
Bukan hal mudah bagi Leon untuk meyakinkan Asti lagi. Kalau dia dulu memang memilih wanita muda beranak satu itu karena mencintainya. Bahkan dengan segala prahara rumah tangga ini pun, wanita itu tetap berada di sisinya. Kesetiaan seorang Asti, meskipun dengan separuh kepercayaan yang mulai mengikis terhadap suaminya itu.
Tampaknya perubahan sikap dan tingkah laku istrinya sekarang ini, sedikit demi sedikit sudah cukup membuatnya bahagia. Asti sudah mau lagi membuatkan kopi untuknya, di pagi dan sore hari... Duduk menemaninya ketika sarapan atau makan malam. Terkadang istrinya yang cantik itu akan bersibuk ria untuk membuatkannya makan malam dengan menu istimewa.
Biasanya Asti menyiapkan beberapa macam menu dari olahan daging sapi yang dimasak sesuai dengan selera Leon. Dari menu beef steak ala zaman Belanda, dibuat empal gepuk ataupun dimasak teriyaki yang cukup nikmat karena bumbunya simpel dan mudah memasaknya.
" Terimakasih, sayang!" bisik Leon.
Asti tersenyum manis...Dia melihat Leon menambahkan sedikit nasi lagi di piringnya. Karena lauknya dari potongan daging itu masih tersisa.
Perubahan sikap suami istri itu yang mulai hangat dan mesra lagi, tentu juga mendapat perhatian dari Mbak Ning dan Bu Jum. Terlihat betapa Pak Leon juga sangat mencintai istrinya itu. Sebab dia selalu berpesan pada orang rumah, untuk selalu menjaga Asti dan membantu untuk mengurus rumahnya itu.
Seperti malam ini, Akbar masih bermain - main di atas ranjang di kamar tidur utama bersama Qani. Asti sangat membatasi anaknya itu agar tidak terlalu lama duduk nonton di depan televisi. Bahkan keduanya hanya nonton film kartun setelah film itu selesai, tv dimatikan sebagai isyarat mereka tidak boleh nonton lagi.
Biasanya Asti akan menggiring mereka ke kamarnya, tentu dengan berbagai kegiatan yang cukup mengalihkan perhatian bayinya dan balitanya itu. Dari mulai belajar mengaji di sore hari atau Asti akan membacakan berbagai cerita anak-anak. Dari cerita para nabi sampai dongeng dari berbagai daerah di Nusantara.
Saat jamnya tayangan sinetron, anak-anak akan dibawa ke kamar utama untuk siap tidur. Karena acara itu menjadi tontonan wajib dan acara kesayangan Bu Jum , Mbak Ning dan Putri.
" Yang, Akbar sudah tidur?" bisik Leon pelan sambil mengecup dahi Asti lembut. Pria itu bangun dari tidurnya setelah menepuk-nepuk paha Akbar.
Wajah Asti sudah lebih cerah dalam seminggu ini. Dia berusaha ikhlas dan sabar menghadapi berbagai permasalahan yang terus menerus datang dalam kehidupan rumah tangganya ini.
Akbar sudah diangkat Leon ke kamar sebelah, untuk ditidurkan di sana. Nanti anaknya itu tidur di sana akan bersama Putri. Sementara Putri masih asyik menonton sinetron itu. Itulah hiburan para ART di rumah ini setelah mereka beristirahat menjelang malam.
Qani sudah terlelap kembali setelah dipindahkan Asti ke boks kayu yang merupakan warisan dari si kembar, anaknya Ibu Anggita. Sesekali mereka masih bertukar kabar dan cerita lewat WA dan telepon. Ternyata suami Bu Anggita sudah naik pangkat dua bulan lalu. Tetapi Asti tidak bisa datang untuk merayakan acara syukuran yang diadakan Ibu Anggita di rumahnya pada waktu itu.
Sepasang tangan kokoh dan kuat terasa melingkari tubuhnya. Asti terkesiap, kaget. Namun dia hanya diam dan pasrah. Sesekali Asti berjingkat geli ketika bibir Leon menciumi leher dan tengkuknya. Sesuatu yang sudah jarang dilakukan pria itu.
" Kapan kita akan memberi adik buat Qani?" ujar Leon menagih janji.
