
Sosok Pak Murti terlihat pagi itu dengan istrinya di halaman ruko AS ( Ayu Sulaksmi) Niaga. Halaman ruko yang dibeton dan diplester tebal dan rata itu terlihat sangat aman. Walaupun bersisian dan dekat dengan jalan raya yang sangat ramai. Bahkan ada pembatas jalan berupa tembok penahan kokoh yang dibangun untuk keamanan ruko dan pejalan kaki.
Beliau berolahraga ringan ditemani kedua cucunya... Tentu dengan suara tawa ceria Akbar yang berlari-lari kecil mengikuti sang Eyang Kakung di belakangnya. Akbar terus dijaga oleh Mbak Putri, pengasuhnya. Sedangkan Qani berada dalam gendongannya Eyang putrinya, Wanita yang sudah lebih berusia setengah abad. Namun masi terlihat cantik, segar dan awet muda.
Tahu kalau kedua orang itu adalah orang tua Pak Leon, banyak para tetangga yang menyapa dan menegurnya beliau. Apalagi kalau Hanum sang cucu juga ikut bergabung. Padahal anak perempuan cantik itu lebih tertarik berbelanja kue dan minuman dari mini market yang ada di ruko tersebut. Yang juga merupakan milik Tante Asti. Kadang dia sangat senang mengambil apa saja tanpa membawa uang tunai. Walaupun dimaklumi. Sebab dia suka permen dan berbagai cemilan seperti cracker. Nanti si Ibu atau si Om yang akan membayarnya.
" Mari, Pak ! Mampir ke rumah saya yang di depan sana!" ajak Pak Sembodo, pak RT. Beliau merasa bersyukur mendapatkan pekerjaan tetap dari Leon. Sebuah pekerjaan dengan penghasilan yang cukup untuk menambah pemasukan keuangan dalam rumah tangga. Sebab Pak RT selama ini bekerja serabutan, dengan menerima berbagai orderan dengan dua mobil bak terbukanya miliknya.
Pak Basuki Murti hanya tersenyum mengiyakan... Dia sudah beristirahat seharian ini setelah kemarin datang ke rumah ini... Walaupun dari cerita Mesya, ada guncangan kecil dalam kehidupan rumah tangga Leon dengan hadirnya perempuan muda yang lain. Buktinya mereka berhasil mengatasi masalah tersebut.
" Eyang Kakung , Eyang Putri ayok, sarapan dulu!" Panggil Asti. Wanita muda itu menghampiri kedua mertuanya, dengan kedua cucunya tersebut yang masih menikmati udara pagi yang sejuk dan sedikit dingin itu.
Sejak pagi tadi, Asti sudah menyiapkan bubur sambel tumpang khas daerah ini. Hasil nyontek dari menu milik Bulek Ratih, dibantu Mbak Ning. Yang agak merepotkan bagi mereka adalah menyiapkan bubur nasi yang memerlukan waktu agak lama untuk membuatnya.
Ibu Anggun takjub dengan berbagai rebusan sayuran hijau yang segar dan menggoda, yang ada di atas meja makan. Semua terlihat segar dan sedap. Selain itu ada bubur nasi yang wangi karena tambahan rempah seperti daun salam. Serta semangkok besar sayur sambel tumpang itu sendiri yang tampilannya berwarna merah menggoda berkat campuran bumbu, cabe merah dan santan kental sebagai kuahnya.
Sayur Sambel Tumpang itu sendiri, berupa olahan dari tempe busuk atau tempe yang sudah tidak segar lagi yang direbus bersamaan dengan berbagai rempah. Seperti bawang merah , bawang putih, dan kemiri. Ditambah bermacam- macam bumbu dapur, terutama kencur. Kalau mau sayurnya lebih pedas tentu ditambahkan cabe merah besar yang banyak. Semua bumbu dan tempe itu ditumbuk atau diulek.
Setelah itu, ditumis bumbunya dengan sedikit minyak agar harum. Barulah dimasukkan air, potongan tahu. Selain ditambahkan beberapa rempah lain, seperti lengkuas, salam dan sereh.Terakhir diberi santan. Sehingga semua olahan itu menjadi kesatuan, dengan memasukan garam , gula dan penyedap sesuai selera. Jadilah masakan khas dan sangat nikmat di daerah Timur wilayah Jawa Tengah itu.
Akbar hanya makan bubur nasi dengan kuah semur tahu dan telur. Sedangkan Qani ada di pelukan Leon. Tak peduli ayahnya sedang sibuk untuk menyelesaikan sarapannya. Bayi itu tak mau lepas juga dari pelukan ayahnya, karena tahu sebentar lagi dia ditinggalkan untuk bekerja.
" Anak ayah tadi jalan-jalan sama Yang Kung dan Yang Uti, ya?" tanya Leon lembut.
__ADS_1
Mata bulat Qani mengerjab. Seakan mau menjawab pertanyaan ayahnya itu. Sedangkan Akbar meninggalkan sarapannya dan ikut masuk ke dalam pelukan Leon.
" Ya, Ayah.... Boleh Akbar Ikut ke kantor?"
Leon mengusap lembut kepala Akbar. " Nanti siang aja, Ya? Eyang juga mau lihat kantor ayah... Akbar jaga dedek Qani. Bu Jum, anak ini sudah mengantuk!" Bisik Leon pelan.
