
Pasar kecamatan tidak terlalu ramai. Sebab hari pasarannya jatuh di hari Minggu kemarin. Rombongan Asti bergerak meninggalkan tempat parkiran yang ada di belakang area pasar.
Om Ardi melihat - lihat keadaan pasar di desa itu. Seperti yang dia rasakan sekarang ini, ada suasana berbeda bila kita tinggal sudah cukup lama di kota besar, seperti di Surabaya.
Para pedagang dan pembeli saling berinteraksi, ketika mereka bertemu. Mereka akan bertegur sapa, menanyakan kabar sebelum ke inti, kegiatannya itu yaitu melakukan jual - beli.
Sejak turun dari mobilnya tadi di parkiran belakang. Berkali - kali Asti harus menjawab sapaan dari para pedagang di sana, tukang parkir juga para tukang becak yang ikut mengais rezeki di tempat itu.
" Om , ini toko pakaian Asti!" bisik Asti. Ketika Bu Jum berjalan lebih dahulu di depan mereka, sambil mengandeng Akbar masuk ke toko pakaian dengan papan dan banner bertuliskan " Toko Pakaian Muslimah".
Langkah Om Ardi pun terlihat lebih stabil berjalan di area pasar yang datar dan rata. Pasar ini hanya terdiri beberapa bangunan los besar beratap tinggi, tanpa dinding. Kebanyakan para pedagang sayuran, bumbu dan buah berjualan di lantai pasar. Sedangkan penjual makanan akan menggunakan meja kayu atau gerobak yang mudah dipindah-pindahkan. Sedangkan toko - toko yang dibangun permanen berada di tiap sisi pasar yang membentuk leter U.
" Assalamualaikum!" sapa Asti kepada dua gadis cantik penjaga tokonya. Mereka sedang merapikan tatanan barang dan melayani pembeli.
" Walaikum Salam, Mbak Asti!" seru Puspita dan Ningrum bersamaan.
Mereka menyambut dan menyalami Asti, Bu Jum dan kedua anak balita itu dengan gembira. Tetapi menangkupkan kedua tangan di dada untuk memberi salam kepada pria yang ada di belakang Asti.
" Kenalkan, ini Om Ardi! Adik Ibu saya! Om Ardi orang Kalimantan, tetapi lama tinggal di Surabaya." Jelas Asti lagi.
Wajah Puspita tersipu-sipu saat memandangnya. Sebab wajah Om Ardi agak berbeda dari pria lainnya yang sering ditemuinya. Pak Leon, suami Mbak Asti termasuk pria yang berwajah tampan. Tetapi pria ini lebih rupawan. Sebab wajahnya terpahat sempurna dengan hidung bangir dan dagu yang kokoh. Dia juga berkulit putih bersih. Kalau pria itu pamannya Mbak Asti, tentunya pria itu awet muda. Sebab terlihat mereka sebaya.
Dengan cepat Asti menyodorkan bangku plastik yang biasanya mereka gunakan untuk duduk menjaga toko. Sebab tidak mungkin dia menyuruh pamannya ikut duduk secara lesehan di lantai dekat tikar mendong. Takut membuat kakinya tidak nyaman.
Asti mengeluarkan tas kresek besar. Dia memberikan itu kepada Pita dan Ningrum masing- masing satu kantong. Di kresek itu ada kaos berlengan panjang untuk wanita berhijab, kerudung yang sewarna dengan kaosnya. Juga beberapa bungkusan keripik buah khas dari Malang.
" Saya nggak banyak bawa oleh-oleh! Karena tujuan pergi kemarin ke Jawa Timur untuk melihat pekerjaan Mas Leon, sekaligus mencari kerabat ibu yang tinggal di Surabaya!"
" Nggak apa-apa, Mbak Asti. Kami yang banyak mengucapkan terimakasih! Sudah dibawain oleh- oleh, segala !" ujar Pita.
Asti menerima laporan hasil penjualan toko yang disodorkan kepadanya. Sedangkan Ningrum mengeluarkan beberapa gelas air mineral dari dus, untuk menjamu tamunya itu.
" Mbak Asti saya langsung mau membeli titipan Mbak Ning, ya!" ujar Bu Jum yang sudah melepaskan Qani dari gendongannya. Toko mereka letaknya agak memanjang ke belakang. Karena itulah Om Ardi dan Akbar leluasa duduk di pintu belakang. Sedangkan Bu Jum menerima dua lembar uang seratus ribuan untuk berbelanja berbagai sayuran yang sudah habis stoknya di kulkas.
