Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 142. Sebuah Perhatian


__ADS_3

Ada elusan lembut di pipi Asti. Elusan itu terasa berulang- ulang. Sampai perempuan itu berusaha membuka matanya yang terasa berat. Sensasi kepalanya yang tadi sebelum tidur sedikit pusing, kini sudah agak reda.


Sampai Asti secara samar mendapatkan seraut wajah pria tampan yang memandanginya penuh kecemasan. Pria itu membantu menopang bahu Asti yang berusaha bangun dari ranjangnya di ruang tidur utama.


" Kamu nggak apa-apa, Asti?" tanya Leon cemas.


" Nggak apa-apa, Mas... Hanya sedikit pusing tadi. Jadi batal ke pasar..." Bisik Asti berusaha menetralkan suaranya yang sedikit parau.


Mbak Ning yang sengaja menutup tirai jendela kamar ini, agar Asti dapat beristirahat sebentar. Masalah Dania dan kedatangan orang tuanya telah membuatnya sakit kepala.


Antara perasaan menahan amarah, kasihan juga tak berdaya memenuhi hatinya. Penderitaan keluarga itu bukan disebabkan oleh dirinya. Tetapi dengan gampangnya, kedua orang tua Dania meminta pertolongan darinya. Karena menurut mereka, Dania sudah cukup lama bekerja di tokonya sebagai pegawainya.


" Tadi baru saja Azan Dhuhur. Mbak Ning tidak tega membangun kamu... Jadi aku terpaksa melakukannya. Ini minum teh manis hangatnya!"


" Terima kasih! " Ujar Asti, setelah berhasil menghabiskan separuh dari isi gelas itu.


" Mau makan siang bareng kami, atau mau sholat dulu?"


" Maaf, saya mau sholat dulu, Mas, silakan makan siang dulu sama asisten mu..."


Tak urung Leon masih mengamati kegiatan Asti yang sedang melepaskan kerudungnya, menggelar sajadah sebelum masuk kamar mandi untuk berwudhu.


" Bagaimana, Mas? Apa Mbak Asti sudah bangun?" tanya Mbak Ning sedikit khawatir. Setelah melihat kedatangan Pak Leon dari kamar tidur utama.


" Kecapaian kali, Pak Leon... Makanya jangan diforsir terus. Mentang- mentang pengantin baru!" Ledek Pak Cakra lancar.


Mata Leon melotot tajam. Mereka semua terdiam tak berani komentar. Biasanya kalau sang Bos sedang dalam model "senggol bacok " seperti itu, tandanya dia sedang serius. Bisa juga beliau memang sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya itu.


" Ayo makan! Nanti ku suruh kalian makan di warung nasi Mbah Peyek, mau?"


" Jangan, Bos... Cukup masakan Mbak Ning saja! Dikasih lauk tempe dan sambal pun oke! " Pinta Damar lucu.


Dia kapok makan nasi di warung depan ruko sana. Walaupun harganya paling murah, wanita yang menjual nasi itu sudah tua jadi kurang menjaga kebersihan.


Mana cucunya banyak dan masih kecil -kecil lagi. Jadi sangat menggangu orang - orang yang sedang makan di warung nasinya itu.

__ADS_1


" Ibu!" Panggil Akbar. Setelah melihat Asti keluar dari kamarnya. Wanita itu sudah mengganti hijabnya dengan kerudung instan juga memakai daster batik panjang yang nyaman.


" Dedek sudah makan?"


" Sudah!"


Digendongnya Akbar setelah tahu Bu Jum juga belum makan siang. Tadi Mbak Ning masak sayur gulai daun singkong. Untuk menu makan siang ini, dengan lauk tempe dan tahu bacem, juga lele goreng. Kalau sambel dan kerupuk selalu ada di meja makan setiap harinya ditambah satu botol kecap manis cap Bango.


