
" Ma, darimana Papa tahu soal Mas Leon yang memperkarakan soal Almira?"
" Dari sepupunya yang bekerja di Pemda di kota itu. Sidang itu cukup menarik perhatian banyak orang. Sampai ada kenalan Om Adit yang mengenali Leon pada sidang terakhir, sebab gugatannya dimenangkan olehnya ! Katanya Almira akan dikurung penjara cukup lama karena kesalahannya itu!"
" Sebenarnya, Asti tidak mempermasalahkan hal itu, Ma! Asalkan Almira mau minta maaf saja itu sudah cukup. Tetapi Joko yang tidak terima! Terlihat kalau pengaruh Almira itu sangat melekat kepada sahabat dan ibunya itu... Lewat tunangannya sahabatnya itulah, Joko dan Pak Cakra mendapat alamat Almira. Juga dibantu oleh seorang pengacara handal... Kata Pak Mahendra Suwondo, tindakan Almira itu sudah mengganggu ketenteraman keluarga kami..."
"Iyalah, seharusnya Almira harus berpikir panjang dahulu kalau mau melakukan sesuatu! Apalagi sampai merugikan orang lain. Ya, bisa dituntut! Negara kita negara hukum, lho? Joko sudah benar! Almira itu jangan dikasih hati! Kata Pandu Almira itu sebelas dua belas dengan Celine!" Ujar Ibu Anggun kesal.
" Makanya Papanya dulu kepikiran banget sewaktu Leon menikahi Celine... Sepak terjangnya, sudah sangat menjatuhkan nama baik keluarga kita... Kalau nggak kedua kakaknya turun tangan dengan permasalahan itu. Tentu Leon sampai sekarang masih terikat pernikahan dengan perempuan benalu itu. Bergaya bagai wanita kelas atas, sok berbisnis sampai sering berbelanja ke luar negeri, ternyata berselingkuh dengan suami orang! Apa dengan istri model seperti itu Leon harus mempertahankan pernikahannya?"
Ibu Anggun menatap Asti dengan lembut." Kamu yang telah banyak mengubah Leon, Asti! Terutama dalam kehidupan beragamanya... Makanya Papa banyak mensuport Leon dengan memberinya tanggung jawab yang lebih besar. Seperti memberinya proyek pembangunan perumahan itu. Ternyata cukup berhasil!"
Qani terbangun mendengar nenek dan ibunya bercakap - cakap menjelang waktu Subuh. Bayi itu dengan cepat merangkak mendekati ranjang. Ibu Anggun tertawa dengan gerakan cucunya itu.
Dia langsung menggendongnya. Sambil mengecup pipi dan dahi Qani... Sementara Asti menyiapkan susu formula untuk bayinya itu. Bayi itu tertidur kembali setelah kenyang. Sementara azan Subuh sayup-sayup mulai terdengar dari kejauhan.
Kegiatan di rumah itu mulai terdengar dari arah depan kamar. Ada seorang Mbak Siti yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua. Tadi malam Ibu Anggun minta dibuatkan bubur ayam saja, yang mudah dicerna sebelum dia berangkat ke rumah sakit menengok suaminya. Nanti setelah Qani bangun, Asti akan menyusul ke rumah sakit. Karena Bu Jum dapat menangani semua urusan Qani yang ditinggalkannya selama beberapa jam di rumah ini.
Bu Jum sudah mandi dan merapikan tempat yang ditidurinya tadi malam....Tak lama Ibu Anggun mendapat laporan dari rumah sakit kalau keadaan suaminya sudah mulai stabil. Namun Dokter tetap meminta Pak Murti tinggal sedikitnya selama dua hari di ruang perawatan, agar selalu dapat dipantau kesehatannya oleh tim dokter yang pernah menangani operasi jantung beliau.
Mbak Mesya yang akan menjaga ayahnya pagi ini, sementara Dimas dan Leon pulang. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai ke rumah.