Qani masih duduk di pangkuan Asti. Bayi perempuan itu tidak suka berinteraksi dengan orang banyak. Juga tidak mau digendong orang lain yang tidak dikenalnya.
" Titip Dedek, Mbak !" ujar Bu Jum yang segera berjalan masuk ke dalam pasar yang sudah mulai ramai.
" Om mau mencoba jajanan pasar ?"
__ADS_1
"Nggak usah. Asti! Masih kenyang ini Karena sudah sarapan banyak di rumah tadi. Bu Ratih mau menjamu saya dengan masakan istimewanya nanti, kalau mampir ke rumahnya ... Mau dibuatkan tongseng katanya!"
" Itu enak, Kek! Masakan Mbah Ratih juara, deh!" ujar Akbar sambil mengangkat jempolnya.
" Memang Akbar suka masakan Mbah Ratih?"
" Suka, tapi jangan yang pedas!"
Pita dan Ningrum geli mendengar celoteh Akbar. Sedangkan Qani malah meringkuk di pelukan ibunya. Bayi ini mulai memejamkan matanya karena mengantuk. Asti juga bermaksud mencari tukang urut bayi. Sebab Qani terlihat kurang enak badan. Mungkin bayinya kelelahan dalam perjalanan panjang yang menghabiskan waktu lebih dari seminggu.
"Qani ini lebih anteng , ya. Mbak!" bisik Pita. Setelah Asti meletakkan buku besar itu.
" Huh, siapa bilang? Kalau sudah ngambek hanya ayahnya saja yang bisa menenangkannya. Iya kalau Mas Leon ada di rumah... Kalau ada di tempat kerjanya... marahnya Qani ini bisa seharian." Ujarnya sambil mengecup pipi bayinya yang mulai membulat.
Om Ardi membantu membuka stroller agar Qani bisa dibaringkan di sana. Bu Jum keluar dari pasar hampir satu jam kemudian. Wanita itu membawa dua kantong kresek yang sebagian isinya adalah berupa sayuran dan beberapa bumbu.
Belanjaannya berupa wortel, kentang dan beberapa sayuran hijau lainnya. Selain itu dia juga membeli bawang - bawangan dan berbagai jenis cabe.
Bu Jum dan orang rumah tahu, kalau Asti nanti yang akan membeli sendiri daging, ayam dan ikan pada penjual langganannya di pasar ini. Tetapi stok ikan di rumah masih cukup untuk dua hari... Kalau daging ayam masih cukup. Sedangkan daging sudah habis, sebab sudah dimasak rendang untuk sangu mereka selama di perjalanan.
Bawaan mereka ternyata cukup banyak, sampai harus meminta bantuan dari tukang becak yang mangkal di depan toko. Bapak tua itu membawa dua kantong belanjaan sekaligus strollernya Qani ke bagasi mobil. Asti memberinya upah dengan dua lembar sepuluh ribuan kepada Pak Tua itu yang berkali- kali mengucapkan terimakasih.
Sekarang Asti mengarahkan mobil itu melalui jalan di belakang pasar... Dia tadi sempat membeli buah- buahan sebagai bawaan untuk orang-orang yang ada di rumah Joglo.
Petani itu sudah mengerahkan segala daya dan upaya untuk mengusahakan tanaman itu tumbuh baik dan subur. Bahkan dia memberinya pupuk kimia dan mengairi lahan itu dengan pompa air khusus. Tetapi hasil panennya malah mengecewakan. Sebab buah semangka atau melon yang ditanamnya itu tidak terlalu besar, seperti buah yang biasa dijual orang di pasar. Sehingga petani itu tidak mendapatkan untung banyak, setelah semua hasilnya dipanen . Sebab lebih tinggi biaya pemeliharaannya, dibandingkan uang hasil borongan panen buah itu.
Jadilah Lek No hanya menanam palawija setelah panen padi. Bergantian jenis palawija yang ditanam di lahan sawah mereka. Dari benih jagung, kacang tanah, kacang hijau atau kedelai. Kalau untuk sayuran mereka menanam di belakang rumah. Biasanya hanya untuk dikonsumsi sendiri ... Seperti timun, kacang panjang ,cabe juga tomat.
