
Niat semula Satrio untuk menghubungi Lek No dan istrinya untuk memberitahu kalau Asti masuk rumah sakit dibatalkan. Sebab, Asti dapat dirawat di rumah apabila suhu tubuhnya mulai stabil setelah menghabiskan satu botol infus yang tadi pagi sudah dipasang oleh perawat yang bertugas.
Hampir pukul 20.00, Asti segera didorong dalam sebuah kursi roda oleh Satrio meninggalkan ruang perawatan. Setelah pria itu menyelesaikan segala administrasi, dia kembali ke kamar istrinya, dan meminta Bude Prapti menyiapkan kepulangan istrinya. Pokoknya dengan seragam yang masih dipakai Satrio sejak dia pulang kerja siang tadi, semua urusan jadi lebih mudah.
Perjalanan dari rumah sakit, menuju rumah dinas ditempuh hanya dalam waktu 30 menit. Apalagi lalu lintas menjelang malam di kota itu terlihat lebih lenggang.
Asti hanya mau dipapah oleh Satrio menuju kamarnya. Agak susah memang membawa Asti untuk ke dokter atau minum obat. Jadi perlu seribu cara untuk membujuk Asti meminum obat-obat itu sesuai dengan takaran dan waktunya. Mungkin karena rasa tanggung jawab Asti terhadap nyawa dalam rahimnya itu saja yang membuatnya terpaksa meminum obat-obat dari dokter tersebut..
"Istirahat dulu, Mas. Sudah Bude siapin untuk makan malamnya!"
Suara lembut Bude Prapti membuyarkan lamunannya. Melihat Asti sakit dengan tubuh yang lemah dan wajahnya yang pucat saja, membuat pria itu cemas. sampai melupakan kalau sejak sore tadi dia belum makan. Pria itu segera menghabiskan makanannya di piring tanpa memperhatikan sayur dan lauk apa yang tadi dihidangkan oleh saudara jauh neneknya itu.
"Bude, ada kejadian apa di desa, sampai Asti sakit begitu?"
"Yang Bude tahu sih, Mas. Ada mantan suami Bude Ayu yang datang. Katanya dia memberi semua peninggalan Bude Ayu itu ke istrimu. Terus mereka dua hari pergi-pergi terus ngurus sesuatu. Sampai rental mobil kenalannya pak Sarno!"
"Masak, De? Masih mau datang pria itu ke rumah Bude Ayu?"
"Memang dulu kenapa, Mas?"
__ADS_1
"Dari cerita Mbah Sanjaya, Bapak Bude Ayu merasa marah dan tersinggung karena Pak Rahman itu orangnya sangat keras. Sejak Bude Ayu menikah dan ikut ke daerah suaminya bertugas nggak pernah pulang kampung. Padahal Bude Ayu juga punya uang sendiri, dari kiriman Bapaknya. Tetapi Pak Rahman lebih mengutamakan tugasnya. Bude Ayu saat minta izin suaminya untuk tinggal sementara di desa Sendang Mulyo saja ditolak. Malah disuruh milih ikut dia kembali ke Sumatera atau bercerai!"
Wanita paruh baya itu terkejut, "Jadi Bude Ayu memilih dicerai begitu?"
"Nggak tahulah, De. Sebab Bude Ayu hanya dapat melihat makam ibunya saja saat dia datang. Karena perjalanan waktu itu tidak selancar sekarang. Mereka tertahan di jalan sampai satu hari dua malam. Rencananya Bude mau nunggu 7 hari dan 40 hari setelah pemakaman ibunya, baru pulang ke rumah suaminya."
"Apa, Asti nggak ngomong apa-apa sama Bude?"
"Nggak sih. Tapi Bulek Ratih bilang. Sejak sekolah SMK dulu, Asti sudah belajar mengurus keuangan hasil kebun dan sawah Mbah Winangun. Bahkan dia yang mengatur semua pengeluaran rumah tangga Lek No dan Bude Ayu."
" Apa kamu tahu, Mas Satrio? Asti berencana membuat tempat usaha atau ruko dari tanah Bude Ayu yang ada di dekat pasar Kecamatan?"
Lama Bude Prapti berpikir," Apa kamu nggak takut kalau Asti jadi wanita mandiri, yang bisa punya uang sendiri dari usahanya nanti, Mas?"
