Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 102. Peristiwa Sebelumnya


__ADS_3

Mbak Asni dan Mbak Mar masih sibuk memasak di dapur untuk persiapan makan siang. Sebenarnya semua persediaan sayuran dan bumbu- bumbu untuk dua hari ke depan menurut mereka masih aman.


Hanya saja, mereka juga agak bingung ketika Bulek Ratih pamit sebentar untuk belanja ke warung Ibu Dian. Warung itu terletak di gang yang ada di belakang rumah Bu Haji Anissa.


" Tadi Bulek Ratih pamit mau beli apa, Mar?" tanya Mbak Asni.


" Aduh, aku kurang dengar ini ..."


Wanita yang merupakan kakak dari suaminya itu sedang memblender bumbu. Suara benda elektronik itu mendengung, memenuhi ruangan dapur yang cukup luas.


Persiapan makan siang untuk orang-orang yang bekerja di sawah sudah hampir selesai. Setiap hari ada lebih dari sepuluh orang yang bekerja di sawah. Para wanita akan memotong batang padi dari setiap petak sawah. Lalu para lelaki yang merontokkan bulir padi dari batang padi dan daunnya. Mereka memberi alas di bawah alat perontok padi itu, agar bulir tidak berceceran ke mana-mana.


Setelah itu, bulir padi yang disebut gabah itu dimasukan ke dalam karung - karung besar. Sebagian karung itu diangkut pulang dengan mobil bak terbuka milik pribadi Pak No. Sebagian lagi diangkut dengan menggunakan motor. Terkadang mereka harus mengangkut karung itu sampai harus bolak- balik, dari sawah ke rumah. Sudah seminggu ini mereka bekerja memanen padi di lahan sawah warisan Winangun itu yang sangat luas.


Pulangnya, Bulek Ratih ikut duduk di di depan mobil bak terbuka suaminya. Wajah wanita itu masih sedikit memerah. Tetapi para perempuan yang membantunya bekerja di dapur kurang memperhatikan perubahan yang terjadi pada Bulek Ratih. Sebab mereka harus segera menghidangkan semua makanan itu, ke meja besar di belakang rumah Joglo. Terlihat beberapa orang dari para pekerja itu sudah datang ke rumah ini dari sawah.


Para pekerja laki - laki makan siang bersama dengan duduk di tikar yang digelar di halaman belakang rumah Joglo. Sedangkan para wanitanya makan di ruang tengah, duduk di lantai beralas karpet.


Menu siang hari itu adalah sayur sop, dengan tambahan tulang ayam dan cekernya. Lauknya berupa tahu dan tempe bacem, ada kerupuk rambak yang ditempatkan di kantong plastik besar, sambel terasi dan segunung sayuran hijau rebus, yang dipetik dari kebun di belakang rumah.


Biasanya setelah selesai makan, para pekerja akan beristirahat sebentar. Sebelum mereka sholat Dhuhur berjamaah di musholla depan.


Saat mereka sedang beristirahat itulah, Mbak Mar sempat mencuri dengar kalau tadi Bulek Ratih melabrak Bu Dian di warungnya. Karena tidak melihat sosok Istri Lek No itu, Mariyah, begitulah nama lengkap dari Mbak Mar, segera memberi tahukan hal itu kepada Asni yang sedang mencuci piring di dapur belakang. Dibantu seorang wanita yang lebih tua usianya. Ternyata wanita itu adalah ibunya Dania.


Sempat juga Bulek Ratih berpesan tadi, agar sisa lauk dan nasi dapat dibungkus dan dibawa pulang oleh saudara sepupu itu. Di rumahnya masih ada tiga orang adik Dania yang bersekolah di SMP dan SD.


"'Tadi Bulek Ratih melabrak Bu Dian di warungnya, Yu." Bisik Mbak Mar.


" Kok kamu tahu?"

__ADS_1


" Tuh, suaminya sedang meminta maaf sama Lek No. Ternyata semua bapak-bapak juga melihat kejadian itu."


" Ada apa sih, Mbak? " Tanya Ibunya Dania.


"Lho, Mbak Yu... Apa nggak dengar berita soal pembobolan toko di pasar Kecamatan?"


" Dengar, sih... Malah pemilik toko itu katanya rugi besar. Karena barang yang diambil itu adalah rokok dalam jumlah yang banyak."


" Terus Bu Dian itu bilang ke penduduk desa ini, kalau Asti terlibat dan sedang diselidiki polisi. Siapa yang nggak marah, difitnah keji seperti itu? " Tukas Mbak Mar lagi.


" Astaghfirullah... Kok, ada ya orang yang jahat seperti itu ? " tanya Ibunya Dania bingung.


" Makanya, begitu mendengar berita pembobolan itu, Bulek Ratih langsung ke pasar Kecamatan diantar Lek No untuk menemui Asti di tokonya.."


" Terus berita itu nggak benar kan, Mbak ?" tanya Ibunya Dania lagi.


" Cuma hal begitu saja, dibilang dicurigai atau diselidiki? Payah benar si Bu Gembrot itu. Mau fitnah orang sembarangan..." Jawab Mbak Asni dengan kecewa dan emosi.


" Kasihan, Mbak Asti... Perempuan muda yang luas hati, cantik dan sholehah itu selalu mendapat banyak ujian dalam hidupnya," kata ibunya Dania sedih.


" Itulah, Yuk. Kadang kebaikan Mbak Asti suka dimanfaatkan oleh orang lain. Terutama sama orang yang nggak tahu diri!"