Kendaraan yang dikemudikan Asti mulai memasuki jalan di hutan bambu. Jalan itu semakin ramai, karena sering dilalui mobil dan motor dari penduduk desa di sekitarnya. Melalui jalan hutan bambu, jarak tempuhnya akan lebih dekat, bila kita akan bepergian ke arah barat. Sebab setelah perempatan di pasar kecamatan, mereka akan melalui jalan simpangan yang menuju beberapa kota kecil yang tersebar di perbatasan dua kabupaten ini.
Rumah joglo terlihat dalam keadaaan ramai. Rupanya banyak tamu yang datang untuk menengok keadaan Bulek Ratih. Setelah para tetangga mendengar dia berjalan - jalan bersama keluarganya ke Jawa Timur.
Begitulah... Enak dan tidak enaknya tinggal di desa. Karena kebiasaan itulah, Asti banyak membelikan oleh-oleh untuk Bulek Ratih agar dapat diberikan kepada tetangga itu dengan merata.
Kalau niat kedatangan para ibu tetangga itu tulus, karena kangen dengan Bulek Ratih, menurut Asti itu baik. Sebagai bagian dari silaturahmi. Namun ada satu atau dua orang ibu yang punya niat terselubung dari kedatangan mereka. Sebab selain mengharapkan diberi sedikit oleh-oleh, mereka juga mencari kekurangan dari cerita Bulek Ratih yang akan mereka dengar.
 Menurut Asti, seharusnya mereka juga dibawakan pasir dari pengunungan Bromo, kalau perlu! Agar para tetangga ikut merasakan sensasi nyata dari perjalanan wisata ke daerah pengunungan itu. Suatu tempat wisata yang sangat yang ada di Indonesia!
Itulah hanyalah salah satu sifat tetangga desa yang tidak terlalu disukai Joko, Ninuk maupun Asti. Mereka akan bersikap baik karena mengharapkan sesuatu dari keluarga Winangun. Misalnya seperti sekarang ini. Tetapi ibu-ibu itu yang paling vokal saat menghujat atau menggosipkan kekurangan dari keluarga Winangun di belakang mereka. Apalagi bila ada anggota keluarga Winangun yang mendapatkan sedikit kesulitan hidup. Seketika jiwa mereka tertawa bahagia...
__ADS_1
Contohnya ketika pernikahan Asti dan Satrio kandas! Bisa seharian para ibu itu membicarakan urusan rumah tangga Asti. Mereka menilai Asti adalah perempuan bodoh yang tidak dapat mempertahankan pernikahannya itu. Padahal dia menikah dengan seorang abdi negara, yang mempunyai pangkat! Jadi menurut mereka, Asti rugi besar.
Pendapat mereka itu justru tidak memberi penyelesaian dari permasalahan itu. Waktu itu saja, Asti agak gamang, untuk kembali ke Desa Sendang Mulyo dan tinggal di sana. Apalagi dengan statusnya sebagai janda muda beranak satu!
Sudah banyak omongan negatif yang mampir ke telinga Asti dari A, B sampai Z, tentang jalan perceraian yang telah ditempuhnya. Ternyata hanya Ibu Anggita yang benar - benar mau menolongnya Asti. Sampai beliau mengenalkannya pada seorangpun pengacara handal
Pengacara wanita itu dengan gigih membela haknya di pengadilan agama. Kedudukan Asti saat itu adalah sebagai perempuan, istri dan juga seorang ibu. Mereka melawan tindakan arogan Satrio karena pengaruh wanita muda yang menjadi kekasih barunya itu.
Oleh karena itu, Joko, Ninuk dan Asti lebih betah tinggal di desa Sidodadi. Di rumah Asti yang sekarang. Walaupun wilayah mereka ada daerah pinggiran alias di perbatasan. Tetapi gaya hidup masyarakatnya lebih modern dan lebih terbuka dalam menerima segala perubahan zaman.
Kebanyakan para tetangga Asti di sana adalah para pekerja di berbagai usaha maupun pabrik. Ada yang menjadi wirausaha atau pedagang. Jadi mereka sibuk bekerja sehari- hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan banyak Ibu - ibu yang memanfaatkan kepandaian mereka dalam mengolah panganan dan jajanan pasar, karena belajar lewat internet. Hasil dari kue-kue buatan mereka itu dapat dijual sendiri atau dititipkan ke warung- warung. Ada juga yang menerima pesanan pembuatan nasi boks atau es cendol.