Qani langsung digendong Leon, ketika dia menemui anaknya itu diasuh Bu Jum di teras depan. Bayi mungil itu sangat senang dipeluk dan diciumi ayahnya. Rasa kangennya terobati.
Asti dan Ibu Anggun terharu melihat begitu besar rasa cinta dan sayang Leon kepada anak perempuan itu. Pantas saja, sang ayah menuntut Leon harus punya anak lebih dari satu. Agar rasa tanggungjawab Leon semakin besar sehingga rumah tangganya berjalan aman dan langgeng.
Dua hari ini, Asti dan Leon bergantian menjaga Pak Murti di rumah sakit. Asti akan datang di siang hari setelah mengurus Qani dan menyerahkan pengasuhan pada Bu Jum. Sementara Bu Anggun datang lebih pagi lagi, agar dia bisa menggantikan Leon, atau menantunya Mas Pandu yang berjaga di malam hari. Walaupun keluarga mereka juga mampu membayar seorang tenaga perawat profesional untuk bergantian berjaga dan menggurus Pak Murti selama mendapatkan perawatan di rumah sakit. Namun obat penyembuh bagi pria tua itu adalah adanya kehadiran anggota keluarganya yang terus mendampinginya selama beliau sakit.
__ADS_1
Tahu cucunya ada di rumahnya. Pria itu pun meminta kepada para dokter agar dirawat jalan saja! Sebab dia juga sudah punya beberapa cucu yang sudah yang sudah agak besar.... Tetapi mereka semua disibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah yang padat.
Belum lagi kegiatan di luar sekolah. Mulai yang ikut les bahasa asing di sebuah kursus, ada yang ikut bimbel untuk persiapan ujian. Bahkan cucu laki-lakinya dari Mbak Mesya malah mondok di sebuah pesantren modern di dekat daerah Magelang.
Jadi kalau para cucunya itu tidak mempunyai hari libur yang panjang dari sekolah atau pesantren tempat mereka menuntut ilmu, mereka tidak bisa mengunjungi beliau. Walaupun rumahnya dengan rumah Mbak Mesya masih berada dalam satu kompleks perumahan.
Di halaman rumah sakit Qani digendong Leon. Bayi cantik itu menikmati bermain di taman rumah sakit. Bu Jum duduk di sudut taman dengan stroller di tangannya.
" Nanti, tunggu Asti di sini, ya. Bu Jum!"
" Iya, Pak Leon!"
Leon akan membawa Qani sebentar ke ruang rawat ayahnya. Nanti mereka akan bergantian jaga. Qani akan pulang bersama Asti dan Ibu Anggun.
Pak Murti terharu melihat bayi cantik itu didudukan di sampingnya sebentar. " Besok Qani main di rumah bersama Eyang, ya?"
" Papa boleh pulang ke rumah, Ma sama dokter?" tanya Asti cemas.
" Mau bagaimana, lagi? Kalau sudah maunya begitu, Bapak mertuamu itu sangat keras kepala, Asti! Tak peduli dia sudah pensiun lebih dari sepuluh tahun jadi tentara. Tetap saja semua kemauan tidak bisa dibantah!"
Tampa sadar, tangan Asti meraih tangan Ibu Anggun dan menekan dengan kuat. Sebagai tanda dia juga ikut prihatin.
Sejak pagi Pak Murti memang sudah meminta dokter untuk dirinya dirawat di rumah... Sementara satu persatu alat dan selang yang menempel di tubuhnya sudah dilepas. Tinggal tabung oksigen dan selang infus saja yang menempel di lengannya.
Mereka diantar Dimas kembali ke rumah... Sementara Dimas akan kembali setelah Magrib.Pemuda itu nanti membawa berbagai makanan yang disiapkan ART di rumah ini, untuk orang yang menjaga Pak Murti.
