
Suasana kantor kelurahan di hari ketiga semakin kondusif. Pak Cakra, Joko dan Mas Topan sudah menutup laporan terakhir pembayaran lahan tersebut. Begitu juga para petugas dari bank setempat. Mereka mulai memasukkan berbagai berkas ke dalam map.
" Alhamdulillah, selesai semua!" seru Pak Cakra.
" Aamiin!" Jawab Joko dan Mas Topan bersamaan. Begitu juga dengan dua wanita cantik yang merupakan petugas dari bank yang ikut mengaminkan, karena rasa lega. Setelah merasakan lelah dan ribetnya dalam dua hari kerja hari sebelumnya
Maklum... biasanya mereka banyak menemui kendala bila menggurus soal pembayaran tanah seperti ini. Apalagi kalau lahan itu oleh pemiliknya belum mempunyai serifikat, masih berupa girik. Kadang lahan itu menjadi sengketa antara para anak -anak pemilik tanah yang merasa berhak mendapatkan bagian dari warisan lahan tersebut.
Belum lagi turut campur-nya, pihak keluarga dengan kesepakatan harga yang telah ditetapkan semula ...Jadi semakin tambah runyam saja permasalahan itu.
Coba saja, kalau para orang tua para pendahulu mereka, mau berbesar hati. Dengan merelakan 2 meter saja dari seluruh luas tanah itu. Untuk digunakan sebagai saluran irigasi untuk mengairi lahan sawah mereka. Tentu akan lain ceritanya.
Mereka semua tentu akan mempunyai lahan pertanian yang subur, seperti persawahan yang ada pada beberapa desa tetangganya. Bukan tanah kering kerontang yang tidak bisa digunakan lagi untuk menjadi lahan penghidupan mereka. Karena sudah lama terbengkalai.
Kesibukan terdengar dari belakang gedung kantor kelurahan. Para ibu PKK sedang menyiapkan hidangan makan siang, sekaligus menjadi acara penutupan kegiatan itu. Mereka berharap dengan adanya pembangunan perumahan tersebut, desa mereka menjadi lebih maju dan berkembang pesat lagi. Tentu akan memberi dampak yang positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat desa. Sebab di desa lainnya, sudah lebih dulu menggiatkan berbagai potensi di wilayah mereka.
Leon mulai gelisah... Keluarganya hanya berbaur sebentar dengan para sebentar pada orang yang dikenakannya dengan baik.Termaduk dengan Ibu Sumiarsih. Bahkan dia tak pernah mau antri makan bersama seperti hari-hari kemarin.
Paling dua orang supir Elf, yang dipaksa ikut makan bersama mereka. Selain itu, di rumah pak Camat, Ibu Hernani selalu menyajikan makanan yang enak - enak khas dari daerah Yogyakarta. Selain gudeg, ada olahan sambal krecek, Jenang lodeh lengkap dengan tempe dan tahu bacem. Bahkan mereka juga masak manggut Lele dan oseng mercon. Makanan viral dari daerah itu.
Sebuah mobil Inova berlogo sebuah bank memasuki halaman depan kelurahan. Ada dua orang pria yang keluar dari pintu belakang mobil itu. Mereka terlihat seperti seorang bisnisman karena berkemeja rapih dan bagus. Seorang yang lebih muda membawa tas selempang di bahunya. Kedatangan kedua pria itu saat masuk ke dalam ruangan lobi kantor kelurahan mendapatkan sepenuhnya perhatian dari para ibu-ibu yang sedang menata meja makan besar itu.
" Leon?" Panggil pria yang menggunakan tas selempang kecil itu. Kepada Leon yang sedangkan berbincang dengan satu pegawai bank itu.
" Mas Adam?"
Leon kaget melihat kakak iparnya telah datang ke desa ini. Pria itu memeluk Leon erat - erat. Pak Sudewo pimpinan bank itu tersenyum. Beliau yang mengantar seorang pimpinan Perusahaan dari Abadi Murti, yang telah mengajak mereka bekerja sama di proyek besar itu nantinya.