Kalau pun ada penduduk aslinya, mereka sebagian sudah pindah ke daerah lain. Karena tanah mereka sudah dibebaskan oleh perusahaan besar milik keluarga Leon. Lahan itulah yang sekarang menjadi proyek pembangunan perumahan terbesar di wilayah ini. Bila dibandingkan perumahan baru yang ada di dekat pasar kecamatan. Sepi peminat.
" Eh, ada Mbak Asti dan anak-anaknya datang!" seru seorang ibu. Ketika melihat Asti di dalam mobil Inova yang sedang memasuki halaman rumah Joglo.
Mbak Mar segera menyambut kedatangan mereka. Dia segera mengendong Qani. Tetapi bayi itu menyembunyikannya wajahnya di ketiak si Bude itu ketika melihat banyak ibu- ibu yang ada di dalam rumah joglo.
Bude Mar yang paling mengerti tabiat Qani. Segera membawa bayi masuk ke dalam kamar Asti, diikuti oleh Bu Jum yang membawa tas bayi, dan buah.
Mata para Ibu itu terbelalak ketika melihat ada seorang pria bertubuh tinggi, berwajah tampan datang bersama Akbar dan Asti. Apalagi wajahnya pria itu memperlihatkan ciri-ciri khas pria yang berasal dari tanah Arab. Karena hidungnya yang mancung dengan kulitnya yang putih bersih.
" Assalamualaikum!" Seru mereka ketika sampai di pintu depan. Segera dibalas ibu - ibu itu dengan riuh.
" Waduh Mbak Asti, bawa pasangan baru, nih! Sudah bosan dengan Mas Leon, ya? Mau ganti suami lagi! Maklum sudah biasa kawin cerai!"
Ceplosan suara wanita yang duduk di bangku tengah itu sudah membuat telinga Asti panas. Tanpa sadar mata Asti melotot kepada Ibu itu. Kalau tidak salah wanita ini adalah Bu Yumi. Dia tinggal bersama suami dan anak-anaknya di rumah mertuanya, yang terletak di seberang rumah belakang. Tetapi karena sudah lama tinggal di kota Solo, jadi dia merasa yang paling tinggi kastanya dibandingkan kedudukan para perempuan di desa ini. Jadi kalau ngomong merasa benar sendiri dan suka bersifat jumawa.
Wanita itu menikah dengan Mas Bambang. Pria itu sehari-hari membantu ayahnya mengerjakan sawah peninggalan keluarganya yang semakin sempit, dari tahun ke tahun.Sebab berkali- kali Orang Tua Mas Bambang, menjual beberapa bagian lahan sawah itu ketika kakak dan adik perempuannya menikah. Uang penjualan sawah itu digunakan untuk membiayai pesta pernikahan anak perempuannya itu agar cukup pantas untuk menerima tamu undangan di rumah mereka.
Mulut wanita itu jadi monyong tak karuan saat dicubit oleh seorang ibu yang duduk di sebelahnya untuk memberi tahu. Kalau Asti tidak suka dengan ocehannya itu.
" Kenalkan... Ini Om Rahardian Mohammad Jaffar, adiknya Ibu Emilia... Jadi dia adalah Om saya, Bu!" jelas Asti, dengan suara yang sedikit ngegas.
Wajah para ibu di sana mulai kaget. Apalagi Bu Yumi. Maklum saja, dia hanya mendengar gosip dari sana-sini lewat omongan tetangga. Dia juga baru lima tahun tinggal di sini. Setelah suaminya yang bekerja di sebuah pabrik tekstil di Solo terkena pengurangan pegawai. Mereka memutuskan untuk kembali ke desa sang suami, bersama anak-anaknya.
Om Ardi berjalanlah sedikit terpincang saat masuk ke dalam. Asti menempatkan si Om di satu kursi yang ada di ruang makan.
" Itu Bu Yumi kalau ngomong nggak mau kalah sama Bu Dian ! Nggak ada remnya. Blong semua!" ujar Mbak Asni yang masuk sambil membawa sebagian barang yang ada di bagasi mobil Inova.
__ADS_1
Wajah Mbak Asni terlihat memerah. Semakin lama dia tinggal di rumah keluarga Winangun, barulah dia merasakan betapa semua anggota keluarga ini selalu bersikap sabar. Terutama mendengar ocehan pedas para ibu yang mirip cabe dalam sambel bawang level lima.
Terdengar satu persatu para tetangga itu pamit pulang. Mereka masing- masing membawa kresek yang berisi buah apel, gorengan dan satu bungkus oleh- oleh berupa kripik buah apel khas Malang itu.