Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 250. Kunjungan Singkat Ibu Hernani


__ADS_3

" Asti, kita diantar Mas Jayeng saja, ya !" pinta istri Pak Camat itu ketika mereka bersiap - siap akan keluar rumah hari. Walaupun jarak rumah ini ke kantor kelurahan atau ke puskesmas tidak terlalu jauh, namun mengingat kondisi Asti yang belum terlalu sehat, diputuskan untuk naik kendaraan saja.


Tadinya mereka mau jalan kaki saja ke kantor kelurahan. Namun wajah Asti masih pucat. Ibu Hernani takut Asti pingsan di jalan. Kalau sudah begitu siapa yang akan menolong?


Sebab mereka hanya terdiri dari tiga wanita yang sudah berumur. Seperti Bulek Ratih yang usianya saja sudah kepala empat, Bu Jum yang hanya muda 3 atau 4 tahun saja dari Bulek nya Asti itu. Apalagi Bu Hernani yang rajin perawatan tubuh dan wajahnya secara rutin ke sebuah salon di kota. Wanita itu ternyata telah berumur 50 tahun lebih dan mempunyai 4 orang cucu.


Tadi pagi, sekali setelah Qani bangun dan dimandikan Bu Jum, Qani mau digendong oleh Bu Hernani. Walaupun hanya sebentar. Kalau dalam silsilah keluarga, Bu Hernani adalah Nenek atau Eyang bagi Qani. Bahkan Bayi mungil itu mau juga disuapi nasi tim yang dibuat oleh seluruh ART di rumah itu.


Perjalanan singkat itu agaknya memang harus dilakukan dengan menaiki kendaraan roda empat. Kemarin Istri Pak Camat itu hanya mendapat laporannya saja, tentang kegiatan ibu PKK, yang menyediakan makan siang. Jadi beliau mau memantau kegiatan tersebut, sekaligus bertemu dengan Joko, anak Lek No yang masih berkerabat dengan keluarga suaminya.


Kehadiran Ibu Hernani, langsung saja menarik perhatian banyak orang yang berada di depan kantor kelurahan tersebut. Sebagian anggota staf kelurahan sangat mengenal sosok ibu yang satu itu, yang sering melibatkan kegiatan Ibu PPK di kelurahan ini dalam berbagai kegiatan dan acara di kantor kecamatan sana.


Segera saja, beliau disalami secara berlebihan oleh orang-orang yang terus mendatanginya. Tak terkecuali, para staf wanita yang berlarian untuk menyambut kehadiran wanita cantik itu. Asti bisa menilai kalau cara mereka itu, seperti mencari muka begitu! Termasuk si Mbak Wati itu, melakukan hal yang serupa. Haduh!


" Nggak apa-apa, kan. Saya datang ke kantor ini ? Mau sedikit merecoki pekerjaan kalian sekaligus mau menengok salah satu anak kerabat saya, " kata Bu Hernani berbasa-basi.


" Oh, nggak apa-apa, Bu! Dengan senang hati!" Ujar salah satu wanita yang bekerja sebagai sekretaris pak lurah. Wanita itu memakai alas bedak yang sangat tebal dan putih. Sehingga tidak sesuai dengan kulit tangannya yang lebih gelap. Saking kontrasnya warna pulasan make-up itu, sehingga mirip para pemain teater di drama Jepang Kabuki.


Di belakang gedung kantor kelurahan yang lama, tampak berbagai kesibukan terjadi . Sampai Mbak Wati itu berlari dengan cepat untuk memberitahu para ibu di sana tentang kedatangan Istri pak camat itu. Dalam kunjungan tidak resminya, siang ini.


Asti yang tadi masuk paling belakangan, melihat semua kejadian dalam diam. Dulu juga dia pernah ditawari oleh seorang tetangga, untuk bekerja sebagai tenaga honorer di kantor kelurahan setempat, setelah dia lulus sekolah SMK. Tetapi Bude Ayu, lebih suka Asti mempunya usaha sendiri, atau berwirausaha. Sampai mereka sepakat untuk membeli sebuah toko di pasar kecamatan.


Sejak itulah Asti memahami pemikiran Bude Ayu itu. Bukan karena gajinya yang kecil saat menjadi tenaga honorer di kantor itu. Tetapi untuk diangkat menjadi pegawai tetap atau PNS, dan bekerja di kelurahan secara tetap, juga membutuhkan perjuangan yang berat. Mereka harus memenuhi berbagai persyaratan akademis saat ikut tes penerimaan CPNS. Juga ada uang yang agak banyak yang harus dikeluarkan , bila meminta bantuan seseorang agar diloloskan dalam tes tersebut. Jumlahnya waktu itu mencapai 30 sampai 40 juta untuk uang sogokan itu.


