Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 222. Ke Desa Sendang Mulyo


__ADS_3

Tawaran Lek No kepada Pakde Muin untuk singgah ke rumahnya di desa tadi malam, disambut dengan gembira oleh lelaki itu. Namun karena Asti harus membawa pasukan tersendiri jadi dia menyiapkan juga mobilnya sendiri untuk kepergiannya kali ini.


Mbak Ning menerima tawaran Asti untuk ikut pergi juga. Setelah kancil dan Mas Danu bersedia menjaga rumah itu. Mereka sarapan bersama di halaman samping.


Ternyata Pak Muin sangat menghargai kerja keras anak-anak muda itu dalam menjalankan bisnis kuliner. Sampai dia memberi saran dan beberapa ide yang cukup cemerlang. Sebab dia juga sangat menikmati olahan nasi goreng dan mie goreng dari masakan Mas Danu. Yang sering menjadi sebuah slogan 'Rasa bintang lima, harga kaki lima itu'.


" Ayok, Bu!" seru Akbar tidak sabar ketika tahu mereka semua akan pergi rumah Mbah No di desa.


Mereka tadi menyiapkan sarapan yang agak banyak agar Mas Danu dan kawan-kawan itu ikut sarapan juga. Sebab membuka usaha seperti warung tenda itu ternyata cukup menguras tenaga juga. Makanya Mbak Ning dan Bu Jum selalu membantu mereka pada hari Sabtu malam dan Minggu malam. Saat pengunjung sedang banyak - banyaknya ada di warung tenda. Apalagi sepertinya semua pengunjung minta dilayani lebih dahulu.


Para pemuda itu malah bergeletakan di ruang tengah setelah selesai sarapan. Mereka beristirahat sambil nonton tv dan berbaring di lantai beralas tikar. Mengumpulkan tenaga untuk persiapan membuka dagangan lagi di sore nanti.


" Kamu yang duluan saja, Asti! Pakde baru ke rumah keluarga Pakde Sanjaya saja sudah ke sasar dua kali, di jalan ...Ini sudah hampir enam tahun lebih, tidak pernah ke sini lagi. Semuanya sudah sangat berbeda. Daerah ini berubah sangat drastis. Pembangunan di seluruh perbatasan ini ternyata sangat pesat juga perkembangan nya, ya!"


" Iyalah, Pakde... Jalan simpang ini saja baru selesai dibangun tiga tahun yang lalu!" Ujar Mbak Ning memberi tahu. "Jadi sekarang kita mau ke mana- mana lebih mudah dan lebih dekat."


Sebenarnya di mobil Inova itu saja , pasukan Asti masih dapat duduk dengan nyaman. Di depan Asti duduk didampingi Mbak Ning. Di tengah ada Akbar , Putri dan Bu Jum yang memangku Qani. Sedangkan di mobil Fortuner itu, Pakde hanya berduaan saja dengan Bude Mayang. Mereka kekeh berada di Inova itu, tak mau pindah ke mobil sebelahnya yang kosong. Agak sungkan menggangu pasangan itu yang tampil selalu mesra di mana pun.


Nanti Asti akan mampir dulu ke pasar untuk melihat tokonya pakaiannya sebentar. Sambil membeli berbagai buah dan makanan untuk dijadikan oleh-oleh ke rumah Bulek Ratih. Sebab yang Asti tahu, di rumah Joglo sana pasti ada banyak ibu tetangga yang ikut membantu Bulek Ratih di dapur.


Mereka menyiapkan makan siang untuk para pekerja yang membantu memanen padi di sawah Asti. Biasanya Lek No mengerahkan puluhan orang untuk menjadi tenaga buruh harian dan bekerja di sawah yang luas itu. Tenaga buruh harian itu terdiri dari para pria dan wanita.

__ADS_1


Di pasar Qani heboh melihat mainan berupa balon yang berbentuk benda seperti pesawat, burung dan boneka. Leon sudah mengingatkan pada istrinya itu, agar Qani tidak di belikan balon gas yang akan meledak dan membahayakan bayinya itu.


Bude Mayang segera dapat mengalihkan perhatian bayi perempuan mungil itu. Sebab Qani menikmati buah anggur merah yang manis, pemberian wanita itu. Sebelumnya buah itu sudah dicuci dengan air mineral botolan dan dilap dengan tisu.


Pakde Juga memborong beberapa makanan lain. Mulai dari keripik tempe , pisang sampai berbagai jenis kerupuk dari rambak sampai kerupuk gendar.


Perjalanan mereka tinggal 5 km lagi menuju rumah Asti di desa. Dulu sekali Pakde Muin pernah datang ke desa itu untuk melayat, saat adik ibunya itu meninggal dunia. Kata orang neneknya Asti itu sakit ngenes. Putra bungsu kesayangannya meninggal lebih dahulu. Padahal istri yang telah dinikahinya lebih dari setahun yang lalu, dalam keadaan hamil besar... Asti yang baru berumur 2 bulan, juga harus ditinggalkan oleh Ibu yang harus kembali ke tanah kelahirannya. Akibat musibah yang menimpa keluarganya terlibat dalam sebuah sengketa dan berakhir dengan terbakarnya rumah orang tua dan nenek dan kakeknya.


Hari itu masih pukul 10.00. pagi. Tetapi di halaman belakang rumah Joglo itu sudah dipenuhi para ibu tetangga. Mereka ada yang masak nasi dengan menggunakan tungku kayu, sebagian lagi sibuk mengupas bawang, menyiangi sayuran dan persiapan masak lainnya. Sambil bekerja, mereka asyik ngobrol dan bergurau. Sehingga halaman itu menjadi ramai oleh tawa canda mereka.