" Ini Pak Sudewo Rajab, Leon! Kepala bank, yang akan menjadi rekan di proyek kita nanti!"
__ADS_1
"Saya, Leon Narendra Murti!"
Mereka bersalaman." Jadi Pak Adam David ini, kakak ipar Anda , Pak Leon?"
" Iya, dia menikahi kakak perempuan saya yang pertama... Nanti Mas Rayhan Harris yang akan memimpin proyek pembangunan perumahan itu di daerah ini. Dia menikahi kakak perempuan saya yang kedua, Mbak Alya."
"Wah, senang sekali saya dapat bekerja dengan orang-orang muda seperti Anda!" ucapnya kagum.
" Apa Asti masih sakit?" bisik Mas Adam. Setelah pria yang bernama Pak Sudewo itu beranjak untuk memeriksa pekerjaan anak buahnya itu.
" Dia mendapatkan berita buruk tentang cerita ibu kandungnya itu, dari kerabatnya yang ada di sini. Ya, begitulah... Jadi sering kepikiran dan membuat pertahanan tubuhnya kurang kuat ... Kakak tiri ibunya berdiam lama di Malang. Malam nanti kami akan berangkat ke kota itu."
" Ya, nggak apa-apa, Leon! Kamu memang harus terus mendampinginya... Tidak semua orang punya jalan hidup yang lurus - lurus saja dan tak ada hambatan apa-apa."
Leon membawa kakak iparnya itu duduk dan bercakap - cakap lebih lama. Sedikitnya Leon telah bercerita kepada ibunya tentang keadaan Asti yang sekarang. Semua mensuport Leon untuk menjadi pria yang dapat diandalkan istrinya itu dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.
Berbagai hidangan menarik tampak tertata di meja makan besar itu. Bahkan ada tumpeng mini yang baru saja dibawa oleh seorang ibu dan diletakkan di meja kayu besar itu.
"Saya berterima kasih atas tambahan dana yang diberikan oleh istri Pak Leon kemarin, agar kita mempunyai makan lebih banyak dan layak hari ini !" ucap Bu Sumiarsih, yang berdiri di pinggir meja dekat tumpukan piring-piring. Matanya menatap ganjil akan senyum palsu pada wanita yang bernama Ibu Andar Sinta itu.
Leon tertegun. Di meja itu selain ada tumpeng kecil , juga menyediakan nasi kuning dengan lauk pauk yang lengkap. Ada balado telur, ayam goreng, kering tempe, perkedel kentang juga urapan. Yaitu berbagai sayuran yang direbus diberi bumbu parutan kelapa pedas yang menggoda.
" Ayo Pak Lurah!" panggil Leon. Di belakang pria itu, selain Leon ada pimpinan bank setempat. Tak lama juga datang Ibu Hernani yang mengandeng suaminya Pak Prayoga.
" Selamat datang, Pak Camat dan Bu Camat Sumber Sari, yang berkenan hadir untuk penutupan acara di kantor kelurahan ini !" ucap Leon tegas.
Wajah Ibu Andar Sinta meredup. Dia menyisih sedikit ke belakang. Sementara Pak Camat maju dua langkah. Banyak doa dan ucapan yang diberikan pria itu dalam pidato tidak resminya itu. Setidaknya dia berharap Desa Sumber Sari dapat menjadi desa yang lebih maju lagi dengan adanya proyek pembangunan perumahan milik perusahaan Abadi Murti.
" Kebetulan, Istri pak Leon ini adalah keponakan saya, yang tinggal di Jawa Tengah. Dari desa Sendang Mulyo itulah sebenarnya keturunan dari Mbah dan Mbah buyut kami berasal. Sebelum keluarga dari nenek dan kakek saya merantau ke Madiun, Surabaya dan Malang."