Banyak juga wanita muda yang akhirnya terjebak dalam fenomena terbaru dalam lingkungan kerja di sana. Saat mereka di bekerja di kantor dan lembaga seperti itu, para gadis muda itu akan terbiasa berhubungan dan bergaul dengan beberapa pria yang lebih dewasa yang bekerja di kantor yang sama. Apalagi bila mereka berhadapan dengan para pria mapan yang mempunyai pangkat dan kedudukan yang lebih tinggi.


Terkadang bagi wanita muda belia yang kurang beriman, akan dengan mudah menerima tawaran dari para pria pegawai di lembaga itu.Terutama para pria yang memang dari dasarnya adalah lelaki mata keranjang alias playboy. Entah itu dengan memamerkan ketampanannya atau yang lebih tua dengan materinya.


Biasanya wanita muda seperti itu mudah dibujuk, dirayu dan diiming-imingi dengan materi. Sehingga mereka sampai mau sajav menjadi pacar atau kekasih gelap dari para pria itu. Sebab pada umumnya para pria mapan itu sudah berumah tangga. Istilahnya punya istri dan anak di rumah.

__ADS_1


Takutnya, Asti terjebak dalam situasi seperti itu. Oleh karena Bude Ayu tahu, kalau keponakannya cantik, masih muda dan kurang pengalaman dalam pergaulan pria dengan wanita. Walaupun dalam hal ekonomi, keluarga Winangun masih dalam taraf hidup berkecukupan.


Banyak juga wanita muda di desa mereka , terjebak dalam hubungan seperti itu. Pada umumnya, para wanita muda itu kurang berpikir lebih panjang untuk masa depannya. Sehingga mereka, dengan mudah mengambil jalan pintas. Apalagi kalau mereka sampai main hati, atau rela dinikahi pria mapan itu. Meskipun hanya menjadi istri kedua ... Terkadang pernikahan mereka pun tanpa izin dari istri pertama, yang sering disebut nikah siri atau menikah dibawah tangan.


Mereka inilah para wanita yang mendapat julukan kurang pantas di tengah masyarakat. Biasanya disebut daun muda atau istri muda. Bahkan kalau pada zaman sekarang trend dengan sebutan pelakor.


Lebih menyedihkan lagi, kalau dari hubungan mereka itu akhirnya terlahir seorang anak. Padahal pernikahan mereka tidak tercatat secara resmi di KUA, sehingga wanita muda dan anaknya itu tidak terlindungi oleh kekuatan hukum. Biasanya, anak-anak seperti itulah yang menjadi korbannya ... Mereka akan banyak menemukan berbagai kesulitan di kehidupannya. Sebab tidak mempunyai akte kelahiran, alhasil akan susah untuk menggurus persyaratan untuk sekolah dan lainnya.


" Yang?" panggil Leon agak kuat suaranya.


Dia melihat Asti duduk melamun, di kursi di ruang tunggu yang ada di lobi kelurahan. Kalau tidak melihat Qani dalam gendongan Bu Jum, Leon mengira Asti tidak jadi datang ke tempat ini. Karena masih kurang enak badan.


"'Eh, iya. Mas! Maaf..." Ujar Asti kaget.


Pria itu mendekati Asti. Wajah wanita itu memerah... Dia jadi sering kurang fokus setelah permasalahan kakak tiri ibunya, dan adik kandung Ibu Emilia muncul kembali.


Di ruang sebelah terdengar percakapan antara Ibu Hernani dengan Joko, Pak Cakra dan Topan. Para asisten yang selalu membantu Leon dalam urusan pekerjaannya pembebasan tanah itu.


" Sudah selesai semua , Nak Leon ?" tanya Ibu Hernani, lalu ikut duduk bersama mereka. Cukup lelah juga setelah memantau perkejaan ibu-ibu di dapur umum.


" Mudah-mudahan, hari ini selesai, Bu. Tinggal Rabu besok, kita, langsung buat laporan terakhir!"


" Alhamdulilah!" kata Ibu Hernani sambil tersenyum.


Lahan tidur itu akan dimanfaatkan oleh perusahaan Abadi Murti untuk dijadikan proyek pembangunan perumahan. Sebuah proyek besar pertama yang akan dikembangkan di wilayah Timur pulau Jawa ini.


