
Saat jam makan siang, Ninuk izin ke mesjid yang ada di samping rumah sakit sambil mencari makan siang. Kali ini, berbagai penjual makanan malah banyak berjejer di sisi halaman mesjid, yang merupakan sisi jalan yang menghubungkan masjid itu dengan rumah sakit swasta terbaik di daerah ini.
Pada penjual soto itulah Ninuk masuk ke dalam warungnya. Walaupun warung ini kecil dengan dua bangku panjang untuk dipakai pembeli makan dan duduk di sana. Namun tempatnya rapi dan bersih.
Keadaan di sekeliling tempat itu tampak ramai menjelang tengah hari. Sampai Ninuk mulai menghapal mobil Pajero hitam yang melintas pelan di depan rumah sakit. Mobil Pak Leon! Walaupun daerah ini mulai berkembang pesat pembangunannya dalam lima tahun terakhir ini. Namun masih jarang orang mempunyai mobil mewah seperti itu untuk kegiatan sehari-hari atau bepergian.
Mungkin lainnya halnya dengan penduduk kota yang sangat menjaga gengsi. Jadi jenis mobil itu dengan mudah berseliweran di jalan raya.
Ninuk cepat membayar semangkok nasi soto dan es teh manis yang telah dia habiskan untuk makan siangnya kali ini. Maklum dua kali Asti menikmati makanan dari rumah sakit, sudah menghilangkan selera makan Ninuk saja melihatnya.
" Ninuk! " panggil Pak Leon.
"'Eh, Pak Leon?" ujar Ninuk tergagap menyambut salam dari pria tampan itu.
Lho, pria itu masih berdiri di pintu yang menunju lift rumah sakit. Pria itu menenteng sebuah parsel buah yang tampak besar dan menarik. Suara berat pria itu saat memanggil Ninuk, sudah menarik perhatian or pengunjung yang juga sedang menunggu di lift.
" Pak Leon mau menengok Mbak Asti?"
" Iya, bagaimana keadaannya?"
" Sudah lumayan, Pak. Pasti dia nanti minta pulang!"
" Kenapa?"
" Mbak Asti lebih suka dirawat di rumah dan minum obat berapa butir pun banyaknya. Walaupun obat itu pahitnya minta ampun! Kakak sepupunya saya itu sangat takut dengan jarum suntik!"
Pak Leon tertawa. Pantas tadi malam Bulek Ratih menutup mata Asti saat seorang suster sibuk menusukan jarum infus di tangganya. Mungkin karena sudah merasakan tubuhnya yang lemas dan tak bertenaga Asti pasrah dengan keadaan itu, dan membiarkan dia mendapat pertolongan dengan jarum infus tersebut.
Saat Ninuk izin keluar tadi, Joko buru- buru duduk di samping Asti. Berkali- kali Asti minum dari botol air mineral untuk menghilangkan pahit dari beberapa obat yang harus diminumnya itu setelah menyelesaikan makan siangnya.
__ADS_1
" Asti, aku minta maaf! Karena omongan yang kacau kemarin tentang Almira dan Pak Leon. Maaf...Aku jadi membuatmu kepikiran dan masuk rumah sakit."
"Nggak apa-apa! Aku maklum, kok. Tetapi soal Ninuk, kamu Bulek dan Lek No nggak akan membuat aku rapuh dan harus masuk rumah sakit begini!"
" Apa ada permasalahan berat yang membuat kamu sakit?"
Asti memang berusaha memendam perasaan ini sangat lama. Tetapi dia juga agak bingung untuk menyampaikan hal ini. Sebab takut membuat tali silaturahmi di antara keluarga Bulek Ratih menjadi keruh.
" Ini soal Dania," kata Asti pelan.
" Dania membuat masalah apalagi?"
" Sepertinya dia mulai nggak amanah. Aku bukan hitung - hitungan, nih. Aku sudah mengaji Dania cukup perbulannya. Tetapi dia sepertinya sudah berani mengambil barang di toko.."
" Maksud kamu, Dania mencuri pakaian di toko?"
Wanita itu adalah mantan guru Asti sewaktu dia bersekolah di SD negeri yang ada di kecamatan. Wanita itu sudah lama berteman dengan Asti di Facebook dan WA alumni sekolah SD mereka.
Sampai dia sering datang ke toko Asti di pasar. Sebab Bu Nur sering membeli beberapa pakaian muslim di toko Asti untuk menghadiri berbagai acara pesta atau undangan di luar jam kerjanya sebagai pegawai PNS.
Wanita itu juga mengenal Dania yang menjadi penjaga di toko Asti. Lewat bantuan mantan gurunya itulah, Dania dipermudah untuk ikut kegiatan belajar kejar paket C di sana.