" Lihat Mas, anak perempuanmu itu saja belum setahun umurnya! Masak harus punya adik! Kasihan dia nanti... kurang perhatian dan kasih sayang dari ibunya..." Ucap Asti berusaha menjelaskan semua penolakan itu
__ADS_1
" Ya, sudah kalau Qani sudah umur setahun, ya?" Tagih Leon masih kekeh.
Mata Asti menatap tajam kepada suaminya itu... Dia bukan menolak untuk menambah anggota keluarga baru lagi ! Apalagi anaknya itu akan menjadi penerus dari nama Murti. Namun merasakan kehamilan yang dibarengi rasa curiga dan cemas karena akan dikhianati lagi oleh suaminya, juga menimbulkan rasa takut dan sedikit trauma.
Belum lagi setelah dia harus menjalani operasi Caesar, karena keadaan bayi mengalami permasalahan jika dilahirkan secara normal. Ibu dan bayi mengalami keadaan yang sangat rentan
Bahkan hampir selama dua minggu di rumah, Asti tak dapat melakukan apa pun. Dia juga harus dibantu oleh Bulek Ratih dan Bu Jum untuk mandi, berganti pakaian atau makan. Sementara bayinya pun belum bisa diurusnya sendiri. Kalau tidak ada bantuan dari Bulek Ratih, Bu Jum dan Ning mungkin dia benar-benar tidak berdaya saat itu.
" Mas ... kita tunggu sampai umur Qani dua tahun, ya? Biar dia sudah agar besar dan tidak terlalu iri kalau dia punya adik bayi?"
"'Janji?" Ucap Leon menuntut.
" Iya!" Namun Asti melihat wajah Leon yang galau. " Sebenarnya ada apa, Mas?"
Leon tercenung lama... " Papa sudah lama membebaskan tanah kebun sebelah ... Dia berharap, Mama bisa tinggal di sini bersama kita ... Jadi dalam dua tahun ini, kita akan cukup punya waktu untuk membuat bangunan tambahan di sebelah rumah ini... Mungkin hanya menambah kamar tidur untuk kita dan anak-anak di lantai bawah. Serta beberapa kamar di lantai atas kalau ada kerabat yang datang dan menginap!"
" Papa membeli lahan yang di sebelah rumah ini, untuk kita?" tanya Asti tak percaya.
" Iya... Dia merasa kalau kamu dan anak-anak lebih bisa menerima kehadiran Mama untuk tinggal di sini. Bisa juga kesibukan Mama untuk membantumu mengurus cucu- cucunya bisa mengurangi rasa sedih dan kesepiannya..."
Leon sudah beberapa kali mengunjungi sang ayah ke Semarang, hanya bersama Pak Candra saja. Karena pengaruh usia juga, kesehatan Pak Basuki Murti pasca operasi jantungnya, itu membuatnya tidak stabil. Kadang seharian, beliau sehat walafiat. Terlihat segar bugar dan bisa beraktivitas di luar kamarnya. Besok harinya, Pak Murti merasa kurang enak badan dan langsung drop, sampai tiga atau empat hari istirahat total di kamarnya.
Oleh karena itu, mereka mempunyai dokter pribadi yang datang secara teratur ke rumah untuk mengontrol kesehatan Pak Basuki Murti.
" Maafkan aku, kalau selama ini kurang peka sebagai seorang suami. Apalagi kalau kamu menghadapi dilema tentang Almira! Dia bukan apa-apa bagiku, Asti. Aku hanya mengira kalau aku sudah menikahi kamu, berarti itu dapat memberimu keyakinan. Bahwa kamulah wanita yang kupilih untuk menjadi istriku, pendamping hidupku, Ibu dari anak-anakku!"
"'Sudahlah, Mas... Sikap dan perhatianmu selama ini, seharusnya sudah dapat menjawab keraguanku. Selama ini... hanya saja aku yang terlalu naif dan bodoh!"
Leon membungkam ucapan Asti dengan memberinya ciuman lembut.
" Lain kali kalau ada masalah apa pun, bicaralah padaku Asti. Kamu boleh memarahiku atau memukulku kalau menilai hubunganku dengan wanita di luaran sana membuatmu marah dan sakit hati , oke?" Bisik Leon menyakini Asti lagi.