__ADS_1
Asti maju bersama Mas Adam, juga Bulek Ratih dan Lek No. Anak - anak digendong oleh pengasuhnya masing masing, yaitu Bu Jum dan Putri. Mereka akan menyaksikan pemotongan nasi tumpeng itu, sebagai rasa syukur dan doa atas banyak keberkahan.
Nasi tumpeng dipotong ujungnya oleh ke Pak Camat. Ternyata pria itu malah menyerahkan potongan tumpeng itu pada piring kosong yang dibawa Asti.
" Ini keberkahan untukmu Asti! Semoga usaha suamimu semakin maju dan sukses... Kamu dan keluargamu sehat dan sejahtera dan akan selalu sering menengok saya di desa ini!"
Asti terharu dengan pemberian sepotong ujung tumpeng itu, dengan adanya hiasan berupa sebuah cabe merah yang dibuat laksana bunga yang mekar.
" Terimakasih, Pakde!" ucap Asti. Dia juga mendapat tepukan lembut di bahunya.
Semua orang mulai mengambil nasi kuning dengan lauk-pauk yang disediakan dengan tertib. Setelah mengambil nasi, satu- persatu dari petugas keamanan dan staf kelurahan dan para petugas lainnya, meninggalkan ruang makan itu . Mereka mencari tempat duduk yang lebih nyaman untuk menikmati makan siang yang cukup mewah itu.
Leon membantu Asti menambahkan lauk - pauk di piring yang masih menyisakan ujung tumpeng itu. Setelah itu Leon mengendong Qani agar Bu Jum dapat ikut antri mengambil piring. Asti secara spontan menyuapi suaminya itu dengan nasi kuning yang ada di piringnya. Qani pun tak menolak ketika Asti memberinya potongan perkedel kentang itu sedikit demi sedikit.
Pemandangan itu dilihat oleh Ibu Andar Sinta dan Wati dari kejauhan. Wajah mereka menyiratkan berbagai emosi jiwa. Apalagi setelah melihat Bu Lurah mendekati Asti dan Leon.
Kemarin beliau mendengar tentang jumlah uang makan yang tidak sesuai yang telah diberikan oleh Pak Leon. Jadi uang yang harus dibelanjakan, tetapi tidak mencukupi untuk menyajikan makanan yang layak dan cukup untuk semua orang. Sampai Bu Sumirah menyampaikan kalau makanan ala tumpengan itu diberi langsung oleh istri Pak Leon sendiri, sebagai tambahan.
" Terimakasih Ibu Asti, telah menambahkan uang belanja untuk kegiatan makan siang ini...Jadi kami dapat membuat makanan yang lebih layak untuk menjamu Pak Camat dan istrinya..." ujar Bu Ratna, istri Pak Lurah Acmad Sudiro itu.
" Iya, Bu. Sama-sama. Saya juga banyak berterima kasih dengan semua orang di sini yang sangat membantu kelancaran usaha suami saya, " ucap Asti tenang
"Ayo, Pak Leon... Kalau masih kurang, tambah. Nggak mungkin kenyang kan makan cuma satu piring berdua!" Ucap Ibu itu lagi.
" Gampang itu, Bu... Si kecil ini lagi manja, Bu... Nggak mau ditinggal ayahnya!" bisik Asti.
Wanita itu tersenyum. Terlihat Qani sedang tenggelam di pelukan ayahnya. Dia tak mau dengan dipisahkan dengan Leon sedikit pun walaupun mendapat bujukan Ibunya tadi.
Mas Adam juga sudah duduk di samping Leon sambil menikmati sajian makanan di piringnya. Pak Lurah dan Pak Camat ternyata juga sudah berkenalan dan ngobrol dengan kakak iparnya Pak Leon. Pria tampan itulah yang memegang pimpinan tertinggi perusahaan Abadi Murti, yang berpusat di Semarang.
__ADS_1