Mas Pandu sudah mengeluh karena dia mulai bosan dengan segala masakan yang ada di kantin rumah sakit. Walau tubuhnya sehat, nyatanya masakan yang dijual di sana pun itu juga kurang kena di lidahnya. Jadilah Ibu Anggun yang menawarkan ART-nya itu untuk masak... Beda dengan Asti dan Leon yang akan makan apa pun yang dapat mereka temui di kantin.
__ADS_1
Paginya Asti dikejutkan dengan suara ribut di belakang dapur, tepatnya di ruang cuci pakaian dan jemur baju ... Bu Jum sudah sejak kemarin meminta izin kepada Ibu Anggun untuk menggunakan mesin cuci di rumah itu untuk mencuci semua pakaian kotor milik majikannya. Dari pakaian Asti, Pak Leon dan yang paling banyak si kecil. Ternyata Mbak Tia yang memarahi Bu Jum.. Sehingga timbullah pertengkaran itu.
" Ada apa, Mbak Tia?" tanya Asti.
Wanita yang dipercaya mengurus semua urusan rumah tangga di rumah keluarga ini masih terlihat marah dan bertolak pinggang di hadapan Bu Jum. Entah mengapa sejak kemarin perempuan muda itu terus menyindir Bu Jum. Apalagi kalau tak ada Ibu Anggun. Sebab di rumah itu tinggal dua perempuan saja yang diperkerjakan sebagai ART dan dua ART laki-laki untuk bersih - bersih rumah , mencuci mobil dan mengurus taman.
" Bilangin, Mbak Asti! Jadi orang itu jangan goblok banget, sih!"
Asti kaget dengan bahasa perempuan muda yang terasa sangat kasar begitu... Padahal Bu Jum usianya lebih tua darinya dan harusnya dihormati.
" Memangnya kenapa dengan Bu Jum, Mbak Tia?.
" Iya, pakai mesin cuci nggak bilang sama aku, cucianku juga lagi banyak ini, Mbak! Itu sabun Ibu beli khusus untuk mesin cuci ini ... Beli kek sendiri, main pakai aja. Dasar orang kampung nggak mau modal!"
" Bu Jum, mau mencuci baju siapa itu?" Tanya Asti akhirnya mengalah. Asti nggak mau cari ribut di rumah mertua ini.
" Cucian baju Mbak Asti dan Mas Leon!"
"Kita cuci pakai tangan aja, Bu Jum. Maklum yang punya kan nggak bolehin..." bisik Asti
Kesal Asti menatap perempuan yang usianya mungkin hanya dua atau tiga tahun di atasnya. Tetapi sejak kemarin dia ngomel - ngomel terus bila dimintai tolong sedikit saja olehnya. Maklum walaupun dia menantu di keluarga ini tetapi hanya tamu. Jadi segala permintaan tolong itu sepertinya hanya akan menambah tugasnya saja!
"Ayok Bu Jum...Aku bantu! Sementara pakai sabun deterjen milik Qani dulu...Nanti kalau keluar rumah kita cari deterjen untuk mencuci pakaian di mini market atau warung terdekat."
Wajah Mbak Tia itu melengos. Tanpa bantahan lain! Dia langsung ngeloyor aja keluar dari ruang cuci itu... Menginap lebih dari dua hari di Semarang juga di luar perencanaan mereka semula. Apalagi kondisi kesehatan Pak Murti juga belum stabil... Sehingga mereka terpaksa mencuci pakaian kotor yang sudah banyak bertumpuk. Sementara mereka hanya membawa sedikit pakaian ganti.
Leon yang tadi mencari keberadaan Asti jadi terkejut melihat istrinya itu sedang membantu Bu Jum mencuci pakaian menggunakan tangan... Dia juga melihat Asti menjemur pakaian itu menggunakan tambang yang dibuat Dimas sementara di halaman belakang.
__ADS_1
Leon menatap gusar pada Mbak Tia tadi yang sudah masuk kamarnya. Sedangkan si Ibunya sedang menjaga Qani bersama Mbak Siti. Hanya wanita itu saja yang sudah lama bekerja di rumah ini, yang bertugas di dapur dan memasak.