" Asti, nggak apa - apa! Yang penting hidupnya lebih tenang dan jangan banyak pikiran!" bisik wanita itu pada Leon.


Sesekali Wanita cantik itu masih menghubungi suaminya lewat telepon atau WA. Ibu Hernani kemarin banyak memberi nasehat kepada Asti tentang menjaga ikatan pernikahannya itu tetap langgeng.

__ADS_1


Selama masa dinas terakhir saja, Bu Hernani akan sekali memantau ke kantor suaminya di kecamatan. Dia tidak membiarkan sedikitpun celah, untuk dimasuki orang ketiga. Selain beliau rajin merawat diri, menggurus suami dan sering datang ke kantor suaminya.


Rencananya mereka akan membuka usaha bisnis di bidang kuliner, dari satu ruko dari perumahan yang akan dilakukan bangun Leon nanti ... Sebab masa tugas Pak Prayoga tinggal 3atau 4 tahun lagi di dinasnya.


" Apa kita akan makan siang di sini saja, Bu Camat?" tanya Leon sopan.


" Nggak usah, di rumah Mbak Yah sudah masak banyak itu. Ayok kita pulang saja! Akan mubazir nanti! Lagipula makan siang yang disediakan para Ibu PKK tadi, takutnya tidak mencukupi untuk 50 orang. Sepertinya sajian itu kurang layak disuguhkan. Meskipun masakan orang desa, setidaknya ada 4 sehat dan lima sempurnanya... Bukan sayuran yang dipetik di kebun begitu untuk mengirit pengeluaran!" Ujar Ibu Hernani serius.


Leon terpaku, dia bermaksud menanyakan hal itu kepada Ibu Andar Sinta, yang bertanggung jawab dalam pengelolaan uang makan yang telah diberikannya itu.


" Baiklah, Bu! Sekarang kita makan di rumah Ibu. Besok rencananya saya akan mengajak keluarga ibu untuk makan di luar bersama - sama untuk semacam perpisahan!"


" Wah... benar, nih. Nak Leon? Kita undang juga Pak Sampurno dan istrinya.. Hmm, si Nindya boleh juga ikut... Tetapi kalau adik bungsunya Sarita... Nggak usah, deh! Kadang saya kurang suka dengan Dian! Sikapnya agak pongah... Terlalu tinggi hati ...Pantas saja di usianya yang sudah lebih dari 30 tahun, belum juga menikah... Mana ada pria yang mau berumah tangga dengan perempuan yang sombong dan terlalu tinggi tuntutannya itu!"


Leon tergelak mendengar penilaian Ibu camat tersebut akan adik iparnya Pak Sampurno. Takutnya juga Asti harus menghadapi sikap ajaib wanita itu yang menganggap semua wanita muda lainnya tidak lebih tinggi dan berkelas dari dirinya.


" Mas, Akbar kangen kita. Jadi minta diajak kemari!" bisik Asti.


" Ya, sudah! Nanti kita ke rumah Pak camat untuk makan siang. Terus jalan ke kebun Pak Ndaru...Dia punya perkebunan mangga. Kita semua diundang untuk pesta mangga atau rujakan di rumahnya..."


" Siapa Pak Ndaru?"


" Itu, yang mempunyai perusahaan tenaga kerja untuk pengerjaan proyek utama dulu. Seperti membuat jalan, jembatan juga pagar pembatas ... Kalau cara kerjanya bagus, akan kita perpanjang kontraknya untuk pembangunan perumahan!"


Lelaki itu tanpa sungkan mengandeng tangan istrinya, saat membimbingnya keluar dari kantor kelurahan. Kepergian mereka juga diikuti anggota keluarganya lainnya.


Benar kata Bu Hernani... Asti jangan banyak berpikir berat. Sebab kedua saudara ibunya saja mampu bertahan selama bertahun - tahun menghadapi ancaman dari Juwono bersaudara itu.


Apabila Pak Kushari ada dibalik rencana kepergian Ibu Emilia, lelaki itu sudah menghadapi hukumannya sendiri dengan sakit jantungnya yang fatal. Disertai kehancuran nama baik keluarganya itu karena perbuatan anak - anak mereka. Sebab kedua Juwono itu selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaannya. Terkadang dengan merampas harta orang lain, berbuat curang, jahat dan keji.

__ADS_1


__ADS_2