Kedatangan dua mobil itu yang memasuki halaman rumah Joglo menjadi perhatian para - ibu- ibu di sana. Sebab Asti tidak hanya datang dengan rombongannya. Wanita muda itu membawa pasukannya, yaitu dua anaknya yang disertai para pengasuhnya. Ditambah Mbak Ning. Keramaian itu sangat terasa ketika mereka turun dari mobil itu. Bersamaan dengan kehadiran pasangan suami istri yang menurutnya agak unik, mereka turun dari sebuah Fortuner.


Pakde hari itu bergaya dengan jaket kulit pendek coklat, sepatu boots hitam. Beliau mengemukakan kaos hitam turtle neck. Bude Mayang tampil lebih heboh lagi. Dia memakai gaun maxi bermotif bunga- bunga mawar merah dengan gradasi abu- abu metalik, legging hitam , dengan Outer merah... Dia juga memakai kerudung instan merah dan hitam... Jangan tanya wajah wanita itu yang terpulas sempurna dengan make-up yang juga sangat medok.


" Kok kayak orang mengadakan hajatan saja, Ratih? " tanya Pria itu.


" Iya Pakde, karena kami memperkerjakan banyak orang di sawah... Alhamdulillah! Berkat bantuan anak buah Pakde, sawah yang digunakan sebagai bagi hasil oleh Pakde Kerto telah dikembalikan kepada pemiliknya yang sah... Jadi sawah Asti semakin luas saja sekarang ...."


Tanpa sadar wanita yang bernama Mayang itu, menahan tangan kokoh Pak Muin.. " Mas, sekaya itukah Asti ini?"


Pria itu tersenyum. " Jangan kamu kira hanya keluarga Widagdo yang di Boyolali itu kaya raya... Keluarga Winangun ini selain kaya juga terhormat. Buyutnya yang membuka daerah hutan ini menjadi tempat petilasan para kerabat kerajaan zaman penjajahan Belanda. Sebagian keturunan Winangun lainya, menyebar ke daerah ini sampai ke Timur Jawa.. Kebanyakan mereka memegang jabatan penting di sebuah daerah atau kota. Ada yang jadi politikus ataupun pengusaha...."

__ADS_1


Keluarga Widagdo adalah kakek dari Pak Muin, yaitu ayah dari Pak Sanjaya dan Ibu Sri Sumiarsih, nenek dari Asti. Hanya sebagian dari kerabat Asti itu yang masih menggunakan nama Winangun... Selebihnya memakai nama suami, atau keluarga besarnya. Terutama para anak perempuan keturunan Winangun yang telah menikah dan mengikuti suaminya yang bekerja di beberapa kota lainnya.


Asti dan Mbak Ning sudah mengeluarkan beberapa panganan yang mereka beli di pasar tadi. Makanan itu disajikan pada piring-piring untuk dapat diletakkan di meja tamu dan diserahkan pada para ibu yang sedang bersiap- siap untuk mengolah masakan untuk makan siang.


Bude Mayang melihat - lihat keadaan di dapur sementara, dan belakang di rumah joglo itu yang menggunakan tungku dengan bahan kayu bakar... Kalau mau memasak dalam porsi banyak dan cepat, warga desa ini memang lebih sering menggunakan kayu bakar. Kebetulan di daerah ini banyak hutan, pohon-pohon besar dan kebun buah yang dapat dimanfaatkan kayunya.


Di ujung dapur tungku itu Bulek Ratih sedang menyiapkan hidangan istimewa untuk tamunya itu. Dia membuat Tengkleng daging kambing.


Suara di dapur itu penuh cerita dan seloroh dari para ibu-ibu itu. Mereka bekerja sambil mencicipi oleh-oleh bawaan Asti dan Pakde Muin ... Anak-anak Asti juga berteriak gembira bermain di halaman depan yang sudah diplester rata. Qani masih ada di atas strollernya. Sementara Akbar menendang bola dari plastik melawan Mbak Putri.


"Semakin bertambah saja rezeki Ast dan Keluarga ini. Sehingga semakin makmur saja keluarga Winangun ini!" bisik seorang ibu yang sejak tadi melihat kedatangan tamu si pemilik rumah.


Mereka melihat Bulek Ratih sangat gembira dengan kedatangan kedua tamu istimewanya. Juga anak-anak Asti yang merupakan cucunya juga.


Tepat pukul 11.30 rombongan dari sawah di barat desa Sendang Mulyo mulai berdatangan... Sebagian para pria menggunakan motor dan berboncengan. Sebagian lagi menggunakan mobil bak terbuka ... Hasil panen padi diangkut dengan sebuah truk dan masuk ke halaman di rumah belakang.


" Mbah No, Pakde Amet!" teriak Akbar kegirangan ketika melihat dua orang yang disebut namanya itu baru turun dari motor. Mereka adalah Lek No dan Kang Samat. Terlihat di dalam rumah juga sudah ada tamu yang menunggu pria itu.


Qani turut melonjak gembira... Bayi mungil itu sangat ceria saat digendong Lek No. Rombongan orang - orang itu semakin lama semakin banyak berdatangan. Mereka sudah membersihkan diri di Sendang di dalam kebun milik keluarga Winangun....


Setelah berbasa-basi sebentar dengan tamunya, Pakde Muin. Lek No memimpin para pekerja itu untuk segera makan siang bersama...

__ADS_1


Akbar ikutan makan di piring kecilnya. Sementara di dalam rumah Pakde Muin bersama istri, Asti dan Bulek Ratih menikmati Tengkleng dari daging kambing muda. Asti sudah menyiapkan sambel tomat dan sekaleng kerupuk gendar sebagai paduannya.


__ADS_2