Daun singkong itu merupakan hasil panen pak Rob pagi tadi. Dia mengambilnya dari tanaman singkong yang ditanamnya di sana untuk menjadi pagar kebun di ujung jalan desa sana. Bapak itu juga sekaligus banyak membawakan lembaran daun pisang yang cukup banyak ke rumah ini.


Tentu akan banyak gunanya bagi Asti atau Mbak Ning yang pandai mengolah berbagai masakan dan makanan tradisional.


" Dari Pak Rob, Mbak Ning?"


" Iya, Mbak! Tuh ada setandan pisang raja yang sudah agak matang."


Sementara Pak Rob sendiri sudah menikmati makan siang bersama anak buah Joko di halaman samping... Mereka menikmati rebusan daun singkong muda itu sebagai lalap dengan sambil dadak terasi yang diberi sedikit perasaan jeruk limau. Lauknya adalah ikan lele goreng , juga tahu dan tempe bacem.


"Ayo, Yang. Kita ke dokter aja, ya! Sisa pekerjaanku bisa ditangani Cakra di lapangan..."


Memang badan Asti sudah pegal-pegal, karena terus bepergian kemana- mana untuk mengurus acara pernikahannya kemarin. Terkadang dia juga harus mengemudikan mobilnya. Sebab membawa bayi seperti Akbar itu lebih aman dengan menggunakan kendaraan roda empat. Kecuali bolak -balik ke pasar dan berjualan, Asti lebih memilih naik motor karena gerakannya lebih fleksibel untuk mengatasi kemacetan.


Wanita tua itu meraba perut Asti dengan hati- hati. Namun dia tak berani bicara. Sebab dia pun datang pada acara pernikahan itu. Jadi wanita hanya mengurut kaki dan tangan Asti yang pegal. Dengan hati- hati pula dia mengerik punggung Asti dengan koin dari uang lama. Juga menggunakan minyak lentik atau minyak kelapa untuk pelicinnya agar tidak sakit.


" Jangan minum sembarang obat dulu, ya. Mbak! Banyak minum air putih hangat saja. Nih, Mbak Asti banyak pikiran ini, jadi pusing. Karena otot - ototnya tegang." Kata Mbok Muji yang sedang menekan- nekan kepala Asti dengan pijatan yang lembut tetapi mantap.


" Terima kasih, Mbok!" ucap Asti.


Wanita itu tidak hanya memberi Mbok Muji upah berupa selembar uang seratus ribuan.Juga dua buah suvenir pernikahannya yang masih tersisa. Dompet dan tas.


Para tetangga yang sebagian ibu- ibu itu saja sudah cukup heboh ketika Mbak Ning dan Bu Jum memberikan mereka masing- masing satu tas wanita yang terbuat dari olahan daun eceng gondok .


Tas itu diberikan kepada mereka setelah empat hari acara pernikahan Asti dan Pak Leon itu selesai. Hadiah itu sebagai tanda terima kasih dari Asti dan Pak Leon. Karena mereka ikut sibuk menggurus acara itu dan ikut menyiapkan berbagai sajian.


Ninuk dan Izzah tentunya juga sudah memilih lebih dulu tas selempang yang paling lucu dan unik. Sisanya nanti akan diberikan kepada Ibu Haji Anissa dan beberapa istri dari para tokoh di Sendang Mulyo. Mereka yang menjadi perwakilan Asti sebagai keluarga dari pihak pengantin wanita.

__ADS_1


Sisa sorenya digunakan Asti untuk beristirahat di kamarnya. Sampai Azan Magrib berkumandang. Saat ini dia perlu bertukar pendapat dengan Joko, tentang Dania dan orang tuanya. Tetapi tubuh dan pikirannya tidak sejalan.


Makan malam, dilakukan Asti di meja makan. Hanya ada satu dua suap nasi dan sayur yang bisa ditelannya.