Bu Jum tanggap, segera mengambil bayi itu dari gendongan ayahnya.. Tadi pagi bayi ini ikut terbangun saat Asti juga terbangun. Sebab Asti ikut membantu Mbak Ning menyiapkan sarapan pagi.
"'Ini, enak banget lho! Ini masakan khas daerah ini?" tanya Pak Basuki sambil mengusap dahinya yang berkeringat.
Asti tersenyum. " Sebenarnya masih banyak masakan khas daerah ini yang lainnya, Pa! Cuma itu agak sedikit berbahaya..."
Pria itu menatap bingung." Apa dari sejenis jamur langka atau serangga-serangga lainnya?"
" Maksud, Asti, Papa ! Kebanyakan makanan itu memakai bahan daging kambing dalam masakannya ... Seperti Tong seng dan Tengkleng! Jadi bahaya, karena mengandung kolesterol!"
Pak Basuki dan Ibu Anggun tertawa. Tentu Ayahnya Leon itu harus menjaga pola makannya setelah menjalani operasi jantung dan dalam tahap pemulihan. Beliau harus menghindari berbagai makanan tertentu, terutama makanan yang mengandung lemak tinggi.
Suasana pagi itu bertambah meriah di meja makan. Yah, pada umumnya kalau makanan enak itu biasanya berasal dari berbagai olahan daging, baik daging sapi, kambing dan ayam!
Hampir sebagian besar masakan masyarakat di daerah ini hampir sama dengan masakan masyarakat Jawa pada umumnya. Hanya cara mengolah dan tambahan bumbu pada masakan itu saja yang agak sedikit berbeda.
Contohnya pecel. Masyarakat lebih mengenal dengan nama " Pecel Madiun " dengan tambahan petai cina atau lamtoro mentah di atas sayuran itu. Di sini juga, masyarakat mengenal masakan pecel sayuran itu dengan tambahan berupa potongan gendar.
__ADS_1
Gendar adalah olahan nasi yang diberi bumbu dan obat bernama bleng. Nanti nasi itu dikukus lalu ditumbuk halus dan dimasukan pada wadah dan didiamkan sehingga menjadi padat dan kenyal.
Kadang gendar ini pun bisa dijadikan kerupuk dengan memotong gendar tipis-tipis diletakkan pada wadah dari nyiru bambu dan dijemur di panas matahari sampai kering. Nanti hasilnya digoreng dan menjadi kerupuk sebagai teman makan nasi.
Selain itu sayur dari buah nangka muda. Kalau di Yogyakarta, sayur nangka muda atau tewel disebut dengan gudeg. Hanya ciri khas gudeg Yogyakarta adalah warnanya lebih coklat dan pekat karena tambahan gula merah dan daun jati, saat masakan itu diolah.
Di sini, masyarakatnya memasak nangka muda dengan kuah santan berlimpah, jadi warnanya putih atau lebih cerah. Kadang ada yang diberi kunyit dan menjadi berwarna kuning... Memang kalau sayur nangka atau gudeg ini lebih enak bila dimatangkan berkali -kali. Jadi lebih lunak kalau dimakan, dan semua bumbunya sudah meresap.
Pak Basuki datang ke kantor Leon bersama menantu dan anak perempuannya... Mereka sibuk membicarakan banyak hal di dalam kantor Leon. Tampaknya proyek ini adalah keberhasilan pertama dari kerja keras Leon yang cukup gemilang.
Pria tua itu kagum dengan luasnya lahan yang dijadikan proyek tiga tahap perumahan sampai jangka 5 tahun ke depan.
" Papa salut dengan kerja kerasmu, Nak! Setelah menikah dengan Asti hidupmu lebih terarah dan mempunyai tujuan!"
" Maaf, Papa. Kalau dulu Leon selalu menyusahkan Papa!"
Mas Pandu dan Mbak Mesya tertawa... Ketika melihat ayah dan anak itu saling berpelukan mirip adegan film boneka anak-anak zaman old, alias Teletubbies.
Sewaktu Leon remaja dan masih muda, dia memang sedikit liar dan nakal. Berbagai kegiatan yang menantang nyawa dan bahaya sering dilakukannya. Dari kebut-kebutan dengan motor atau mobil bersama temannya di jalan Kuningan atau Rasuna Said, Jakarta. Pernah juga memacu mobilnya di jalan lengang dan lebar di depan Gedung TVRI Senayan, sampai ke depan Mall sana menjelang dini hari hanya karena mendapat tantangan konyol dari teman nongkrongnya. Gaya khas pergaulan anak-anak muda kelas atas di di Ibukota pada waktu itu.
Pernah juga Leon ikut tawuran di kampusnya. Padahal para mahasiswa itu berasal dari satu kampus yang sama dan hanya beda fakultas saja. Sampai mereka baku hantam hanya perkara sepele saja... Tetapi yang Mbak Mesya tahu, Leon masih dalam batas wajar saat berhubungan dengan para wanita muda ... Dia sering gonta -ganti pacar. Tetapi adik bungsunya itu pantang memakai barang haram atau narkoba. Sebab takut akan mencoreng nama baik keluarga. Terutama wibawa sang Ayah!
Mas Pandu, Mbak Mesya dan anaknya akan kembali ke Semarang nanti sore. Tetapi Mbak Mesya sudah merencanakan sebuah acara besar yaitu liburan untuk seluruh anggota keluarga Murti di Yogyakarta untuk bulan depan. Layaknya acara famili gathering saja!
__ADS_1