itupun menjadi pembicaraan umum di antara para remaja putri itu di sekolah itu. Apalagi Asti tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik , pandai dan atlet berprestasi di sekolahnya. Banyak siswi lain sangat iri kepada Asti dengan segala kelebihannya.


Kalau orang yang beriman dan beragama tentu paham dengan "Hukum Tabur Tuai" atau peribahasanya yang mengatakan, siapa menanam angin akan menemui badai. Tampaknya badai itulah sekarang yang menghancurkan keluarga Kushari dan Kertosono Juwono, beserta anak-anak mereka.


***


Dibantu Mbak Asni, Asti berpakaian kembali karena tubuhnya masih lemah. Sementara di luar ruangan, Bulek Ratih mulai menyampaikan keadaan Asti yang mulai siuman kepada Leon dan suaminya.


Dari kejauhan terdengar suara kendaraan roda empat memasuki halaman depan rumah. Hal itu menandakan kalau mereka mendapat kedatangan tamu. Mobil Fortuner milik Pak Muin segera masuk halaman rumah dan terparkir di sisi mobil Asti. Di belakangnya ada juga motor Nmax hitam milik pak Kades desa sebelah, Pak Darmaji Hendardi. Pria itu masih berkerabat dekat dengan orang tua Asti. Turun dari boncengan motor berbodi besar yang mulai trend dan digandrungi masyarakat di pedesaan itu, Bulek Ika istri pak kades.


Tergesa - gesa wanita itu masuk setelah menyapa Lek No dan orang-orang yang duduk di ruang tamu Tersebut.


" Asti?" panggil Bule Ika segera masuk ke kamar Asti di sebelah kamar utama. Wanita itu segera memeluk tubuh Asti yang berusaha bangun dari ranjangnya.


Mbak Asni dan Mbak Mar keluar dari kamar itu. Sebab mereka juga melihat para tetangga mulai berdatangan ke rumah ini.

__ADS_1


" Sudah dipanggilkan dokter Mursito?" tanya wanita itu kepada Bulek Ratih.


" Sudah, Yu. Mudah-mudahan beliau cepat datang!" ujar Bulek Ratih.


Leon juga ikut masuk setelah melihat istrinya sudah siuman dan dijaga oleh dua wanita paruh baya ini yang tampak sangat menyayanginya. " Diperiksa dulu sama dokter di sini, ya? Kalau ada keluhan lain, nanti kita ke rumah sakit Mitra Sejati saja!" pinta pria itu lembut. Asti tersenyum pasrah. Dengan mesra dikecupnya kening istrinya itu. Sampai kedua wanita yang ada di kamar itu jadi salah tingkah sendiri.


Leon segera keluar menemui mereka. Pakde Muin tampak gelisah. Dia berjalan mondar -mandir di depan teras. Istrinya sudah masuk dapur ketika melihat di ruang tamu dan ruang keluarga ini semua dipenuhi para lelaki.


Di meja makan Mbak Mar sudah menuangkan air panas dari ketel pada cangkir- cangkir cantik yang berwarna putih dengan motif bunga matahari yang serasi dengan daunnya yang lebar. Sementara Kang Slamet mulai mengambil baki besar dari kayu yang bisa membawa lima atau enam cangkir kopi itu sekaligus untuk dibawa ke ruang tamu.


" Biar aku yang bawa saja, Mbak!" pinta Bude Mayang. Segera dia membawa baki itu menuju ruang depan.


Mbak Asni mulai menata piring-piring sambil mengeluarkan beberapa bungkus makanan dari atas kulkas. Ada peyek kacang, rengginang dan beberapa kue-kue jajanan pasar yang pagi tadi dibeli Pak Muin dan istrinya ketika jalan pagi ke pasar kecamatan, bersama Bulek Ratih dan Mbak Mar.


Datanglah seorang pria tua berjas putih dibonceng motor oleh Kang Kasmat. Bagi saudara Bulek Ratih itu, lebih baik dia langsung menjemput dokter Mursito dari tempat prakteknya di klinik milik beliau. Daripada ditelpon, karena beliau suka menunda dulu, dengan pasiennya cukup banyak di siang hari. Sedangkan hal ini sangat darurat. Tadi tugas dokter itu dialihkan kepada beberapa anak buahnya.


" Mari dokter, Silakan masuk!" Ajak Lek No sopan.


" Mbak Asti? Apa yang dirasakan?" tanya pria paruh baya itu ramah. Segera dia membuka tas khusus itu yang berisi beberapa alat kerjanya.


" Pusing, Pak Dokter!" ujar Asti.


" Dia tadi pingsan agak lama, Dok!" adu Bulek Ratih.


Dulu Dokter Mursito yang memeriksa keadaan Asti sebelum dan sesudah menikah dengan Satrio Wibowo. Dia beberapa kali jatuh sakit karena dalam keadaan hamil muda, dan selalu diantar Joko atau Lek No berobat ke kliniknya yang buka dari siang sampai malam hari.


" Tekanan darah Mbah Asti rendah sekali! " ujar dokter itu setelah selesai melepaskan alat tensi meter digital di lengan kanan Asti.


" Jaga makannya ya, Mbak! Jauhkan dari stres... Segala persoalan berat itu pasti ada jalan keluarnya....Mbak Asti harus bisa hidup lebih tenang, ya!" Nasehat pria paruh baya itu panjang lebar.


" Baik, Pak Dokter!"


Pria itu menuliskan resep yang akan dapat ditebus pada apotek yang ada di kliniknya. Kertas itu diberikan kepada Leon yang langsung menyelipkan uang ke tangan pria itu.

__ADS_1


" Terimakasih Dokter!" Ujar Leon perlahan. Setelah pria itu merapikan peralatannya. Diantarnya pria itu keluar dari kamar itu sampai ke pintu depan. Kang Kasmat siap mengantar beliau dengan motor matic miliknya untuk kembali ke klinik.


Lokasi klinik itu berada di sebelah jalan propinsi. Tepatnya di gerbang di masuk ke desa Sendang Mulyo, yang merupakan jalan alternatif menembus hutan bambu. Walaupun hanya berupa jalan tanpa aspal mulus, nyatanya banyak penduduk desa lainnya yang lebih pelosok lagi, banyak melewati jalan itu. Jadi jalan itu selalu ramai oleh kendaraan yang melewatinya.


__ADS_2