Bu Jum tahu, Asti selalu tak bisa melihat penderitaan orang lain. Tetapi Dania sudah membuatnya emosi karena tindakan yang kemarin.


Akbar akhirnya mau tidur juga setelah ditunggui ibunya. Bu Jum dan Mbak Ning keluar untuk melihat keramaian di warung tenda. Karena hanya itulah hiburan bagi mereka, selain nonton sinetron di TV di malam hari.


Kemarin ada salah satu pekerja di proyek Pak Leon yang pandai dalam hal kelistrikan. Pemuda itu membuat lampu penerangan yang lebih canggih di depan warung tenda. Jadi sekedar tempat itu jadi terang benderang.


Sekarang warung tenda itu bertambah ramai dengan kunjungan orang setiap harinya. Dari beberapa bulan yang lalu, Pak Leon berusaha nego dengan pemilik lahan kosong di sebelah warung tenda itu. Tetapi harga yang diminta untuk luas tanah yang tak sampai seratus meter itu, sangat mahal.Tidak sesuai dengan NJOP yang berlaku.


Joko juga masih belum berani mengeluarkan dana yang terlalu besar dari modal utamanya. Apalagi


Asti juga sudah menyarankan Joko agar memikirkan rencana kedua, yaitu membuka cabang saja. Sebab Mas Danu pun bukan orang yang pelit ilmu untuk memberi pelajaran memasak kepada para pekerja lainnya. Hanya saja untuk seorang juru masak, dituntut untuk banyak berlatih mengolah resep masakan dan punya feeling yang kuat. Selain pandai berimprovisasi.


" Akbar sudah bobok?" tanya Leon tiba-tiba.


Asti itu masih suka kaget atau was- was kalau Leon mendekatinya tanpa suara seperti ini. Sebab dia sudah terbiasa selalu sendirian, dan jadi wanita mandiri selama ini. Hal itu dimulai sejak dia menikah dengan Satrio.


Pria itu tidak selalu ada di rumah. Karena tugasnya itu tidak mengenal tempat dan waktu. Tetapi lama- kelamaan Asti jadi terbiasa sendiri. Sebab tugas lapangan yang dijadikan alasan Satrio kala itu, malah digunakan untuk selalu bersama selingkuhan, Zahra.


" Besok nggak usah ke pasar, dulu! Wajahmu masih pucat, Asti! Kamu . juga makan hanya sedikit, tadi!"


Lelaki itu meraih tubuh Asti dengan lembut. Tubuh Asti sekarang tampak rapuh. " Yuk, kita keluar rumah, sebentar. Mungkin kita cari makanan sekaligus menghirup udara malam, mau ?


" Aku pengen makan soto. Tetapi tempatnya agak jauh..." Tiba-tiba Asti nyeletuk tanpa sadar.


" Boleh juga, sayang!" Bisik Pria itu hangat. " Nggak usah ganti baju, ya! Kelamaan... Pakai baju hangat atau jaket saja!" Ujar Leon sambil mengusap kepala Asti dengan lembut.


Pasangan itu pamit kepada Bu Jum dan Mbak Ning. Pak Leon mengemudikan mobilnya sesuai dengan petunjuk yang diarahkan oleh Asti. Sekarang mobil itu bergerak menuju arah ke Timur. Tak sampai perempatan, dekat pasar kecamatan ada warung Soto Kuali yang juga sangat ramai.


Pak Leon memarkirkan mobilnya pada lahan yang tersisa di sisi warung soto itu. Pria itu dengan hati- hati memegangi tangan Asti untuk membantunya turun.


Seketika kedatangan pasangan itu menarik perhatian dari orang-orang yang ada di dalam warung. Pertama para pegawai di sana yang sudah sangat mengenal sosok Mbak Asti. Wanita yang membuka usaha dengan berjualan pakaian wanita di dalam pasar itu. Lalu Pak Sur, si pemilik warung Soto sekaligus menjadi kasirnya. Pria itu tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2