__ADS_1
Begitulah kehidupan pernikahan bagi Asti, yang terus mengalami gelombang pasang dan surutnya.Tetapi dia berusaha keras agar mampu menjaga komitmen pernikahan keduanya ini dengan kesetiaannya. Selebihnya dia serahkan semua kembali kepada Yang Memiliki Kehidupan ini. Doa yang tak pernah putus dipanjatkan hampir setiap sholat tahajud yang didirikan Asti di dini hari itu...
Kedatangan Mas Adam di sore itu mengejutkan Asti.. Pria itu banyak berubah dalam setahun terakhir ini... Wajahnya terlihat lebih segar, kata orang disebut klimis. Tubuhnya yang dulu tinggi kurus kini sudah tampak berisi... Dia juga memakai pakaian kerja yang bagus walaupun tampak simpel
" Wah, ada Mas Adam! " Seru Bu Jum.
" Iya, Bu Jum...Ini adiknya Akbar, ya?" tanya Pria itu sambil mengelus pipi Qani yang digendong Bu Jum dengan jarik batik.
" Mari! Silahkan duduk Mas Adam... Sebentar lagi, Pak Leon juga pulang!" Ujar Mbak Ning. Putri sudah membawakan baki berisi segelas kopi dan sepiring bakwan yang masih panas beserta cabe rawit.
Asti mengira kedatangan Mas Adam itu ada urusan pekerjaan dengan suaminya. Sebab proyek tahap 2 dan 3 menggunakan semua model rumah yang dirancang oleh lelaki pendiam dan cerdas itu.
" Yang, sini! " panggil Leon. Dia melihat Asti mendekat. Di meja ruang tengah terlihat beberapa model bangunan rancangan sebuah rumah. Sampai Asti kagum, karena itu adalah model rancangan untuk bangunan rumah di sebelah.
" Ini ada kolam renangnya, Mas?" tanya Asti setelah melihat gambar itu.
" Iya, ukurannya tidak terlalu besar... Tetapi cukup untuk Akbar dan Qani bermain di sana!"
Rumah itu hampir sama model nya dengan rumah yang mereka tempati saat ini. Hanya bangunan itu dikhususkan untuk kegiatan anggota keluarga saja. Jadi lebih bersifat privasi ... Sebab di lantai bawah ada ruang tidur utama dan ruang tidur anak - anak. Sementara kegiatan lainnya masih akan dilakukan di rumah lama.
Nanti di lantai atas, rumah itu akan dibuat beberapa kamar tidur lain. Sebab selama ini mereka hanya dapat menerima sedikit dari kerabat Leon untuk menginap di sini.
Selain kamar, lantai bawah akan jadikan arena bermain dan belajar anak-anak.Di sana juga disediakan dapur bersih. Selain itu, Leon akan membuat bangunan seperti rumah kaca untuk menyatukan kedua rumah itu. Dengan atap yang terbuat dari bahan transparan, dan dinding kaca yang memperlihatkan kolam renang yang dibangun di area selatan tanah tersebut.
Diusahakan pada bangunan penghubung itu ada tempat laundry, ruang bilas yang digunakan setelah anggota keluarga selesai berenang. Jadi lantai tidak basah dan licin.
" Mau menambahkan sesuatu? Kata Mas Adam, dulu kamu yang mengusulkan ruang terbuka hijau yang menjadi taman di sisi kanan rumah ini!"
" Itu sudah cukup... Kalau di sini sudah ada seorang arsitek handal dan ahli bangunannya, saya bisa bilang apa?" ledek Asti.
Tanpa sadar, Leon meraih pundak Istrinya itu untuk dipeluknya. Ternyata rancangan rumah itu semua berasal dari ide Leon. Nanti tembok taman samping kanan rumah akan dibongkar.. Setelah rumah baru itu sudah selesai pembagunannya.
__ADS_1
" Apa Mas membangun rumah itu, karena sering mendengar omongan orang kalau rumah dan ruko ini hanya punya milikku?" tanya Asti pelan.
Leon meraih tangan Asti dan mengusapnya lembut. " Aku nggak pernah mau dengar orang berbicara apa pun di belakang saya. Yang paling utama adalah kenyamanan dan keselamatan istri dan anak-anak saya!"