Ada tawa Satrio yang terdengar geli."Bude tahu kan? Sejak kecil orang tua saya bekerja. Malah Ibu bisa mendukung karier Bapak. Asal Asti tahu tugas dan kewajibannya, nggak apa-apa dia bekerja dengan usahanya, De!"
Pembicaraan itu akhirnya diakhiri hampir pukul 21.00. Sebenarnya, Bude Prapti juga dapat menilai, hampir semua keturunan anak-anak perempuan Mbah Sanjaya adalah wanita pekerja yang kuat, tabah dan ulet. Dimulai dari Ibunya Satrio , Widya Prameswari si putri sulung yang kuliah sebuah PTN yang mengambil jurusan kependidikan.
Dua adik perempuannya ada yang menjadi bidan dan satu lagi membuka toko sembako besar di desanya. Mereka tetap menjadi istri dan ibu rumah tangga bagi suami dan keluarganya.
__ADS_1
"De, titip Asti. Nanti obatnya disuruh diminum setelah sarapan ya?" Pesan Satrio lagi sebelum dia berangkat bekerja pagi itu.
Ternyata sakitnya Asti dan dirawat sehari di rumah sakit, segera diketahui oleh seluruh ibu-ibu yang tinggal di kompleks perumahan. Juga Ibu ketua organisasi itu. Sebab sebelum berangkat kerja Satrio sudah minta izin untuk terlambat datang karena harus membawa istrinya ke rumah sakit terdekat di kota ini.
Apalagi Istri komandannya itu juga ketua organisasi para ibu di kantor itu. Sore harinya, Satrio kembali ke rumah sakit lagi setelah menyelesaikan beberapa laporan penting. Pria itu melihat dengan was-was keadaan Asti yang masih tergolek di ranjang kamarnya dengan jarum infus yang melekat di lengan kirinya.
Dia tahu dari cerita, Bule Ratih. Asti jarang sakit dari kecil sampai dewasa. Bahkan di agak takut jarum suntik apalagi disuruh minum obat. Namun sejak awal mengurus izin pernikahan dengan Satrio ada berbagai prosedur kesehatan yang harus dijalani mereka berdua terutama cek kesehatan dan Asti menerima beberapa suntikan.
Siang harinya mereka para ibu tetangga dipimpin oleh Ibu Sartika Endah datang menjenguk Asti di rumah dinasnya.Walaupun masih belum fit benar, demi kesopanan dan hormatnya, Asti menemui tamu-tamu tersebut. Ibu Sartika Endah adalah wanita yang luwes dan sarat dengan pengalaman hidup, jadi dia banyak memberi pesan pada Asti agar menjaga kesehatan dan kehamilannya dengan teliti.
Mereka hanya berbincang-bincang sebentar sebelum izin pamit. Padahal Bude Prapti sudah menyiapkan beberapa makanan dan minuman untuk tamu-tamu tersebut.
Bahkan Ibu Sartika sempat menyerahkan dua buah kantong kertas besar untuk Asti, yang diletakkan di meja makan kecil. Dibantu Ibu Sartika, Asti mengantar para tamunya pulang. Sedangkan istrinya Pak Bos tinggal di sebuah rumah besar dekat kantor Polres setempat. Kali ini pun dia mendapat pengawalan khusus seorang polwan yang menjadi supir si Ibu.
"Istirahat dulu, Asti!" Pinta Bude Prapti. Sambil sibuk menggulung tikar, mengumpulkan berbagai makanan dalam piring-piring di meja dan gelas-gelas air putih. Sebagian ibu-ibu tadi adalah tetangga kanan-kiri Asti di rumah dinas ini.
Wanita itu terpukau oleh sebuah parcel buah yang dibungkus cantik pada wadah keranjang rotan. Mungkin sekali dua kali, Bude Prapti melihat parcel seperti itu untuk
hantaran dalam acara lamaran atau hantaran pernikahan. Satu tas lagi adalah kotak susu untuk ibu hamil.
__ADS_1
Saat diperiksa lagi, di dalam bekas kantong parcel itu ada sebuah amplop besar dengan gambar mawar yang cantik. Mungkin ada surat ucapan yang ditulis ibu-ibu tersebut. Namun yang Asti dapatkan adalah lembaran uang ratusan ribu rupiah. Segera Asti menyimpannya, mungkin bisa diberikan pada Satrio sebagai pengganti biaya rumah sakit kemarin.