Beberapa kali wanita itu mengirim foto kegiatan Dania saat belajar di bawah bimbingannya. Sampai Asti menyadari kalau beberapa pakaian yang dipakai Dania seperti baju miliknya yang disimpan di toko untuk dijadikan contoh. Padahal Asti meminta Dania untuk memberikan bajunya itulah kepada pegawai konveksi yang selalu datang mengirim barang pesanan Asti ke pasar.
Asti memberikan foto-foto itu kepada Joko. Mata Joko menatap tajam pada empat lembar foto Dania. " Ini baju yang diberikan oleh dua mantan kakak iparmu itu kan?"
Tentu Joko hapal blus cantik itu karena Ninuk selalu meributkan soal harganya yang mahal dan dibeli di sebuah butik baju muslim yang terkenal di kota Solo.
" Tadinya mau dijadikan contoh untuk Bu Shawa pemilik konveksi. Pantas nggak ada kabar! Asti pikir ibu itu sedang banyak order jadi belum sempat mengerjakan contoh itu!"
__ADS_1
" Apa Dania juga membuat laporan keuangan yang juga tidak pas hitungan dari hasil penjualan tokomu?"
" Belum tahu juga! Selama ini semuanya terlihat baik- baik.."
" Kenapa baru ngomong sekarang! Sampai kamu sakit begini. Orang seperti Dania kadang kurang panjang cara berpikirnya! Kita sudah baik dan banyak membantu keluarganya pun masih juga dibohongi. Mau sampai tokomu bangkrut baru kita bisa menyalahkan Dania, begitu?"
"Aku nggak enak sama Bulek Ratih!"
" Soal Ibu, nanti aku bisa beritahu pelan- pelan sambil bertanya langsung pada Dania. Dia jangan dibiarkan saja! Nanti aku carikan penjaga toko yang lain. Ada adiknya Firman. Dia baik dan belum bekerja setelah lulus SMK tahun kemarin. Jangan mempercayakan atau memperkerjakan saudara atau kerabat pada usaha kita ! Apalagi kalau dia berbuat kesalahan jadi tidak enak untuk menegur atau memecatnya!"
Kedatangan Pak Leon dan Ninuk agak meredam kemarahan Joko. Mereka ngobrol sebentar. Bahkan Berkali-kali Asti menguap karena pengaruh obat yang diminum itu. Ada dari obat tersebut yang membuatnya harus cukup tidur dan istirahat.
Pak Leon pamit pulang diantar Joko sampai ke halaman parkir. Pria itu juga telah membayar seluruh biaya rumah sakit Asti tadi. Walaupun dia tahu dari cara kehidupan Asti sehari- hari wanita itu juga tidak kekurangan uang.
Joko mencari warung makan di sekitaran samping masjid. Dia makan sambil terus berpikir untuk memanggil Dania dan mempertangungjawabkan perbuatannya.
Susah juga menghadapi sikap Dania yang mudah lupa dengan kebaikan orang yang telah menolongnya. Oleh karena itu, dia sejak dulu tidak menyukai sikap Dania yang kadang agak bebal dan pongah. Namun Joko mendiamkan saja. Sebab Ibunya Dania masih merupakan sanak saudara dari ibunya yang tinggal di desa di belakang pasar Kecamatan.
Kehidupan keluarga Dania bisa disebut jauh dikatakan cukup. Orang tua mereka hanya mendapatkan warisan berupa rumah yang kurang layak. Setelah sawah warisan kakeknya dijual dan dibagi rata dengan saudara kandung ayah Dania. Konyolnya sekarang mereka menjadi buruh tani, karena uang warisan itu malah untuk membangun rumah, membeli motor atau membeli barang - barang mewah lainnya. Padahal dari sawah itulah mereka mencari nafkah dan mengantungkan kehidupan keluarga sehari-hari.
Joko bermaksud membantu Asti menyelesaikan persoalan l itu setelah Asti sehat dan kembali ke rumah. Namun dia juga merasakan kalau Pak Leon punya perhatian khusus kepada Asti.
Setelah kembali ke ruang rawat pasien VIP di lantai dua, dia melihat adiknya terbaring nyaman di sofa sambil menikmati televisi besar dengan volume kecil. Asti tertidur lelap.
"Sudah ada dokter yang periksa?"
"'Sudah! Mas duduk di situ! Tadi Mbak Asti menyuruh kita makan buah ini. Kalau tidak habis disuruh dibawa pulang, saja!"
Di meja samping tempat tidur Asti ada parcel buah yang sebagian isinya sudah berpindah ke piring plastik di depan meja. Ninuk sudah menghabiskan anggur, apel dan buah pier. Terlihat dari sisa kulit buah itu dengan beberapa biji kecil di piring. Semua itu dibawa oleh Pak Leon tadi sebagai buah yang untuk menjenguk Asti.
__ADS_1