Tentu saja omelan Mbak Asni yang panjang lebar itu, membuat kedua perempuan yang menjadi lawan bicaranya jadi bingung.


Beberapa pekerja lelaki kembali ke sawah. Sekarang Mas Kasat yang mengemudikan mobil bak terbuka itu. Pak Sarno mencari istrinya yang sedang istirahat di kamar. Bulek Ratih kalau sedang marah atau sakit hati akan selalu berdiam di kamarnya agak lama. Walaupun dia cukup puas melihat Bu Dian mendapatkan hadiah gamparan tangan dari suaminya.


" Sabar, Bu. Sabar... Ibu belum makan siang kan? Yuk aku temani!" Bujuk Lek No....Sejak Asti pindah ke rumah barunya, rumah ini semakin sepi saja. Jadi mereka hanya berdua setiap hari di rumah. Sebab Joko dan Ninuk pun lebih sering berada di rumah Asti.


Kata Pak Haji Anwar, rumah Asti memberi aura positif bagi orang yang datang berkunjung ke sana. Bukan karena rumah itu dibangun lebih besar, lebih modern atau bertingkat. Tetapi memberi rasa nyaman bagi orang yang datang ke sana. Di rumah itu terasa tenang dan betah untuk duduk berlama-lama.

__ADS_1


Bahkan bagi Ninuk dan Joko pun , rumah Asti adalah rumah kedua bagi mereka. Usaha warung tenda Joko, di belakang rumah Asti pun semakin maju. Ninuk juga punya tekad dan semangat tinggi untuk kuliah dan meraih gelar sebagai sarjana pendidikan.


Untung saja, rumah belakang di rumah Joglo itu telah ditempati oleh dua pasang suami istri, yang membantu Lek No mengurus semuanya. Mbak Asni dan Mbak Mar yang membantu Bulek Ratih masak dan pekerjaan rumah tangga sehari- hari. Sedangkan suami mereka juga membantu pekerjaan Lek No di sawah dan di kebun.


Sekilas Mbak Asni pun mendengar soal Dania yang keluar dari pekerjaan menjaga toko Asti. Mungkin wanita itu sedikit lebih peka, karena merasa ada hal buruk yang disembunyikan pasangan suami istri itu tentang Dania. Sebab kedua orang tua Dania pun sekarang ada di rumah ini, ikut membantu mereka bekerja di sawah Asti.


Besok harinya, Mbak Asni berangkat ke pasar dengan mengendarai motor untuk membeli tambahan lauk, sayur dan bumbu. Sebelum masuk pasar, keponakan Bulek Ratih itu melapor dulu pada Asti tentang Bulek Ratih yang melabrak Bu Dian kemarin.


" Mbak Asti nggak ke desa, nengok Bulek Ratih?"


" Nggak usah dulu, Mbak! Puspita yang gantiin Dania masih baru dan harus belajar lebih banyak. Jadi belum bisa ditinggal agak lama."


Alasan itulah yang paling masuk akal bagi Asti untuk tidak datang ke desa. Sekarang mereka di sana sedang sibuk panen. Tentu orang tua Dania ada di sana dan ikut juga membantu pekerjaan tersebut.


Hal itulah yang membuat Asti terus kepikiran. Sehingga dia sering melamun. Agak sulit mencari kebenaran soal kepergian Dania ke kota. Bukan patah hati karena terlibat cinta segitiga yang menyakitkan karena Jago mengandeng cewek lain


Lebih takutnya, Jago melibatkan Dania dalam pembobolan toko dan membantu menjual barang jarahan itu ke toko dan pasar di daerah lainya. Sebab selama bekerja dengannya hampir dua tahun ini, Dania sering dibawanya berbelanja ke beberapa pasar- pasar besar di Yogyakarta, Solo dan beberapa kota kecil di sekitarnya.


Seperti kata pepatah, " Sudah jatuh tertimpa tangga pula " Takutnya hal itulah yang akan menimpa keluarga Dania selanjutnya. Apalagi kalau mereka mendengar anak gadisnya itu berkomplot dengan kelompok Jago. Sebab Dania berpikir dengan cara seperti itulah dia bisa mendapatkan uang yang banyak dengan cara cepat. Tanpa bekerja lebih keras dan capek ikut menjaga toko milik orang lain.


Sampai Asti membuka kembali rekaman cctv dari tokonya. Wajah- wajah pembobol itu tampak jelas terlihat di layar. Terlebih wajah Jago. Pria itu tentu tidak mengira kalau di toko Asti dipasang sebuah cctv. Sehingga mereka dengan santainya membuat rencana kedua untuk membobol toko yang paling mudah dibuka.


Para pembobol ltu juga berkejaran dengan waktu. Sebab menjelang dini hari, kegiatan di pasar itu akan di mulai dari pintu belakang pasar.


Biasanya para pedagang sayuran akan datang lebih dulu. Apalagi mereka membawa barang dagangan dari tempat yang jauh . Berbagai kendaraan jenis angkutan barang dari truk, bak terbuka sampai motor tiga roda memenuhi tempat itu.


Para kuli angkut akan menggotong karung atau keranjang dari mobil itu menurut ke dalam pasar. Segala macam hasil bumi tumpah ruah di sana. Mulai dari bermacam-macam sayuran, buah-buahan, sampai singkong dan ubi.


.

__ADS_1


__ADS_2