
Suara rengekan Akbar mengejutkan wanita yang sedang menangis tergugu pelan itu. Dia terdiam sambil berusaha menghapus air matanya yang menetes di pipinya.
Dari arah ruang tidur Akbar berjalan tertatih - tatih namun sangat bersemangat. Tentu dia sudah mendengar suara ibunya yang ada di ruangan tamu.
"Bu..." Panggil anak itu dengan suara bayinya yang belum terlalu jelas. Langsung dia mendekati bangku yang diduduki Asti. Ada senyum haru, saat dia dirindukan anaknya.
" Dedek sudah mandi , belum?"
" Belum, Bu. Dedek baru bangun! " Ucap Bu Jum. Menjawab pertanyaan ibunya Akbar itu. Wanita itu masih berdiri di belakang Asti.
Bayi itu langsung menempel ketat di pelukan Asti. Asti meraba pampers anaknya yang agak penuh. Sebisa mungkin dia mengurus semua keperluan Akbar saat dia di rumah.
" Maaf, Bu Corinne saya tinggal sebentar. Mau mau menganti popok Akbar..."
Bu Jum memandang Mbak Ning, yang juga duduk di bangku di dekat meja makan. Dia menyimpan hape di saku bajunya. Berjaga- jaga untuk mengatasi hal- hal darurat di luar perkiraan.
" Bu Jum!"
" Ya, Mbak!"
" Tolong, mandiin Akbar, ya. Biar sekarang saya membantu Mbak Ning menyiapkan makanan."
" Perempuan itu disuruh makan di sini juga, Mbak?" Bisik Mbak Ning, takut menyingung perasaan si tamu.
" Iya. Syukur kalau dia mau mencicipi makanan orang kampung. Kalau nggak mau juga nggak apa- apa, Mbak. Kita harus memberi tahu pada dia cara menghargai orang lain "
Wanita itu mau juga duduk di ruang keluarga agar lebih santai, setelah diminta Asti dengan sopan. Sebab sore seperti ini semua semua orang sibuk di ruang tengah dan dapur. Kasihan kalau Ibu Corinne ditinggal sendirian di ruang tamu. Untungnya dia mau makan cemilan apa pun yang disediakan Mbak Ning atas perintah Asti.
" Ibu Corinne, makan di sini dulu, ya! Kalau untuk tempat menginap saya kurang bisa menerima. Sebab sepupu saya yang laki- laki dan dua pegawainya, sering tidur di kamar atas!"
Ibu Corinne mengangguk. Mbak Ning tutup mulut. Dia tahu, Asti tak mengundang wanita itu datang ke rumahnya. Bukan kewajibannya juga menyediakan dia kamar untuk menginap. Namun majikannya itu masih mempunyai sopan Santun dan etika untuk menjamu seorang tamu.
Dia ikut menikmati pemandangan taman yang ada di sisi kanan rumah. Taman yang tampak lebih pribadi, karena hanya dapat dilihat oleh orang- orang dari dalam rumah ini saja. Sebab terhalang tembok pagar tinggi di barat.
Lebar taman itu tidak sampai tiga meter. Namun panjangnya dimulai dari pagar depan sampai taman gantung di selatan, untuk menutupi bangunan sementara, di belakangnya.
__ADS_1
Taman itu ada kolam ikan koi memanjang, dengan air terjun buatan dengan bunyi gemericik. Di sisi pagar ditanami berbagai tanaman hias, dari berbagai jenis. Bahkan rumputnya terlihat hijau dan rapi karena dirawat secara apik dan teratur.
Tidak seluas halaman sebelah kiri rumah. Yang digunakan untuk parkir mobil pribadi. Bahkan di belakang garasi yang diberi kanopi itu, ada sisa lahan yang digunakan untuk nongkrong, karena ada kursi panjang, meja dan pot- pot besar berisi tanaman cangkokan buah yang memberi suasana hijau.
Di sana tampak Akbar sedang disuapi makan oleh pengasuhnya. Sementara dari dapur tercium bau masakan yang harum dan menggugah selera.
Di meja, sudah disajikan sup buntut, perkedel kentang juga tempe goreng tepung. Tak lupa sekaleng kerupuk rambak dan semangkok sambal tomat yang menggugah selera.
Asti mempersilakan Ibu Corinne makan lebih dahulu bersama Mbak Ning dan Bu Jum. Sementara dia masuk ke dalam kamar untuk mandi. Akbar asyik duduk di kasur karpet di depan tv menonton kartun kesukaannya.
" Masakan ini enak, Bu! " ujar Corinne berbasa- basi.
" Syukurlah, ini resep dari Mbak Asti, saya hanya tinggal mengikuti saja!"
" Apa warung tenda di dekat ruko itu punya sepupunya juga?"
"'Iya, Bu. Punya Mas Joko!"
" Ibu- ibu ini sudah lama kerja sama Mbak Asti?"
" Apa ini pemberian mantan suaminya? Sebab saya dengar mantan Mbak Asti itu polisi, lho ?"
" Boro- boro, Bu. Dapat harta gono-gini! Akbar saja tidak diakui sebagai anaknya. Memang begitulah, lelaki kalau sudah selingkuh dengan perempuan lain. Jadi nggak waras pikirannya. Apalagi mereka sampai berzinah. Buktinya perempuan pelakor itu sudah hamil besar, ya. Bu Jum!"
Suara Mbak Ning yang tampak kesal dan marah itu membuat, Ibu Corinne menghentikan suapannya.
" Apa Pak Leon ngomong kalau dia juga sudah bercerai dari istrinya?"
" Ya, gara- gara ibu melabrak ke rumah ini. Kami jadi tahu kalau Pak Leon itu ternyata duda. Apa ibu nggak menyesal telah berselingkuh dari Pak Leon? Dia lelaki yang baik, sopan dan sabar. Lho...."
Bu Jum dan Mbak Ning saling bertatapan. Sebab Ibu Corinne telah menyelesaikan makannya. Tentu masih dengan banyak makanan tersisa di separuh piringnya.
Dari pintu samping yang terhubung dengan warung tenda, terdengar suara salam dari suara seorang pria. Akbar terbangun, karena mendengar suara orang yang sangat di kenalinya. Bayi itu berusaha mendekati pria itu.
Muncul Pak Leon dengan wajah segarnya setelah mandi sore dan berpakaian santai. T-shirt oblong hitam, dengan celana jeans. Dia memakai sandal jepit yang masih baru.
__ADS_1
" Akbar? Wah jagoan, Om... Sudah makan, Nak?"
Pria itu masuk lalu mengendong Akbar yang bergerak ke arahnya. Sampai dia menyadari kalau di ujung meja sana, ada wanita yang menjadi tamu Asti di sore ini.
" Kamu nggak ada kerjaan lain, selain menganggu ketentraman orang-orang di rumah ini ?"
Suara Pak Leon terdengar pelan tetapi cukup tajam. Wajah Ibu Corinne semakin pucat. Tak nyaman dengan teguran mantan suaminya itu. Mereka bertatapan lama.
" Kembalilah ke Jakarta, perbaiki hidupmu! Jangan usik kami!"
" Kenapa? kamu ada hati dengan Mbak Asti?"
" Kalau dia mau, tentu aku akan segera menikahinya. Wanita itu perlu menjaga martabat dan harga dirinya. Jangan situ yang merasa tersakiti. Apa belum cukup viral kamu teriak-teriak dan ngamuk di kampung orang?"
Akbar agak takut dengan pertentangan itu, sementara dia masih berada di dalam pelukan Pak Leon.
" Pulanglah! Apa yang terjadi diantara kita sudah selesai..."
"Maaf..." Bisiknya tertahan. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak menetes lagi.
" Maaf untuk apa? Menipu saya dengan perselingkuhan kamu itu? Atau fakta kamu mengugurkan bayi yang kamu kandung? Ya, Tuhan ... Apakah saya telah menikahi seorang monster? Kamu dengan semua kelakuan bejatmu. Tobat Corinne!"
Wanita mulai merapikan Tas dan blazer yang tadi diletakkan di ruang tamu. " Permisi..."
Asti menatap kepergian wanita itu yang keluar lewat pintu depan. Tak lama terdengar suara pagar yang digeret terbuka. Dari pintu samping muncul Joko dan dua pegawai lainnya. Mungkin dia yang memberi tahu pada Pak Leon tentang kedatangan mantan istrinya itu ke rumah Asti.
" Lain kali, nggak usah diterima kedatangan Corinne. Dia sangat pandai bicara dan memutarbalikkan fakta."
Mbak Ning dan Bu Jum sampai menghela nafas panjang. " Saya sampai mengira nonton sinetron, terbaru di TV, lho. Pak Leon! Mbak Asti saja sampai kasihan melihat Ibu Corinne menyesali semuanya perbuatannya dan menangis."
Pria itu tersenyum. " Bu Jum Untung nggak lihat! Bagaimana ramai nya sidang perceraian kami! Lebih ramai dari nonton layar tancap. Tetapi Mbak Alya, kakak saya sangat mengenal watak dan kepribadian Corinne yang sejak lama dipercaya menjadi manajer di butiknya di sebuah mall . Entahlah tanpa bantuan semua orang dan dua pengacara saya. Tentu urusan perceraian itu akan terus berlarut-larut!"
Asti ikut tersenyum. Dia juga tak kuat mental saat menghadapi sidang gugatan perceraian itu, tanpa bantuan Ibu Anggita, Pak Cahyadi dan ibu Imelda, pengacaranya yang mengawal sampai keputusan final.
Akbar meminta turun dari gendongan Pak Leon. Mbak Ning segera membersihkan piring di meja sisa makan mereka. Pak Leon segera kembali melewati pintu samping untuk kembali ke warung tenda.
__ADS_1